Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Persis Seperti Tadi Malam


__ADS_3

"Fre-Frey, a-apa yang ka-kau lakukan?" tanya Daru dengan gugup.


Frey mendekatkan wajahnya ke wajah Daru yang tepat berada di bawahnya.


"Daru, aku menginginkanmu," bisik Frey lembut. Bisikan Frey membuat Daru terdiam.


Deg deg deg


Hah hah hah


Hanya suara detak jantung dan suara nafas mereka yang mengisi suasana sepi. Mereka berdua memandang satu sama lain dalam-dalam, seakan-akan mata mereka mengucapkan, "Kau adalah manusia terindah."


"Daru, kau tidak menginginkanku?" tanya Frey dengan nada yang sangat lembut.


"Aku tidak akan pernah mengatakan itu," jawab Daru dengan suara tegas.


"Kalau begitu, ayo melakukan itu," ucap Frey sembari mendekatkan bibir merahnya ke bibir Daru.


Daru pun menyambut ciuman itu dengan mengangkat kepalanya, kedua bibir akhirnya saling sapa satu sama lain.


Daru mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh tubuh Frey dan mulai melakukan permainan tangannya, tetapi ...,


Tok tok tok


"Bos, Gagak Hitam ingin bertemu." Sebuah suara datang dari balik pintu.


Mereka berdua pun terkejut. Ketika Frey hendak melerai pertikaian antara dua bibir, Daru tiba-tiba memegang bagian belakang kepalanya, membuat bibir mereka tidak bisa berpisah.


Mata Frey terbelalak kaget ketika Daru menjadi lebih agresif, dia tidak merasakan ketidaknyamanan sama sekali, dia justru merasa sangat bahagia.


Akhirnya, kita benar-benar akan melakukannya, ucap Frey dalam hati.


Mereka berdua semakin larut dalam romansa, bahkan ketukan pintu yang berulang-ulang tidak lagi mereka dengarkan.


Aku sudah tidak tahan lagi, ucap Frey dalam hati sembari mengapit tubuh Daru dengan kedua pahanya.


Frey mulai melepaskan pakaian yang Daru kenakan, Daru juga membiarkan Frey melakukannya.


Tiba-tiba Daru memegang pinggul Frey, membuat Frey sedikit merintih karena malu.


Klak


Suara kunci pintu yang terbuka.


"Apakah Bos tidur?" tanya Sylph sembari memasuki kamar Daru.


Daru dan Frey terkejut karena mereka berdua yakin telah mengunci pintu kamar, sedangkan Sylph hanya terdiam merenungkan tentang apa yang terjadi setelah melihat kedua bosnya sedang bermesraan.


Satu di bawah tanpa ada pakaian yang menutupi bagian atas tubuhnya, sedangkan yang satu lagi menindih yang bawah dengan hanya memakai pakaian dalamnya.


"Aah, tiba-tiba mataku tidak bisa melihat apapun setelah memasuki ruangan ini, ahaha. Mungkin aku punya penyakit mata, ahaha .... Selamat menikmati!" ucap Sylph sebelum berlari keluar kamar.


Frey langsung bergerak ke samping meninggalkan tubuh Daru.


"Ba-bagaimana dia bisa membuka kunci?" gumam Frey keheranan.


Daru bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk dengan ekspresi tertekan.


"Tidak ada privasi di bangunan ini," ucap Daru penuh keputusasaan.


Mereka berdua saling menatap sejenak dan tersipu malu karena teringat apa yang baru saja terjadi.


"A-aku akan me-menemui Gagak Hitam, ka-kau mau i-ikut?" tanya Daru.


"A-aku tidak mempunyai mu-muka untuk be-bertemu Sylph," jawab Frey sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Kau tunggulah di sini, kita lanjutkan nanti," ucap Daru sebelum mengecup kening Frey.


Daru memakai pakaiannya kembali dan bergegas menuju lantai atas untuk bertemu Gagak Hitam.


Gagak Hitam berada di lantai satu atas dengan Liz, Sylph dan Shera. Ketika Gagak Hitam melihat Daru keluar dari ruangan yang berisi pintu yang menghubungkan lantai atas dan bawah, dia langsung berlutut.


Daru menyapu pandangan ke arah orang-orang yang ada di sana dan berhenti di Sylph dan Shera. Sylph dan Shera menunduk untuk menyembunyikan wajah mereka yang memerah karena malu. Sadar dengan tatapan Daru, Sylph segera berlari ke arah dapur dan membuatkan teh untuk Daru, sedangkan Shera mulai berpura-pura membersihkan konter.


Dia pasti menceritakannya kepada Shera, pikir Daru.


Daru menggelengkan kepalanya sebelum menatap Gagak Hitam dan bertanya, "Ada apa?"


"Tuan Daru, apakah aku bisa tinggal dan bekerja di sini?" tanya Gagak Hitam.


Daru mengerutkan keningnya setelah mendengar pertanyaan Gagak Hitam. Daru belum tahu apa yang hebat darinya selain rekor membunuhnya yang mencapai angka yang fantastis.


"Katakan sesuatu yang hebat darimu selain rekor pembunuhanmu ataupun bakat membunuhnu, untuk sekarang, aku tidak membutuhkan pembunuh," ucap Daru.


"Saya hebat dalam mengendap-endap dan melakukan serangan kejutan," balas Gagak Hitam dengan penuh kebanggaan.


"Itu termasuk bakat membunuh, katakan yang lain," ucap Daru dengan ekspresi datar.


"Itu ..., ah! Nama saya ditakuti oleh banyak orang."


Ekspresi Daru semakin datar setelah mendengar tanggapan Gagak Hitam.


"Pekerjaan macam apa yang membutuhkan tingkat ketakutan orang pada sebuah nama?" tanya Daru sembari meminum teh yang baru saja diantar oleh Sylph.


"Pembunuh bayaran? Hehe," jawab Gagak Hitam sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


Daru tersedak ketika mendengar jawaban Gagak Hitam.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Daru menepuk-nepuk dadanya untuk meredakan batuk.


"Aku ... sudah ... bilang ..., aku tidak membutuhkan ... pembunuh," ucap Daru sembari terus menepuk dadanya.


"Minum lagi, Bos, supaya lebih lega," ucap Sylph yang masih menahan malu.


Daru kembali menyeruput tehnya supaya dadanya lebih terasa longgar.


"Saya bisa memasak," ucap Gagak Hitam tanpa rasa bersalah kepada Daru.


"Pffffttt ..., Uhuk, uhuk." Daru menyemprotkan air di mulutnya dan tersedak lagi.

__ADS_1


Daru meletakkan cangkir teh yang ada di tangannya dan mencoba mengatur nafas.


"Jangan bercanda, katakan yang sebenarnya," ucap Daru setelah berhasil memulihkan diri.


"Saya tidak bercanda, Tuan Daru. Saya memang bisa memasak," balas Gagak Hitam.


"Bagaimana rasa masakanmu?" tanya Daru


"Tidak lebih buruk dari masakan orang lain," jawab Gagak Hitam dengan penuh percaya diri.


"Hoo, kau bisa memasak apa?" tanya Daru lagi.


"Air, hehe," jawab Gagak Hitam sedikit malu.


Brak


Daru membanting salah satu kursi yang ada di sampingnya.


Akhirnya, Gagak Hitam dipekerjakan sebagai penjaga yang bertugas dari bayang-bayang sekaligus seorang pembawa pesan. Liz melompat gembira ketika Daru mengatakan itu, dia pun berlari ke arah Daru dan langsung memeluk serta mencium pipi Daru sembari mengucapkan terima kasih.


"Oh, jangan menggunakan nama Gagak Hitam lagi, mulai sekarang namamu adalah Drey. Dan juga, panggil aku bos," ucap Daru setelah Liz melepaskan pelukannya.


"Tapi bagaimana dengan kutukannya, bos?" tanya Gagak Hitam.


Dia pun mulai menjelaskan tentang kutukannya. Kutukan yang diderita Gagak Hitam adalah kutukan yang dia buat sendiri ketika dia memutuskan untuk menjadi pembunuh bayaran. Dia tidak ingin identitas aslinya diketahui walaupun disiksa dengan siksaan apapun. Alasannya adalah adik perempuannya, dia takut ketika musuhnya mengetahui latar belakang Gagak Hitam, adiknya akan ikut terseret dalam masalahnya, jadi dia memilih untuk melupakan namanya.


"Anggap saja itu sebagai julukan, bukan nama asli. Seperti 'Gagak Hitam', aku yakin kutukan itu tidak akan bekerja," ucap Daru setelah mendengar penjelasan Drey.


"Baik, mulai sekarang, nama julukan saya bukan lagi Gagak Hitam, melainkan Drey." Drey berlutut dengan khidmat.


"Ya ya, sekarang pergilah ke asrama dengan adikmu. Besok kau mulai bekerja."


"Baik, Bos!" Drey dan Liz mulai berjalan menuju asrama untuk beristirahat.


Kini di lantai satu atas hanya ada Daru, Shera, dan Sylph. Mereka saat ini berada di situasi canggung.


"Ehm." Daru berdehem keras mencoba membuat Shera atau Sylph mulai berbicara tentang kejadian tadi.


Keduanya menunduk lebih rendah, wajah mereka berdua juga lebih merah dari sebelumnya.


"Sylph, bag-" Kata-kata Daru terpotong karena Sylph langsung bereaksi setelah mendengar namanya disebut.


"Maafkan aku, Bos! Aku akan melupakan kejadian ketika Bos Frey menindih Bos Daru dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Aku juga akan melupakan fakta bahwa Bos Daru dan Bos Frey tadi sedang bercumbu mesra!" teriak Sylph spontan.


Shera yang mendengarnya segera menepuk pundak Sylph untuk menyadarkannya bahwa kata-kata Sylph barusan benar-benar memperburuk keadaan.


Wajah Daru, Sylph, dan Shera berekspresi semakin malu. Jika ada tiga lubang yang mendadak muncul di lantai toko, mereka berdua pasti akan memasukkan kepala mereka ke dalamnya.


"Ehm, aku ingin bertanya. Bagaimana caramu membuka kunci pintu kamarku?" tanya Daru berpura-pura tenang.


"Itu ..., Aku menyadarinya kemarin, kunci pintu kedua kamar ternyata sama. Ja-jadi aku menggunakan kunci pintu kamarku untuk membuka pintu milik Bos," jawab Sylph.


Zoref! teriak Daru dalam hati.


"Hahh, kalau begitu, jangan menyinggung ini di masa depan, apalagi di depan Frey."


Daru segera bergegas ke kamarnya untuk melanjutkan sesuatu yang seharusnya terlanjutkan.


Tanpa mengetuk pintu, Daru masuk ke dalam kamarnya dan melihat Frey telah terlelap dengan pakaiannya yang super tipis.


Daru mendekat dan melihat keindahan Frey lebih dekat.


Dia memandang wajah, wajahnya benar-benar cantik, pikirnya.


Dia memandang bibir, bibir yang merah merona, pikirnya.


Dia memandang dada, (tidak disebutkan), pikirnya.


Tanpa sadar, Daru mengulurkan tangannya ke arah tubuh Frey.


Semakin dekat.


Semakin dekat.


Apa yang aku pikirkan? Mengambil kesempatan dari wanita yang tidak sadar adalah ciri-ciri seorang pecundang!


Daru kemudian menarik tangannya dan berbaring di samping Frey lalu tertidur.


....


Pagi hari, 1 jam sebelum matahari terbit.


Frey bangun terlebih dahulu dan melihat Daru di sampingnya. Dengan tatapan yang nakal, Frey menepuk-nepuk pipi Daru.


"Daru, bangun dan ayo lanjutkan yang tadi malam," ucap Frey sembari terus menepuk pipi Daru.


Daru membuka matanya dan melihat Frey sudah berada di atasnya dengan pakaian yang sama yang ia kenakan tadi malam. Sontak saja, jiwa pria Daru tergugah.


"Kenapa tidak nanti malam saja?" tanya Daru mencoba menahan gejolak jiwa prianya.


"Selagi ada kesempatan, kenapa tidak melakukannya sekarang? Lagipula yang di bawah sana sudah menunjukkan semangat-paginya" Frey berkata dengan nada yang genit setelah merasakan tonjolan dari tubuh Daru.


"Untuk pria, itu normal untuk bersemangat di pagi hari," ucap Daru sembari memalingkan wajahnya karena malu.


Mereka berdua pun memulai lagi dari awal sama persis seperti tadi malam. Namun, persis seperti tadi malam juga,


Tok tok tok.


"Bos, Tuan Klein dan Nona Lyd meminta Bos untuk membuka portal teleportasi, mereka ingin pulang." Suara Sylph terdengar dari balik pintu.


Daru dan Frey terkejut persis seperti tadi malam, tetapi Frey lebih terkejut lagi.


"Maaf, aku tadi malam menutup portal setelah pelanggan pergi, aku lupa perintahmu untuk menunggu Nona Lyd dan Tuan Klein beserta karyawannya untuk pergi terlebih dahulu," jelas Frey dengan menundukkan kepalanya.


"Oh author! Kenapa? Kenapa kau melakukan ini pada ciptaanmu!?" teriak Daru.


Frey yang tak paham maksud kata-kata Daru hanya terdiam menyesal.


Semalam aku terlalu memikirkan Daru sehingga aku melupakan tugasku. Frey, kau bodoh, pikir Frey dalam hati.

__ADS_1


Daru segera pergi ke portal teleportasi untuk membukanya, dia juga meminta maaf kepada Lyd dan Klein mengenai masalah itu.


"Tidak apa, Tuan Daru, ini juga merupakan pengalaman yang bagus untuk tidur di Bukit Sarren," ucap Lyd.


"Seharusnya saya yang meminta maaf karena kemarin malam pelanggan saya membuat masalah di Bukit Sarren. Saya kebetulan sudah terlelap karena merasa sangat lelah pada saat itu terjadi," ucap Klein meminta maaf.


"Mari lupakan itu, Tuan Klein. Saya sudah menganggap itu tidak pernah terjadi," ucap Daru.


Lyd dan Klein pun berpamitan kepada Daru dan meninggalkan Bukit Sarren diikuti karyawannya.


Daru kemudian kembali ke kamarnya berharap untuk melanjutkan aktifitas paginya.


"Daru, bagaimana kalau kita melakukannya nanti malam di rumahku?" tanya Frey tepat ketika Daru sudah terlihat.


"Ba-bagaimana dengan orangtuamu?"


"Aku yakin mereka tidak akan mengganggu," jawab Frey dengan ekspresi penuh kesungguhan.


"Baiklah, kita akan menginap di sana malam ini,"


Mereka berdua setuju.


Hari pun berjalan normal tanpa ada sesuatu yang menarik yang dapat ditulis oleh author. Tak terasa, malam pun tiba.


"Kami berdua hari ini akan menginap di rumah Frey. Besok pagi kalian bersiap-siap saja seperti biasanya, aku akan tetap membuka toko saat matahari terbit," ucap Daru kepada para karyawannya.


"Baik, Bos!" Semua karyawan Daru berteriak serentak.


Setelah Daru memastikan Lyd dan Klein beserta karyawannya telah meninggalkan Bukit Sarren, dia pun menutup portal teleportasi dan pergi ke Moon City diikuti Frey. Karena Frey juga mengenakan kalung pengatur portal, Frey pun bisa melewati portal teleportasi walaupun portal itu tidak aktif.


Tok tok tok.


"Ayah, Ibu, aku pulang," ucap Frey sembari mengetuk pintu rumahnya.


Eryd dan Liliana langsung bergegas membuka pintu.


"Oh! Frey dan Nak Daru! Masuklah," ucap Eryd mempersilahkan mereka berdua masuk.


"Kami akan menginap di sini malam ini, ada beberapa masalah di toko," ucap Frey mencoba menyembunyikan niat aslinya.


Tetapi itu tidak bisa membohongi kedua orangtua Frey, Eryd dan Liliana tahu betul gerak-gerik anak kandungnya sendiri. Mereka tahu mana yang bohong dan mana yang jujur.


"Oooh, masalah ...." Eryd memainkan matanya.


"Kami menyambut baik kedatangan Nak Daru, apalagi jika putri kami yang mengajaknya dan berencana untuk tidur berdua," ucap Liliana.


Wajah Daru dan Frey memerah.


"Kami berdua akan beristirahat sekarang."


Tiba-tiba, Frey menarik tangan Daru dan berlari ke kamarnya.


Eryd dan Liliana saling memandang seakan-akan mengisyaratkan sesuatu.


Ceklek


Suara dari pintu terdengar setelah Frey memutar kuncinya.


Setelah mengunci pintu, Frey kemudian melepaskan pakaiannya dan menyisakan pakaian tipis seperti tadi malam.


Seperti tadi malam, Daru berbaring di ranjang menunggu Frey datang menghampirinya.


Frey mendekati Daru dan menindihnya lalu memulai aktifitasnya, seperti tadi malam.


Dan seperti tadi malam,


Brak


Pintu tiba-tiba roboh disertai dua orang yang jatuh menindih pintu.


Daru dan Frey terkejut, seperti tadi malam.


Daru yang hampir berhasil melepaskan pakaian bawah Frey langsung mengembalikannya ke posisi semula.


"Ahahaha, aku kemari untuk memeriksa pintu. Ahahaha, pintu ini benar-benar rapuh. Ahahaha, bahkan angin saja dapat merobohkannya. Ahahaha," ucap Eryd dengan canggung.


"Kau benar, Sayang, kau harus memperbaikinya besok. Ayo kembali ke kamar dan tidur. Ahahaha," ucap Liliana.


"Selamat menikmati!" teriak mereka berdua sebelum berlari menuju kamarnya.


"Frey, besok malam, kita menyewa penginapan saja," ucap Daru sembari menahan rasa malu.


"Ya, maaf," balas Frey.


Mereka berdua tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan lagi, karena sudah tidak ada pintu yang menutupi aksi mereka berdua.


Kita percepat.


Malam selanjutnya.


Mereka berdua telah menyewa sebuah kamar di lantai dua di penginapan yang tak terlalu mewah di Moon City.


"A-ayo mu-mulai," ucap Frey.


Mereka melakukannya persis seperti tadi malam.


Dan persis seperti tadi malam juga,


Boom


Getaran hebat dirasakan oleh seluruh penghuni penginapan.


"Kompor sihir di dapur telah meledak! Yang ada di lantai dua silahkan pindah kamar, bahaya jika roboh!" teriak salah satu pegawai penginapan.


Daru yang sudah benar-benar melucuti pakaian Frey, langsung mengembalikannya seperti semula.


"Aku benci author ini," keluhnya.


(lol)

__ADS_1


__ADS_2