The Sun Warrior

The Sun Warrior
Menggunakan Energi Ras Dewa Langit


__ADS_3

Ibu kota wilayah ras binatang sudah dipenuhi dengan mayat hidup dengan jumlah yang sangat banyak. Bahkan jumlah ini lebih banyak jika dibanding dengan mayat hidup yang dihadapi sebelumnya. Bahkan pohon penghisap darah Jubokko juga sudah mulai tumbuh di wilayah ini.


Mereka kembali berperang untuk mengalahkan para mayat hidup itu serta pohon penghisap darah Jubokko.


Fujin juga berusaha keras untuk menyerang mereka yang kini semakin mendesak untuk memasuki kekaisaran ras binatang.


Beberapa saat berlalu, dan mereka semua sudah berhasil mengalahkan sebagian mayat hidup itu. Hanya saja mereka masih tak memiliki cara untuk mengalahkan dan melenyapkan pohon penghisap darah Jubboko.


Sekelebat bayangan terlihat terbang dengan cepat di udara dan mendarat tepat di sebelah Fujin. Rupanya dia adalah Honshu yang sudah datang menyusul dan sudah bersiap dengan sepasang shuriken raksasanya yang sudah dialiri chakra miliknya.


"Pangeran pertama Fujin, maafkan aku yang datang terlambat. Ada sedikit kendala karena aku sedang berada di luar wilayah ras binatang." ucap Honshu mengayunkan sepasang shuriken raksasanya pada beberapa mayat hidup.


Sebenarnya karena Yona yang selalu saja membawaku pergi kemana-mana bersama dengan dia. Bahkan aku baru bisa meninggalkannya setelah membuatnya tertidur. Hufft ...


"Tidak masalah, Pangeran Honshu. Hanya saja kami belum menemukan cara untuk melenyapkan pohon penghisap darah Jubboko. Ini sedikit merepotkan." sahut Fujin sambil melayangkan sebuah tebasan kuat dan membuat beberapa mayat hidup terhempas.


"Aku baru saja mencari cara di dalam sebuah buku terlarang milik leluhurku. Dan rupanya aku menemukan sesuatu. Untuk mengalahkan Jubokko adalah dengan menggunakan energi yang berasal bukan dari dunia fana ini. Hiathh ..." balas Honshu sembari melemparkan sepasang shuriken raksasa beraura kebiruan itu dan berhasil mengenai beberapa mayat hidup.


Sepasang shuriken raksasa itu bergerak seperti sebuah bumerang yang pada akhirnya kembali lagi pada Honshu.


"Energi yang berasal bukan dari dunia fana?" gumam Fujin berpikir keras.


"Benar. Namun kami dari ras binatang tak memiliki hal yang semacam itu. Ayah dan ibuku juga tidak memilikinya. Mungkin kita akan membutuhkan bantuan dari ras Dewa Langit untuk kutukan dari Bakekujira kali ini." sahut Honshu tanpa mengurangi fokusnya untuk mengalahkan para mayat hidup itu.


Pedang langit pengumpul awan surga milikku adalah berasal dari ras Dewa Langit dan pemberian dari nenek. Namun belum aku gunakan sama sekali untuk melukai Jubokko. Beberapa saat yang lalu aku hanya mengamati para prajurit yang berusaha untuk menyerang mereka. Elemen api abadi milikku juga diturunkan dari nenek yang merupakan Dewi api ras Dewa Langit. Jika aku menggabungkan kedua kekuatan itu, kemungkinan bisa mengalahkan pohon penghisap darah Jubokko. Baik, mari kita mencobanya!


Batin Fujin mulai merubah chakra miliknya menjadi elemen api abadi dan menyalurkannya pada pedang langit pengumpul awan surga miliknya. Kini pedang tersebut mulai memancarkan aura berwarna jingga kebiruan yang menyilaukan.

__ADS_1


Fujin segera mengayunkannya ke arah pohon penghisap darah Jubokko. Perlahan pohon-pohon itu mulai lenyap dan menghilang. Beberapa genangan darah dan tulang belulang yang berada di sekitar pepohonan itu juga mulau menghilang.


Meskipun Honshu sudah cukup banyak mendengar tentang Fujin dan kekuatan luar biasanya, namun ketika dia menyaksikan semua itu secara langsung tentu saja membuatnya terkejut bukan main. Bukan hanya Honshu, namun semua orang yang menyaksikannya juga takjub bukan main.


"Ternyata memang berhasil! Baiklah! Kalau begitu aku harus segera melenyapkan seluruh Jubokko yang sudah tumbuh hampir memenuhi wilayah Nobuhide dan wilayah ras binatang ini." gumam Fujin.


"Pangeran Honshu, aku serahkan para mayat hidup kepada kalian semua. Aku akan fokus dan memburu semua pohon penghisap darah Jubokko terlebih dulu!" ucap Fujin dengan serius.


"Baik. Serahkan seluruh mayat hidup ini kepada kami. Karena kami hanya bisa menangani mereka saja. Segera selesaikan dan lenyapkan pohon penghisap darah Jubokko! Kami semua bergantung padamu, Pangeran pertama Fujin." sahut Honshu menautkan kedua tangannya.


"Baik."


Fujin mengangguk sambil menautkan kedua tangannya lalu segera meninggalkan tempat itu.


.


.


.


Fujin mengayunkan pedang langit pengumpul awan surga yang sudah dialiri oleh api abadi miliknya dengan sangat lincah dan gesit. Setiap ayunannya terlihat begitu indah dan mengalir begitu cepat.


Tempat terakhir yang di datangi adalah perbatasan antara kekaisaran Nobuhide dan wilayah ras binatang. Dimana disana masih ada kedua adik serta beberapa prajurit Fumio.


Tak terlihat mayat hidup lagi di lokasi tersebut. Saat ini mereka terlihat sedang berjuang untuk menghadapi pohon penghisap darah Jubokko yang tak kunjung bisa mereka kalahkan.


SSRRTT ...

__ADS_1


Fujin melompat dari Hokou dan mendarat dengan sangat sempurna.


"Semuanya mundur! Serahkan semua Jubokko ini padaku!" seru Fujin kembali mengalirkan elemen api abadi miliknya pada pedang pengumpul awan surga miliknya.


Semua orang dengan patuh segera mundur dan memberikan kesempatan untuk Fujin. Hujan yang mulai mengguyur tempat ini tak menyurutkan semangat Fujin untuk segera menyelesaikan semua ini. Bahkan dia tak peduli sudah berapa banyak chakra dan elemen api abadi yang telah dikeluarkan olehnya untuk menghadapi ratusan pohon penghisap darah Jubokko.


Fujin mengayunkan pedang langit pengumpul awan surga itu untuk segera mengakhiri semua pohon penghisap darah Jubokko itu. Tebasan demi tebasan sungguh menguras energinya. Hingga akhirnya tubuhnya ambruk setelah melenyapkan pohon terahir.


JLEBB ...


BRUGHH ...


Pedang langit pengumpul awan surga itu ditancapkannya di atas tanah dan tubuhnya mulai terduduk tak berdaya. Tetesan air hujan yang membasahi rambut panjangnya perlahan mulai melekat pada tubuhnya. Beberapa orang juga mulai terlihat menghampirinya termasuk Azai, Hanbei dan Xiao Yu.


"Kakak pertama Fujin! Apa kakak baik-baik saja?" ucap Azai terlihat sangat mengkhawatirkan Fujin.


"Kakak pertama sudah kehilangan chakra cukup banyak. Kita harus mencari tempat beristirahat dan segera memulihkannya." sahut Hanbei.


"Sebaiknya kita pergi ke wilayah Nobuhide. Karena tempat itu yang terdekat." sahut Jendral Nagamasa kekaisaran Nobuhide.


Azai dan Hanbei berpandangan beberapa saat dan akhirnya mengangguk. Sementara Xiao Yu segera menggendong belakang Fujin dan membaringkannya di dalam sebuah kereta kencana yang sudah mereka siapkan.


...⚜⚜⚜...


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik terlihat sedang mengantarkan bubur dan sebuah obat untuk Fujin yang baru saja tersadar kembali setelah beberapa saat yang lalu taknsadarkan diri.


Fujin yang menyadari semua itu segera duduk dengan tegap dan memberikan salam penghormatan untuk wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Syukurlah kamu sudah sadar. Aku membawakan bubur dan pil untuk memulihkan tubuhmu." ucap wanita paruh baya itu memberikan semangkok bubur dan sebuah pil menyerupai sebuah kelereng berwarna kecoklatan.


__ADS_2