The Sun Warrior

The Sun Warrior
Hukuman Untuk Fujin


__ADS_3

Lily tak sanggup lagi untuk menahan dirinya. Kini dia melangkah cepat dan mendekati Fujin masih dengan raut penuh kekhawatiran. Lily meraih jemari Fujin dan mengusapnya hangat. Dan Lily juga merasakan suhu badan Fujin yang sudah kembali normal.


Namun dengan cepat Fujin segera menarik kembali tangannya dengan pelan lalu berdiri tegap dan memberikan penghormatan untuk ibundanya.


"Ibunda, ayahanda, nenek, dan semuanya. Maafkan ananda yang sudah membuat kalian semua menjadi khawatir dan panik seperti ini. Maafkan ananda." ucap Fujin masih menunduk dengan kedua tangan yang masih memberikan penghormatan untuk mereka.


Raut wajahnya dipenuhi dengan rasa bersalah karena membuat hampir semua keluarga istana Fumio mengkhawatirkan dia.


Lily masih terdiam menatap nanar Fujin. Perasaan penuh kekhawatiran itu kini mulai sirna, namun kini malah berubah membuat hatinya kembali menjadi sesak saat Fujin masih saja bersikap dingin terhadap dirinya, bahkan disaat situasi sedang seperti ini.


Lily tak kuasa untuk menahan air mata hangatnya dan akhirnya kembali membasahi pipinya. Fujin yang menyadari hal ini semakin merasa bersalah, hingga akhirnya dia mulai duduk bersimpuh di hadapan ibundanya dan bersujud menghadap Lily.


"Ananda sungguh merasa sangat bersalah. Ibunda bisa menghukumku. Ananda akan menerima hukuman itu." ucap Fujin yamg semakin membuat Lily merasa sesak.


"Putraku Fujin. Hiks ..." pekik Lily begitu lirih dan tak berdaya, hingga akhirnya Shurayuki kembali mendekatinya dan membantu memegangi tangan Lily.


Amaterasu segera meraih kedua bahu Fujin dan membantunya untuk berdiri.


"Bangunlah, Cucuku Fujin! Ibundamu akan memberikan hukuman untukmu setelah ini. Persiapkan dirimu dan datanglah satu jam lagi di taman istana!" tandas Amaterasu lalu mendekati Lily dan tersenyum hangat.


"Menantuku, ayo kita juga harus bersiap untuk memberikan hukuman untuk bocah nakal itu." ucap Amaterasu tersenyum hangat menatap Lily dan segera mengajak Lily meninggalkan kamar Fujin.


Satu persatu orang mulai meninggalkan kamar Fujin, dan kini hanya menyisakan Kaisar Zhou yang malah mendekati Fujin.

__ADS_1


"Ayahanda, maafkan ananda yang sudah membuat masalah dan keributan ini." ucap Fujin masih sangat merasa bersalah.


PUUKK ...


Kaisar Zhou menepuk dan mengusap bahu sang putra. Perlahan pria yang masih terlihat tampan, gagah dan muda untuk seusianya itu mulai mengukir sebuah senyuman tipis namun terasa hangat.


"Apa yang kamu lakukan memang cukup mengejutkan, Putraku Fujin. Namun itu adalah sebuah metode dan teknik yang sedang kamu gunakan untuk memperkuat dirimu. Ayahanda tidak bisa menyalahkanmu. Ayahanda akan menghibur ibundamu." ucap kaisar Zhou dengan bijak.


Namun meskipun begitu, Fujin masih tetap merasa bersalah dan akan menerima hukuman yang telah dikatakan oleh sang nenek. Entah hukuman apapun yang akan diberikan padanya, dia akan menerimanya.


"Ananda akan mempersiapkan diri untuk menemui ibunda dan nenek Amaterasu." ucap Fujin dengan patuh dan kembali memberikan penghormatan untuk ayahandanya.


"Baiklah." sahut Kaisar Zhou lalu segera meninggalkan Fujin.


Satu jam berlalu, kini Fujin bergegas untuk menemui ibunda dan neneknya. Namun dia malah bertemu dengan kakeknya yang baru saja kembali setelah mengadakan sebuah kunjungan di akademi kekaisaran.


"Salam hormat, Kakek. Cucumu memberikan penghormatan untuk kakek." ucap Fujin dengan sangat santun dan menautkan kedua tangannya memberikan penghormatan.


Namun Takenaka Fumio malah berjalan tergesa untuk semakin mendekati Fujin.


"Cucuku Fujin. Kakek baru saja kembali dari akademi kekaisaran untuk kunjungan penerimaan murid pelataran dalam yang baru. Tapi kakek mendengar jika kamu terkena racun bunga aura kematian. Lalu ... bagaimana keadaanmu saat ini? Tubuhmu malah terlihat segar bugar dan wajahmu semakin bersinar. Apakah berita itu tidak benar, Cucuku Fujin?"


Ucap Takenaka Fumio terlihat sangat mengkhawatirkan cucunya. Padahal selama ini dia juga cukup dingin dan datar ketika menghadapi apapun. Bahkan di masa lalu dia pernah sangat menentang hubungan antara Kaisar Zhou dengan Lily karena sesuatu ( Baca The God Of War, karena novel ini adalah sekuel dari novel The God Of War ).

__ADS_1


"Semua berita itu adalah benar, Kakek. Maafkan ananda jika sudah membuat kalian semua khawatir."


"Ini semua karena teknik yang diberikan oleh Amaterasu yang cukup berbahaya! Kakek akan menemui nenekmu!" ucap Takenaka Fumio berniat untuk menemui Amaterasu, namun Fujin segera menahan dengan ucapannya.


"Jangan, Kakek. Teknik dan metode ini sangat berguna untukku. Bahkan hanya dalam beberapa kali menyerap racun saja, tubuhku terasa semakin kuat, beberapa titik meridianku juga terasa lebih kuat jika dibanding sebelumnya. Aliran darah dan beberapa organ tubuhku juga terasa lebih berenergi. Dan satu lagi, ananda juga merasakan kekuatan aliran chakra yang lebih banyak seolah tanpa batas. Ini sangat berguna untuk ananda, Kakek."


Ucap Fujin mengatakan semuanya dengan jujur.


"Nenek memberikan kitab bududaya tubuh itu padaku melalui guru besar Kojuro, sudah pasti nenek telah mempertimbangkan segala hal. Dan nenek pasti juga sudah memperkirakan jika ananda akan bisa melewati semua itu. Hanya saja ananda yang terlalu bodoh ini tidak bisa dengan cepat memahami kitab budidaya tubuh tersebut."


Imbuh Fujin merasa jika dirinya sangat bodoh. Karena sebenarnya sudah lebih dari 3 bulan Fujin berusaha untuk mempelajari kitab tersebut, nanum baru bisa menemukan jawabannya setelah 4 bulan, melalui sebuah mimpi ketika dia mendatangi goa langit malam saat itu.


"Tidak-tidak, Cucuku Fujin. Kamu adalah seorang genius yang sangat berbakat. Bahkan di usiamu yang masih begitu muda ini, kamu sudah menjadi seorang berbakat luar biasa. Dan itu adalah bakat yang tidak dimiliki oleh sembarang anak. Kamu adalah cucuku yang paling berbakat!" ucap Takenaka Fumio menepuk bahu lebar Fujin.


"Pergi dan temuilah nenekmu. Mungkin dia akan memberikan wejangan kembali untukmu. Biar bagaimanapun nenekmu adalah Dewi Amaterasu, seorang Dewi Matahari dari ras Dewa Langit yang begitu agung dan dihormati oleh semua makhluk di 3 dunia ini." ucap Takenaka Fumio.


"Baik, Kakek. Ananda akan segera menghadap nenek dan ibunda." ucap Fujin kembali menautkan kedua tangannya dan menunduk, lalu dia segera meninggalkan sang kakek.


Fujin mendatangi taman dalam istana Fumio yang berada di dekat kuil dan Paviliun senjata. Dan ternyata disana Amaterasu dan sang ibunda memang sudah menunggunya di atas sebuah jembatan merah di pinggiran kolam yang memiliki air yang begitu jernih.


"Salam, Nenek, Ibunda. Ananda telah datang menghadap " ucap Fujin dengan nada rendah sambil menautkan kedua tangannya.


Amaterasu dan Lily mulai beralih menatap Fujin. Sebuah senyuman misterius mulai terukir menghiasi wajah Amaterasu, dan wanita yang selalu terlihat awet muda bak wanita berusia 25 tahun itu mulai mendekati Fujin ( padahal usianya sudah mencapat lebih dari 1000 tahun, dan ras Dewa Langit akan selalu terlihat awet muda ).

__ADS_1


"Baiklah. Akhirnya kamu sudah datang, Cucuku Fujin. Kami akan segera memberikan hukuman yang berat untukmu!" ucap Amaterasu masih tersenyum miring menatap sang cucu.


__ADS_2