The Sun Warrior

The Sun Warrior
Berakhirnya Kenshin


__ADS_3

Fujin melangkahkan kakinya kembali untuk mendekati anak laki-laki itu. Namun anak laki-laki itu masih saja fokus menatap pohon di hadapannya. Pandangannya datar namun terlihat penuh harap. Bahkan dia mengabaikan kehadiran Fujin begitu saja.


Disaat mereka sudah berdiri bersampingan, Fujin yang sudah bersiap dengan pedang langit pengumpul awan surga miliknya terlihat mulai ragu untuk menuntaskan tugasnya. Hatinya seakan bergejolak untuk mengakhiri anak kecil itu.


"Aku hanya ingin bahagia dan hidup bersama ayah dan ibu. Aku ingin seperti anak-anak lainnya yang hidup didampingi kedua orang tua mereka ..." gumam anak kecil itu masih memandang pohon di hadapannya.


Tangan Fujin yang masih membawa pedangnya, sempat gemetaran saat mendengarkan ucapan anak kecil itu.


Anak sepolos ini hanya mendambakan kehidupan yang hangat untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya. Namun dia malah tidak mendapatkannya ... bahkan sejak dia bayi. Sementara aku yang masih didampingi oleh mereka ... aku malah selalu bersikap dingin terhadap mereka ... rupanya Kenshin tidak seberuntung aku. Namun aku tidak bisa mensyukuri semua ini. Dan kini ... aku malah harus mengakhirinya? Betapa berdosanya aku?


Batin Fujin mulai goyah dengan pemikirannya sendiri.


Tidak-tidak ... jika aku tidak segera mengakhiri semua ini, maka ketiga dunia saat ini akan benar-benar hancur! Aku tidak boleh menyia-nyiakan celah ini! Aku melakukan semua ini untuk menyelamatkan ketiga dunia ini! Lakukan dengan baik, Fujin! Ayo, lakukan!


Batin Fujin meyakinkan dirinya sendiri.


Fujin mengangkat pedang andalannya ke udara dan bersiap untuk mengayunkannya ke arah Kenshin kecil. Namun tiba-tiba saja pergerakan Fujin tertahan ketika Kenshin kecil menengadahkan wajahnya menatap nanar Fujin.


Tatapan penuh luka dan kesedihan itu kembali menggoyahkan hati kecil Fujin hingga dia tidak tega untuk mengakhiri Kenshin kecil.


Namun siapa sangka sesuatu yang sangat di luar dugaan tiba-tiba saja terjadi. Jari-jari kecil Kenshin meraih pedang Fujin dan menariknya kuat hingga pesang tersebut menghunus tepat pada jantungnya.


JLEBBB ...


Fujin terpaku dan memebeku cukup lama. Tangan dan tubuhnya bergetar dan tanpa sadar dia sepasang manik-maniknya sudah berkaca-kaca.


"Kenshin ... maafkan aku ..." ucapnya lirih dan bergetar.


Biar bagaimanapun Kenshin adalah saudara sepupunya. Meskipun para klan iblis sudah memiliki cukup banyak dosa, namun tidak disangka Kenshin menyimpan impian sesederhana seperti ini.

__ADS_1


Kenshin kecil tidak menjawabnya, dia hanya melayangkan sebuah senyuman hangat yang tak pernah Fujin lihat sebelumnya. Perlahan tubuhnya mulai binasa dan melebur menyatu bersama pohon kematian.


Tubuh Fujin seketika menjadi tak berdaya. Dia segera menancapkan pedangnya di atas tanah berkabut itu.


"Sudah berakhir ... semua sudah berakhir ... "


.


.


.


Dalam sekejap Fujin sudah kembali berada di Heiankyo. Dimana di sekitarnya sudah dipenuhi oleh jasad para prajurit dan ksatria, serta para klan iblis. Bercak darah yang memenuhi Heiankyo, dunia yang mengalami kerusakan cukup parah menjadi bukti dan saksi jika peperangan besar itu telah terjadi beberapa saat yang lalu.


Fujin melihat sekitarnya. Beberapa prajurit dan pihak keluarga berbondong-bondong datang untuk mencari keluarganya masing-masing. Tangis memilukan dari mereka menghiasi suasana saat ini.


Pandangan Fujin kini mulai teralihkan menatap seorang gadis berpakaian serba hitam yang sudah ambruk di dekat jasad seorang wanita yang memakai jubah lapis indahnya.


Tubuh gadis itu ambruk terduduk. Dan dalam hitungan detik Fujin melihatnya saja tubuhnya sudah terlihat sangat pucat, dadanya dan seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan mengeluarkan peluh berwarna kemearah.


Fujin segera berlari untuk mendekati gadis yang tak lain adalah Saika. Ada raut penuh kekhawatiran yang menghiasi wajahnya.


"Saika!!" Fujin meraih tubuh Saika dan membaringkannya di atas pangkuannya.


Saika benar-benar terlihat sangat pucat dan tidak berdaya. Detak jantung dan vitalitas tubuhnya juga sudah mulai lemah. Dan hal ini semakin membuat Fujin merasa khawatir. Hal ini seperti sebuah dejavu untuknya. Rasa takut akan kehilangan seseorang yang begitu besar. Seperti saat pangeran Shibata Katsui yang akan ditinggalkan oleh dewi Akane saat itu.


"Pangeran Fujin ..." ucap Saika lirih dengan wajah yang semakin pucat. "Aku ... minta ma-af jika sel-lama ini selalu mem-per-sulitmu ... kali ini ak-ku sudah sedikir menebus semuanya. In-ni adalah huk-kuman untuk-ku ..." dengan terbata Saika mengucapkannya.


"Tidak, Saika! Kamu harus selamat! Kamu tidak boleh berakhir!" tandas Fujin menolak Saika untuk pergi. Karena dia tidak ingin merasakan kehilangan seperti saat menjadi pangeran Shibata Katsui.

__ADS_1


"Pangeran Kenshin sudah binasa, dan hanya pangeran Kenshin lah yang bisa menawarkan racun kupu-kupu ini."


Seorang anak laki-laki kecil, tiba-tiba saja datang dan mengatakan hal tersebut. Sementara Saika sudah tidak berdaya, bahkan untuk kembali mengucapkan beberapa patah kata.


"Racun kupu-kupu?" gumam Fujin menautkan kedua alis tampannya menatap anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu mengangguk samar dengan tatapan penuh kesedihan, "Aku pernah melihatnya. Setiap satu tahun sekali racun ini akan kembali beraksi. Dan pangeran Kenshin lah yang bisa menawarkan racun kupu-kupu yang ada di dalam tubuh kakak Saika."


Seolah tidak memiliki harapan lagi, anak laki-laki itu akhirnya duduk bersimpuh di dekat Saika dan menangis begitu saja.


"Aku tidak mau kakak Saika pergi. Jika kakak Saika pergi, lalu siapa yang akan menemaniku main? Lalu siapa yang akan memasakkan sup untukku? Hiks ..." di dalam tangisnya anak laki-laki itu berkata yang terdengar cukup memilukan.


"Jangan khawatir. Aku akan menyelamatkan dia. Ikut bersamaku!" ucap Fujin lalu menggendong depan Saika untuk membawanya ke sebuah tempat yang cukup aman dan sepi.


Dia membawa Saika dan anak laki-laki itu di bawah sebuah pohon di tepian sungai darah yang cukup sepi. Disini Fujin menurunkan Saika dengan sangat hati-hati lalu memposisikannya dalam keadaan duduk.


"Bantu aku memegangi dia agar tetap dalam posisi duduk!" titah Fujin kepada anak laki-laki itu.


"Baik!" sahut anak laki-laki itu dengan patuh.


Disaat inilah Fujin segera memeriksa kondisi tubuh Saika dengan menempelkan kedua telapak tangannnya tang sudah dialiri chakra di punggung Saika. Dan benar saja, akhirnya Fujin mendeteksi adanya sebuah racun mematikan yang selama ini bersarang di dalam tubuh Saika.


Racun yang bahkan muncul dalam kurun waktu tertentu itu tentu saja tidak bisa dideteksi oleh Fujin. Namun kini setelah Fujin mendeteksinya, dia segera menyerap racun kupu-kupu tersebut dan mengkonversinya menjadi salah satu sumber kekuatannya.


Lagi-lagi sebuah simbol matahari berwarna jingga menyala mulai terlihat nyata pada kening Fujin. Aura berwarna gelap yang berasal dari tubuh Saika seketika berubah menjadi jingga menyala saat terserap masuk di dalam tubuh Fujin.


"Uhhukkk ..."


Saika memuntahkan seteguk darah segar dan kini benar-benar sudah kehilangangan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2