
Daru menyadari bahwa kedua orang di depannya telah terikat oleh kontrak darah, dia pun berkata, "Aku tarik kembali pertanyaanku."
Setelah mendengar itu, ekspresi kedua orang di depannya kembali kosong, tidak menunjukkan ekspresi kesakitan seperti sebelumnya.
Tiba-tiba Frey yang dari tadi berada di samping Daru dengan membawa dupa, melepas sihir silumannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Frey penasaran.
"Apa yang kau nyalakan adalah yang melakukannya," jawab Daru dengan enteng.
Frey kemudian memandangi dupa yang terus-menerus mengeluarkan asap, dia bertanya, "Maksudmu?"
"Asap yang keluar dari sana membuat semua orang yang mencium aromanya akan menuruti perintah apa pun dari siapa pun yang memberi perintah. Pil yang kau telan tadi adalah penangkal efeknya," jelas Daru.
Frey terkejut dan berkata, "Bukankah ini sesuatu yang jahat? Apakah ini yang kaugunakan untuk membuat para petinggi lima Keluarga Bangsawan menjadi budakmu?"
"Ya ..., dan ya. Tenanglah, aku sudah berjanji pada mendiang Xavier untuk tidak menggunakan itu sembarangan," ujar Daru.
Jawaban Daru membuat alis Frey mengerut seakan tak percaya.
"Mendiang?" tanya Frey lagi.
Daru mengangkat alisnya karena baru saja tersadar bahwa ucapannya telah membuka salah satu rahasianya.
"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang, aku ingin mengorek informasi dari mereka berdua. Tetapi, sepertinya akan susah, karena mereka terikat kontrak darah." Daru mengelus dagunya dan berpikir cara yang paling tepat untuk mengatasi kedua orang di depannya.
"Apakah kontrak darah bisa dibatalkan, Frey?" tanya Daru.
"Bisa, jika surat kontrak darah dirusak, kontraknya akan tidak berlaku saat itu juga," jelas Frey.
"Berarti, untuk sekarang itu tidak mungkin dilakukan. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Daru kebingungan.
"Kenapa tidak bertanya namanya? Kau bisa meminta organisasi Third Eye untuk melacak seseorang hanya dengan nama, kan? Aku juga yakin tuan mereka tidak melarang mereka untuk menyebutkan nama mereka," Frey memberi saran.
Ekspresi Daru berubah menjadi penuh cahaya ketika mendengar saran Frey.
Nama, Islagram! pikir Daru.
Daru kemudian memandang Frey dan berkata, "Inilah alasan mengapa aku tergila-gila padamu. Terima kasih."
Frey semakin kebingungan dan bertanya, "Bukankah itu hanyalah saran yang remeh? Kenapa kau begitu senang?"
"Karena saran yang kau anggap remeh itu benar-benar cocok di kondisi ini, bahkan aku tidak memikirkan itu sebelumnya. Aku harus lebih fokus," jawab Daru sembari menghela nafas.
Frey hanya tersenyum menanggapi Daru, dia senang karena bisa berguna untuk Daru.
Daru kemudian mengalihkan pandangannya menuju ke arah dua orang yang dari tadi terdiam dengan tatapan kosong.
"Sebutkan nama asli kalian!" perintah Daru kepada mereka berdua.
"Trevis."
"Iris."
Mereka berdua menyebutkan nama mereka secara bergantian. Si pria bernama Trevis, sedangkan si wanita bernama Iris.
Setelah mengamati dengan seksama, Daru menyadari bahwa pria yang bernama Trevis bukanlah seorang pria paruh baya, tebakannya pun salah.
Jika pria tua yang kutemui di Waterfall City bukanlah salah satu dari mereka berdua, lalu siapa dia? pikir Daru.
Daru menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan smartphone-nya. Dia membuka Islagram lalu mencari nama kedua orang itu.
Ekspresi Daru menunjukkan keterkejutan yang cukup besar ketika membaca salah satu postingan terbaru Trevis.
[Trevis]
*Bersama [Iris]
[Yang Mulia Raja Arthur! Kami akan segera kembali membawa kabar baik untuk Yang Mulia! Yang Mulia bisa melanjutkan rencana tanpa ada gangguan hama lagi seperti Daru!]
__ADS_1
Bukankah nama dari Raja Kerajaan Karian adalah Arthur? (Chp. 2) Rencana apa yang dia buat sehingga menganggapku sebagai hama? Yang aku tahu, dia mengadu domba Kerajaan Vradarian dan Kerajaan Resia. Aku tidak mengganggu peperangan antara kedua kerajaan tersebut ..., pikir Daru.
"Jawab pertanyaanku, apa rencana tuanmu?" Daru kembali bertanya.
Ekspresi Trevis dan Iris kembali menunjukkan kesakitan setelah mendengar pertanyaan Daru.
"Cih, aku tarik pertanyaanku," ucap Daru setelah menyadari bahwa efek kontrak darah berlaku pada hal-hal yang berhubungan dengan Raja Arthur.
"Daru, kau tahu siapa tuan mereka?" tanya Frey.
"Ya, dan fakta itu cukup mengejutkan," jawab Daru enteng.
Daru pun kembali masuk ke dalam mode fokusnya.
Sesuatu yang berhubungan dengan Kerajaan Resia dan Kerajaan Vradarian, tapi apa? Apa yang telah aku lakukan? Aku tidak melakukan apapun yang berhubungan dengan Kerajaan Vradarian, itu berarti ini semua berhubungan dengan Kerajaan Resia.
Setelah terdiam beberapa saat, Daru kemudian menyadari satu hal.
Hilangnya Rennesia menjadi pemicu peperangan antara Kerajaan Vradarian dan Kerajaan Resia. Aku telah menyelamatkan Rennesia sekaligus membongkar apa yang ada di belakangnya. Apakah campur tanganku mengenai masalah itu yang membuat si Arthur ini menganggapku sebagai hama? pikir Daru.
Daru kembali memandang Trevis dan Iris lalu bertanya, "Jawab pertanyaanku, apakah kalian yang membebaskan Verza Lionness dari penjara?"
"Ya."
Kedua orang itu menjawab secara bersamaan.
"Dimana dia sekarang?" tanya Daru lagi.
mereka hanya diam tanpa menunjukkan reaksi apa-apa.
"Oh, jawab pertanyaanku!" perintah Daru.
Dupa hipnotis hanya berefek pada perintah. Jika itu bukanlah sebuah perintah, maka orang yang mencium aroma dupa hanya akan berdiam diri dengan tatapan kosong. Daru baru saja melupakan fakta tersebut.
"Dia sedang menuju Kerajaan Karian," jawab mereka secara bersamaan.
Daru tersenyum dengan sangat lebar, sebuah rencana besar pun muncul di kepalanya, sedangkan Frey hanya diam karena kebingungan.
"Yap, kau benar," jawab Daru dengan singkat.
"Mereka membebaskan Verza Lionness dan Verza Lionness menuju Kerajaan Karian, itu berarti tuan mereka ada di Kerajaan Karian?" tanya Frey lagi.
"Kau benar lagi," jawab Daru dengan anggukan ringan.
Frey terdiam sejenak untuk berpikir.
Daru belum pernah pergi ke Kerajaan Karian ..., bagaimana bisa dia menyinggung seseorang dari sana? pikir Frey
Karena pikirannya tidak dapat menggapai fakta lain mengenai tuan dari Trevis dan Iris, dia bertanya sekali lagi kepada Daru. "Siapa?" tanyanya.
"Aku sudah bilang bahwa itu cukup mengejutkan, aku akan menceritakannya nanti," ucap Daru.
Daru kemudian memandang Trevis dan Iris untuk mengakhiri pertemuannya.
"Anggap pertemuan ini tidak pernah terjadi, lupakan semua perintah yang telah aku perintahkan tadi, tanamkan dalam kepala kalian bahwa Daru, pemilik Bukit Sarren telah mati," ujar Daru.
Mereka berdua mengangguk tanpa mengatakan apapun.
"Frey, kita pergi," ucap Daru kepada Frey.
"Itu saja? Kau tidak mau menangkap mereka? Aku yakin kita bisa mendapatkan informasi yang berharga dari mereka walaupun tidak berkaitan dengan tuan mereka," sanggah Frey.
"Tenang saja, aku memiliki rencana," ucap Daru sebelum mengaktifkan sihir silumannya.
Frey dengan kebingungan mulai mengaktifkan sihir silumannya. Mereka berdua pun pergi menuju portal teleportasi untuk kembali ke Bukit Sarren meninggalkan Trevis dan Iris yang masih berdiri mematung di sana.
Beberapa saat setelah Frey dan Daru meninggalkan ruangan, aroma dupa pun memudar, membuat Trevis dan Iris mendapatkan kembali kesadarannya.
"Hmm? Kenapa aku memegang senjata?" gumam Trevis kebingungan.
__ADS_1
"Aku juga. Entah mengapa, aku merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi," balas Iris.
"Ayo segera kembali ke Kerajaan Karian, kita harus segera melapor sebelum sesuatu yang buruk terjadi," ucap Trevis dengan sedikit cemas.
Iris mengangguk dan segera mengemasi barang-barangnya. Mereka berdua tidak tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.
....
Daru dan Frey telah tiba di Bukit Sarren dan segera melepas sihir siluman mereka. Daru langsung mengajak Frey menuju lantai dua atas toko untuk menyusun rencana-rencana yang ingin dia lakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap Raja Arthur.
"Matikan itu, hemat," ucap Daru setelah menyadari bahwa dupa hipnotis masih menyala dari tadi.
Frey segera mematikan dupa itu dan mengembalikannya kepada Daru lalu duduk di sampingnya.
"Sebelum kau mulai menjelaskan tentang orang yang ingin membunuhmu, jelaskan padaku terlebih dahulu mengenai Tuan Xavier yang kau sebut sebagai 'mendiang.' " Frey masih penasaran karena ucapan Daru sebelumnya.
"Maaf telah merahasiakan ini darimu, Xavier sudah mati di tempat dimana gurunya, Julius dimakamkan."
Frey terkejut dan bertanya, "Apa penyebab kematiannya?"
Daru diam sejenak, menghirup nafas dalam-dalam dan menjawab, "Dia bunuh diri."
Frey lebih terkejut dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Xavier adalah sosok kuat yang dihormati oleh semua orang di Benua Isla. Walaupun Xavier pernah melukai Frey dan Daru, tetapi dalam hati Frey masih ada rasa kekaguman kepada Xavier yang merupakan orang yang memukul mundur monster Dark Plain bersama Julius sekitar 100 tahun yang lalu.
"Apa yang membuatnya bunuh diri? Itu terlalu tidak mungkin, kau tahu?" tanya Frey dengan ekspresi penuh rasa tidak percaya.
Daru pun menceritakan tentang pertemuan keduanya dengan hantu Julius. Dia bercerita mengenai alasan Xavier bunuh diri adalah karena mengetahui kebenaran yang Daru yakini berasal dari kitab perjalanan Julius.
"Xavier membakar buku itu sebelum bunuh diri, jadi aku tidak tahu secara pasti mengenai isinya," ucap Daru mengakhiri penjelasannya.
Frey dengan tatapan tidak percayanya berkata, "Ini akan menimbulkan kehebohan jika diketahui publik."
"Ya, maka dari itu aku tidak menceritakan itu kepadamu lebih awal. Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam buku itu. Kebenaran apa yang membuat seseorang sehebat Xavier memutuskan untuk bunuh diri?" balas Daru.
"Yah, lupakan. Lagipula, itu tidak ada urusannya denganku," tambah Daru.
Frey mengangguk dan bertanya, "Jadi, bagaimana dengan orang yang ingin membunuhmu? Siapa dia?" tanya Frey.
Daru diam sejenak dan menjawab, "Arthur Baraqiel."
Sontak saja mata Frey terbelalak kaget dan kembali bertanya, "Raja Kerajaan Karian?"
"Yap, dia orangnya," jawab Daru dengan enteng.
Frey kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang dan berkata, "Ini cukup besar."
Daru tersenyum dan membalas, "Aku sudah bilang bahwa ini akan cukup mengejutkan."
Frey terdiam cukup lama sebelum mendekatkan diri kepada Daru, meraih tangannya dan berkata, "Percayalah, kerajaan mana pun yang menjadi musuhmu, aku akan berada di sampingmu, mengangkat pedangku, dan memenggal orang-orang yang ingin melawanmu."
"Kau tidak akan pernah menyesal setelah memilih pilihan itu. Setelah ini berakhir, aku akan memberikan Kerajaan Karian kepadamu," ucap Daru sembari mengeluarkan senyuman terbaiknya.
Frey sedikit terkejut karena tahu bahwa perkataan Daru bukanlah sebuah candaan, Daru tidak pernah bercanda ketika sedang membicarakan ambisinya.
"Tidak perlu, milikku adalah milikmu, Daru."
"Itu berlaku sebaliknya, Frey," ucap Daru dengan ketenangan yang luar biasa.
Frey tentunya sangat bahagia mendengar itu, bukan karena apa yang akan diberikan oleh Daru, melainkan karena Daru menganggapnya sebagai orang yang penting bagi Daru.
Jika kau benar-benar memberikan Kerjaan Karian kepadaku, aku akan berusaha setengah mati untuk memberikan seluruh Benua Isla kepadamu, tekad Frey pun terbentuk dengan sangat matang di hatinya.
"Mari kita masuk ke dalam rencananya," tambah Daru.
Frey mengangguk dan membiarkan Daru menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
"Frey, apakah kau tahu apa itu kotak pandora?" tanya Daru.
Frey menggelengkan kepalanya karena istilah kotak pandora memang benar-benar asing di telinganya.
__ADS_1
"Aku akan menceritakannya." Daru tersenyum lalu memulai ceritanya.