Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Bertemu


__ADS_3

Pagi hari, di sebuah bangunan kecil di Moon City sebelah utara, 1 hari setelah Bukit Sarren tutup secara mendadak.


"Apakah kau yakin Daru benar-benar sudah mati?" tanya seorang wanita dengan pakaian jubah hitam berkerudung kepada orang yang duduk di depannya, Dante.


"Ya, saya membawa kepalanya, Nona," jawab Dante sembari menyerahkan bungkusan hitam yang berisi sebuah kepala.


Wanita itu mengambil bungkusan yang diserahkan Dante dan memeriksa isinya.


"Apakah kau yakin kalau ini adalah kepala Daru?" tanya wanita itu sekali lagi.


"Saya yakin. Semua orang di Bukit Sarren diusir secara paksa setelah insiden pembunuhan Daru kemarin. Hingga saat ini, Bukit Sarren belum bisa dimasuki oleh siapa pun," jawab Dante.


"Itu berarti orang-orang penghuni Bukit Sarren memilih untuk menutupi kematian Daru. Tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil," ucap wanita itu.


"Maksud Anda, Nona?" tanya Dante kebingungan.


"Lupakan, ini bayaranmu." Wanita itu mengeluarkan kantong berisi koin emas sebanyak sepuluh ribu keping dan menyerahkannya kepada Dante.


"Anggaplah pertemuan kita berdua tidak pernah terjadi. Jika suatu saat kau membocorkan tentang ini semua, aku pastikan kepalamu terpisah dari tubuhmu," ancam wanita itu.


"Tentu, tidak ada alasan bagi saya untuk memberitahukan semua ini kepada siapa pun," ucap Dante sebelum dengan cepat meraih kantong berisi uang.


Wanita itu mengangguk dan bangkit dari duduknya, lalu dia pun pergi dari tempat itu meninggalkan Dante yang wajahnya bersinar karena uang.


Tanpa mereka berdua sadari, seseorang sedang mengamati mereka dari langit-langit bangunan. Orang itu adalah Drey, yang sudah seharian mengawasi Dante dengan memakai sihir silumannya.


Ketika wanita itu keluar dari sana, Drey dengan hati-hati mulai mengikuti wanita itu.


....


Bukit Sarren.


"Seharusnya aku menunggu Zoref sampai dia menyelesaikan bangunannya tadi malam. Kalau aku memutuskan untuk tidak tidur lebih awal, aku bisa mencoba permainan-permainan ini sesegera mungkin," gumam Daru yang tengah berdiri di depan bangunan besar empat lantai yang berada tak jauh dari tokonya.


Semalam Daru tak sabar ingin mencoba hal-hal yang baru dia tambahkan di Bukit Sarren, namun rasa kantuk menyerangnya, sehingga dia memutuskan untuk tidur. Rencana ber-46 ria bersama Frey juga tidak terjadi karena Frey sedang bersama Neia untuk membuatnya tetap berada di bangunan asrama.


"Ya, jika kau tidak memutuskan untuk tidur lebih awal, kita bisa melakukannya semalam," balas Frey yang berdiri disampingnya dengan wajah merah.


"Hahh, panggil semua orang, aku akan menunjukkan hiburan-hiburan yang ada di gedung ini," ucap Daru sembari menghela nafas.


Frey mengangguk dan pergi untuk memanggil semua karyawan Daru beserta Neia.


Beberapa saat kemudian, semua orang berkumpul di depan gedung baru dengan wajah yang penuh semangat.


"Gedung ini aku namakan sebagai gedung hiburan, ada empat hiburan berbeda yang tersedia di sini, aku akan menunjukkan cara menikmati hiburannya." Daru kemudian memimpin rombongan itu untuk masuk ke dalam gedung.


Rombongan Daru pun tiba di lantai satu yang dipenuhi oleh meja-meja billiard yang tersusun rapi. Daru menghitung cepat dan mengetahui jumlah pasti meja billiard di sana.


"Tiga puluh unit, cukup banyak," gumamnya.


"Meja-meja ini adalah meja billiard," ucap Daru sembari mendekati salah satu meja.


"Susun bola warna-warni ini seperti ini, taruh bola putih di sini, ambil tongkat ini, gesekkan ujungnya dengan benda biru ini, lalu sodok seperti ini ...." Daru menjelaskan cara bermain dan peraturan-peraturan bermain billiard kepada semua orang yang mengikutinya.


"Bos! Ini bagus!" teriak Gordon dengan penuh semangat setelah Daru menyelesaikan penjelasannya.


"Biarkan aku mencobanya, Bos!" tambahnya.


Daru tersenyum dan berkata, "Aku akan menjelaskan tiga hiburan lain di lantai atas dulu, setelah itu, kau bisa mencoba semuanya."


Semua orang mengangguk serentak dan membiarkan Daru memimpin mereka menuju lantai dua.


Di lantai dua terdapat banyak meja dengan sebuah net kecil di tengahnya. Jumlahnya tak kalah banyak dengan meja billiard di lantai satu, membuat semua orang bertanya-tanya mengenai fungsi dari meja-meja itu.

__ADS_1


"Permainan ini disebut tenis meja. Ged, kau menjadi lawanku," ucap Daru sembari berjalan mendekati meja.


"Ya!" Ged dengan semangat menghampiri Daru yang tengah berdiri menghadap salah satu meja.


"Kenapa kau di sini? Kau harusnya berada di seberang sana," ucap Daru dengan wajah datar ketika Ged berdiri di sampingnya.


"Hehe." Ged tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya sebelum berjalan menuju seberang meja.


"Pegang bet itu seperti ini, tangkis bola dariku, siapa yang tidak bisa menangkis bolanya, maka dia kalah. Dasarnya seperti itu, masalah peraturannya, aku akan menulisnya nanti," ucap Daru memberi penjelasan.


Ged meniru apa yang dilakukan Daru dan mereka berdua pun bertukar beberapa tangkisan sebelum bola keluar dari meja.


"Seperti itu. Mari menuju ke lantai tiga," ucap Daru sembari meletakkan betnya di atas meja.


Semua orang pun mengikuti Daru menuju lantai tiga untuk hiburan selanjutnya.


"Ini disebut bowling, gelindingkan bola itu ke arah benda-benda putih yang berdiri di sana, benda-benda putih itu disebut pin. Tujuan utama permainan ini adalah menjatuhkan pin-pin tersebut, itu adalah dasarnya. Untuk peraturan lebih lanjut, aku akan menuliskannya nanti." Daru kemudian mengambil salah satu bola, memasukkan jari jempol, jari manis dan, jari tengahnya ke dalam tiga lubang di bola tersebut lalu menggelindingkannya.


Beberapa orang pun mencoba meniru Daru di lima jalur bowling yang lain.


Klatak


Klatak


semua orang yang mencoba bowling sanggup menjatuhkan beberapa pin dalam sekali tembak, kecuali Daru yang bolanya keluar dari lintasan yang ia rencanakan.


"Sial," gumam Daru ketika melihat bolanya tidak mengenai satu pun pin bowling yang ada di sana.


Semua karyawan Daru memandanginya dengan perasaan tidak enak karena mereka lebih menguasai bowling daripadanya. Karena kesal, Daru mulai membubarkan antusiasme orang-orang yang sedang bermain dengan mengajak mereka ke lantai selanjutnya, yaitu lantai empat yang dipenuhi oleh permainan-permainan kasino.


Tepat ketika Daru menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, sebuah siluet yang perlahan-lahan membentuk tubuh seseorang muncul di sampingnya.


"Bos, aku menemukan sesuatu." Orang itu adalah Drey yang baru saja kembali dari misinya, yaitu mengawasi gerak-gerik Dante.


Daru tersenyum sangat lebar dan terkesan cukup menyeramkan bagi karyawan-karyawannya. Ketika Daru menyadari bahwa senyumnya membuat banyak orang ketakutan, dia langsung melepas senyum itu dan memandang orang-orang yang mengikutinya.


Semua orang mengangguk dan menuju tempat hiburan yang ingin mereka coba, kecuali Frey, Neia, dan Drey.


"Nenek Neia, toko Anda sudah selesai dibangun, itu terletak tepat disamping toko saya. Anda bisa membiasakan diri dengan lingkungan toko sekarang. Untuk masalah karyawan, saya akan mencarikannya setelah situasi Bukit Sarren mereda," ucap Daru kepada Neia.


"Baik, terima kasih, Nak Daru. Aku sungguh berhutang budi kepadamu," balas Neia dengan senyum tulus di wajahnya.


"Ini hanya hal kecil, Nenek," ucap Daru.


Neia pun segera menuju tokonya untuk melihat-lihat apa saja yang ada di sana. Kini, tinggal Daru, Frey, dan Drey yang masih ada di sana.


"Frey, ada apa?" tanya Daru kepada Frey yang masih berdiri di sampingnya.


"Bisakah aku ikut? Setidaknya aku ingin ikut ambil bagian dalam penyelesaian masalahmu, walaupun hanya sedikit," ujar Frey dengan wajah memohon.


"Baiklah, kau bisa ikut." Daru kemudian memandang ke arah Drey dan berkata, "Katakan."


Drey pun dengan segera mulai melaporkan apa yang dia temukan.


"Dua orang, pria dan wanita, berpakaian serba hitam dengan kerudung. Mereka berdua adalah orang yang ada di belakang pria bernama Dante. Tadi pagi, si wanita menemui Dante dan menyerahkan sekantong uang kepadanya setelah melihat kepalamu di dalam sebuah bungkusan hitam, Bos. Ketika dia meninggalkan tempat Dante, aku mengikutinya dan menemukan ada satu orang lagi yang aku yakini sebagai rekan wanita itu." Drey melaporkan semuanya kepada Daru tanpa ada satu pun yang terlewat.


Pria dan wanita memakai pakaian serba hitam. Apakah pria yang bertemu denganku di Waterfall City adalah pria yang sama? Aku juga melihatnya tengah memandangiku ketika makan di Restoran Bintang Biru Moon City, pikir Daru.


"Dimana lokasi kedua orang itu?" tanya Daru setelah beberapa saat terdiam.


Drey mengeluarkan sebuah gulungan peta, membukanya, dan menunjuk salah satu bagian peta, lalu berkata, "Di sini, mereka berkata akan meninggalkan Moon City sore nanti."


"Ini peta Moon City?" tanya Daru.

__ADS_1


"Benar, Bos," jawab Drey.


"Baiklah, aku akan segera ke sana. Kau bisa bergabung dengan yang lainnya untuk mencoba hiburan di gedung ini." Daru meraih peta itu dan segera berjalan menuju portal teleportasi diikuti Frey setelah mengambil kalung teleportasinya dari Drey.


Ditengah perjalanan, Frey bertanya, "Apa yang akan kau lakukan? Membunuh mereka?"


"Tergantung, jika memiliki nilai guna untukku, aku akan membiarkan mereka hidup. Sampahmu mungkin adalah harta karun untuk orang lain," jawab Daru.


"Maksudmu?" tanya Frey keheranan.


"Sesampah-sampahnya sampah, itu bisa menjadi harta karun di tangan orang yang tepat." Daru tersenyum licik sembari terus berjalan.


Mereka berdua pun tiba di samping portal teleportasi yang kini berwarna merah, menandakan portal tersebut masih dalam kondisi non-aktif.


"Gunakan sihir siluman sebelum memasuki portal, dan telan pil ini," ucap Daru sebelum menyerahkan sebuah pil berwarna hitam sebesar kelereng.


"Apa ini?" tanya Frey penasaran.


"Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu, telan saja itu dan kau tidak akan kenapa-kenapa," jawab Daru.


Jawaban Daru membuat Frey semakin penasaran sampai dia melihat Daru juga menelan pil yang sama sepertinya. Tanpa pikir panjang, Frey juga menelannya dan tidak merasakan efek apapun, membuatnya semakin penasaran.


Pil itu adalah pil penawar untuk dupa hipnotis yang masih Daru miliki setelah membuat lima Keluarga Bangsawan menjadi budaknya dulu. Daru berencana memakai dupa hipnotis kepada dua orang itu untuk mencari informasi-informasi mengenai alasan mereka menargetkan Daru.


Sihir siluman ..., transparan? Kaca? Kenapa tidak udara saja? lebih baik yang tidak memiliki bentuk ..., pikir Daru mencoba mengimajinasikan sihir siluman.


Daru pun memutuskan untuk mengimajinasikan tubuhnya menjadi udara. Ketika dia mengalirkan mana-nya keseluruh tubuh, tubuh Daru perlahan-lahan menghilang hingga hilang sepenuhnya menyatu dengan udara.


Sihir siluman yang sempurna, pikirnya.


....


Dua orang yang menginginkan kepala Daru sekarang berada di sebuah kamar penginapan dan bersiap-siap untuk segera pergi dari Moon City.


"Misi kita telah selesai, aku harap Beliau bisa tenang dan melanjutkan rencananya setelah ini," ucap si wanita.


"Ya, Daru hanyalah seorang pemuda naif yang tidak mengetahui siapa yang dia lawan. Aku harap dia menyesali perbuatannya di neraka, hahaha," balas si pria.


Tiba-tiba, sebuah suara asing terdengar di telinga mereka berdua.


"Hoho, neraka? Akan kutunjukkan kepada kalian, apa itu neraka." Sebuah siluet seorang pria muncul bersamaan dengan suara itu.


Kedua orang itu langsung memasuki posisi waspada dan memegang senjata mereka masing-masing.


"Siapa kau!?" teriak si pria.


Siluet itu menjadi jelas dan menampakkan seorang pria dengan senyum yang sangat lebar nan menakutkan.


"Aku Daru, penguasa Bukit Sarren," jawabnya dengan nada yang sangat dingin.


Si wanita terkejut karena menyadari wajah Daru sama dengan wajah dari potongan kepala yang ditujukkan oleh Dante.


"Bagaimana kau hidup setelah kehilangan kepalamu?" tanya wanita itu dengan sedikit ketakutan.


"Anggap saja aku memiliki banyak kepala, hehehehe. Mari kita mulai acara pertemuan pertama kita," ucap Daru dengan terkekeh menyeramkan sebelum bau wangi tercium di seluruh ruangan.


Tanpa mereka berdua ketahui, Frey yang masih dalam sihir siluman menyalakan sebatang dupa hipnotis sesuai perintah Daru, walaupun dia tidak tahu apa-apa mengenai dupa tersebut.


Tatapan kedua orang itu menjadi kosong setelah mencium aroma wangi dari dupa, mereka merasakan ketenangan yang luar biasa.


"Jawab pertanyaanku, siapa 'beliau' yang kalian maksud?" tanya Daru.


Tiba-tiba ekspresi mereka menjadi buruk seakan kesakitan setelah mendengar pertanyaan Daru.

__ADS_1


Daru mengerutkan alisnya dan bergumam, "Kontrak darah?"


Ini akan merepotkan, pikirnya.


__ADS_2