
Matahari pun terbenam, Daru dan Emilia memandang indahnya kejadian itu di puncak menara lonceng. Mata Daru termanjakan, hatinya merasa tenang, dan tanpa sadar, sebuah senyum terukir di wajahnya.
Sementara itu, Emilia tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari wajah Daru, wajah pria yang dicintainya, yang kini bermandikan cahaya oranye dari matahari yang tenggelam, menambah keindahan sosok tersebut.
Aku benar-benar jatuh cinta, pikir Emilia yang terus-terusan memandangi wajah Daru.
Matahari pun tenggelam sepenuhnya, penerangan-penerangan pun mulai menyala di setiap bangunan di kota.
"Daru," ucap Emilia lirih. Walaupun sudah tidak ada lagi cahaya matahari yang menyorot wajah Daru, Emilia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya, seolah otot-otot mata dan lehernya berkata, "Begini saja."
"Ya?" balas Daru sembari mengalihkan pandangannya ke arah Emilia.
Mata mereka berdua pun bertemu, membuat Emilia semakin terbang tinggi.
"Anu, a-aku ...." Emilia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kau ... apa?" tanya Daru kebingungan.
Emilia pun menyerah dan menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Lupakan, hihi."
Sebaliknya, Daru semakin penasaran dan mendekatkan wajahnya sembari bertanya, "Ada apa?"
Wajah Emilia menjadi semerah tomat ketika Daru mendekatkan wajahnya, dia sungguh tidak bisa mengantisipasi reaksi Daru. Dengan sedikit tergesa-gesa, Emilia berkata, "Terima kasih kencannya, Aku mencintaimu."
Deg
Jantung Daru seolah berhenti karena dia baru sadar telah melakukan kesalahan yang besar. Ekspresinya memburuk, tatapannya kosong, dan nafasnya pun menggambarkan seseorang yang panik.
Kekasih gelapmu mengajakmu berkencan. Sial! Frey! ucap Daru dalam hati.
Daru baru sadar dia telah menerima ajakan "Kencan" dari Emilia, walaupun dia tidak menganggapnya demikian. Dia juga baru sadar kalau Emilia belum mengetahui tentang kesalahpahaman antara Daru dan Frey yang telah terselesaikan. Banyak hal yang baru disadari oleh Daru secara bersamaan, namun yang paling dia pikirkan saat ini adalah sakit hati yang dialami Frey sekarang.
"Emilia, aku ...." Daru bingung bagaimana cara menjelaskannya. Dia tidak ingin menyakiti hati kecil Emilia, hati kecil wanita yang merupakan teman baiknya, yang baru saja menyatakan cinta dengan memberitahunya tentang hubungannya dengan Frey.
__ADS_1
"Ma-maaf jika mendadak, a-aku harap bisa menikmati hidup bersamamu," ucap Emilia sebelum mengecup pipi Daru dan berlari menjauh karena malu, meninggalkan Daru yang masih dalam perasaan bingungnya sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Daru dengan ekspresi paniknya. Tanpa menunggu waktu lagi, Daru mengaktifkan sihir silumannya dan berlari menuju portal teleportasi dengan kecepatan penuh.
Setelah tiba di Bukit Sarren, Daru segera memasuki toko, tak peduli dengan suara nyaring dari alat pendeteksi suhu yang menyebabkan Rena menjadi waspada karena alat itu berbunyi tanpa ada sosok yang melewati pintu. Daru tidak menggubrisnya dan menuju lantai dua atas untuk mencari Frey karena tidak menemukannya di belakang konter.
Ketika dia tidak menemukan sosok Frey di lantai dua atas, Daru bergegas menuju lantai satu bawah, tempat yang sangat mungkin untuk menemukan Frey. Namun, dia juga tidak ada di sana, membuat Daru kebingungan.
Daru hendak menemui salah satu karyawannya dan bertanya mengenai keberadaan Frey, namun karena toko masih buka dan beberapa pelanggan masih ada di dalam, Daru tidak bisa melakukannya.
Dia pun mengeluarkan smartphone-nya dan mencari nama Frey di Islagram.
Semakin banyak Daru membaca postingan dari Frey, semakin banyak pula rasa bersalahnya. Dia pun mengetahui keberadaan Frey saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Daru bergegas menuju portal dan pergi ke Moon City dengan sihir siluman yang masih aktif.
Ketika Daru tiba di depan rumah Frey yang terletak di samping portal teleportasi, dia segera melepaskan sihir silumannya dan mengetuk pintu rumah Frey setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya.
Tok tok tok.
Beberapa saat setelah Daru mengetuk pintu, sebuah suara menabuh gendang telinga Daru.
Daru mengerutkan alisnya karena merasa cukup asing dengan suara itu.
Mengapa suara Paman Eryd seringan ini? pikir Daru.
Tiba-tiba seorang pria berwajah tampan dengan rambut pirang membuka pintu, membuat Daru dengan jelas melihat pria itu.
"Mencari siapa?" tanya pria itu. Pria itu melihat Daru dengan tatapan tak kenal, begitu juga dengan Daru yang merasa cukup asing dengan pria itu.
"Siapa kau dan mengapa kau ada di sini?" Daru balik melempar pertanyaan kepadanya.
"Oh, namaku Chris, aku kemari untuk menemani Frey. Kau siapa?" ucap Chris.
Ada dua kata yang membuat amarah Daru memuncak, yaitu "Chris" dan "menemani."
__ADS_1
Daru mengepal tangannya dengan keras, tatapan permusuhan pun terpancar dari kedua matanya.
Mengapa ada pria ini di sini? Menemani Frey? Kau pikir kau siapa? ucap Daru dalam hati.
Daru sangat ingin mempertemukan kepalan tangannya dengan wajah Chris yang tampak kebingungan. Namun, itu semua mengendur setelah Daru teringat tentang "Kencan" bersama "Kekasih gelap."
Daru merasa bersalah kepada Frey, sehingga dia tidak bisa membuat masalah dengan Chris sekarang.
"Dimana Paman Eryd?" tanya Daru dengan mencoba untuk tenang.
"Beliau pergi bersama Bibi Liliana. Katakan, siapa kau?" Chris mulai curiga dengan identitas Daru.
Mereka berduaan di dalam? Aku kalah? pikir Daru sembari mengepalkan tangannya kembali.
"Chris, siapa yang mengetuk pintu?" Suara Frey terdengar cukup keras dari dalam.
"Aku tidak tahu," jawab Chris sembari terus memandangi Daru.
"Katakan padaku, siapa kau?" Chris meraih gagang pedang yang ada di pinggangnya, mencoba mengancam Daru.
Daru hanya diam, dia benar-benar terbakar api cemburu. Tetapi sekali lagi dia teringat dengan kejadian tadi pagi, membuat Daru putus asa.
"Sampaikan salamku kepada Frey," ucap Daru sebelum menghilang dengan sihir silumannya.
Chris kebingungan dengan apa yang dilakukan Daru, dia pun melepaskan gagang pedangnya dan kembali masuk ke dalam rumah Frey.
....
Beberapa saat sebelumnya.
Frey tiba di Moon City dengan tatapan penuh kesedihannya, teringat dengan Daru yang tengah berkencan dengan wanita secantik Emilia. Frey berjalan menuju rumahnya dan masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun, membuat Eryd dan Liliana, orangtua Frey, bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Namun, Frey tetap diam ketika dihujani pertanyaan-pertanyaan dari kedua orangtuanya, Eryd dan Liliana pun semakin bingung harus bagaimana.
Kedua orangtua Frey telah mendengar kabar tentang kematian Daru, mereka berdua pun menyimpulkan kesedihan Frey berasal dari hal itu. Maka dari itu, Eryd pergi mencari teman petualang Frey untuk menghibur perasaan Frey dan berakhir dengan bertemu Chris yang kebetulan berada di Moon City. Eryd pun meminta Chris untuk menghibur putrinya yang tengah bersedih.
__ADS_1
Chris yang mendengarnya langsung bersemangat saat itu juga karena melihat kesempatan untuk merebut hati Frey dari mendiang Daru. Chris pun menyetujuinya dan Eryd mengajak Liliana pergi dari rumah untuk memberikan privasi kepada Frey dan Chris.
Dan begitulah, kesalahpahaman antara Daru dan Frey semakin bertambah, membuat kedua orang itu merasakan kesedihan yang luar biasa.