
Fujin, Xiao Yu, Azai, Hanbei dan beberapa prajurit senior mulai melakukan perjalanan menuju wilayah kekaisaran Nobuhide dan ras binatang yang berada tak jauh dari wilayah Lautan Merah. Karena saat ini kaisar Zhou juga ingin kedua putranya berlatih di medan pertempuran secara langsung.
Kekaisaran Itsuki, kekaisaran Nobuhide dan kekaisaran ras binatang juga mengirimkan beberapa prajuritnya untuk mengatasi Jubokko si pohon penghisap darah dan serangan dari mayat hidup yang sudah terkontaminasi oleh pohon penghisap darah itu.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka telah sampai di wilayah tersebut. Puluhan hingga ratusan Jubboko penghisap darah terlihat sudah tumbuh di wilayah tersebut
Pohon penghisap darah Jubboko memiliki ranting bercabang yang cukup banyak dan memiliki daun berwarna jingga gelap. Tanah di sekitar pohon penghisap darah Jubboko digenangi oleh darah hingga menimbulkan bau anyir yang sangat kental.
Ada juga beberapa tulang belulang yang berserakan di sekitar pohon penghisap darah Jubokko. Seperti namanya, pohon penghisap darah Jubboko juga memiliki aura kelam dan penuh dengan kabut asap gelap.
"Berhati-hatilah! Jangan sampai terjerat dan terluka karena pohon penghisap darah Jubboko! Jika tidak, mereka akan merubah kita menjadi mayat hidup juga!" ucap Fujin memperingatkan semua prajurit.
"Baik, Pangeran pertama Fujin. Dipahami!" sahut mereka serempak.
"Kakak pertama, lalu bagaimana cara kita mengalahkan pohon penghisap darah Jobukko? " tanya pangeran ketiga Hanbei yang kini sudah bersiap dengan pedang kusanagi emas miliknya.
Fujin terdiam dan mengamati beberapa prajurit yang berusaha untuk menebang batang dan ranting pohon penghisap darah Jubokko.
"Jika ada yang mencoba untuk menebang pohon ini, maka akan keluar darah dari kulit pohon tersebut. Luka yang mengeluarkan darah itu akan dengan segera menutup dan sembuh kembali seperti semula. Dengan kata lain hal itu adalah percuma dan hanya membuang-buang tenaga kita saja." ucap Fujin yang masih mengamati pertempuran beberapa prajurit di sekelilingnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakak pertama?" tanya Azai yang sudah bersiap dengan kunai dan pedang es miliknya.
Belum sempat Fujin menjawab pertanyaan dari adiknya, kini segerombolan mayat hidup sudah mulai datang dan mengepung mereka.
"Hadapi mereka terlebih dulu dan jangan sampai terluka! Karena jika kita sampai terluka dan terkontaminasi dengan darah mereka, maka tak menutup kemungkinan kita juga akan menjadi seperti mereka!" tandan Fujin mulai mengulurkan tangan kanannya ke samping, lalu diikuti seberkas cahaya kebiruan yang membentuk pedang langit pengumpul awan surga miliknya.
"Baik, Kakak pertama!" sahut Azai dan Hanbei bersamaan.
"Baik, Pangeran pertama!" sahut beberapa prajurit yang berada di sekitar Fujin.
Beberapa prajurit dengan pakaian zirah putih khas kekaisaran Nobuhide dan beberapa prajurit dari kekaisaran Itsuki juga mulai mengangkat senjata untuk menyerang para mayat hidup itu.
Pergerakan mereka lambat dan mereka tidak ganas. Sehingga mengalahkan mereka semua seharusnya tidak sulit. Namun penyebaran dan penularan sangat mudah, sehingga akan semakin memperbanyak mayat-mayat hidup lainnya. Seharusnya melenyapkan pohon-pohon penghisap darah Jobbuko harus lebih diutamakan. Agar sumber wabah bisa berkurang!
__ADS_1
Batin Fujin masih mengamati sekitarnya.
Namun pandangannya tiba-tiba terfokuskan oleh seorang mayat hidup berbadan tinggi besar yang membawa sebuah pedang besar. Dia berjalan dengan menyeret pedangnya dan mendekati Hanbei dari sisi belakang. Namun saat ini Hanbei masih menyibukkan dirinya untuk melawan beberapa mayat hidup lainnya.
Hingga akhirnya mayat hidup yang berperawakan tinggi besar itu kini mulai mengangkat dan mengayunkan pedang besarnya untuk melukai Hanbei.
Dengan cepat Fujin melesat sembari mengayunkan pedang langit pengumpul awan surga miliknya.
TRANG ...
JLEBB ...
Serangan Fujin berhasil mematahkan serangan mayat hidup tinggi besar itu dan mendorongnya hingga tubuhnya terbelah menjadi 2 bagian.
"Ka-kakak pertama ... terima kasih ..." ucap Hanbei merasa sangat beruntung.
"Kamu harus lebih fokus dan melihat sekelilingmu. Di medan pertempuran beragam serangan akan datang dari segala arah. Jika kita lengah, maka itu akan sangat berbahaya." ucap Fujin sambil menghadapi beberapa mayat hidup di sekitar mereka.
TRANG ...
JLEBB ...
JLEBB ...
"Aakkhhh ... tolong aku ..." pekik seorang prajurit yang kali ini sudah terlilit oleh pohon penghisap darah Jubooko.
Namun belum sempat Fujin menyelamatkan prajurit itu, beberapa anak panah dengan aura jingga melesat dan mengenai salah satu ranting pohon penghisap Jobboko yang melilit tubuh prajurit itu.
Ranting itu terpotong dan prajurit itu terselamatkan. Namun hanya dalam beberapa detik bagian ranting yang terpotong itu kini mulai tumbuh lagi seperti semula.
Terlihat Xiao Yu mengulurkan tangan untuk prajurit berpakaian zirah putih itu untuk membantunya bangun. Namun belum sempat uluran tangan itu bersambut, Xiao Yu segera menarik kembali tangannya dan mundur beberapa langkah.
Sebuah anak panah mulai diambilnya dan segera dialiri chakra miliknya. Dengan sangat cepat dia melepaskan anak panah itu dan menemnus mulut prajurit berpakaian zirah putih itu.
Fujin yang masih mengamati dari kejauhan tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan prajurit yang sudah terluka, dan darahnya juga sudah terkontaminasi dengan darah pohon penghisap darah Jubokko.
__ADS_1
Jika tidak segera diselesaikan, korban akan semakin bertambah banyak. Aku harus menemukan cara untuk mengalahkan mereka!
Batin Fujin mengepalkan tangan kirinya menatap para prajurit serta mayat hidup yang sudah terkalahkan.
Selama beberapa saat mereka melawan puluhan mayat hidup itu, namun tiba-tiba saja seekor srigala besar datang mendekati ksatria utusan ras binatang. Srigala tersebut kini merubah wujudnya menjadi seorang pria dengan pakaian khas ras binatang dan melaporkan sesuatu untuk pria lainnya.
"Sekelompok mayat hidup dengan jumlah yang sangat banyak mulai mendekati wilayah ras binatang. Bahkan mereka sudah berhasil merusak dan menerobos gerbang kota. Segera kembali dan bantu kami! Karena jumlah mereka sangat banyak!" ucap pria ras srigala itu melaporkan.
"Baiklah. Aku dan prajurit lainnya akan segera kembali!" sahut ras binatang lainnya yang mendapatkan laporan itu.
"Baik, Jendral!" sahut pria pelapor dan segera merubah wujudnya kembali menjadi srigala besar lalu berlalu begitu saja.
"AAUUUUUU ... aauuuuuuu ... guuukk guukkkk ..." pria yang tak lain adalah jendral dari ras binatang melolong untuk menyampaikan pesan pada prajuritnya yang berada di tempat ini.
Hingga akhirnya mereka mulai meninggalkan tempat ini dan kembali ke wilayah mereka.
"Jendral Kumo, apa yang terjadi?" tanya Fujin yang kini berada di dekat sang jendral ras binatang.
"Sekelompok mayat hidup dalam jumlah yang besar menerobos gerbang utama dan mulai memasuki kota kami. Kami harus kembali dan menghentikan mereka, Pangeran Fujin." ucap Jendral Kumo merasa tak enak hati karena harus pergi meninggalkan mereka.
"Baiklah! Aku akan ikut bersama dengan kalian! Biar bagaimanapun aku pernah berhutang nyawa kepada pangeran Honshu yang sudah menyelamatkan adik keempatku." ucap Fujin mulai beralih menatap Azai dan Hanbei yang kebetulan berada di dekatnya.
"Adik kedua, adik ketiga. Kakak akan ikut bersama Jendral Kumo pergi ke wilayah ras binatang dan menghadapi mayat hidup yang memasuki wilayah mereka! Kalian harus lebih berhati-hati dan jangan sampai terluka! Pergerakan mayat hidup itu cukup lambat, dan itu akan sangat menguntungkan kita! Apa kalian paham?"
"Baik, Kakak pertama! Kami paham!" sahut Azai dan Hanbei bersamaan.
"Xiao Yu, jaga adik-adikku! Aku akan segera menemui kalian kembali!" ucap Fujin beralih menatap Xiao Yu.
"Baik, Pangeran pertama, Fujin." sahut Xiao Yu dengan patuh.
Fujin dan Jendral Kumo akhirnya mulai meninggalkan tempat itu bersama.
Bersambung ...
...⚜⚜⚜...
__ADS_1
Bonus visual pangeran ketiga Fumio Hanbei. Terkenal dengan pribadi yang sedikit pendiam, tenang namun ceria.