
"IBUUUUUUU ..."
Seorang gadis berpakaian serba hitam berlari dan mendekati tubuh Nouhime yang sudah tidak berdaya. Dia adalah Saika yang telah bersikeras untuk kembali ke medan perang disaat tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Padahal sebelumnya Shirayuki masih menahannya. Namun karena melihat san ibu yang meninggalkannya dengan tujuan menemui Kenshin beberapa saat yang lalu, membuat Saika memutuskan untuk mengejar Nouhime.
Saika mengabaikan sekitarnya dan segera mendekati Nouhime. Ada rasa sesal mengapa selama ini dia begitu keras dan terlambat untuk menemui ibu kandungnya. Dan kini disaat dia ingin kembali kepada sang ibu, sang ibu harus dalam keadaan meregang nyawa.
"Ibuuuuuuu ..." pekiknya meraih tubuh Nouhime.
Flash back on ...
"Saika putriku. Kaukah itu, Putriku ... terakhir kali ibu melihatmu adalah saat kamu masih bayi. Dan kini kamu sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang begitu cantik dan pemberani ..."
Suara Nouhime bergetar saat berkata. Sepasang manik-maniknya berkaca-kaca disaat dia bertemu kembali dengan sang putri yang sudah 20 tahun dia cari. Ada rasa haru dan penuh kerinduan memenuhi dirinya saat ini.
"Ibu ..." ucap Saika lirih dengan suaranya yang juga bergetar.
Nouhime tersenyum hangat penuh haru dan mengangguk samar. Ada kebahagiaan luar biasa yang dia rasakan ketika mendengar Saika memanggilnya ibu.
Namun tiba-tiba hatinya menjadi sakit dan nyeri ketika melihat Saika yang terluka dan sudah cukup pucat. Wanita paruh baya yang memiliki kecantikan tiada tanding di masa mudanya itu segera duduk bersimpuh menghampiri sang putri dan meraih jemarinya.
Jemari lentik Saika diusapnya dengan lembut dan penuh kasih. Tanpa dia sadari lelehan air mata hangat telah membasahi wajahnya. Namun bibir tipisnya menyembulkan sebuah senyuman kebahagiaan dan penuh haru. Jemarinya mulai meraih dan mengusap lembut sisi samping wajah Saika.
Sementara pandangan Saika masih menatap lekat Nouhime dengan pupil yang bergetar dan mulai berkaca-kaca. Saika juga cukup merindukan sang ibu kandung. Sangat merindukannya!
"Maafkan ibu karena tidak bisa menemukanmu selama 20 tahun ini, Putriku. Maafkan ibu karena tidak bisa menggendong dan menimangmu disaat kamu kecil. Maafkan ibu karena pernah egois dan menukarmu dengan Kenshin saat kalian masih bayi. Maafkan ibu, Putriku Saika ... ibu sangat bersalah dan berdosa kepadamu. Maaf ..."
Ucapan Nouhime bergetar dan sangat memilukan.
__ADS_1
Saika yang mendengarkan semua itu menggeleng lemah dan menggenggam erat jemari Nouhime.
"Ibu melakukan semua itu untuk melindungiku. Maaf jika selama ini aku tidak pernah berusaha untuk menemuimu, Ibu. Maaf jika aku tidak berbakti kepada ibu dan malah bergabung dengan klan iblis. Maaf, Ibu ... hiks ..." ucap Saika penuh penyesalan.
Namun seberapa besar rasa penyesalan itu memenuhi hatinya saat ini, dia masih merasa tidak layak untuk kembali di jalan kebenaran. Terlebih hidupnya saat ini sepenuhnya masih berada di tangan Kenshin. Jika Kenshin menghendaki Saika berakhir, maka Kenshin akan membinasakan Saika dengan racun kupu-kupu yang sudah bersarang di dalam tubuh Saika.
"Kamu tidak salah, Putriku. Ibu akan selalu melindungimu dan juga Kenshin. Jangan khawatir ... peperangan ini harus segera diakhiri. Ibu harus menemui Kenshin dan memintanya untuk menghentikan semua ini. Ibu juga akan meminta kepada semua orang untuk memaafkan kalian ..." ucap Nouhime dengan raut wajah tergesa dan penuh harap.
Saika menatap nanar wanita paruh baya itu dan menggeleng samar. Seakan sudah bisa membaca dan menerka apa yang akan terjadi. Karena Kenshin tidak akan semudah itu untuk dibujuk. Kebenciannya terhadap kaisar Zhou Fumio dan seluruh penghuni ketiga alam ini sungguh sangat besar. Karena merekalah penyebab kematian sang ayah 20 tahun yang lalu.
"Ibu harus menyusul Kenshin dan memintanya untuk menghentikan semua ini. Benar ... ibu harus menemuinya dan mengajaknya kembali. Kita semua akan berkumpul bersama dan hidup dengan damai." ucap Nouhime lagi penuh harap dengan impia sederhananya.
Dia mulai bangkit berdiri dan berniat meninggalkan Saika. Namun Saika segera meraih tangan Nouhime dan membuat wanita paruh baya itu tertahan kembali.
"Ibu, medan peperangan sangat berbahaya. Aku mohon jangan pergi kesana. Aku tidak mau ibu kenapa-kenapa. Tetaplah disini ..." pinta Saika memohon.
"Benar, Ibu. Dan lagi ... Kenshin tidak akan semudah itu mendengarkan siapapun kecuali jendral Nakai. Dengan ibu pergi ke medan perang dan menemuinya, hal itu tidak akan menjamin untuk membuatnya berhenti. Dia bukanlah Kenshin yang seperti ibu harapkan ..." imbuh Saika semakin erat memegangi tangan ibunya.
"Seorang ibu akan selalu berusaha untuk melindungi serta mengajak buah hatinya untuk kembali ke jalan yang benar ketika dia tersesat, Putriku. Kamu dan Kenshin adalah anak-anak ibu. Ibu juga sudah menganggapnya sebagai putra kandung ibu sendiri. Tidak ada salahnya untuk mencobanya ... ini adalah salah satu kewajiban yang harus ibu lakukan." ucap Nouhime dengan hangat dan mengusap lembut kepala Saika.
"Kamu tetaplah disini dan jangan pergi kemana-mana ... ibu akan segera kembali bersama dengan Kenshin." imbuh Nouhime mengukir senyum hangat.
"Putri keempat Shirayuki Fumio, tolong jagalah putriku." imbuh Nouhime yang kali ini beralih menatap Shirayuki yang berdiri tepat di samping Saika.
"Baik, Ibu Ratu Nouhime." sahut Shirayuki dengan patuh dan segera memeluk lengan Saika.
Nouhime melepaskan jemari Saika dan mulai meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Tidak! Ibu! Tolong jangan lakukan itu ... ibu ... kembalilah ..."
Saika berusaha untuk mengejar dan menahan Nouhime, namun tali pengikat awan milik Shirayuki berhasil menahan Saika.
"Tolong lepaskan aku! Aku tidak membiarkan ibu pergi seorang diri dan dalam bahaya. Lepaskan aku! Lepaskan aku, Shirayuki!"
Berulang kali Saika memohon dan mengerahkan kemampuannya untuk melepaskan jeratan milik Shirayuki, namun dia tak bisa melepaskannya.
Flash back off ...
"Sai-ka, se-telah ini hidup-lah dengan ba-ik. Ma-af jika ibu tidak bisa menemanimu. Ib-bu sudah cu-kup baha-gia ketika bisa mel-lihatmu lag-gi ..." Nouhime berkata lirih karena sudah semakin tidak berdaya.
Dia menatap lekat setiap detail wajah Saika dan berusaha untuk selalu mengingatnya saat detik-detik terakhirnya. Saika hanya bisa menggeleng lemah tak berdaya, karena dia berharap sang ibu akan bisa selamat. Tapi itu sangatlah mustahil, karena dia sudah terluka cukup parah hingga salah satu organ tubuhnya juga terluka karena tikaman pedang pengumpul awan surga milik Fujin.
Untuk terakhir kalinya Saika melihat Nouhime tersenyum hangat, dan untuk terakhir kalinya Saika bisa menatap sepasang mata yang meneduhkan itu ... karena setelah itu Nouhime mulai terpejam dan tangannya terjatuh tak berdaya hingga menyentuh tanah.
"Ibuuuuuuu ..."
Saika terlihat begitu frustasi dan terpukul karena kepergian sang ibu.
SWOSSHH ...
Bukannya bersedih, namun Kenshin malah menyeringai kelam dan mengayunkan pedangnya hingga membuat angin kencang bertiup dengan debu-debu yang beterbangat begitu dasyat.
"Saika-Saika si pengkhianat!! Kamu juga harus dihukum!!"
Tandasnya tanpa hati. Padahal di hadapannya saat ini Nouhime baru saja meregang nyawa karena telah melindunginya.
__ADS_1