Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Tiga Hal yang Kedua


__ADS_3

Keesokan paginya Daru segera kembali ke penginapan untuk mengganti rugi kerusakan yang dia sebabkan semalam. Dia juga dipindahkan ke ruangan lain dan diminta untuk tidak merusak apapun lagi.


Saat ini dia sedang berjalan menuju istana untuk menemui Raja Gustave Edelgard.


"Berhenti! Tunjukkan identitasmu dan katakan alasanmu ingin masuk ke istana!" teriak salah satu penjaga ketika melihat Daru mendekati gerbang istana.


Daru mengeluarkan gulungan surat delegasi dan berkata, "Aku Daru, utusan dari Kerajaan Resia."


Pandangan penjaga itu terhadap Daru pun berubah, dia berkata, "Bisakah saya melihat surat delegasinya?"


Daru menyerahkan gulungan itu kepada penjaga dan penjaga itu langsung pergi menemui atasannya.


Beberapa saat kemudian, penjaga itu kembali ke tempat semula bersama seorang pria tua dengan wajah garang. Hanya dari sorot matanya, Daru tahu bahwa pria tua itu benar-benar kuat.


Pria itu menghampiri Daru dan memandang dari ujung rambut sampai ujung kaki Daru. Karena Daru tidak memakai pakaian yang menandakan aura kebangsawanan, pria tua itu sedikit curiga.


"Bisakah Anda memberitahu tujuan Anda menemui Raja Gustave?" tanya Pria tua itu.


"Bukankah seharusnya kita melewati sesi perkenalan dahulu, Pak tua," balas Daru.


"Nama saya Trevor, saya adalah pemimpin penjaga di istana ini," ucap pria tua itu.


"Nama saya Daru, saya adalah utusan dari Kerajaan Resia, mengenai tujuan saya menemui rajamu, itu rahasia." Daru tersenyum.


"Maaf, Anda tidak terlihat seperti seorang utusan. Saya curiga surat delegasi Anda adalah palsu. Apakah Anda mempunyai bukti keasliannya?" tanya Trevor.


Daru kemudian mengeluarkan plat emas Keluarga Lionness dan melemparkannya ke Trevor.


"Bagaimana dengan itu? Ayolah, rajamu pasti memarahimu jika terus menunda urusanku."


Kini ekspresi yang ditunjukkan Trevor berubah, tidak ada lagi aura kegarangan di wajahnya. Dia berkata, "Maafkan saya karena telah menunda waktu Anda, silahkan ikuti saya."


Trevor mengembalikan plat emas milik Daru dengan sopan sebelum mengantar Daru menuju ruang tahta.


Ruang tahta Kerajaan Saria sangatlah megah, dinding-dindingnya dihiasi oleh ukiran-ukiran emas, lantainya terbuat dari marmer berwarna putih, dan ada sebuah karpet panjang berwarna merah dari pintu masuk menuju kursi tahta yang cukup tinggi.


Di kursi tahta, seorang pria paruh baya sedang duduk dan beberapa orang berpakaian mewah berdiri di depannya. Pria itu adalah Raja Kerajaan Saria, Gustave Edelgard.


"Yang Mulia! Utusan Kerajaan Resia telah datang," teriak seseorang dari belakang pintu raksasa yang tertutup.


Raja Gustave mengerutkan keningnya karena dia tidak diberi kabar apapun tentang utusan Kerajaan Resia sebelumnya.


"Utusan Kerajaan Resia datang dengan mendadak, apakah ada yang tahu alasannya?" tanya Raja Gustave kepada orang-orang yang berdiri di depan tahtanya.


"Maaf, Yang Mulia, kami tidak menegetahui apapun tentang itu," jawab salah satu orang.


"Suruh dia datang kemari!" teriak Raja Gustave kepada orang yang berbicara dari balik pintu sebelumnya.


"Baik, Yang Mulia!"


"Kalian semua berbaris untuk menyambut utusan itu," perintah Raja Gustave.


Orang-orang yang ada di depan Raja Gustave pun segera berbaris di luar karpet merah.


Kerajaan Saria adalah kerajaan terkecil di antara enam kerajaan di Benua Isla. Karena keterbatasan lahan, Kerajaan Saria memiliki sumber daya yang sangat kecil, hanya emas yang dapat dikatakan sebagai sumber daya utama Kerajaan saria.


Tidak ada kerajaan yang menginginkan kerja sama dengan Kerajaan Saria karena Kerajaan Saria hanya menawarkan emas sebagai alat transaksi. Namun, semua itu berubah setelah peperangan antara Kerajaan Vradarian dan Kerajaan Resia pecah. Kerajaan Resia membutuhkan hubungan bilateral baru setelah mengalami over supply karena kerajaan Resia memutus hubungan ekonomi dengan Kerajaan Vradarian. Saat itulah Kerajaan Resia dan Kerajaan Saria memutuskan untuk bekerja sama di bidang ekonomi. Ditambah lagi dengan ulah Daru yang membuat emas di Kerajaan Resia berkurang, membuat kedua kerajaan saling menguntungkan. Itulah sebabnya Raja Gustave memerintahkan orang-orangnya untuk menyambut Daru.


Daru dibimbing oleh Trevor memasuki ruang tahta. Ketika dia masuk ruang tahta, semua orang yang berada di dalam ruang tahta memandang Daru dengan buruk, mereka mulai meragukan identitas Daru sebagai utusan.


Bagaimana bisa seseorang yang berpakaian seperti itu menjadi utusan suatu Kerajaan? pikir kebanyakan orang di sana.


"Yang Mulia, saya membawa utusan Kerajaan Resia," ucap Trevor sembari berlutut di depan Raja Gustave.


Setelah mendengar ucapan Trevor, semua orang percaya bahwa Daru benar-benar seorang utusan, mereka percaya sepenuhnya kepada Trevor.


Tanpa mereka duga, tindakan Daru selanjutnya benar-benar kelewatan.

__ADS_1


"Tuan Gustave, nama saya Daru, utusan dari Kerajaan Resia," ucap Daru sembari mengangguk sedikit kepada Raja Gustave.


Mereka keheranan dengan sikap Daru yang tidak menunjukkan penghormatan kepada raja sebagaimana layaknya. Trevor yang tahu tindakan Daru langsung berdiri dan menarik pedangnya.


"Beraninya kau melecehkan Raja Gustave dengan tidak berlutut dan memanggil 'Yang Mulia', walaupun kau berasal dari Resia, bukan berarti kau bisa berbuat semaumu!" teriak Trevor sembari mendekatkan ujung pedangnya ke leher Daru.


"Dia bukan rajaku, kenapa aku harus menyembahnya?"


"Bersujudlah kepada Raja Gustave atau aku akan memenggal kepalamu saat ini juga!" ancam Trevor dengan ekspresi penuh amarah.


"Haha, memenggalku? Coba saja, dan aku pastikan rajamu akan terus tersiksa setiap malam sampai akhir hayatnya," ucap Daru dengan tersenyum lebar mencoba menunjukkan superioritas-nya.


Ekspresi Raja Gustave yang sejak tadi diam memperhatikan pun berubah menjadi penuh kejutan setelah mendengar kata-kata Daru yang ia yakini merujuk pada penyakitnya.


"Berani-beraninya kau mengutuk Raja Gustave! Aku akan memenggalmu!" Trevor mengayunkan pedangnya ke arah leher Daru.


Sebelum pedang itu menyentuh leher Daru, Raja Gustave mengangkat tangannya dan berteriak, "Berhenti!"


Namun, itu terlambat, Trevor mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, sehingga dia tidak bisa membuatnya berhenti.


Tiba-tiba, suara logam yang patah terdengar. Semua orang terkejut ketika melihat Daru yang tengah memegang patahan ujung pedang dengan hanya menggunakan jari jempol dan jari telunjuknya, sedangkan Trevor memegang pedang yang telah patah.


"Oh, bukankah kau setia pada rajamu? Lalu mengapa kau meneruskan ayunan pedangmu ketika rajamu memerintahkan untuk berhenti?" ucap Daru sembari menjatuhkan patahan ujung pedang Trevor.


Dia monster! pikir Trevor.


Trevor kemudian menghadap ke arah Raja Gustave dan berlutut, lalu dia berteriak, "Maafkan saya, Yang Mulia!"


"Lupakan itu," ucap Raja Gustave kepada Trevor.


Raja Gustave kemudian mengalihkan pandangan ke arah Daru dan berkata, "Namamu Daru kan? Ikuti aku, aku ingin berbicara empat mata denganmu."


"Tentu, Tuan Gustave." Daru pun mengikuti Raja Gustave yang berjalan meninggalkan ruang tahta. Sebelum dia melangkah keluar, dia berkata, "Trevor, kau kuat, tapi pedangmu tidak."


Trevor yang masih berlutut mendengar dengan jelas perkataan Daru, dia merasa kesal.


Dalam perjalanan, Daru memandangi jari tengah tangan kirinya yang kini berwarna biru.


Itu sakit, sialan! Untung saja aku masih bisa berlagak kuat di depan mereka. Jika tidak, aku pasti akan mati karena malu, pikir Daru.


Saat Trevor mengayunkan pedangnya ke arah leher Daru tadi, Daru menjepit bilah pedang Trevor dengan jari jempol dan telunjuknya lalu mengetukkan jari tengahnya ke punggung pedang. Jepitan dan ketukan itu cukup keras sehingga bisa mematahkan pedang yang dibangga-banggakan oleh Trevor.


Daru pun tiba di sebuah ruangan dengan Raja Gustave setelah berjalan beberapa menit. Ruangan itu cukup lebar dengan kursi dan meja yang tertata dengan rapi.


"Duduklah," ucap Raja Gustave mempersilahkan.


Daru pun duduk di hadapan Raja Gustave. Sebelum Daru mengatakan satu kata pun, Raja Gustave berkata, "Katakan padaku darimana kau tahu tentang penyakitku."


"Daripada bertanya asal muasal informasiku, lebih baik bertanya tentang bagaimana menyembuhkannya, kan?" Daru menanggapi sembari tersenyum.


"Kau tahu cara menyembuhkannya? Penyakitku ini sudah kuderita sejak dua tahun yang lalu, sampai sekarang belum ada dokter yang sanggup menyembuhkanku." Raja Gustave mengelus dahinya dengan ekspresi lesu.


"Tenanglah, Tuan Gustave. Sebelum itu, ada surat dari Paman Vanir untuk Anda," ucap Daru sembari menyerahkan surat pribadi dari Raja Vanir kepada Raja Gustave.


Alis Raja Gustave mengerut setelah mendengar cara Daru memanggil Raja Kerajaan Resia, Vanir Lionness.


"Paman Vanir?" tanya Gustave memastikan.


"Yap, Paman Vanir Lionness," jawab Daru dengan enteng.


"Hahaha, aku tidak tahu mengapa dia membiarkanmu memanggilnya seperti itu. Menarik, sungguh menarik," ucap Raja Gustave sembari tertawa terbahak-bahak sebelum membuka surat dari Raja Vanir.


Di surat itu tertulis mengenai beberapa hal basa-basi dan permintaan Raja Vanir untuk membuatkan surat delegasi ke Kerajaan Vradarian untuk Daru. Ketika Raja Gustave membaca kalimat terakhir, alisnya terangkat.


"Turuti apa maunya dan kupastikan kau tidak akan rugi," ucap Raja Gustave mengutip kalimat terakhir surat itu.


"Katakan padaku, Daru, apa yang kau lakukan sehingga Raja Vanir memiliki pandangan setinggi itu padamu," tambah Raja Gustave.

__ADS_1


"Yah, beberapa hal kecil di masa lalu, seperti penyelamatan Rennesia, penggagalan kudeta, dan penaklukan beberapa Keluarga Bangsawan," ujar Daru dengan enteng


Raja Gustave kembali terkejut, dia tahu mengenai Putri Kerajaan Resia yang menghilang selama enam bulan dan menyebabkan peperangan pecah di antara dua kerajaan yang bersahabat. Lalu setelah Putri ditemukan, ada beberapa fakta yang terkuak dan berakhir dengan dijebloskannya Verza Lionness ke penjara karena percobaan kudeta.


"Itu semua kau yang melakukan?" tanya Raja Gustave terheran-heran.


"Saya terlibat dengan semua itu," jawab Daru dengan tenang.


"Hahaha, lalu, kau tidak datang hanya untuk menyembuhkan penyakitku dan meminta surat delegasi saja kan?"


"Anda benar-benar orang yang rasional. Tentu saja tidak, Tuan Gustave. Pernahkah anda mendengar tentang konsep pertukaran setara? Anda harus merelakan kayu agar Anda bisa mendapat arang, Anda harus merelakan benih agar bisa mendapat pohon," ujar Daru penuh makna.


"Apa yang setara dengan kesehatanku?" tanya Raja Gustave.


"Tiga hal," jawab Daru dengan tersenyum lebar.


"Ini akan menarik, sebutkan," pinta Raja Gustave.


"Pertama, saya ingin menanam portal teleportasi yang menghubungkan Waterfall City dengan Bukit Sarren di selatan, portal itu tidak menyerap mana dari pengguna dan portal itu dijamin aman tanpa ada resiko penyusupan. Saya ingin Tuan Gustave memberi izin dan menjamin tidak ada kriminal atau militer yang mengenakan lambang Kerajaan Anda menggunakan portal."


"Aku baru mendengar tentang adanya portal teleportasi yang bisa ditanam ..., dan kenapa Bukit Sarren? Ada apa di sana?" tanya Raja Gustave.


"Mengenai portal teleportasi, itu memang hal yang saya ciptakan sendiri dengan bantuan Tuan Xavier, murid Tuan Jullius. Dan tentang Bukit Sarren, di sana ada toko saya, Tuan Gustave. Saya menjual barang-barang seperti ini," jawab Daru sembari mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek api dari cincin dimensinya.


"Ini disebut rokok, benda ajaib yang membuat penggunanya merasakan sensasi ketenangan. Apakah Anda mau mencobanya, Tuan Gustave?"


"Bagaimana caranya?" tanya Raja Gustave.


Daru pun menjelaskan tentang cara menikmati rokok yang baik dan benar. Setelah Raja Gustave melakukan apa yang di tunjukkan oleh Daru, dia mengangkat alisnya karena terkejut dengan rasa dari rokok.


"Menakjubkan! Hahaha!" teriak Raja Gustave kegirangan.


Daru tersenyum sedikit lalu lanjut berbicara mengenai permintaannya.


"Kedua, saya ingin Tuan Gustave memberikan rokok kepada tokoh-tokoh berpengaruh di Waterfall City dan mengumpulkan tokoh-tokoh tersebut untuk bertemu dengan saya, saya akan mengundang mereka ke Bukit Sarren untuk melihat dan mencoba produk-produk saya yang lain," ucap Daru.


"Haha, itu mudah. Lalu, apa hal yang terakhir?"


"Anggap saja hal terakhir sebagai hutang kepada saya," jawab Daru dengan tersenyum.


"Apapun itu, selama aku bisa sembuh," ucap Raja Gustave.


"Baiklah, saya akan memberitahukan cara untuk menyembuhkan penyakit Anda." Daru menghirup nafas dalam-dalam dan berkata, "Berjemur."


Raja Gustave dengan ekspresi datarnya memandangi Daru dan berkata, "Apakah aku terlihat sebodoh itu hingga kau berani membodohiku?"


"Tentu tidak, Tuan Gustave. Saya mengatakan yang sebenarnya. Kapan terakhir kali anda cukup lama berada di bawah sinar matahari langsung?" tanya Daru.


Raja Gustave termenung memikirkan pertanyaan Daru, lalu tiba-tiba wajahnya memburuk.


"Itu ..., 3 tahun yang lalu," jawab Raja Gustave dengan ekspresi yang lebih buruk.


Ekspresi Daru juga memburuk setelah mendengar jawaban Raja Gustave.


Orang macam apa yang tidak terkena sinar matahari selama 3 tahun!? ucap Daru dalam hati.


"Ehm, Anda bisa berjemur secara rutin mulai hari ini, setelah kondisi Anda membaik, maka dua permintaan saya yang saya sebutkan tadi bisa Anda kabulkan. Tolong kabari saya saat waktu itu telah tiba, saya akan selalu ada di Tracker's Inn," ucap Daru.


"Baiklah, aku akan mulai mencoba saranmu hari ini," balas Raja Gustave dengan ekspresi yang masih buruk.


Daru pun berpamitan dan kembali ke Tracker's Inn.


(Author Note:


-Hubungan Bilateral : Hubungan yang melibatkan dua pihak.


-Over Supply : Kelebihan pasokan.

__ADS_1


__ADS_2