
Beberapa saat sebelum pertemuan antara Emilia dan Frey, Waterfall City.
"Entah mengapa, aku merindukan Daru," gumam Emilia yang tengah berdiri di belakang meja resepsionis penginapan.
Aku tidak tahu rasa sakit macam apa yang dia rasakan ketika bertemu wanita yang menerima lamaran pernikahan orang lain itu. Mungkin hari ini aku akan datang ke Bukit Sarren dan menghiburnya, pikir Emilia sebelum berjalan menuju ruangan Bosnya untuk meminta izin meninggalkan penginapan selama seharian.
"Bos, bolehkah aku meminta cuti untuk hari ini?" tanya Emilia kepada seorang wanita paruh baya yang tengah merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.
"Mau kemana?" tanya si wanita.
"Ke Bukit Sarren, Bos. Aku ingin menemui teman," jawab Emilia.
"Oh, katakan kepada yang lain untuk menggantikanmu hari ini," ucap si wanita tanpa memandang ke arah Emilia.
"Siap!" teriak Emilia sebelum berlari menuju tempat dimana rekan kerjanya berada.
Karena Emilia memiliki wajah dan kharisma yang menarik, ditambah pribadi yang menyenangkan, rekan-rekan kerja Emilia dengan senang hati bersedia menggantikannya hari ini, membuat Emilia kegirangan.
"Aku harus berganti pakaian yang lebih indah," gumam Emilia sebelum berjalan menuju rumahnya.
Emilia memilih untuk memakai pakaian yang selaras dengan tubuhnya, membuatnya dapat menonjolkan bagian-bagian yang memang menarik minat pria. Dia ingin menghibur Daru yang ia pikir sedang merasa sakit hati. Namun, orang yang akan sakit hati adalah dirinya sendiri.
....
"Kau pasti Frey. Perkenalkan, namaku Emilia. Aku ingin mengajak Daru berkencan hari ini," ucap Emilia kepada Frey sembari tersenyum.
"Eh?" Frey terkejut dengan perkenalan singkat seorang wanita di depannya.
Setelah terdiam sejenak, ekspresi Frey memburuk, kecemburuan terukir dengan jelas di wajahnya, bahkan dia tidak berpikiran untuk mengatakan kepada Emilia mengenai berita tentang kematian Daru.
"Dari mana kau kenal Daru?" tanya Frey penuh kecurigaan.
"Aku bersamanya selama 2 minggu saat dia berada di Waterfall City," jawab Emilia.
Daru berduaan dengan wanita cantik ini selama 2 minggu? Kenapa dia tidak bercerita mengenai itu kepadaku? pikir Frey dengan tatapan penuh permusuhan terhadap Emilia.
"Jadi, dimana dia?" Emilia tak menggubris tatapan Frey karena dia lebih memikirkan Daru.
__ADS_1
Frey segera berdiri dan membuka pintu, dia lalu berteriak, "Rena!"
Rena yang berada di lantai satu atas pun mendengar teriakan Frey dan segera menuju ke lantai dua atas, tempat Bosnya memanggil namanya.
"Bos," ucap Rena setelah berada di hadapan Frey.
"Panggilkan Daru, katakan padanya bahwa kekasih gelapnya mengajaknya berkencan," bisik Frey dengan suara yang sangat pelan, sehingga hanya dirinya sendiri dan Rena yang dapat mendengarnya.
Rena sedikit terkejut dengan ucapan Frey, namun tugas adalah tugas. Dia mengangguk dan segera turun ke lantai satu bawah untuk memanggil Daru. Sedangkan Frey, dia menuju lantai satu atas, meninggalkan Emilia sendirian di sana.
Apanya yang "Aku juga menaruh hati padamu," cih, pikir Frey dengan ekspresi yang lebih buruk dari pada sebelumnya.
Sementara itu, Daru yang tengah memeriksa informasi mengenai Raja Arthur dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang tiba-tiba saja terdengar.
Tok tok tok
"Bos, ada tamu untukmu," ucap Rena dari balik pintu.
Daru mengerutkan alisnya, kebingungan, lalu berkata, "Siapa?"
Daru semakin kebingungan dan memutuskan untuk membuka pintu kamarnya. Setelah dapat melihat sosok Rena, Daru berkata, "Siapa maksudmu?"
"Tidak tahu, Bos. Dia adalah seorang wanita cantik," jawab Rena.
Daru diam dan mencoba menerka identitas tamunya. Karena terus gagal menerka, dia berkata, "Aku akan mandi terlebih dahulu."
Rena mengangguk dan pergi meninggalkan Daru.
Daru segera mengaktifkan sihir silumannya dan berjalan menuju kamar mandi di lantai satu atas.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Daru berjalan menuju lantai dua atas. Tak lupa, dia tetap mengaktifkan sihir silumannya.
Daru membuka pintu dan melihat wanita yang tengah duduk di sofa dengan wajah yang cukup familiar di ingatan Daru.
"Emilia," sapa Daru sembari melepaskan sihir silumannya dan duduk di depan Emilia.
"Ah! Daru! Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Emilia antusias.
__ADS_1
"Haha! Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Bagaimana pekerjaanmu di penginapan?" tanya Daru yang juga antusias dengan pertemuan itu.
Karena antusiasme itu, Daru melupakan tiga kata penting yang disampaikan Rena sebelumnya, yaitu "Kekasih," "Gelap," dan "Berkencan."
"Aku juga baik-baik saja. Pekerjaan di penginapan juga berjalan cukup baik, hanya sedikit melelahkan, hehe," jawab Emilia dengan tawa kecilnya.
"Apanya yang melelahkan? Kau hanya berdiam diri di belakang meja resepsionis, hahaha," ucap Daru dengan tertawa.
"Itu melelahkan karena aku tidak bisa kemana-mana, hahh," balas Emilia dengan menghela nafas panjang.
"Hihi. Lalu, hal apa yang membuatmu datang ke Bukit Sarren?" tanya Daru yang masih belum mengingat tentang kekasih gelap yang mengajak berkencan.
"Aku mau kau berjalan-jalan denganku dan menjelaskan kepadaku mengenai apa-apa saja yang ada di Bukit Sarren. Aku mengambil cuti untuk hari ini, jadi aku ingin bersenang-senang," jawab Emilia sembari meregangkan tubuhnya.
"Ah, aku tidak bisa. Aku harus menyembunyikan keberadaanku dengan sihir siluman saat berada di Bukit Sarren," balas Daru sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karena Frey ada di Bukit Sarren? pikir Emilia.
"Kalau begitu, kita ke Waterfall City saja. Aku akan jadi pemandu wisata pribadimu." Emilia mengajak Daru dengan senyuman yang sangat menawan, bahkan kupu-kupu pun akan berhenti terbang ketika melihat Emilia karena iri dengan keindahan senyuman itu.
"Hmmm." Daru mengusap dagunya sembari melihat ke atas.
Tidak ada kegiatan apapun yang dapat kulakukan di toko hari ini. Perkiraan juga tidak ada tamu yang akan berkunjung. Yah, jika ada tamu, Frey pasti bisa mengatasinya. Yosh, aku akan pergi ke Waterfall City saja. Lagian, tidak banyak orang di sana yang mengetahui kabar tentang kematianku, pikir Daru.
"Baik, ayo ke Waterfall City," ucap Daru sembari berdiri dan mengaktifkan sihir silumannya kembali.
Emilia tersenyum dan ikut berdiri lalu keluar dari ruangan, diikuti Daru.
Ketika Emilia melewati lantai satu atas dan keluar dari pintu toko, Frey menatapnya dengan tatapan yang sama seperti sebelumnya. Frey pun segera menuju lantai dua atas setelah Emilia meninggalkan toko untuk memastikan Daru tetap berada di sana dan menolak ajakan Emilia. Namun,
"Daru, kau ada di sana, kan?" tanya Frey dengan cemas setelah memasuki ruangan. Frey tahu, karena kabar tentang kematian, Daru selalu menggunakan sihir siluman ketika berada di toko. Maka dari itu, Frey memanggil namanya, benar-benar berharap Daru masih ada di sana.
Namun, tidak ada satu pun suara yang terdengar dari arah manapun. Kesedihan mulai terukir di wajah Frey. Dia pun segera turun ke lantai satu bawah, menuju kamar mereka berdua. Sama seperti sebelumnya, tidak ada satu pun suara yang menyahut ucapannya.
Frey mendekati ranjang dan duduk dengan ekspresi ketidakpercayaan dan kesedihan yang terukir sangat jelas di wajahnya.
"Da-ru," gumam Frey sembari meneteskan air mata.
__ADS_1