The Sun Warrior

The Sun Warrior
Sebuah Petaka Dan Kutukan


__ADS_3

Goa tengkorak kematian, wilayah Selatan, dunia fana.


Saika kembali ke dalam salah satu ruang kosong dimana selama ini dipakai oleh dirinya bersama ibunya. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat sang ibu sudah terbaring lemah di atas pembaringan sederhananya.


"Ibu ... apa yang terjadi dengan ibu?" Saika berlari mendekati sang ibu penuh kekhawatiran.


Sang ibu tidak menjawabnya karena kesulitan untuk berbicara. Namun wanita paruh baya itu mulai meraih jemari Saika dan mengusapnya lembut sambil memberikan sebuah lipatan surat untuk Saika.


Namun yang membuat Saika terkejut bukan main adalah, rupanya sang ibu terkena sebuah racun yang membuat tangannya menghitam legam.


"Racun kematian bunga higan?" gumam Saika seakan dunianya sudah hancur seketika. Karena melihat racun yang sudah semakin menjalar pada tubuh sang ibu.


"Ibumu terkena racun saat dia keluar meninggalkan Goa tengkorak kematian dunia fana ini." ucap seorang pemuda yang tak lain adalah salah satu kaki tangan Kenshin, Neji.


"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena racun itu tidak bisa disembuhkan dan dinetralkan. Racun itu hanya bisa dipindahkan sebagai wadah penggantinya saja. Tentu saja kami tak akan ada yang bisa menggantikannya." imbuh Neji yang masih menyangkan kedua tangannya dan bersandar di dinding goa.


Saika mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya, "Siapa yang melakukan semua ini?"


"Aku menemukan sebuah benda dengan simbol bunga krisan dan seekor naga. Dan itu artinya pelaku adalah berasal dari kekaisaran Fumio." sahut Neji.


Saika mulai panik saat melihat sang ibu yang semakin terlihat kesakitan, menadakan racun sudah mulai menjalar pada pembuluh darahnya. Tanpa berpikir panjang, Saika segera melakukan sesuatu dengan pergerakan tangan yang cukup cepat.


Saika berniat untuk memindahkan racun kematian bunga higan itu pada rubuhnya sebagai wadah barunya. Namun Neji yang menyadari semua itu segera menghentikan Saika dan menepis chakra Saika, hingga racun itu gagal untuk dipindahkan.


"Jangan mengorbankan dirimu! Sekte iblis masih sangat membutuhkanmu! Jangan kecewakan pangeran Kenshin dan panglima Nakai!" tandas Neji yang kini sudah mengingat tubuh Saika dengan pengikat sutra ungu miliknya.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Neji! Aku harus menyelamatkan ibuku! Pekik Saika berusaha untuk melepaskan pengikat sutra milik Neji, namun Saika tak bisa terlepas. Karena pengikat sutra ungu itu hanya akan terlepas jika sang pemilik yang berkehendak.


"Kita sudah tidak bisa menyelamatkannya, Saika! Tetaplah hidup dan balaskan dendammu atas semua ini!!"


Detik-detik terakhir wanita paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya, dia menggeleng lemah sembari menatap lekat Saika.


"Ibuuuuuuu ..." teriakan Saika menggaung memenuhi Goa tengkorak kematian dunia fana ini dan tangisnya mulai pecah begitu saja.


.


.


.


Namun tiba-tiba Saika mulai mengingat surat pemberian sang ibu pada detik-detik terakhir sebelum ibunya meninggal. Kini dia dia mulai membuka dan membaca surat itu.


Terlihat coretan-coretan di dalamnya dengan tulisan yang sedikit kurang rapi. Bisa disimpulkan jika sang ibu menuliskan surat itu ketika dia sudah terkena racun kematian bunga higan itu.


Putri Saika, melalui surat ini aku ingin memberitahukan sebuah kebenaran kepadamu. Pergilah ke kekaisaran Itsuki dan tinggalkan sekte iblis. Kamu harus mengetahui kebenaran, jika sebenarnya kamu adalah seorang putri kekaisaran. Ibunda kandungmu adalah ibu suri Nouhime dari kekaisaran Itsuki. Sementara ayahandamu adalah kaisar Zeus dari kekaisaran Fumio. Ibundamu sangat menyayangimu dan selalu menunggumu kembali. Kembalilah ... dan temuilah dia. Jangan biarkan hati dan dirimu semakin terjebak disini.


Tak terasa lelehan air mata Saika mulai membasahi pipi pucatnya. Seluruh rasa di dalam hatinya kini berkecamuk menjadi satu. Perasaan sedih, merasa kehilangan, tidak mengerti memenuhi hatinya saat ini.


"Lalu mengapa dia membuangku? Mengapa wanita bernama Nouhime itu tega membuangku?!! Untuk apa aku datang menemuinya sementara dia sama sekali tidak menginginkan diriku?! Aku tidak akan mengemis belas kasihan dan kasih sayangnya, Ibu! Ibuku hanya kamu! Dan sampai kapanpun hanyalah kamu!"


Tandas Saika dalam isak tangisnya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜...


"Ayahanda, maafkan ananda yang telah gagal untuk menghentikan sekte iblis saat dia mengambil batu spiritual serta energi spiritual milik siluman Bakekujira." Fujin duduk bersimpuh di hadapan Zhou saat menghadapnya di aula utama.


"Andai saja ananda lebih gesit, gigih, dan terampil untuk mengejarnya saat itu. Bahkan ananda terlambat untuk menghentikan perbuatannya di Goa Lautan Merah." imbuh Fujin menunduk dan tak berani untuk menatap wajah Zhou.


"Semua telah terjadi. Dan semua telah ditakdirkan. Kini kita harus bersiap untuk menghadapi kutukan dari Bakekujira. Beberapa pengintai melaporkan jika di beberapa wilayah Nobuhide dan ras binatang sudah ditumbuhi oleh Jubokko." ucap Zhou dengan mimik wajah serius.


"Selain itu ada beberapa mayat hidup yang juga mulai menyerang di beberapa wilayah." imbuh Zhou mengjela nafas.


"Jubokko dan mayat hidup?" ucap Fujin mulai memberanikan diri menegadahkan wajahnya menatap Zhou.


"Benar. Jubokko adalah pohon penghisap darah yang sangat berbahaya. Dan pohon-pohon ini sudah mulai gumbuh di wilayah kekaisaran Nobuhide dan kekaisaran ras binatang yang memiliki tata letak paling dekat dengan Lautan Merah. Biasanya Jubokko hanya akan tumbuh di tempat terjadinya perang atau pembunuhan masal. Yaitu ketika tanah wilayah tersebut tergenang oleh darah dari para manusia hasil peperangan, maka pohon ini akan muncul di sekitarnya. Namun kini Jubokko tumbuh begitu saja dengan sangat subur. Tidak diragukan lagi, jika tumbuhnya Jubokko adalah salah satu kutukan dari Bakekujira."


Ucap Zhou menganalisa dan menyimpulkan.


"Jubokko terlihat seperti pohon biasa pada umumnya, sehingga jika tidak berhati-hati bisa menyergap mangsanya dengan sangat cepat. Tetapi jika diperhatikan lebih telita lagi, maka akan terlihat seperti tulang belulang manusia yang berserakan di bawah pohon terebut. Mereka sering menyerang kemudian menghisap darah manusia yang kebetulan lewat di sekitar pohon itu." ucap sang penasehat istana Fumio.


"Jika ada yang mencoba untuk menebang pohon ini, maka akan keluar darah dari kulit pohon tersebut. Luka yang mengeluarkan darah itu akan dengan segera menutup dan sembuh kembali seperti semula. Batang pohon yang mengandung darah ini bisa menjadi racun yang sangat mematikan. Dan juga bisa menjadikan manusia yang terkena akan menjadi seperti mayat hidup itu." imbuh sang penasehat istana.


"Kutukan dari Bakekujira adalah sebuah petaka untuk kita semua. Jika tidak segera diselesaikan, maka akan memakan semakin banyak korban lainnya lagi." ucap seorang Daimyo.


"Ayahanda, karena menghentikan sekte iblis sudah digagalkan olehku, maka kali ini ananda akan berusaha lebih keras untuk menghadapi Jubokko dan semua mayat hidup itu." tandas Fujin dengan penuh tekad kuat.


...⚜⚜⚜...

__ADS_1


__ADS_2