
Acara kedewasaan yang diselenggaraan di Kota kuno Haru telah berlangsung. Fujin dan keempat adiknya ikut menjadi juri dalam acara ini bersama dengan para tetua.
Beberapa pemuda dan gadis yang sudah memenuhi persyaratan untuk mengikuti acara ini mulai bertarung di arena sesuai dengan undian serta berdasarkan tingkat kekuatan masing-masing.
Karena di dalam acara kedewasaan ini dibedakan dalam dua tingkatan. Yaitu tingkatan pemula dan tingkatan senior. Beberapa pemuda dan gadis melakukannya dengan baik. Namun tiba-tiba saat memasuki tahap final, Fujin mencium keanehan.
Terlihat seorang pemuda yang sangat tidak asing menaiki arena pertarungan. Dia adalah salah satu peserta acara kedewasaan yang sudah berhasil mendapatkan kursi dan memasuki babak final.
Pemuda dengan pakaian kehijauan itu terlihat sangat bersemangat dan menggebu-gebu. Dia sudah bersiap dengan sebuah katana dan sangat percaya diri menantang lawan tandingnya dalam babak final ini.
"Pemuda itu ... sepertinya sangat tidak asing. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya." gumam Fujin lirih dan berusaha untuk mengingat-ingqt sesuatu. Hingga akhirnya dia mulai mengingat sesuatu.
"Aku baru ingat! Dia adalah pemuda yang semalam pergi ke hutan dan menemui sosok misterius itu." gumam Fujin lagi masih mengamati pemuda itu yang kini sudah mulai bertarung bersama pemuda lainnya.
Pemuda itu terlihat sangat kuat dan sangat agresif saat menyerang lawannya. Bahkan terlihat sangat brutal, seakan menganggap pertarungan kali ini adalah sebuah pertarungan nyata.
"Kak Fujin, apa kakak merasakan ada sesuatu yang aneh?" bisik Azai yang duduk tepat di sebelah Fujin.
Fujin yang masih mengawasi pertarungan itu dari kejauhan, mengangguk pelan dengan wajah datarnya.
"Pemuda berpakaian kehijauan itu sepertinya berbuat curang, Kak. Kekuatan dan chakra miliknya meluap-luap seperti takmemiliki batas. Padahal dia sudah cukup banyak mengeluarkannya sebelumnya." sahut Azai masih berbisik.
"Hhm. Kamu benar. Dia memakai sebuah ramuan terlarang untuk meningkatkan kekuatan serta membuat chakra yang dia miliki tak memiliki batas." sahut Fujin.
"Maka dari itu dia masih terlihat kuat dan bisa bertahan meskipun sudah mengeluarkan chakra yang cukup banyak? Bahkan dia tidak terlihat kelelahan."
__ADS_1
"Benar, Adik kedua Azai."
"Itu artinya dia curang dong, Kak."
"Benar. Sebaiknya kita lihat saja dulu. Sepertinya lawan yang dia hadapi bukanlah sembarangan lawan." sahut Fujin dengan tenang.
Dan benar saja seperti perkiraan Fujin. Lawan dari pemuda berpakaian kehijauan itu ternyata juga tak bisa diremehkan. Disaat pemuda berpakaian kehijauan menyerang pemuda perpakaian hitam secara membabi buta, pemuda berpakaian hitam itu mengeluarkan serangannya yang merupakan teknik andalannya.
BOOM ...
DUARR ...
Sebuah ledakan yang cukup dasyat terjadi dan mengguncang aula pertandingan. Kabut asap yang cukup pekat memenuhi panggung arena. Namun serangan tersebut sempat membuat panggung arena mengalami kerusakan dan keretakan.
Kabut asap mulai menghilang. Namun seketika mulut mereka terdiam membisu ketika melihat yang masih berdiri dengan tegap di dalam arena rupanya adalah pemuda berpakaian hitam yang bernama Seta.
Sementara Soujiro yang sebelumnya terlihat sangat kuat dan memiliki kekuatan serta chakra tanpa batas kini sudah terjatuh tak berdaya dan terlihat sangat berantakan.
Hal ini tentu saja membuat sang ayah yang tak lain adalah salah satu tetua murka dan segera mendatangi arena pertandingan.
"Beraninya kamu melukai putraku hingga menjadi seperti ini! Seharusnya kamu tidak berlebihan seperti ini, Seta!" geram pria paruh baya itu sangat murka.
"Tunggu! Aku belum menyelesaikan semuanya, Tetua Saitou! Untuk bisa dinobatkan sebagai seorang pemenang, maka lawan harus terjatuh keluar dari arena pertandingan." ucap Seta sedikit memberikan dorongan pada tubuh Soujiro dengan salah satu kakinya hingga membuat tubuh Soujiro terjatuh dan keluar dari arena pertandingan.
"Dasar anak pelaaacur tak tau diri! Beraninya kau melakukan semua ini?! Aku akan membunuhmu!!" geram pria paruh baya itu dipenuhi amarah.
__ADS_1
Dia segera melompat dan menaiki panggung arena pertandingan dan berniat untuk menyerang Seta. Namun seorang wasit tiba-tiba menghentikannya.
"Maaf, Tetua Saitou. Tapi sebaiknya tetua mengantarkan Soujiro pada seorang tabib terlebih dulu untuk mengobati lukanya." ucap wasit itu dengan bijak.
"Tapi bocah ini harua aku beri pelajaran! Dia sudah berbuat curang dengan menciptakan ledakan dan kabut asap itu untuk menyerang putraku! Dia pasti sengaja karena dia sangat licik!" tandas pria paruh baya itu semakin dipenuhi amarah, dan kali ini sudah mengeluarkan pedang andalannya untuk menyerang Seta.
Namun dengan cepat Fujin melopat memasuki panggung arena pertandingan.
"Maaf, Tetua kedua Saitou. Tapi jika membahas tentang kecurangan, sebenarnya putra tetua kedualah yang melakukan kecurangan itu. Soujiro meminum sebuah ramuan terlarang untuk membuatnya memiliki kekuatan dan chakra tanpa batas. Dan itu sebenarnya sangat tidak diperbolehkan dalam acara kedewasaan ini." ucap Fujin dengan tenang.
"Mengapa pangeran pertama Fujin mengatakan hal seperti itu? Tidak mungkin putraku Soujiro melakukan hal rendah seperti itu? Lagipula tidak ada buktinya." ucap pria paruh baya itu menyangkal ucapan dari Fujin.
"Apa?! Tapi itu tidak mungkin, Pangeran pertama Fujin!! Putraku adalah pemuda yang patuh dan tidak akan menggunakan benda terlarang! Dia ada di jalan pedang yang benar!" ucap pria paruh baya itu kembali menyangkal.
"Maaf, Tetua kedua. Apa yang dikatakan pangeran pertama Fujin adalah benar. Aku bahkan menemukan bukti sebuah botol bekas ramuan terlarang milik Soujiro yang terjatuh ketika dia bertarung melawan Seta. Ini hanyalah sebuah acara untuk memeriahkan wilayah kita, sebenarnya sangat tidak dianjurkan memakai hal seperti ini hingga menciptakan pertarungan sengit yang sebenarnya." ucap sang wasit memperlihatkan sebuah botol kaca bening.
Masih antara percaya dan tidak percaya, pria paruh baya itu menerima botol bening mungil itu dan setikit mengendusnya. Lalu dia beralih menatap Seta tajam yang masih berdiri di belakang sang wasit dan Fujin.
Semua orang yang melihat pertunjukan ini spontan menjadi ricuh dengan segala argumentasinya masing-masing. Mereka yang pada awalnya sangat mendukung Soujiro yang memiliki basis kekuatan spiritual cukup tinggi, kini mulai menghujatnya karena melakukan hal rendah dan curang.
"Seta! Biar bagaimanapun tak seharusnya kamu melakukan hal seperti untuk putraku! Aku akan memberikan pelajaran untukmu!!" geram pria paruh baya itu lagi berniat untuk mendekati Seta.
"Tetua kedua, sebaiknya kamu membawa putramu untuk berobat terlebih dulu. Jika tidak lukanya akan semakin parah." ucap Fujin menegahi dengan bijak.
Pria paruh baya itu menatap tajam Seta dan berbalik setelah mengibaskan jubahnya. Dia segera turun dari panggung arena pertarungan lalu membawa sang putra untuk meninggalkan aula pertarungan.
__ADS_1