
Keesokan harinya, Fujin masih berada di dalam kamarnya dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sudah melatih darah, sumsum tulang, tulang, otot, dan organ tubuhku untuk memperkuat seluruh titik-titik meridianku serta kekuatan yang aku miliki. Beberapa teknik tingkat tinggi juga sudah aku kuasai dengan cukup baik. Api abadi milikku juga semakin kuat setelah aku bisa mengkonversi segala jenis racun untuk menjasi sumber kekuatanku. Namun ... aku masih ragu dan masih belum yakin untuk bertemu dengan pangeran dari sekte iblis aliran sesat. Ramalan kehancuran 3 dunia akan terjadi dalam waktu satu tahun lagi. Aku harus bisa menjadi semakin kuat dan lebih kuat dari saat ini!"
Gumam Fujin yang kini mulai mencari sesuatu yang ada di dalam pakaiannya. Lalu dia mulai mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi sebuah cairan kental berwarna hitam.
"Racun ini adalah racun dari bunga aura kematian yang sangat mematikan dan bisa mengakibatkan kematian hanya dalam beberapa menit saja. Racun bunga aura kematian ini akan menyerang darah dan membekukannya hingga memecahkannya. Selain itu racun ini juga akan merusak organ tubuh dengan sangat cepat. Dan hingga sampai saat ini, eacun bunga aura kematian ini masih belum memiliki sebuah penawar. Aku akan menggunakannya untuk memperkuat diriku!!"
Ucap Fujin menatap serius sebotol kecil racun berwarna hitam itu. Lalu dengan tekad kuat dan nekatnya, akhirnya Fujin mulai meneguk sebotol racun bunga aura kematian itu. Padahal hanya dengan 1 tetes saja, racun itu bisa melenyapkan hingga 100 orang sekaligus jika racun tersebut memasuki tubuh mereka. Namun Fujin meneguknya sekaligus. Bisa dibayangkan seberapa kuat dan mengerikan dosis dari racun itu?
Hanya dalam beberapa detik, Fujin sudah merasakan ada sesuatu yang terjadi di dalam seluruh tubuhnya. Fujin merasakan rasa panas luar biasa di sekujur tubuhnya dan seakan membakar seluruh organ tubuhnya. Dan setelah itu Fujin merasakan kedinginan yang seakan-akan membekukan tubuh dan seluruh organ tubuhnya.
Wajahnya mulai berkeringat dingin dan terlihat pucat. Tubuhnya seketika ambruk terduduk. Rasa sakit ini sungguh menyiksanya, seakan-akan perlahan sedang menggerogoti seluruh organ tubuhnya.
"Sakit sekali! Seluruh tulangku terasa seakan-akan sedang dicambuki, darahku terasa beku, dan tubuhku seakan-akan sedang berada di dalam bara api. Sakittt sekali ... argghhhhh ..."
Pekik Fujin dengan jantung yang semakin berlacu cepat dan tubuhnya perlahan ambruk di atas lantai di dalam kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Shirayuki yang pada awalnya datang untuk memanggil Fujin untuk menghadap pada Amaterasu, kini sangat terkejut dan panik saat melihat Fujin yang masih tak sadarkan diri dan tergeletak di atas lantai kamarnya dengam tubuh yang diselimuti aura jingga menyala, seperti aura utama milik Fujin.
Dan yang lebih membuat Shirayuki semakin panik adalah saat dia melihat sebuah botol bekas racun bunga aura kematian yang tergeletak di dekat tubuh Fujin.
Dengan cepat gadis remaja cantik itu segera berlari untuk memanggil seseorang. Hingga akhirnya setelah beberapa saat Lily, kaisar Zhou, Shirayuki, Azai dan Hanbei sudah datang kembali bersama beberapa tabib istana.
Lily terlihat sangat terpukul dan tak berdaya saat menyaksikan kondisi putra pertamanya saat ini. Tubuhnya sudah hampir kehilangan kekuatannya dan hampir saja ambruk dan terjatuh. Namun Kaisar Zhou segera menangkap tubuh istrinya.
"Putra kita Fujin ... hiks ... putra kita Fujin ..." ucap Lily memilukan dengan suara paraunya di tengah isak tangisnya.
"Putra kita pasti baik-baik saja, Lily. Percayalah itu ..." ucap Kaisar Zhou berusaha untuk menenangkan sang istri.
Seorang tabib istana mulai mendekati tubuh Fujin untuk memeriksanya. Sementara tabib istana lainnya mulai memungut sebotol kaca bening dan mengendusnya untuk memastikan sesuatu.
"Ini adalah racun bunga aura kematian." ucap tabib yang memeriksa dan mengendus botol kaca bening itu.
"Apa?! Racun bunga aura kematian?" ucap Kaisar Zhou terkejut bukan main.
"Benar, Yang Mulia Kaisar Zhou." sahut tabib istana itu dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Mengapa pangeran pertama Fujin meminum racun ini? Dan racun ini diminum semua oleh pangeran pertama Fujin, ini akan sangat berbahaya untuk keselamatannya. Bahkan racun bunga aura kematian hingga sampai saat ini belum memiliki sebuah penawar." ucap sang tabib kembali.
Sementara tabib lainnya segera membawa tubuh Fujin dan membaringkannya di atas pembaringan lalu kembali berniat untuk memeriksa tubuh Fujin lagi dan tentunya ingin segera memperlambat penyebaran racun bunga aura kematian itu oada tubuh Fujin yang semakin memancarkan aura jingga menyala.
Namun belum sempat tabib itu melakukan penyelamatan dengan menyalurkan chakra miliknya, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan jubah lapis biru keemasan malah menghentikannya.
"Hentikan!" tandasnya yang tentu saja sukses membuat semua orang keheranan.
"Ibunda, mengapa menghentikan tabib istana untuk memperlambat penyebaran racun itu? Putraku Fujin sedang terkena racun bunga aura kematian yang sangat mematikan. Nyawanya kini sedang terancam, Ibunda." ucap Lily tak kuasa untuk menahan isak tangisnya ketika menyaksikan putra pertamanya sekarat dan tidak berdaya.
Amaterasu yang baru saja datang dan melihat Fujin dari kejauhan sama sekali tak terlihat khawatir saat melihat kondisi Fujin saat ini. Dia masih terlihat begitu tenang.
"Cucuku Fujin akan baik-baik saja. Lihat dan perhatikan baik-baik. Karena saat ini dia sedang melakukan sebuah teknik dari sebuah kitab budidaya tubuh yang pernah aku berikan melalui kepala akademi Kojuro." ucap Amaterasu terlihat tenang dan mengukir sebuah senyuman tipis.
Semua orang mulai beralih menatap Fujin kembali. Suasana kembali menjadi hening namun masih mendebarkan dan mereka merasa tidak tenang.
Namun setelah beberapa saat tubuh Fujin terlihat semakin memancarkan aura jingga yang semakin terang dan menyilaukan. Wajahnya yang pada awalnya terlihat pucat, kini mulai terlihat cerah dan berseri. Tubuhnya terlihat semakin segar, kuat dan bertenaga kembali.
Hingga akhirnya setelah beberapa saat, kini Fujin mulai membuka sepasang matanya dan dia segera duduk dengan tegap.
Fujin tidak terlihat seperti seseorang yang sedang keracunan dan sekarat. Namun dia malah terlihat segar bugar dengan wajah yang semakin berseri serta tubuh yang segar dan sehat.
__ADS_1
Fujin menatap ke sekelilingnya dengan ekspresi rumit. Semua orang terlihat sedang berkumpul di dalam kamarnya dengan memasang wajah tegang, bersedih dan penuh dengan kekhawatiran. Bahkan sang ibunda sampai menangis dan pipinya juga masih basah dengan air mata.
Hingga akhirnya Fujin mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya dan menyadari mengapa semua orang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini.