
Ketiga karyawan Daru mulai memberitahu semua orang di Bukit Sarren untuk pergi dari sana. Kebanyakan pengunjung memilih untuk segera pergi karena mereka percaya teriakan-teriakan yang mereka dengar sebelumnya menandakan ada sesuatu yang genting telah terjadi.
Sementara itu di ruangan lantai dua, Daru yang tengah membersihkan dirinya dari noda-noda merah bekas ramuan penyembuh dengan handuk, mendengar suara ketukan pintu.
Tok tok.
Pintu terbuka dan sosok Drey muncul dari kehampaan.
"Selesai, Bos," ucap Drey sembari berlutut.
"Bagus. Temui shera dan lainnya, pastikan sudah tidak ada orang luar yang berada di Bukit Sarren, setelah itu, tutup portal teleportasinya. Setelah selesai, kau bisa beristirahat," ucap Daru memberi instruksi.
"Baik, Bos." Drey pun kembali menghilang.
Setelah membersihkan diri, Daru duduk di samping Frey yang dari tadi memandangi Daru.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Jatuh cinta?" ejek Daru.
Frey tersenyum manis lalu bertanya, "Apa tugasku?"
"Hmm ...." Daru berpikir sembari mengelus dagunya.
"Pergilah ke bangunan asrama, temui seseorang bernama Neia, dan pastikan beliau tidak melihat ke arah luar."
"Neia? Siapa dia? Wanita? Kau membawa pulang seorang wanita? Jangan-jangan, dia adalah wanita dari Rumah Surga?" Frey pun menembaki Daru dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Beliau adalah seorang nenek tua yang memiliki bakat untuk membuat ramuan, aku membawanya agar beliau bisa membuat toko ramuan di sini. Aku ingin membangun beberapa bangunan sekarang, dan karena tidak ada kontrak darah antara aku dan beliau, kerahasiaan mengenai Zoref harus dijaga darinya," balas Daru panjang lebar.
"Oh, aku percaya. Lagipula, tidak ada nenek-nenek yang bekerja di Rumah Surga," ucap Frey sebelum beranjak pergi melaksanakan tugasnya.
"Jika memang ada, siapa juga yang mau membayarnya?" gumam Daru sembari melihat Frey berjalan menjauh.
Daru pun mengeluarkan smartphone-nya untuk menghubungi Zoref.
Tut
"Halo, Mas Zoref," sapa Daru setelah mendengar bunyi panggilan terhubung.
"P," ucap Zoref menanggapi sapaan Daru.
"Mas, aku mau buat bangunan lagi, nanti malam datang yak."
"Nggak bisa, Mas Daru. Tengah malam nanti mau ke Niberu, matahari di sana lagi konslet, harus ganti bohlam," ucap Zoref.
Matahari ganti bohlam? Apaan sih! ucap Daru dalam hati.
"Kalau sekarang bagaimana?" tanya Daru.
"Bisa sih, tetapi nggak banyak personil. Siang hari gini biasanya banyak yang mager. Bangunannya gimana mas? Kalau nggak terlalu ribet, sebelum tengah malam bisa selesai walaupun nggak banyak orang."
"Tiga bangunan dan satu lapangan bulu tangkis, Mas. Toko kecil, gedung besar empat lantai, sama gudang yang cukup besar. Bagaimana?" ujar Daru.
Zoref diam sejenak untuk berpikir, lalu dia berkata, "Tergantung fitur. Kalau cuma bangunan kopong, 5 jam jadi."
"Tokonya kasih tungku raksasa buat merebus ramuan, dan juga kasih toilet. Masalah air bisa menggunakan artefak di bawah toko utama."
"Mudah." Zoref menanggapi setelah memulai simulasi pembangunan di pikirannya.
"Gedung besarnya kasih beberapa set billiard di lantai satu, tenis meja di lantai dua, enam jalur bowling di lantai tiga dan set kasino di lantai empat. Listrik, toilet, ruang penyimpanan, kasir dan hal-hal penting lain bisa Mas Zoref urus."
"Aku jamin dua bangunan yang Mas Daru sebut barusan bisa jadi sebelum tengah malam, tetapi lapangan sama bangunan yang satunya ...." Zoref menghentikan ucapannya karena yakin Daru mengerti apa yang akan dia katakan.
"Kalau begitu, lapangan sama bangunan dibangun besok malam, gimana?" tanya Daru penuh harap.
"Gitu juga bisa. Aku mau bikin rancangannya dulu, setelah itu langsung meluncur ke tempat Mas Daru."
Tut
__ADS_1
Zoref langsung menutup teleponnya karena merasa semuanya sudah jelas.
"Pertemuan antara Paman Vanir dan Tuan Gustave masih seminggu lagi, tidak apa-apa untuk menunda pembangunan gudang," gumam Daru.
"Oh, ngomong-ngomong tentang matahari, aku penasaran apa yang dapat dilakukan oleh simbol matahari yang ada di tengah-tengah lingkaran mana-ku." (Chapter 21)
Daru kemudian membuka web Belanja Online Universal dan langsung membuka informasi toko yang menjual serum pembangkitan alam, serum yang Daru gunakan dulu.
"Elemen alam, elemen alam ...." Daru mencari-cari informasi yang berkaitan dengan elemen alam, sesuatu yang dia dapatkan dari serum.
Perhatiannya terkunci pada satu tab yang berisi pertanyaan-pertanyaan dari pelanggan.
[FAQ]
[Kak, apakah elemen alam itu sama dengan elemen di setrikaan?]
[Kak, kapan ada promo?]
[Kak, apakah serumnya bisa diminum? Saya takut jarum suntik.]
"Pertanyaan yang tidak bermutu," gumam Daru dengan tatapan sinis ketika membaca pertanyaan-pertanyaan pelanggan.
[Kak, elemen alam itu apa?]
Mata Daru bersinar ketika akhirnya menemukan sebuah pertanyaan yang benar-benar dia butuhkan jawabannya. Daru pun membuka link yang terkait dengan pertanyaan itu dan menemukan sesuatu yang sangat-sangat menarik.
[Elemen alam adalah elemen mana yang terkait dengan karakteristik suatu hal dari alam. Seperti jika kamu mendapat elemen laut, maka mana yang digunakan untuk sihir yang berhubungan dengan air akan berkurang sangat banyak dan efek dari sihir itu akan berkali-kali lipat lebih baik. Elemen alam dibagi menjadi beberapa tingkat, tingkat terendah adalah elemen alam yang hanya mempengaruhi satu hal, seperti elemen laut. Sedangkan yang tertinggi adalah elemen alam yang dapat mempengaruhi banyak hal sekaligus, seperti elemen langit yang dapat mengurangi mana dari sihir gravitasi, sihir udara, dan lainnya.]
"Jadi, apa yang dapat dilakukan oleh elemen matahari?" gumam Daru sebelum masuk ke dalam mode fokusnya.
Matahari, panas, terang. Bukankah matahari juga memiliki gravitasi kuat yang dapat menarik planet-planet sehingga bisa memutarinya sesuai orbit? Apakah itu termasuk karakteristik matahari? Berarti mana yang kugunakan untuk sihir api, cahaya, dan gravitasi bisa berkurang banyak?
Daru terus berpikir tentang kegunaan elemen mataharinya.
Sementara itu di Bar Bull's Horn, Moon City.
Setelah sekitar 1 jam Klein menunggu di ruang bawah tanah bar, seorang pemuda berambut coklat datang dengan senyuman yang menampakkan kebahagiaan.
"Selamat datang, Tuan Dante," sapa Klein dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
"Oh, Tuan Klein mengatahui nama saya? Saya yakin saya belum pernah menyebutkan nama saya," balas Dante dengan sedikit waspada.
"Hahaha, Tuan mengeluarkan uang sebanyak ini untuk organisasi saya, akan tidak sopan jika saya tidak mengetahui nama klien berharga saya." Klein tersenyum untuk menutupi perasaan di hatinya yang ingin segera menghabisi pemuda yang ada di depannya.
Setelah semua ini selesai, aku pasti membawa kepalamu ke Tuan Daru! pikir Klein
"Oh, seperti itu rupanya. Saya merasa terhormat bisa di anggap sebagai klien terhormat, hehe," ucap Dante.
"Silahkan duduk, Tuan Dante. Kita akan segera memulai urusannya." Klein mengeluarkan sebuah kantong yang dia dapat dari pembunuh bayaran yang menemui Daru sebelumnya.
"Di dalam kantong ini, ada kepala dari orang yang ingin Anda bunuh, Anda bisa mengeceknya," ucap Klein setelah Dante duduk di hadapannya.
Dante dengan sigap meraih kantong itu dan membuka isinya. Dia pun mengangguk setelah mengamati sesaat.
"Dengan ini, bounty yang saya pasang sudah selesai," ucap Dante.
Sebenarnya, Dante tidak tahu seperti apa rupa Daru, dia berkata seperti itu karena dia yakin organisasi pembunuh bayaran terkenal seperti Black Minotaur tidak mungkin berlaku curang pada klien, ditambah dia juga dianggap sebagai klien yang berharga oleh pemimpin organisasi.
Dante mengeluarkan sebuah cincin dimensi yang berisi 20.000 koin emas dan menyerahkannya ke Klein.
"Silahkan diperiksa jumlahnya, Tuan Klein," ucap Dante.
"Tidak perlu, saya percaya dengan Anda," balas Klein dengan tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Klein. Kalau begitu, saya pamit undur diri." Dante beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Klein.
Tugasku hanya ini, kan? ucap Klein dalam hati.
__ADS_1
....
Kembali ke Daru yang tengah berpikir mengenai elemen mataharinya.
"Apakah ini yang menyebabkan sihir api-kerenku memiliki kekuatan penghancur yang tinggi?" gumam Daru setelah mengetahui beberapa fakta.
Sebuah ide pun muncul di pikirannya.
"Daripada menggunakan sihir yang bekaitan dengan karakteristik matahari, kenapa tidak membuat sihir matahari saja?" Daru pun segera mengimajinasikan tentang matahari.
Daru mengimajinasikan bentuk, karakteristik, dan unsur-unsur pembentuk matahari.
Bulat, panas, gravitasi, cahaya, hidrogen, helium, oksigen, karbon, neon, pikirnya.
Setelah itu dia mulai menggabungkan mana-nya lalu mengalirkannya ke telapak tangan.
Tiba-tiba sebuah bola seukuran telapak tangan yang memancarkan cahaya berwarna oranye muncul di telapak tangan Daru.
"Matahari ada di genggamanku," ucap Daru dengan tersenyum sembari memandangi matahari yang dia buat.
Aku pernah membaca artikel mengenai solar flare atau ledakan matahari saat masih berada di Bumi. Kira-kira ledakannya beberapa kali lipat lebih besar dari bom atom, mungkin aku harus mencobanya di luar kawasan Bukit Sarren, ucap Daru dalam hati.
Daru pun mematikan sihirnya karena takut jika itu meledak maka akan menghancurkan tokonya. Daru lalu kembali menatap smartphone-nya dan membuka Islagram untuk mencari informasi tentang Dante.
"Hoo, dia sudah membayar kepalaku," gumam Daru setelah melihat postingan Dante yang menyatakan bahwa dia baru saja meninggalkan Bar Bull's Horn.
Daru kemudian menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, "Drey!"
Drey yang sedang beristirahat bersama adiknya, Liz, mendengar panggilan Daru dan segera menuju ke lokasi Daru berada.
"Bos!" sapa Drey sembari berlutut.
"Pergi ke Bar Bull's Horn di Moon City, temui Tuan Klein, tanyakan dimana tempat tinggal seseorang bernama Dante, pergi ke tempat itu, dan awasi dia. Dante adalah orang yang memasang harga untuk nyawaku di Black Minotaur, aku yakin orang yang ada di belakangnya akan segera muncul. Aku ingin informasi itu, pergi lakukan tugasmu." Daru menjelaskan tugas Drey dengan rinci.
"Kau masih membawa kalung teleportasi, kan? Jangan buka portalnya, cukup lewati saja menggunakan kalung itu," tambah Daru.
"Baik!" teriak Drey sebelum menghilang ke kehampaan dan pergi menuju Moon City.
"Sudah lebih dari 1 jam dan Mas Zoref belum juga datang. Biasanya, dia kalau dapat proyek langsung datang tanpa menunda," gumam Daru.
Daru pun mencoba menelpon Zoref untuk menanyakan kepastiannya.
Tut
Daru mengerutkan alisnya karena nada yang seharusnya menandakan panggilan terhubung malah memutuskan panggilannya.
"Jangan buang-buang pulsa," ucap seseorang dari belakang Daru.
"Haha, kirain Mas Zoref nggak jadi datang," ucap Daru.
"Tadi lagi ngumpulin pekerja, banyak yang tidak mau datang, hah," ucap Zoref sembari menghela nafas panjang.
"Ini rancangannya, Mas Daru lihat dulu," tambah Zoref sebelum menyerahkan tablet yang menampilkan cetak biru bangunan.
Daru mengamati cetak biru itu dengan seksama. Setelah beberapa saat mengamati, dia berkata, "Sudah bagus, Mas Zoref. Rancangan Mas Zoref benar-benar mantap."
"Tentu saja! Pengalaman udah banyak, hahaha! Aku akan mulai pembangunannya, dimana posisi yang Mas Daru inginkan?" tanya Zoref.
"Yang penting nggak jauh dari toko utama, Mas Zoref. Berapa biayanya?"
"Segini," ucap Zoref sembari menunjuk angka yang berada di bawah cetak biru di tabletnya.
Daru kemudian mentransfer jumlah yang sesuai lalu Zoref mulai membangun setelah mengonfirmasi uang yang dia terima.
"Pembangunan sudah dimulai dan sebentar lagi aku akan mengetahui siapa yang sebenarnya ingin mengambil nyawaku," gumam Daru penuh antusias.
Namun, dia tidak mengerti, kebenaran yang ada di belakang percobaan pembunuhannya cukup merepotkan.
__ADS_1