Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Yin dan Yang


__ADS_3

Daru tiba di Ibukota Kerajaan Saria, Waterfall City, setelah seminggu berlari dari Loner Cave. Waterfall City tidaklah sebesar Moon City, namun kota itu nampak seramai Moon City, bahkan lebih. Para penduduk yang ditemui Daru kebanyakan memiliki ekspresi wajah yang cerah, seakan mereka merasa penuh syukur tinggal di sana.


"Penduduk Moon City walaupun sejahtera, tidak banyak yang memiliki ekspresi seperti mereka. Mungkin ada sesuatu yang menarik di kota ini," gumam Daru.


Daru saat ini tengah mencari penginapan untuk singgah dan merancang rencananya. Di tengah perjalanan, Daru melihat antrian panjang pria dari sebuah bangunan yang cukup besar. Bangunan itu memiliki dua lantai dengan dinding yang terbuat marmer berwarna putih.


"Bangunan apa itu?" gumam Daru.


Daru mendekati bangunan itu dan tanpa sadar telah melewati antrian.


"Woi! Aku tidak tahu itu seberapa keras, tetapi mengantrilah!" teriak salah satu pria yang berdiri di antrian.


"Keras? Bangunan apa yang sedang kalian tuju?" tanya Daru kepada pria itu.


"Kau baru pertama kali datang ke Waterfall City?" Pria itu melempar pertanyaan kepada Daru.


"Ya, malah aku baru pertama kali ini datang ke Kerajaan Saria," jawab Daru yang masih penasaran dengan bangunan yang ada di depannya.


"Jadi, bangunan apa yang kalian tuju?" tambah Daru.


"Itu disebut Rumah Surga, mengantrilah dan kau akan tahu," jawab pria itu.


Hmm, daripada buang waktu dengan mengantri, lebih baik aku cari informasi tentang raja di Islagram, pikir Daru.


"Aku tidak tertarik. Ngomong-ngomong, dimana letak penginapan terbaik di Waterfall City?" tanya Daru lagi.


"Lurus, belok kiri, utara jalan," jawab pria itu sembari menunjuk arah utara.


"Terima kasih." Daru pun berjalan menuju tempat yang ditunjukkan pria itu.


"Tracker's Inn, nama yang bagus," gumam Daru setelah tiba di depan bangunan yang dia yakini sebagai penginapan terbaik.


Daru pun masuk ke dalam dan berteriak, "Punten!" dengan spontan.


Teriakan Daru mengundang perhatian semua orang yang ada di sana, tak terkecuali seorang pria paruh baya yang sedang duduk di salah satu kursi dengan segelas bir di depannya. Pria itu memandang Daru dengan ekspresi sedikit terkejut seakan berkata, "Akhirnya aku menemukanmu."


Daru yang menyadari tatapan pria itu pun berjalan mendekatinya.


"Apa ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya Daru sopan.


Pria itu tersenyum sebelum menjawab, "Tidak."


"Oh, seperti itu," ucap Daru sebelum berjalab mendekati meja resepsionis.


"Satu kamar untuk 2 minggu," ucap Daru kepada seorang wanita yang duduk di belakang meja.


"Sebutkan nama Anda, Tuan." Wanita itu mengambil sebuah pena dan membuka sebuah buku besar.


"Daru," jawab Daru singkat.


"Daru." Pria tua yang memandang Daru tadi berbisik dan pergi meninggalkan penginapan.


Daru dengan pendengaran luar biasanya pun mendengar bisikan Pria tua itu, dia menoleh ke arah pria tua itu sebelum kembali ke wanita resepsionis.


"Siapa dia?" tanya Daru.


"Saya tidak begitu tahu, dia menginap di sini tanpa menyebutkan namanya." Wanita itu menjawab sembari mengulurkan sebuah kunci dengan label sebagai gantungan kuncinya.


"Ruangan 215? Dimana ruangannya?" tanya Daru setelah melihat angka yang terdapat di label.

__ADS_1


"Itu ada di lantai dua. Anda dapat menggunakan tangga di samping untuk sampai ke sana," jawab Wanita resepsionis.


"Oke, berapa harga per malamnya?" tanya Daru sekali lagi.


"Satu koin emas dan tujuh koin perak untuk satu malam, sudah termasuk tiga kali makan. Untuk 2 minggu, 23 tiga koin emas dan delapan koin perak," jawab Wanita resepsionis.


Daru menghitung sesaat dan mengeluarkan jumlah yang sesuai dengan yang dikatakan wanita resepsionis.


Di Kerajaan Saria satu koin emas masih setara dengan sepulug koin perak. Aku kira itu berpengaruh ke semua negara, ternyata cuma Kerajaan Resia yang terpengaruh rencanaku, pikir Daru sembari menyarahkan sekantong koin kepada wanita resepsionis.


"Oh, aku kasihan pada author yang selalu menyebutmu sebagai wanita resepsionis, beritahu aku namamu."


Wanita itu kebingungan dengan kata-kata pertama Daru, namun dia dapat menangkap ucapan Daru yang terakhir.


"Tuan dapat memanggil saya Emilia,"


"Nama yang bagus, kalau begitu, panggil aku Daru," ucap Daru sebelum beranjak pergi menuju kamar sewaannya.


Dia pria yang menarik, pikir Emilia ketika melihat punggung Daru yang semakin menjauh.


Daru tiba di depan kamarnya. Ketika dia membuka pintu, dia melihat ruangan yang tak terlalu besar namun cukup indah. Daru mengamati dengan teliti dan tidak menemukan adanya debu satu butir pun.


"Cocok dengan harganya," gumam Daru.


Daru kemudian duduk di ranjangnya dan mulai mengatur rencananya. Hal pertama yang dia lakukan adalah mencari kelemahan Raja Kerajaan Saria, Gustave Edelgard, di Islagram.


Dia menemukan banyak fakta mengenai Raja Gustave, namun hanya ada satu hal yang dapat dia gunakan sebagai bahan negosiasi dengan Raja Gustave, yaitu tentang penyakitnya yang sulit disembuhkan bahkan bagi dokter ternama di Benua Isla.


"Tangan mati rasa, sebuah benjolan di dada yang menyakitkan, dan beberapa ruam di seluruh tubuh setiap malam. Kalau hanya setiap malam, mungkin ini berhubungan dengan yin dan yang dari kepercayaan masyarakat Tiongkok. Mas Veux juga pernah berkata kalau penyakit di dunia yang penuh mana selalu disebabkan oleh mana itu sendiri," gumam Daru.


Daru kemudian mencoba menghubungi Veux untuk menanyakan perihal masalah tersebut.


Tuuut tuuut


Tut


"Halo, Mas Veux. Mau nanya nih, kalau tangan mati rasa, muncul benjolan di dada, dan ruam di sekujur tubuh yang terjadi setiap malam, apakah itu penyakit yang disebabkan oleh yin dan yang?" tanya Daru to the point.


"Benar. Jika itu setiap malam, maka itu dikarenakan terlalu banyak aura mana yin yang ada di dalam tubuh, jika itu terjadi setiap siang, maka itu berarti aura mana yang terlalu banyak. Di dunia Mas Daru saat ini, orang-orang tidak mengetahui konsep yin dan yang, mereka hanya tahu mana," ujar Veux.


"Oh begitu, terus solusinya gimana, Mas Veux?" tanya Daru lagi.


"Gini Mas, kondisi itu terjadi karena penyerapan salah satu aura yang terhambat dan menyebabkan aura yang lainnya terlalu banyak di tubuh. Bayangkan gini, di tubuh Mas Daru ada dua pintu, yang satu terbuka lebar, dan yang lainnya setengah terbuka. Untuk meraih kondisi seimbang, kedua pintu harus terbuka dengan lebar yang sama atau menambah jumlah yang masuk pada pintu yang setengah terbuka," jawab Veux.


"Masuknya yin dan yang kedalam tubuh caranya gimana, Mas?" tanya Daru lagi.


"Setiap siang hanya ada aura yang yang tersedia, sedangkan malam harinya, giliran aura yin. Tubuh akan menyerap aura apapun yang ada di sekitarnya."


"Kalau begitu jika ada aura yang pada malam hari, kondisi yang aku katakan tadi bisa teratasi?"


"Yap, tapi itu juga berbahaya bagi orang normal yang ada di dekat orang yang mengalami hal itu, orang itu akan kelebihan aura yang dan akan mengalami kondisi seperti yang Mas Daru sebut tadi. Yang paling aman adalah dengan membuka pintu yang selebar pintu yin."


"Caranya gimana?" tanya Daru yang sudah mulai paham mekanisme dari aura yin dan yang.


"Berjemur," jawab Veux singkat.


"Hah? Berjemur di bawah matahari?"


"Ho'oh."

__ADS_1


"Gitu doang? Nggak pakai obat apa gitu?"


"Iya itu doang. Sering-sering berjemur ntar bisa sembuh."


Daru masuk ke dalam pemikirannya.


Kenapa penyakit di dunia ini simpel banget? pikirnya.


"Ya udah, Mas, terima kasih untuk pencerahannya," ucap Daru hendak mengakhiri telepon.


"Yoi."


Tut


"Sekarang waktunya makan, mandi, dan berkeliling kota," gumam Daru sebelum beranjak dari ranjangnya.


....


Malam hari pun tiba, Daru telah kembali ke penginapan setelah berjalan-jalan mengelilingi Waterfall City untuk mencari hiburan dan informasi mengenai tokoh berpengaruh.


Daru juga sudah memasuki Rumah Surga dan mengetahui alasan kenapa para pria mengantri untuk masuk ke dalamnya.


Rumah Surga adalah rumah bordil terbesar di seluruh Kerajaan Saria. Di sana banyak wanita-wanita penghibur yang bahkan lebih cantik dari Frey. Jika bukan karena Frey yang telah menandai wilayah teritori-nya di hati Daru, Daru mungkin sudah menghabiskan banyak uang di sana.


"Dua minggu, hah ..., apakah kau siap, Daru?" gumam Daru yang kini terbaring di ranjangnya.


Daru pun menutup mata dan akhirnya tertidur.


....


"Chris, cium aku," ucap Frey sembari mendekatkan wajahnya ke arah seorang pria yang duduk di sampingnya.


"Kita sedang ada di toko Bukit Sarren, apakah Daru tidak akan marah?" tanya pria itu.


"Daru tidak ada di sini. Lagipula kita akan segera menikah, Daru tidak memiliki hak lagi untuk marah," balas Frey sembari meraih pipi pria itu dan mencium bibirnya.


Mereka berdua berciuman tepat di depan Daru yang sekujur tubuhnya terlilit oleh rantai, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


"Frey!" teriak Daru tak berdaya.


Frey dan pria itu memandang Daru dengan tatapan penuh kasihan sebelum melanjutkan adegan ciuman mereka.


"Aku akan membunuhnya, aku akan membunuhnya, aku akan membunuhnya!" teriak Daru berulang-ulang.


Daru pun membuka matanya dan visinya sudah berubah menjadi ruangan di penginapan yang ia sewa.


"Aku akan membunuhnya!" teriak Daru dengan penuh amarah sebelum berdiri dan mulai menghancurkan perabotan yang ada di kamarnya.


Brak


Prang


Klontang


Daru menghancurkan semua hal yang ada di sekelilingnya.


"Aku akan kembali ke Moon City dan membunuh pria itu!" Daru kemudian memukul dinding di sampingnya hingga dinding itu memiliki sebuah lubang besar yang mengarah ke luar. Daru kemudian berlari menuju luar kota. Dia mengeluarkan smartphone-nya setelah berlari tak jauh dari gerbang.


Pada saat dia menatap layar smartphone-nya yang menampilkan web Belanja Online Universal, dia meneteskan air mata dari kedua matanya.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa menjadi seperti ini," ucap Daru sembari menutup matanya untuk menenangkan diri.


"Dia pasti akan merasakan rasa sakit yang kualami sekarang jika sesuatu terjadi pada orang yang dicintainya." Daru menjatuhkan diri di sana dan berbisik, "Frey, aku mengalah."


__ADS_2