
"Pangeran pertama Fujin ... aku sudah siap untuk membayar semua dosa-dosaku. Aku sudah siap untuk menerima hukuman."
Ucap Saika lirih dan terdengar cukup memilukan. Bahkan Fujin yang mendengarkanya saja seketika merasa sesak. Apalagi Saika mengucapkannya disaat dia tak berdaya. Wajahnya masih terlihat pucat, tubuh serta vitalitas tubuhnya masih belum sepenuhnya membaik.
Fujin tidak segera menjawabnya. Dia kembali melenggang dan duduk tepat di atas pembaringan, dimana Saika juga sudah terduduk disana.
"Saika, kamu sudah membayar semuanya. Dan kamu tidak akan dihukum lagi. Aku juga sudah berjanji kepada diriku sendiri dan juga mendiang ibu ratu Nouhime untuk selalu menjagamu. Dan mulai saat ini ... akulah salah satu orang yang akan selalu melindungimu."
Ucap Fujin menatap sepasang mata yang masih terlihat sayu itu.
"Tapi ... aku adalah klan iblis sebelumnya. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan hal tersebut? Bagaimana jika aku malah mencelakai kalian? Bagaimana jika aku mengecewakan jaminanmu, Pangeran Fujin?" tanya Saika merasa sangat tidak pantas untuk mendapatkan maaf dan jaminan dari Fujin.
"Aku sangat percaya. Kamu tidak akan pernah melakukannya. Aku mempercaimu. Dan aku akan mendapatkan hukuman cambuk petir dari ras Dewa Langit jika semua semua itu terjadi. Tentu saja kamu tidak akan membiarkan hal itu terjadi bukan?" ucap Fujin berakhir dengan sebuah pertanyaan hangat.
"Mulai sekarang hiduplah bersamaku. Dan habiskan sisa hidupmu untuk menemaniku. Mari kita memperbaiki takdir di masa lalu di kehidupan saat ini, Putri Saika." imbuh Fujin menengadahkan tangan kanannya berharap Saika akan menerima ajakannya.
Meskipun pada awalnya Saika masih merasa tidak pantas serta masih merasa bersalah, namun dia sangat mempercayai ketulusan Fujin. Dan tentu saja dia tidak akan mengecewakan Fujin serta dia tidak akan membuat Fujin mendapatkan hukuman.
Gadis cantik itu mengangguk penuh haru dan pada akhirnya menerima uluran tangan Fujin. Kedua tangan yang saling bertaut itu pada akhirnya kembali memancarkan cahaya jingga kebiruan. Dan cahaya itu mulai mengalir memasuki tubuh Saika dan Fujin.
Disaat Saika mau menarik tangannya kembali, lagi-lagi Fujin semakin menggenggam erat jemari lentik Saika.
"Jangan dihindari ... olahlah energi ini. Dan ini akan semakin memperkuat kita. Setelah kita menikah nanti ... kita akan lebih sering berlatih bersama, dan energi ras Dewa Langit milikku akan membantu membersihkan energi negatif yang masih tersisa di dalam tubuhmu."
__ADS_1
Ucap Fujin tanpa merasa kikuk sama sekali, karena apa yang baru saja diucapkannya adalah sebuah kebenaran. Dan Fujin sudah memperhitungkan semua itu dalam segi peningkatan kekuatan dan energi spiritual, dan dia bukan fokus dalam kata MENIKAH.
Berbeda dengan Saika yang seketika mulai merona dan menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya.
"Aku sudah membicarakan masalah ini dengan keluarga istana Fumio dan juga keluarga istana Itsuki. Mereka merestuinya. Dan pernikahan ini akan segera dilangsungkan saat kamu sudah pulih." ucap Fujin kembali, dan lagi-lagi semua itu dikatakannya dengan mudah.
Benar-benar tidak seperti sosok Fujin yang dulu selalu terlihat dingin, kaku, penyendiri dan tak pernah tersentuh. Semenjak dia terjebak di dalam ilusi Naga bersisik putih bersama Saika, semanjak itulah perlahan Fujin mulai berubah.
...⚜⚜⚜...
Sementara itu di kekaisaran ras binatang ...
Beberapa hari setelah Honshu pulih sepenuhnya dari serangan Neji dan para klan iblis, akhirnya Yona melahirkan seorang pangeran kecil yang pada akhirnya diberi nama Makami.
Hal ini adalah sebuah keberkahan dan kebahagiaan bagi keluarga istana ras binatang, karena mereka telah mendapatkan calon penerus dari kekaisaran ras binatang.
"Tentu saja cucuku sangat tampan dong! Karena dia mewarisi ketampanan dari kakeknya juga ..." sambung ayah Honshu membanggakan diri.
"Ayah benar. Kaisar Zhou sangat tampan dan diakui di seluruh antero Jepang. Beruntung sekali putraku Makami bisa mewarisinya ..." sahut Honshu dengan senyum lebar dan masih menimang-nimang sang putra.
Namun rupanya ucapan Honshu sungguh menyinggung ayahnya. Karena sebenarnya kakek yang dia maksud adalah dirinya sendiri. Dan tidak sedang membahas Kaisar Zhou.
"Honshu bocah nakal! Apa kamu juga tidak menyadarinya, jika kamu juga memiliko ayaj yang tidak kalah tampan?!" tandas pria paruh baya itu dengan tangan yang berkacak pinggang menghadap Honshu.
__ADS_1
"Maksudku tidak seperti itu, Ayah. Sungguh ... ayah tampan di masa muda. Tapi kalau boleh jujur kaisar Zhou jauh lebih tampan." dengan meringis Honshu menjawabnya.
"Bocah nakal ini! Sudah jadi seorang ayah, namun kelakuannya masih saja kekanak-kanakan!" geram sang raja yang pada akhirnya menarik salah satu telinga Honshu.
"Ayah-ayah ... hentikan semua ini, Ayah. Aku sedang menggendong cucumu saat ini, Ayah ... jagalah kewibawaan ayah sebagai seorang raja dan juga seorang kakek." ucap Honshu mencari alasan dengan cepat agar ayahnya berhenti menjewernya.
Yona yang masih terduduk di atas pembaringannya dan melihat pemandangan ini cukup merasa terhibur, namun sebenarnya dia cukup merasa kasihan melihat suaminya diperlakukan seperti itu.
Namun dia lebih ke merasa hangat dan bahagia melihat keakraban keluarga barunya. Karena di keluarganya sendiri kekaisaran Fumio, tidak bisa sedekat ini satu sama lain. Hal itu karena ayahandanya yang selalu bersikap bijak di depan semua orang. Termasuk keluarganya sendiri. Bahkan kakak pertamanya saja cukup dingin dan kaku.
Sang ratu yang berdiri tidak jauh dari Yona juga tak kuasa untuk tetap diam saja. Dia malah membela Honshu.
"Suamiku, apa kamu juga tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan?! Kamu mengatakan Honshu kita kekanak-kanakan, namun lihatlah dirimu! Kamu justru malah lebih dari itu!"
Sang ratu menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali karena melihat tingkah suami serta putranya. Dia juga segera mendekati mereka dan merebut Makami dari Honshu.
"Berikan cucuku yang tampan! Jika kalian masih ingin ribut, sebaiknya di halaman saja! Jangan disini! Karena cucu dan menantuku akan sangat merasa terganggu dengan keributan kalian!" tandas sang ratu mulai menimang-nimang Makami dan mendorong Honshu serta suaminya untuk keluar dari kamar.
DDRRKK ...
"Ibu!! Jangan seperti ini, Ibu ... aku masih ingin menemani Yona untuk menjaga Makami ..." ucap Honshu memohon dari luar ruangan, karena sang ratu benar-benar sudah menutup pintu kamar.
"Istriku, tolong buka pintunya ... aku masih ingin menimang-nimang cucuku yang tampan. Aku berjanji tidak akan berisik lagi." tidak mau menyerah juga, sang raja juga memohon kepada sang istri agar membukakan pintu itu kembali.
__ADS_1
"Benar, Ibu. Kami janji tidak akan berisik lagi. Tolong buka pintunya ..." timpal Honshu memohon.
"Kalian anak dan ayah yang selalu berisik! Kalian tidak bisa dipercaya! Kembalilah saat sore! Biarkan cucu dan menantuku beristirahat dulu!" tandas sang ratu menegaskan kembali sambil menciptakan sebuah gembok sihir agar pasangan ayah dan anak itu tidak bisa memasuki kamar ini. Bahkan sang ratu juga menciptakan sebuah dinding pembatas agar suara ricuh dari luar juga tidak bisa terdengar dari dalam kamar.