
Saika terlihat memasuki sebuah goa yang berada cukup jauh dari ibu kota kekaisaran Itsuki. Tepatnya berada di dekat sebuah perairan luas dan di depan sebuah pegunungan yang berkabut.
Wajahnya terlihat sudah cukup pucat. Dan pergerakannya sudah mulai melemah. Hingga akhirnya tubuhnya mulai ambruk begitu saja dan tidak sadarkan diri.
Seorang pemuda tampan yang sebenarnya sudah mengikutinya beberapa saat yang lalu karena merasa telah terjadi keanehan, kini mulai memasuki goa itu. Pada awalnya dia hanya melihat sosok bercaping itu secara tidak sengaja ketika dia akan pergi ke kekaisaran Itsuki untuk menghadiri sebuah undangan dari sang Kaisar Itsuki.
Namun pada akhirnya pemuda itu malah memutuskan untuk mengikuti sosok bercaping itu dan mengabaikan urusan lainnya. Bahkan dia juga meninggalkan rombongannya begitu saja.
Pemuda yang tak lain adalah Fujin itu mendekati tubuh sosok bercaping yang sudah tak sadarkan diri dan tergeletak begitu saja di atas tanah goa. Perlahan Fujin mulai membuka kain hitam penutup wajah sosok itu dan melepaskan caping tersebut.
Karena gadis itu terlihat sangat pucat dengan detak jantung yang sangat lemah, akhirnya Fujin segera memeriksa nadi pada pergelangan tangan gadis yang tak lain adalah Saika itu.
Namun baru saja menyentuhnya beberapa detik, sebuah ingatan yang begitu nyata mulai memenuhi pemikiran Fujin.
Sebuah ingatan ketika dia menjadi sosok pangeran Shibata Katsuie yang memiliki seorang istri seorang Dewi Akane dari ras siluman naga sisik putih.
Ingatan, kebersamaan itu terlihat begitu nyata. Bahkan ketika Dewi Akane mengorbankan nyawanya untuk memberikan batu kristal bunga jiwa miliknya hanya untuk menyelamatkan hidup pangeran Shibata Katsuie mulai teringat oleh Fujin.
Sebuah janji yang pangeran Shibata Katsuie ikrarkan untuk selalu menunggu Dewi Akane di kehidupan selanjutnya serta sebuah pernyataan yang dia ucapkan untuk membalas cinta sang Dewi Akane mulai teringat oleh Fujin dengan sangat jelas.
Semua itu cukup mengejutkan untuk Fujin. Tubuhnya seketika gemetaran dengan sepasang manik-manik yang mulai berkaca-kaca. Seketika sebuah perasaan penuh dengan kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya. Seakan Fujin sedang merasakan ketika detik-detil Dewi Akane akan meninggalkan pangeran Shibata Katsuie saat itu.
"Akane ..." ucapnya lirih dan bergetar.
Kening Saika mengerut pelan ketika mendengarkan Fujin berkata. Namun dia tak sanggup lagi untuk membuka sepasang matanya. Kesadarannya bahkan sudah hampir hilang. Namun ada lelehan air mata yang terjatuh membasahi pipinya.
"Bertahanlah ..." ucap Fujin parau.
__ADS_1
Dan ini adalah pertama kalinya dia merasakan sebuah rasa ketakutan akan kehilangan sesuatu di dalam hidupnya.
Fujin segera meraih kedua bahu Saika dan mendudukkannya. Dia yang duduk bersila di belakang Saika segera berusaha untuk menyelamatkan Saika.
Fujin mengalirkan chakra pada kedua tangannya lalu segera menempelkannya pada punggung Saika. Dia berniat untuk menyerap semua racun yang sudah mengalir pada tubuh Saika.
Satu jam berlalu dan kini wajah dan tubuh Saika sudah terlihat lebih baik. Detak jantung, pernafasan serta peredaran darah sudah normal kembali. Dia juga mulai berkeringat dan wajahnya sudah tidak terlalu pucat.
Sebuah simbol matahari berwarna jingga mulai terlihat di kening Fujin dan bersinar menyilaukan seiring racun di dalam tubuh Saika yang sudah diserap olehnya. Namun Fujin masih terus melakukan penyerapannya agar racun itu benar-benar tiada di dalam tubuh Saika.
"Uhhuuuukkk ..."
Saika terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar. Namun dia masih belum tersadar dan tubuhnya kembali hampir ambruk ke sisi belakang.
Fujin yang sudah menyelesaikan pengobatannya segera menangkapnya dan membaringkannya dengan hati-hati. Jubah lapis luarnya juga mulai dilepaskannya dan digunakan untuk menyelimuti Saika.
Hari juga sudah mulai gelap, hingga akhirnya Fujin menciptakan sebuah perisai pelindung di mulut goa itu, agar goa ini tidak bisa terlihat oleh siapapun. Dan agar aroma tubuh mereka tak tercium oleh binatang spiritual yang akan merepotkan mereka.
Namun apa yang dilakukan Fujin ternyata juga membuat prajurit Hidemitsu, prajurit Ieyasu dan Xiao Yu yang sudah mencari keberadaan Fujin sejak beberapa jam yang lalu, juga tidak bisa menemukannya. Tentu saja hal itu cukup membuat mereka cemas karena pangeran yang mereka kawal tiba-tiba saja menghilang begitu saja.
Beberapa jam berlalu, dan Fujin masih duduk bersila melakukan meditasi. Sementara Saika perlahan mulai membuka matanya. Pandangannya masih sedikit berbayang. Dan dia berusaha untuk duduk sambil memegangi kepalanya.
Kini pandangannya terfokuskan menatap Fujin yang masih bermeditasi. Sosok Fujin yang berbayang itu perlahan mulai terlihat dengan jelas, membuat Saika semakin membulatkan sepasang matanya penuh curiga.
"Apa yang kamu lakukan?! Mengapa kita bisa bersama?" ucap Saika penuh kewaspadaan.
Fujin mulai membuka sepasang matanya dan tanpa sadar mengukir sebuah senyuman ketika menyadari Saika yang sudah tersadar kembali.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku tidak akan melukai atau menangkapmu. Beristirahatlah dan pulihkan tubuhmu dulu. Pil ini akan membuatmu menjadi lebih baih. Minumlah ..." ucap Fujin mengulurkan sebuah botol berisi 2 buah pil berwarna kecoklatan.
"Mengapa kamu menyelamatkanku? Bukankah kamu adalah bagian dari mereka? Bukankah seharusnya kamu juga menangkap dan membunuhku?!"
Bukannya segera menerima pil tersebut ataupun niat baik Fujin, namun Saika masih mencurigai Fujin bagian dari orang-orang yang ingin menangkapnya selama ini. Hal itu semakin terasa kuat saat Saika melihat Fujin yang berusaha untuk menangkapnya ketika mereka berada di Lautan Merah.
Fujin terdiam dan menghela nafas.
"Pada awalnya iya ... namun kini aku tidak ingin melakukannya." jawab Fujin seadanya dan kbali datar.
"Apa yang kamu rencanakan?! Apakah kamu ingin menjadikanku sebagai sandra untuk menemukan klan iblis lainnya?! Ckk ... jangan harap caramu ini akan berhasil! Mereka tak akan berbuat bodoh hanya untuk menyelamatkanku! Akan lebih baik jika kehilangan salah satu angotanya jika dibanding keberadaan mereka yang diketahui!"
Tandas Saika penuh penekanan dan masih menatap Fujin penuh kecurigaan dan kebencian.
"Jika sudah tau akan seperti itu mengapa kamu masih bersama dengan mereka? Mengapa kamu masih berada di pihak mereka?"
"Apa urusanmu?! Akulah yang menentukan hidupku! Bukan siapapun!" tandas Saika tajam.
"Saika ..."
DEGGHHH ...
Saika terkejut bukan main ketika Fujin menyebutkan namanya. Karena selama ini mereka sama sekali tak pernah saling bertukar nama. Saika yang merasa terancam reflek mengulurkan tangan kanannya dan mengeluarkan pedang pemotong jiwa miliknya.
"Kamu telah menyelamatkanku! Namun jangan harap aku akan mengatakan keberadaan mereka! Jika kamu memaksaku, maka aku akan mengakhiri hidupku!" ucap Saika memperingatkan dan mendekatkan bilah tajam katana pemotong jiwa itu di dekat lehernya sendiri.
__ADS_1