
Malam pun semakin larut, Daru dan Frey telah berbincang-bincang cukup lama sembari menunggu drone kembali. Tiba-tiba, smartphone Daru bergetar, menandakan sebuah notifikasi telah diterima. Dengan segera, Daru melihat smartphone-nya dan melihat sebuah notifikasi bertuliskan "Complete."
Ketika Daru menekan bar notifikasi itu, menu aplikasi metal detector pun muncul dengan menampilkan sebuah citra 3D dari peta Kerajaan Resia. Di dalam peta tersebut, terdapat titik-titik beserta informasi titik yang terdiri dari banyak warna tersebar di seluruh wilayah Kerajaan Resia.
"Au, Ag, Cu, Fe. Itu berarti Emas, Perak, Tembaga, Besi. Lalu ada U, lambang unsur apa itu? U ..., U ..., Uranium! Ada uranium di dunia ini! Hahaha," ucap Daru setelah berhasil mengetahui isi beberapa titik.
"Apa yang kau katakan? Au? Uranium? Apa itu?" tanya Frey yang keheranan.
"Uranium adalah sesuatu yang dapat membuat kekacauan. Gio." Daru memanggil A.I-nya.
"Ya."
"Apakah kau tahu cara membuat bom nuklir? Aku menemukan sumber Uranium," ucap Daru.
"Aku tahu, bom nuklir dengan cara kerja paling sederhana adalah bom nuklir yang menggunakan reaksi fisi. Uranium dari bawah tanah memiliki dua jenis isotop, 235 dan 238, dan yang dapat digunakan untuk membuat reaksi fisi nuklir adalah Uranium dengan jenis 235. Dibutuhkan mesin sentrifugal untuk memisahkan kedua jenis terse-"
"Tunggu, bisakah kau menjelaskannya dengan bahasa manusia?" ucap Daru memotong kata-kata Gio.
"Membuat bom nuklir dengan kondisi tanpa peralatan adalah hal yang tidak mungkin."
"Bukankah Sergio dulu pernah membuat bom nuklir saat peperangan terjadi?" tanya Daru.
"Ya, namun karena tidak memperkirakan jangkauan ledaknya, fasilitas nuklirnya hancur karena ledakan bom itu."
"Hah, kalau begitu, lupakan. Kau bisa kembali non-aktif."
Frey yang dari tadi diam pun berkata, "Bom nuklir? Apa lagi itu?"
"Nuklir, berasal dari kata nucleus yang berarti inti. Bom nuklir adalah bom yang diciptakan dengan menggunakan reaksi fisi dan fusi inti ...." Daru menghentikan kata-katanya karena melihat Frey tengah menatapnya dengan tatapan kosong.
"Kau tidak dapat memahaminya, kan?" tanya Daru dengan ekspresi datar.
Frey hanya tertawa canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia berkata, "Tidak, hihi."
__ADS_1
"Hahh, kesimpulannya, bom nuklir adalah senjata pemusnah massal."
Ekspresi Frey berubah menjadi buruk, dia berkata, "Apa yang akan kau lakukan jika kau dapat membuat bom nuklir itu?"
"Untuk tujuanku, menjadi orang yang paling berpengaruh di Benua Isla. Jika aku menunjukkan kengerian bom nuklir kepada seluruh raja, aku dapat memastikan mereka tidak akan mengusikku. Namun, membuat bom nuklir tidaklah semudah kedengarannya," jawab Daru sebelum menghela nafas panjang.
Frey kembali ke ekspresi riangnya, dia tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, raihlah tujuan itu dengan cara yang lain."
Daru membalas tersenyum dan berkata, "Ya. Ketakutan adalah cara paling efektif untuk membuat manusia tunduk. Namun, akan ada pemberontakan secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi untuk menghilangkan ketakutan yang manusia rasakan itu. Bukan pilihan yang tepat untuk menaklukan dunia dengan ancaman."
"Lalu, berapa banyak tambang emas yang kau temukan?" tanya Frey.
Daru kemudian melihat layar smartphone-nya dan mulai menghitung spot-spot yang terdapat banyak titik bertuliskan "Au," lambang unsur untuk emas.
"Ada enam lokasi yang dapat dibuat tambang," jawab Daru setelah memastikan jumlahnya.
"Jika kita menawarkan satu tambang untuk setiap 1 km dari dinding, kita masih memiliki dua tambang. Apa yang akan kau lakukan dengan tambang itu? Menjualnya ke Raja Vanir?" tanya Frey.
"Tidak, ada ras Dwarf di Dark Plain, aku dengar mereka adalah ras yang mendedikasikan hidup mereka untuk menempa dan menambang," jawab Daru.
"Kau mau menambang kedua tambang itu?" tanya Frey lagi.
"Ya, aku akan mencetak uang sendiri." Senyuman licik pun terukir di wajah Daru.
"Kau selalu merencanakan hal yang besar, Daru. Ini sudah larut, waktunya untuk tidur," ucap Frey.
"Kau bisa masuk dahulu, aku akan menyusul," balas Daru.
Frey pun mengangguk ringan dan masuk ke dalam toko, meninggalkan Daru sendiri di sana.
Daru kembali menatap layar smartphone-nya dan menemukan dua tombol yang bertuliskan "Return" dan "Scan More."
Apakah tombol return ini untuk membuat drone kembali kemari? Lalu scan more untuk melakukan deteksi lagi? pikir Daru.
__ADS_1
Daru kemudian menekan tombol "Scan More" dan sebuah peta Benua Isla muncul di layar smartphone-nya.
Jika aku dapat menemukan seluruh sumber emas di Benua Isla yang belum ditambang, aku dapat mencetak koin emas dengan jumlah yang sangat banyak, ucap Daru dalam hati.
Gejolak semangat dalam diri Daru pun meluap-luap, siapa Daru? Dia adalah orang yang mencari keuntungan. Daru pun membuat drone itu kembali melakukan deteksi ke seluruh daratan Benua Isla. Karena untuk mendeteksi wilayah Kerajaan Resia saja membutuhkan waktu beberapa jam, Daru memprediksi bahwa deteksi akan berakhir besok siang.
"Ah, sebaiknya aku tidur. Ada seorang wanita yang menunggu di ranjang," gumam Daru sembari merenggangkan tubuhnya.
....
Di saat yang sama, Neraka.
"Bisakah kau hentikan itu untuk sesaat? Karena kau, Neraka kelebihan sumber daya," ucap Satan, sang Penguasa Neraka yang tengah duduk di singgasananya yang menjulang tinggi.
"Hahaha! Itu berarti tempat ini tidak cukup besar untuk menampung kehebatanku, kan?" balas seorang pria dengan pakaian berjas hitam dengan tiga sayap yang ada di sisi kanan tubuhnya. Pria itu adalah Lucifer, si Dosa Kebanggaan.
"Lucifer! Patuhi aturan yang aku buat, atau kau akan menerima konsekuensinya!" teriak Satan yang cukup jengkel dengan sifat Lucifer.
Saat ini, Neraka tengah mengalami gejolak karena masuknya jiwa-jiwa pendosa dalam jumlah yang sangat banyak. Itu semua berkat Lucifer dengan metode yang tidak diketahui siapapun, bahkan Satan tidak dapat menebak metode apa yang digunakan oleh Lucifer.
Sebenarnya itu adalah hal yang bagus untuk Neraka, dengan adanya jiwa-jiwa pendosa yang menebus dosanya di sana, membuat Iblis-Iblis penghuni Neraka bahagia karena energi dari dosa-dosa itu. Namun, dikarenakan terlalu banyak pendosa yang masuk, membuat Neraka mereinkarnasi jiwa pendosa lama lebih cepat untuk menyediakan ruang bagi jiwa pendosa yang baru datang, dengan kata lain, itu merupakan pemborosan sumber daya.
"Mematuhimu? Kau tahu sendiri aku tidak mematuhi Sang Pencipta ketika dia memintaku untuk bersujud kepada manusia. Lalu, alasan apa yang membuatku harus mematuhimu?" ucap Lucifer dengan senyuman lebarnya.
Satan hanya diam tak menjawab.
"Hahaha! Aku adalah si Dosa terhebat dari Tujuh Dosa Besar! Bahkan jika mereka meninggalkan tugas mereka, aku masih bisa memenuhi kebutuhan Neraka! Mereka berenam hanyalah makhluk tidak berguna!" teriak Lucifer dengan lantang.
Tanpa Satan dan Lucifer sadari, Leviathan, si Dosa Iri, mendengar perbincangan mereka berdua dari luar ruang tahta. Dengan lirih, dia berkata, "Maafkan saya Yang Mulia Satan, saya harus melanggar perintah Yang Mulia untuk menunda rencana di Benua Isla. Saya tidak akan kalah dengan Lucifer, saya akan mengirim jutaan jiwa pendosa ke Neraka. Tangan Tuhan akan melakukan pekerjaannya sekarang. Hail Satan."
(Note: Bagi yang lupa, dulu Satan memerintahkan Leviathan untuk menunda rencana di Benua Isla karena Neraka sudah penuh dengan jiwa pendosa.)
Sebuah portal yang mengarah ke Benua Isla muncul di belakang Leviathan, dengan tatapan penuh kemarahan, dia memasuki portal itu bersama ambisi besarnya.
__ADS_1