
"Cckk ... berani sekali menyerangku dari arah belakang seperti itu!! Rasakan!! Kamu telah mendapatkan sebuah kehormatan dari pangeran Kenshin karena tepah merasakan kekuatan besarnya hingga menembus jantungmu!!"
Neji menyeringai kelam menatap daimyo Nobuhide yang sudah tak bernyawa itu. Dia juga meregangkan tangan dengan cakar pembunuhnya setelah beberapa saat yang lalu sudah sukses membunuh lebih dari 100 prajurit.
Sayang sekali wajah tampannya yang cukup menjadi kebanggan dan pujaan para gadis yang menatapnya itu sangat tak sebanding dengan dirinya yang sungguh menakutkan seperti monster yang begitu kejam.
Pandangan Neji kini beralih pada satu titik. Dimana seekor srigala yang sangat besar dengan tinggi mencapai lebih dari 3 meter berbulu putih datang bersama sekawanan srigala berbulu kecoklatan lainnya.
Mereka mengepung Neji dan segera menyerang Neji dengan brutal. Lima srigala berbulu kecoklatan mati di tangan Neji dengan tubuh yang membusuk dan perlahan binasa menjadi serpihan debu.
Tak mau membuang waktu lagi, kini Neji juga berniat untuk menyerang pemimpin dari srigala tersebut. Seekor siluman srigala bulu putih yang gagah berani yang tak lain adalah Honshu.
Neji mengayunkan cakar beracunnya beberapa kali ke arah srigala Honshu. Beberapa kali Honshu berhasil menghindarinya. Namun disaat Honshu lengah karena berniat untuk mengambil sebuah gelang yang merupakan pemberian dari sang istri, Neji memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang cepat.
Serangan Neji tidak sepenuhnya bisa dihindari oleh Honshu, karena rupanya cakar beracun milik Neji malah mengenai lengan kiri Honshu. Tubuh Honshu seketika mulai kehilangan keseimbangan karena racun mematikan yang semakin menjalar di tubuhnya melalui lengan yang terluka itu.
Wajahnya mendadak pucat pasi dengan pandangan yang sudah berbayang. Dan kini tubuhnya mulai terduduk tak berdaya. Neji berniat untuk mengayunkan pedang ke arah Honshu, namun dia segera berhenti ketika pedang itu hanya berjarak beberapa inchi saja dari lehernya. Karena dia berubah pikiran.
"Ckkk ... lebih baik kamu menderita sebelum ajal benar-benar menjemputmu!! Perlahan kamu akan binasa setelah tersiksa dengan semua ini!!" Neji menunduk dan menyeringai menatap Honshu yang memegangi yang masih berusaha untuk berdiri kembali meskipun sudah sangat pucat dan tak berdaya.
"Hiathh ..." Neji kembali melompat dan melesat untuk menyerang beberapa prajrurit Itsuki. Karena kedua panglima lawan sebelumnya malah harus melawan prajurit lainnya.
"Tidak boleh! Aku tidak boleh berakhir sampai disini! Aku bahkan belum melihat anak-anakku terlahir ke dunia ini ..." Honshu berusaha untuk menyembuhkan lukanya sendiri dengan pengobatannya dan mengalirkan chakra pada luka itu.
__ADS_1
Namun dia semakin mengucurkan keringat dingin dan semakin pucat. Sementara lengan kirinya yang terluka kini terlihat semakin memburuk.
BRUUKK ...
Tubuhnya semakin ambruk. Hknshu semakin kehilangan kesadaran dan vitalitas tubuhnya.
"Akkhhh ... tidak mungkin ... racun cakar pemuda itu benar-benar tidak bisa kuatasi dengan oenawar segala racun dari ras binatang. Apakah aku benar-benar akan berakhir ..." pekiknya lirih dengan bayangan yang semakin berbayang.
Disaat itulah seseorang dengan pakaian zirah putih datang menghampirinya dan segera membawanya menjauh dari tempat peperangan. Dia membawanya di dekat sebuah pohon besar di sebelah sungai darah. Penduduk setempat menjulukinya sepertu itu karena air yang mengalir tidak seperti air biasa.
Jika pada umumnya air sungai akan berwarna bening, maka air yang mengalir di dalam sungai darahberwarna kemerahan seperti darah di saat-saat tertentu. Terlebih jika di sekitarnya sedang terjadi sebuah peperangan.
Pemuda yang tak lain adalah Fujin itu segera memposisikan Honshu untuk duduk bersila. Sementara dia duduk bersila di belakang Honshu. Fujin memutuskan untuk mencoba menggunakan teknik yang telah diturunkan dari sang nenek Amaterasu.
Meskipun sebenarnya Fujin tidak begitu yakin bisa menggunakan teknik tersebut untuk menyelamatkan Honshu, namun tidak ada salahnya untuk mencoba dan berusaha. Begitulah pikirnya.
Jika aku berhasil melakukannya, itu artinya aku memiliki sebuah celah untuk mengalahkan pria bercakar racun itu.
Batin Fujin yang sebenarnya pada awalnya hanya memiliki tujuan utama untuk menyelamatkan adik iparnya saat ini. Namun hal ini tentu saja akan memberikan sebuah ide dan peluang untuk mengalahkan Neji jika langkahnya berhasil.
Beberapa menit berlalu dan kini wajah dan tubuh Honshu sudah terlihat lebih baik. Detak jantung, pernafasan serta peredaran darah yang pada awalnya tidak normal, kini sudah mulai sudah normal kembali. Honshu juga mulai mengeluarkan keringat kembali dan wajahnya sudah tidak sepucat pada awalnya.
Sebuah simbol matahari berwarna jingga mulai terlihat di kening Fujin dan bersinar menyilaukan seiring racun di dalam tubuh Honshu yang sudah diserap olehnya. Namun Fujin masih terus melakukan penyerapannya agar racun itu hingga racun yang diberikan melalui cakar Neji benar-benar tiada di dalam tubuh Honshu.
Seperti dugaan Fujin sebelumnya, menyerap seluruh racun itu rupanya membuat tubuhnya semakin terasa lebih kuat dan bertenaga dibanding sebelumnya. Karena racun yang diberikan oleh cakar Neji, adalah racun pembunuh. Dan selama ini belum ada seoranglun yang bisa selamat setelah terkena racun tersebut. Meskipun hanya tergores oleh cakarnya sedikit saja, namun selalu berakhir dengan binasa.
__ADS_1
"Uhhuuuukkk ... uhukkkkk ..."
Honshu terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar. Namun dia masih belum tersadar dan tubuhnya kembali hampir ambruk ke sisi belakang.
Fujin menangkapnya dan menyandarkannya di pohon besar yang ada di belakangnya. Dan disaat itulah Honshu mulai membuka sepasang matanya. Meskipun masih berbayang, namun Honshu sangat mengenali siapa sosok yang ada di hadapannya.
"Kakak ipar Fujin ..." ucapnya lirih.
Bukannya menjawabnya, Fujin malah bersiul. Dan tak lama setelah itu siluman anjing berekor 5 Hokou sudah datang menghampiri mereka berdua.
"Minumlah ini! Ini akan membantu vitalitas tubuhmu membaik dengan cepat!"
Fujin memberikan sebuah pil kecoklatan untuk Honshu. Honshu dengan patuh segera menelan pil itu tanla banyak bertanya. Karena untuk berkata-kata saja masih terasa sakit seluruh tubuhnya
"Racun di dalam tubuhmu sudah menghilang. Namun kamu belum bisa ikut berperang bersama kami. Tetaplah berada disini dan jangan memaksakan diri. Jangan keluar dari perisai milikku, karena kondisimu belum stabil. Hokou akan menemanimu."
"Baik, Kakak ipar Fuji. Dan terima kasih karena sudah menyelamatkanku ..." ucap Honshu penuh haru dan merasa sangat beruntung.
"Aku tidak akan membiarkan adik keempatku menjadi janda secepat ini. Dan aku tak akan membiarkan keponakanku terlahir di dunia ini tanpa seorang ayah! Selanjutnya lebih berhati-hatilah!"
Tandas Fujin berbalik dan mulai menciptakan sebuah perisai berwarna keemasan untuk melindungi Honshu dan Hokou.
Setelah itu Fujin segera meninggalkan mereka berdua.
Pria bercakar racun, tunggulah waktu kebinasaanmu! Kamu akan berakhir di tanganku! Aku harus segera mengalahkan sumber racun!
__ADS_1
Batin Fujin mengepalkan kedua tangannya dan mulai mengincar sosok Neji yang saat ini sedang bertarung melawan prajurit Fumio.