
Keempat orang itu pun pergi ke desa, meninggalkan Arlin di sana untuk tetap berjaga. Setelah tiba, tatapan Daru berubah menjadi buruk, seakan telah melihat sesuatu yang sangat-sangat menyedihkan.
Daru melihat desa itu tidak lebih dari tempat kumuh dengan beberapa bangunan yang hampir roboh. Daru juga melihat penduduk desa bukanlah manusia, melainkan elf, manusia kerdil, dan manusia setengah hewan. Para penduduk itu memiliki tatapan kosong seakan tidak memiliki kehidupan. Namun, tatapan mereka berbinar ketika melihat seorang manusia yang berjalan disamping tuan mereka, Sergio.
Para penduduk itu segera berlutut dengan ekspresi suka cita, bahkan ada beberapa di antara mereka menempelkan dahi mereka ke tanah sembari menangis.
Apa yang terjadi? pikir Daru.
"Tuffa dan Dior, kalian pergilah. Aku ingin berbicara dengan Daru di ruang pertemuan," ucap Sergio.
"Baik, Tuan!"
Sergio pun mengantar Daru menuju sebuah bangunan yang lebih baik dari bangunan yang lainnya. Ketika mereka berdua masuk, Daru terkejut ketika melihat tumpukan buah-buahan dan daging yang terlihat matang diatas meja.
"Itu jamuan untukmu, makanlah," ucap Sergio sembari menunjuk tumpukan makanan itu.
Tatapan Daru berubah menjadi penuh amarah, dia meraih kerah Sergio, dan menatapnya penuh kebencian sebelum berkata, "Kau pemimpin mereka, kan!? Mereka semua kelaparan dan kau menimbun makanan itu di sini!? Aku mendengar Tuffa dan Dior tidak makan sejak kemarin. Penjaga desa saja tidak makan, apalagi penduduk lainnya! Dasar sampah!"
Sergio mengangkat kedua alisnya sebelum tersenyum dan berkata, "Yang kau ketahui, mereka adalah monster, dan kau bersimpati kepada mereka. Aku tidak salah memilihmu. Daru, ini semua adalah inisiatif mereka untuk mengumpulkan semua makanan di tempat ini."
"Apa maksudmu? Mengapa mereka memilih kelaparan?" tanya Daru keheranan.
"Itu sudah sifat dasar mereka, mementingkan penyelamat mereka daripada diri mereka sendiri. Itulah sebabnya makanan-makanan ini mereka kumpulkan untukmu," jawab Sergio.
"Penyelamat? Aku tidak melakukan apapun untuk mereka!" teriak Daru.
"Belum. Aku yakin kau pasti akan melakukannya," balas Sergio.
Daru melepaskan kerah Sergio dan mendorong tubuhnya. Dia kemudian memasukkan semua makanan beserta meja di ruangan itu ke dalam cincin dimensinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku benci hal ini," ucap Daru sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sergio yang masih senyum dengan perasaan lega.
Aku benar-benar tidak salah memilihmu, Daru, ucap Sergio dalam hati.
Ketika Daru sudah berada di luar bangunan dia berteriak, "Kalian yang bisa mendengarku, berkumpul!"
Semua penduduk yang mendengar dan menyadari bahwa yang memanggil mereka adalah Daru segera berkumpul dan berlutut di hadapannya.
"Jangan menjadi makhluk yang bodoh!" Daru mengeluarkan meja dan semua makanan yang dia ambil sebelumnya. Dia berkata, "Makan."
Penduduk yang tengah berlutut di depan Daru saling bertukar pandang sebelum salah satu elf tua berkata, "Maafkan kami, Tuan. Kami tidak berani memakan jamuan Tuan."
Daru kemudian mengambil sebuah apel dan berkata, "Aku terima jamuan dari kalian dan berterima kasih untuk itu. Aku tidak suka jika makan sendirian. Maka dari itu, ambilah makanan di meja dan makanlah bersamaku."
Para penduduk bertukar pandang sekali lagi, mereka benar-benar tidak bisa memakan jamuan yang telah mereka siapkan untuk penyelamat mereka, Daru.
Sontak saja ucapan itu menjadi pukulan besar bagi penduduk di sana, mereka semua bersujud, menempelkan dahi mereka di tanah dan berteriak, "Tolong jangan pergi, Tuan!"
"Kalau begitu, makanlah. Itu mudah, kan?" ucap Daru sembari tersenyum.
Mereka pun dengan perlahan mengambil makanan-makanan di atas meja dan memakannya dengan lahap, tak menyisakan satu pun makanan di sana.
"Ingatlah, tokoh yang aku kagumi pernah berkata, 'Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat.' "(Patrick star)
Daru dengan sebuah apel di tangannya kembali masuk ke dalam bangunan, menemui Sergio.
"Hahh, mereka begitu keras kepala," gumam Daru setelah memasuki bangunan.
"Mereka tidak seperti manusia yang terlalu mementingkan diri sendiri," sahut Sergio yang tengah duduk di sebuah kursi tak jauh dari pintu.
__ADS_1
Daru mendekati Sergio dan duduk di depannya, dia berkata, "Jadi, ceritakan padaku mengenai kejadian 100 tahun yang lalu, asal-usulmu, dan alasan kau memanggilku ke dunia ini."
"Hmmm, akan ku mulai ketika aku pertama kali tiba di dunia ini," ucap Sergio mengawali ceritanya.
Sergio adalah seorang ilmuwan dari Niberu yang tiba-tiba terlempar ke Benua Isla sekitar 102 Tahun yang lalu. Saat itu dia tengah berada di laboratorium pribadinya untuk meneliti teknologi terbarunya yang dapat melihat isi pikiran seseorang. Di tengah-tengah penelitiannya, dia tiba-tiba terlempar ke Benua Isla bersama seluruh laboratoriumnya. Dia terlempar di tempat yang saat ini dikenal sebagai Dark Plain. Kala itu, Dark Plain hanyalah tempat biasa yang dihuni banyak makhluk hidup.
Sama seperti Daru, Sergio juga mendapatkan akses belanja online dari dunia lainnya. Sergio bukanlah orang gila seperti Daru yang melakukan skema besar dengan mempengaruhi ekonomi Benua Isla, Sergio tetap low-profile dan terus melakukan penelitiannya, melakukan sesuatu yang selalu ingin dia capai.
Singkat cerita, Sergio bertemu dengan seorang petualang wanita ketika sedang mencari sumber daya untuk penelitiannya. Sergio pun jatuh cinta pada wanita tersebut dan mulai mendekatinya, melupakan penelitiannya yang belum selesai.
Mereka berdua pun menikah dan hidup mereka berdua bisa terbilang bahagia. Namun, suatu malam, wanita itu mengetahui tentang Sergio yang tidak memiliki lingkaran mana dan bertanya mengenai itu. Sergio yang sepenuhnya percaya kepada wanita itu pun memberitahukan semua hal kepadanya.
"Waktu itu, aku belum sadar, aku belum sadar bahwa apa yang terjadi saat itulah awal dari kehancuranku," ucap Sergio.
Daru hanya diam, memberikan panggung kepada Sergio untuk terus bercerita.
Setelah Sergio memberitahu istrinya mengenai asal-usulnya, istri Sergio takjub dengan identitas asli Sergio dan berjanji akan selalu bersamanya apapun yang terjadi.
Hari-hari pun berlalu dengan rasa kebahagiaan di dalam hati Sergio dan istrinya. Sampai suatu hari, ketika Sergio berpergian, dia bertemu dengan seorang elf yang bersimbah darah disekujur tubuhnya.
"Yang aku tahu saat itu, elf adalah monster. Aku menghunuskan pedangku, hendak membunuhnya. Namun, elf itu ... meminta tolong kepadaku. Saat itu juga aku langsung kebingungan dengan situasi yang ada di hadapanku. Monster tidak memiliki akal sehat, tapi elf itu meminta tolong kepadaku untuk menyelamatkannya."
Sergio pun segera menyelamatkan elf itu dengan mengobati luka-lukanya, menggunakan perlengkapan medis dari dunia asalnya, Niberu.
"Setelah elf itu sembuh sepenuhnya, dia berkata padaku bahwa desanya saat itu tengah diserang oleh tentara kerajaan. Aku pun bertanya dimana desa elf itu berada. Setelah mengetahui letak persisnya, aku berlari menuju desa itu. Bukan aku bertindak sok pahlawan, tapi aku hanya merasa kasihan pada elf itu. Saat tiba di desa yang dimaksudkan oleh elf itu, aku kehilangan kontrol terhadap diriku karena apa yang aku lihat." Tatapan Sergio menjadi buruk dan menghentikan ceritanya.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Daru penasaran.
Sergio tetap diam selama beberapa saat sebelum berkata, "Genosida."
__ADS_1