
[Pil Pembangkit Ki]
[Pil yang disuling dengan tungku Sembilan Naga. Berguna untuk membangkitkan Ki atau bisa kalian sebut sebagai mana. Pastikan untuk mengonsumsi pil ini di daerah dengan mana.
Perhatian:
-Jangan menelannya dengan air, ini bukan Paracetamol.
-Jangan dikunyah, pahit.
Harga: Rp.700.000.000]
Seperti itulah deskripsi barang di web Belanja Online Universal.
Daru bangkit dan duduk bersila sebelum menelan pil itu. Walaupun tidak disebutkan untuk melakukan itu saat mengonsumsi pil, Daru hanya menirukan gaya orang-orang berkultivasi. Siapa tahu dengan begini jadi lebih mudah, pikirnya.
Daru memejamkan mata lalu memasukkan pil yang sebesar kelereng itu kedalam mulutnya dan mencoba menelannya.
*Hangat,
Panas,
Panas woy*!
Daru berteriak dalam hatinya. Dia merasakan suhu tubuhnya yang semakin meningkat setelah dia menelan pil itu. Dia pun segera melepas pakaiannya untuk mengurangi rasa terlalu panas. Dia lalu berusaha untuk tetap memejamkan matanya dan berkonsentrasi, itulah yang dia tahu ketika sorang kultivator berkultivasi.
Keringat mengucur deras dari pori-pori Daru. Belum sempat keringat itu jatuh ke kasur yang dia duduki, keringat itu menguap karena suhu tubuhnya. Kini Daru seperti seorang perokok yang merokok menggunakan lubang pori-porinya.
Karena suhu panas yang bersumber dari samping tubuh Frey, Frey pun terbangun dan melihat Daru yang mengeluarkan asap beraroma tak sedap.
Apa lagi hal aneh yang dia lakukan sekarang? Tetapi melihatnya bertelanjang dada tidaklah buruk hehe, pikir Frey.
Frey pun bangkit dan duduk sembari memandangi Daru. Walaupun aroma yang dikeluarkan dari tubuh Daru benar-benar busuk, tapi rasa penasaran dan ketertarikan kepada Daru mengalahkan itu semua.
Beberapa saat kemudian suhu disekitar berangsur-angsur turun. Keringat Daru juga tidak lagi menguap menjadi asap.
Selesa**i? pikir Frey.
Daru tetap memejamkan mata untuk berkonsentrasi. Semakin dalam dia berkonsentrasi, semakin dalam pula dia masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
Daru hanya melihat kegelapan tak terhingga dan menemukan sebuah lingkaran berwarna emas dengan garis tepi berwarna perak. Ditengah-tengah lingkaran itu terdapat simbol matahari. Simbol itu benar-benar mirip dengan tato yang ada di punggung Daru. Daru melihat dengan seksama dan menemukan sebuah garis berbentuk lingkaran berwarna perak di luar lingkaran berwarna emas. Daru menghitung dengan teliti dan menemukan ada 50 garis lingkaran yang semakin besar.
Ketika Daru mengamati lingkaran-lingkaran itu, lingkaran kedua tiba-tiba berubah warna menjadi emas. Kini lingkaran pertama dan kedua terpisah oleh garis berwarna perak.
A**pakah ini yang disebut lingkaran mana? Terus yang emas itu apakah mana? Keren! ucap Daru dalam hati.
Semakin lama Daru berkonsentrasi pada alam bawah sadarnya, lingkaran-lingkaran itu semakin terisi. Kini ada lebih dari 40 lingkaran yang sudah berwarna emas. Daru kegirangan dengan lingkaran mana yang ada ditubuhnya. Tak terasa tiga jam telah berlalu semenjak Daru mengonsumsi pil pembangkit ki, matahari pun terbenam.
Tok tok
"Bos, orang yang kau maksud telah datang." Shera memanggil dari balik pintu kamar Daru.
"...."
"Bos," panggil Shera sekali lagi karena tidak ada jawaban.
Ketuk lagi? Tapi kalau bos Daru dan bos Frey sedang begituan jadinya malah mengganggu .... Terus kalau benar seperti itu lalu aku juga diajak begituan gimana? Aku belum mandi!
Shera tidak tahu kalau Daru sedang berkonsentrasi mengisi lingkaran mananya sedangkan Frey melamun menatap Daru.
Lalu kenapa hening? Jangan-jangan mereka berdua pelan-pelan tidak bersuara agar tidak ketahuan olehku dan Sylph. Tenang saja bos! Kami sudah tahu! Ah, Aku harus memanggilnya, karena ini perintah bos tadi. Maafkan aku bos karena mengganggu kalian."
"Bos ...," panggil Shera sekali lagi dengan mengetuk pintu lebih keras.
"Ah!" Frey terkejut dengan ketukan pintu yang cukup keras sehingga dia mengeluarkan suara yang cukup aneh.
Jadi benar lagi begituan, pikir Shera semakin salah paham.
Frey bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tubuhnya kini menjadi lebih baik karena telah tidur walau hanya sebentar.
Frey membuka pintu dan melihat Shera berdiri di sana dengan wajah yang sedikit memerah.
"Ada apa? Dan kenapa wajahmu memerah?" tanya Frey.
"Ah, tidak apa-apa Bos Frey. Itu ..., orang yang dibilang Bos Daru tadi telah datang, aku kesini untuk memanggilnya," jawab Shera sembari mencoba melihat Daru yang masih ada di dalam. Karena Frey berdiri tepat di depan pintu, Shera tidak dapat melihat Daru.
"Oh, baiklah, aku akan mengatakan itu kepadanya," ucap Frey sebelum berbalik hendak kembali ke ranjangnya.
"Oh, Bos Frey ..., bagaimana rasanya? Hehe." Tanya Shera yang merujuk pada hal-hal yang ada di pikirannya
Hmm? Tubuhku? pikir Frey.
"Tadi memang lumayan sakit, tapi saat ini aku merasa sakitnya berkurang," jawab Frey yang yakin pertanyaan Shera merujuk pada kondisi tubuhnya.
Masih sakit walaupun sudah selesai? Bos Daru benar-benar hebat! ucap Shera dalam hati.
Shera tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke atas. Frey bingung dengan maksud Shera dan memilih untuk mengabaikannya. Ketika Frey berbalik dan pergi ke arah Daru, Shera bisa menangkap visi dengan jelas.
Bos Daru berkeringat sebanyak itu! Ah jika aku dobrak tadi, aku bisa melihat sesuatu yang intens. Pikiran Shera benar-benar dipenuhi dengan hal-hal kotor.
__ADS_1
"Daru, Tuan Zoref telah datang," ucap Frey sembari menepuk pundak Daru yang masih basah karena keringat.
Daru tiba-tiba merasa dirinya ditarik paksa dari alam bawah sadarnya. Dia pun terkejut dan membuka matanya. Dia melihat Frey yang duduk di sampingnya dan Shera yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang merah.
"Hmm? Ada apa?" Daru bertanya kepada kedua orang itu.
"A-anu ... Bos, Orang yang kau sebutkan sudah datang," ucap Shera terkejut.
"Oh, katakan padanya aku akan segera kesana, dan katakan juga bahwa dia bisa memulainya sekarang," ucap Daru memberi perintah.
"Baik!" Shera segera bergegas menuju lantai atas.
"Apa yang kau lakukan tadi, Daru?" tanya Frey keheranan.
"Cium aku dan aku akan memberitahumu," ucap Daru sembari memandang wajah Frey.
"Aku takut jika aku mencium mu, kau enggan melepaskannya."
"Mungkin saja, tapi aku yakin kau juga akan begitu. Haha."
"Mau mencobanya?" Frey mendekatkan wajahnya ke Daru.
Daru dengan sigap meraih pipi Frey dan mencium bibirnya. Mereka berdua tenggelam dalam perasaan dalam hati masing-masing dan tanpa mereka sadari, pintu masih terbuka.
"Bos, orang itu bertanya di mana tempatnya," ucap Shera sembari berjalan menuju pintu.
Ketika Shera berada tepat di depan pintu, dia terkejut karena melihat pemandangan yang ada di depannya.
Mereka masih mau memulainya lagi? Seberapa kuat Bos Daru? ucap Shera dalam hati.
"Ehm ..., Bos ...," ucap Shera mengeraskan suaranya.
Daru dan Frey terkejut dan segera melepaskan ciuman mereka dengan terpaksa.
"Maaf mengganggu hubungan romansa indah kalian berdua, tetapi orang itu bertanya di mana tempatnya," ucap Shera dengan wajah sedikit tersipu malu.
"Ehm, aku akan kesana," jawab Daru berusaha mengambil kembali ketenangannya.
Shera beranjak pergi menuju lantai atas lagi.
"Kenapa kau tidak menutup pintu? Sekarang mereka pasti akan menganggapku sebagai bos mesum yang mengincar karyawannya," ucap Daru sembari menatap tubuhnya yang telanjang dada.
"Kalau begitu kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa aku bukan karyawanmu melainkan pa-pa-pasanganmu," ucap Frey dengan wajah memerah.
"I-iya, ka-kau benar. Kita bicarakan nanti, aku harus menemui Zoref." Daru memalingkan wajah mencoba menutupi ekspresi malunya.
Dia bergegas mengganti pakaian dan pergi ke lantai atas. Sedangkan Frey kembali tidur agar kondisinya bisa pulih secepatnya.
"Mas Zoref, maaf membuatmu menunggu," sapa Daru.
"Tidak apa-apa mas Daru. Jadi, dimana tempatnya?" tanya Zoref.
"Aku tunjukkan tempatnya mas." Daru mengantar Zoref keluar dari toko.
Daru mengantar Zoref ke arah utara tak jauh dari tokonya. Lalu dia berkata "Di sini aja mas, jangan jauh-jauh."
"Oke." Zoref memanggil para pekerjanya untuk segera mulai membangun gedung asrama.
"Sekalian tolong perbaiki bagian depan toko juga mas, kira-kira dananya tambah berapa?" tanya Daru.
"Ah nggak usah bayar, anggap saja bonus. Haha," jawab Zoref dengan tertawa.
"Haha, Terima kasih. Sekalian pintu di lantai dua mas, kemarin roboh ditendang kary- pasanganku."
"Hoo? Udah jadi pasangan? Kirain masih malu-malu, haha."
"Hehe, baru aja. Kalau begitu aku kembali ke toko dulu mas. Kalau ada apa-apa bilang ke Shera atau Sylph, karyawanku."
Daru pun kembali ke toko. Dia bergegas menuju lantai satu bawah untuk menemui Frey, melanjutkan sesuatu yang belum berlanjut.
Setibanya disana, Daru melihat Frey yang sudah terlelap. Dia tidak tega membangunkan Frey jadi dia berbaring di sampingnya dan tidur.
....
Matahari pun terbit, menyorotkan cahayanya ke segala arah.
"Hah ..., sudah pagi dab tidak ada yang membangunkanku?" gumam Daru. Daru melihat kearah samping dan tidak menemukan Frey di sana. Jadi dia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju lantai satu atas.
"Pagi bos!"
"Pagi!"
Ucap Shera dan Sylph bersamaan.
"Pagi, apa yang sedang kalian berdua lakukan?" tanya Daru yang masih dalam kondisi setengah sadar.
"Bersih-bersih, Bos!" jawab Shera.
"Masak, Bos!" sahut Sylph.
__ADS_1
"Apakah pembangunan Zoref selesai?" tanya Daru sekali lagi.
"Selesai, Bos! Tadi malam saya menunggu mereka selesai membangun sebelum tidur, Bos! Tuan Zoref meminta saya untuk memberitahu Bos untuk membuka pesannya, tetapi saya tidak mendapat pesan apapun. Laporan selesai!" ucap Shera tegas.
Kenapa jadi tentara? ucap Daru di dalam hati.
"Kalau begitu lanjutkan kegiatan kalian. Prajurit, Bubar!" Daru mulai meniru gaya komandan militer.
"Siap Bos!" Mereka berdua segera pergi dengan berbaris.
Hah, ada-ada saja.
"Kenapa Zoref ingin aku melihat pesan? Hmm." Daru pun menyalakan Smartphone-nya dan melihat satu notifikasi pesan masuk.
[Zoref]
[Sudah selesai. Periksa lagi bangunan, renovasi toko, dan pemasangan alat pertahanan di dinding. Kalau sudah puas, kasih tahu ....
Zoref ganteng]
"Pede sekali dia, haha .... Aku akan memeriksa hasil pembangunannya," gumam Daru.
Dia bergegas menuju depan toko dan melihat tokonya sudah seperti sedia kala tanpa ada kerusakan apapun. Lalu dia menuju ke bangunan asrama yang ada di sebelah utara toko.
"Wih, lumayan besar," gumam Daru terkagum-kagum melihat bangunan barunya. Dia pun segera masuk ke dalam dan memeriksa kondisi bangunan itu.
Bangunan itu sangat luas tetapi hanya memiliki satu lantai. Di dalamnya, terdapat 25 ruangan, yaitu 20 kamar tidur siap huni, 3 toilet, dan 2 dapur. Daru bisa menebak air yang mengalir ke bangunan ini berasal dari artefak sihir yang berada di bawah toko Daru.
"Lumayan lah," gumam Daru.
Setelah selesai memeriksa kondisi bangunan barunya, Daru keluar dan memandang dinding yang melingkari Bukit Sarren. Di atas dinding itu kini terdapat banyak meriam yang cukup panjang. Jarak antara meriam satu dengan yang lainnya adalah 100 meter. Setelah menghitung cukup lama, Daru mengetahui bahwa jumlah meriam adalah 81 buah.
"Bukankah ini terlalu banyak? Aku harus mencobanya," gumam Daru.
Daru menghampiri sebuah pohon dan memukul pohon itu satu kali. Pohon itu tumbang hanya dengan sekali pukul, kekuatan Daru benar-benar bertambah. Daru kemudian mengangkat pohon itu dan melemparkannya ke atas.
Ketika pohon itu sampai di ketinggian sekitar 30 meter dari tanah tempat Daru berdiri, semua meriam mengarahkan moncongnya ke pohon itu.
Ciu (sfx: suara tembakan laser.)
Muncul 81 garis cahaya berwarna merah dari moncong 81 meriam menuju ke pohon itu bersamaan dengan suara tembakan terdengar.
Tiba-tiba, pohon itu berubah menjadi debu berwarna abu-abu yang perlahan turun seperti salju.
"Terlalu mengerikan!" teriak Daru. Daru takjub dengan kekuatan penghancur meriam-meriam itu. Dia yakin makhluk sekelas Griffon akan menemui ajalnya ketika masuk ke Bukit Sarren melalui udara.
"Lah, kalau Xavier dan Griffonnya datang dan bisa meberobos susunan sihir, langsung mati dong? Aku harus mencari tahu cara mematikan meriam ini untuk sesaat."
Daru segera mengirim pesan kepada Zoref.
[You]
[Ini matiin meriam caranya gimana mas?]
[Zoref]
[Ada ruang kontrol di selatan. Ada tiga tuas di sana, merah, kuning, putih. Merah buat on/off, kuning buat kekuatan, putih buat mengatur ketinggian objek dari tanah. Terus ada beberapa tombol untuk beralih mode. Sudah aku tulis kegunaannya di bawah masing-masing tombol.
[Zoref ganteng]
[You]
[Terus ini tenaganya dari apa? Listrik atau sihir?]
[Zoref]
[Nuklir, ada di masing-masing meriam.
Zoref ganteng]
Nuklir! teriak Daru di dalam hati.
[You]
[Emang aman mas? Nggak meledak tiba-tiba gitu?]
[Zoref]
[Aman, ya kalau mau meledakkan meriam-meriam itu, ada tombol di ruang kontrol. Barangkali mas Daru gabut terus iseng mau lihat kembang api. Cukup gede lo mas, radius 10 km ledakannya. Kalau mau meledakkan, beritahu aku mas. Aku pasti datang bawa anak istri. Lumayan tontonan kembang api gratis.
Zoref ganteng]
[You]
[Mas ...,]
[Zoref]
[Dek ...,
__ADS_1
Zoref ganteng]
"Hahh ..., dia jadi gila." Daru menghela nafas sebelum pergi ke ruang kontrol untuk memeriksa keseluruhan mekanisme meriam dan mematikannya sebelum Xavier datang.