
"Syukurlah kamu sudah sadar. Aku membawakan bubur dan pil untuk memulihkan tubuhmu." ucap wanita paruh baya itu memberikan semangkok bubur dan sebuah pil menyerupai sebuah kelereng berwarna kecoklatan.
Fujin menarik kedua tangan yang sebelumnya saling bertaut memberi penghormatan itu.
"Terima kasih, Ibu ratu Nouhime." sahut Fujin menerima semangkok bubur dan pil itu.
"Makan dan minumlah pil itu. Pil obat itu tidak akan membahayakan dirimu kok. Justru akan segera memulihkan tubuhmu yang sebelumnya sudah mengeluarkan cukup banyak chakra."
"Baik, Ibu ratu Nouhime." sahut Fujin dengan patuh dan segera memakan bubur itu lalu menelan pil obat itu. "Apakah ibu ratu Nouhime datang bersama dengan kaisar Yaoyao?"
"Benar. Kami juga membawa beberapa obat-obatan dan tabib karena mendengar banyak prajurit yang terluka. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa sudah merasa lebih baik?" sahut Nouhime berbalik bertanya.
"Sudah, Ibu ratu Nouhime. Terima kasih."
Nouhime tersenyum hangat menatap Fujin.
"Terakhir kali melihatmu adalah saat kamu berusia 5 tahun saat mendatangi perjamuan di kekaisaran Fumio. Kamu masih sangat kecil saat itu. Tidak disangka kini kamu sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat tinggi dan tampan." ucap Nouhime penuh haru dan binar menatap Fujin.
"Mungkin saat ini putriku Saika dan juga Kenshin juga sudah sebesar kamu. Andai saja aku bisa bertemu dengan mereka juga ..." imbuh Nouhime dengan senyuman yang mulai memudar.
"Apakah ibu ratu Nouhime tidak memiliki petunjuk apapun hingga sampai saat ini? Barangkali ada sebuah benda atau sesuatu untuk mengenali mereka?" tanya Fujin dengan berhati-hati.
Nouhime terdiam selama beberapa saat, seakan pikirannya sedang menerawang jauh.
"Seharusnya putriku Nouhime memiliki sebuah kalung dengan liontin kristal trigonal berwarna kebiruan cerah serta sebuah gantungan jimat dengan warna kemerahan. Sedangkan Kenshin, aku juga memberikan sebuah gelang sihir yang terbuat dari artefak tingkat tinggi dari benua kelas tinggi." jawab Nouhime seadanya.
__ADS_1
"Kalung dengan liontin kristal trigonal berwarna kebiruan?" gumam Fujin dengan kening berkerut.
Karena Fujin merasa jika dia pernah melihat kalung itu sebelumnya. Dia berusaha untuk berpikir keras dan mengingat-ingat sesuatu. Hingga akhirnya dia mulai mengingatnya. Yaitu ketika dia sedang berusaha untuk mengejar sosok gadis yang berpenampilan seperti seorang pria ketika berada di Lautan Merah.
Fujin melihat sekilas, jika sosok itu mengenakan sebuah kalung dengan liontin kristal trigonal berwarna kebiruan.
"Benar. Aku memakaikan kalung itu ketika putriku Saika terlahir." sahut Nouhime kembali teringat dengan saat-saat memilukan itu.
"Kalau begitu aku juga akan berusaha untuk menemukannya." ucap Fujin membuat Nouhime cukup terkejut.
"Terima kasih sebelumnya. Namun hal itu sungguh tidak perlu, Pangeran pertama Fujin. Kamu pasti memiliki kesibukan lain. Aku sedikit mendengar jika kamu selalu berlatih keras dan menerima misi-misi berat dari ayahandamu. Jadi jangan terbebani karena masalah kekaisaran Itsuki juga. Karena suamiku juga sudah mengerahkan beberapa prajurit untuk terus mencari dan menemukan mereka. Jangan khawatir ... aku bercerita kepadamu karena saat melihatmu membuatku kembali teringat dengan mereka. Karena usia kalian adalah sepantaran."
Ucap Nouhime dengan cepat karena dia tak ingin merepotkan Fujin.
"Baiklah. Kembali beristirahat dan pulihkan diri terlebih dulu. Aku akan kembali menemui ibu suri Matsu Nobuhide." ucap Nouhime dengan hangat dan segera meninggalkan kamar Fujin.
Keesokan harinya Fujin dan rombongannya memutuskan untuk segera meninggalkan wilayah Nobuhide. Namun saat di pertengahan jalan mereka terpaksa harus menghentikan perjalanan karena melihat Honshu yang berlarian terburu-buru ke arah mereka.
"Pangeran Honshu, ada apa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Fujin masih berada di atas kuda dan menghentikan kudanya.
"Pangeran pertama Fujin, pangeran kedua Azai, pangeran ketiga Hanbei ... tolong selamatkan aku!" ucap Honshu memohon.
"Menyelamatkanmu dari apa?" tanya Fujin menatap sekelilingnya dengan keheranan, karena dia sama sekali tak mencium sesuatu yang membahayakan.
"Para prajurit dari ras binatang sedang mengejarku saat ini. Dan aku harus bersembunyi dari mereka." jelas Honshu sembari mengawasi sekitar.
__ADS_1
"Tapi mengapa kamu berusaha untuk menghindari mereka, Pangeran Honshu? Dan mengapa mereka berusaha untuk mengejar dan menangkapmu?" tanya Azai.
"Sebenarnya sudah beberapa pekan yang lalu mereka melakukannya. Dan ceritanya cukup panjang. Aku akan menceritakan semuanya, tapi tolong bantu aku dulu ..." ucap Honshu kembali memohon.
Azai dan Hanbei saling berpandangan dan terdiam selama beberapa saat. Mereka tak berani mengambil keputusan dan hanya menunggu Fujin untuk mengambil keputusan.
Beberapa derap langkah kuda dan lolongan srigala mulai terdengar semakin mendekati mereka. Dan disaat itulah Honshu terlihat semakin panik. Hingga akhirnya Fujin mulai memutuskan sesuatu.
"Masuklah ke dalam kereta kencana, Pangeran Honshu. Di dalam kereta kencana milik kami, mereka tak akan bisa mengendus aroma pangeran. Jadi keberadaan pangeran Honshu tak akan diketahui oleh mereka. Masuklah ..." ucap Fujin.
Mendengar ucapan dari Fujin, tentu saja membuat Honshu berbinar kembali. Pemuda berpakaian serba coklat itu dengan sangat cepat dan lincah segera melompat memasuki kereta kencana milik kekaaisaran Fumio.
Beberapa saat berlalu. Beberapa prajurit dari ras binatang akhirnya sampai dan berpapasan dengan kelompok Fujin dan mereka saling berhenti.
"Maaf, Pangeran pertaman Fujin, pangeran kedua Azai, pangeran ketiga Hanbei. Apakah pangeran melihat pangeran Honshu kami di sekitar tempat ini?" tanya salah satu prajurit ras binatang itu dengan nada rendah.
Fujin terdiam dan tidak menjawab ucapan prajurit tersebut. Karena selama ini Fujin selalu mengatakan apapun dengan jujur. Dia tak pernah berbohong ataupun melakukan beberapa hal yang menyimpang.
Azai yang menyadari semua ini dan sangat memahami Fujin akhirnya segera menjawabnya, "Kami tidak melihat dan bertemu dengan siapapun sejak 1 jam yang lalu."
"Mengapa kalian mengejar pangeran kalian sendiri? Apa yang terjadi? Apakah pangeran Honsu membuat sebuah kesalahan?" tanya Fujin sangat ingin tau.
"Yang mulia kaisar kami berniat untuk menjodohkan pengeran Honshu dengan siluman putri kerang. Namun pangeran Honshu malah akhir-akhir ini sering kabur dari istana dan melarikan diri entah kemana. Disaat petaka dan kutukan dari Bakekujira datang menyerang, langeran Honshu kembali dan membantu kami semua. Namun setelah itu dia kembali menghilang dan melarikan diri." jelas prajurit ras binatang.
"Baiklah kalau begitu kami akan pergi dan mencarinya kembali." imbuh prajurit itu memberikan salam penghormatan dan kembali memimpin prajurit lainnya untuk pergi.
__ADS_1
Honshu yang rupanya menguping dari dalam kereta kencana mulai menghembuskan nafas penuh kelegaan.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari wilayah ras binatang, akhirnya Honshu keluar dan melakukan perjalanan panjang bersama mereka. Ketika memasuki wilayah Fumio, Honshu memutuskan untuk berpisah dengan rombongan Fujin. Dia segera berpamitan setelah mengucapkan terima kasih kepada Fujin dan kedua adiknya.