Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Hari yang Sibuk


__ADS_3

Matahari pun terbit dari timur, menandakan hari baru telah datang. Daru pun dengan malas membuka matanya.


"Huaaaah, hari yang melelahkan telah tiba," ucapnya sembari meregangkan tubuhnya.


Daru melihat ke samping dan menemukan Frey yang masih terlelap. Dia pun teringat hal-hal panas yang terjadi semalam.


"Kenapa perkembangan hubunganku dengan Frey menjadi seperti itu? Ah, biarlah! Sekarang waktunya memikirkan tentang hari ini," gumam Daru.


"Frey, bangun," ucap Daru mencoba membangunkan Frey dengan menepuk pipinya.


"5 menit lagi," balas Frey dengan malas.


"Sekarang." Daru menepuk pipi Frey lebih keras.


"Gunakan bibirmu, bukan tanganmu," ucap Frey.


"Bangun atau aku akan menggunakan bibirku pada Shera dan Sylph," ancam Daru.


Frey pun segera membuka matanya dan menatap Daru, lalu dia berkata, "Kalau kau mau melakukan itu pada mereka, lakukan saja!"


Daru pun mencium bibir Frey selama beberapa detik sebelum berkata, "Tidak sopan jika mencium wanita yang masih terlelap."


Wajah Frey memerah. Dia segera bangkit dari ranjangnya dan bergegas mandi, meninggalkan Daru di sana sendirian.


Daru menggelengkan kepala sembari menghela nafas. "Dia tampak lucu jika seperti itu," gumamnya.


Daru pun bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke lantai dua bawah untuk memeriksa persediaan.


Di lantai dua bawah, Daru menyadari bahwa persediaannya tidak akan cukup untuk hari ini.


"Aku harus mengisi persediaan sebelum pergi ke kediaman lima Keluarga Bangsawan," gumamnya.


Dia pun mengambil smartphone-nya dan mulai membeli persediaan dalam jumlah yang mengerikan, menghabiskan lebih dari tiga perempat dari keseluruhan uangnya. Sisa uangnya dia gunakan untuk membeli beberapa ribu botol anggur cap "orangmuda" seharga Rp100.000 per botolnya. Daru berencana untuk menjualnya kepada Klein dan membuat Bar Bull's Horn di Bukit Sarren memiliki minuman andalan terbaru.


Pesanan Daru pun tiba. Kini lantai dua bawah dipenuhi oleh tumpukan-tumpukan barang, bahkan ruangan yang Daru beri nama "Gudang Toko" tidak cukup untuk menampung semuanya. Dia menggunakan lebih dari lima ruangan untuk menyimpan semua barang yang baru dia beli.


"Aku harus mandi terlebih dahulu ...," ucapnya.


Dia pun naik menuju lantai satu atas untuk mandi. Kamar mandi di toko Daru hanya satu, tetapi di dalamnya dibagi menjadi dua bilik dengan perabotan mandi yang sama persis satu sama lain.


"Apakah ini kesempatan?" gumam Daru ketika melihat salah satu bilik tertutup rapat dan terdengar suara gemercik air dari dalam. Daru tahu, yang ada di dalam bilik itu adalah Frey.


"Ah, lupakan! Ini bukan bacaan dewasa." Daru pun masuk ke dalam bilik kosong dan mulai mandi di sana.


Setelah mandi, Daru berjalan menuju portal teleportasi untuk membukanya. Para karyawannya sudah berada di posisi masing-masing. Kini, di depan portal teleportasi terdapat bangunan kecil yang berfungsi sebagai penitipan senjata. Di atas bangunan itu, terdapat papan besar dengan tulisan-tulisan yang Daru buat kemarin. Ada juga sebuah jam satu lengan dengan angka 1-24 yang melingkari bagian pinggir jam.


"Ini cukup baik ...," gumam Daru setelah melihat perubahan di sekitar portal teleportasi.


Daru pun membuka portal teleportasi.


Setelah beberapa saat, dua orang pria dan wanita keluar dari portal. Dua orang itu adalah Klein dan Lyd.


"Selamat pagi, Tuan Daru," sapa Lyd dan Klein. Entah mengapa, mereka berdua lebih akrab satu sama lain daripada saat mereka berdua pertama kali bertemu Daru.


"Selamat pagi, silahkan ikuti saya untuk melihat bangunan baru Anda," ucap Daru. Mereka berdua mengikuti Daru yang melangkah ke arah restoran dan bar yang baru.


Setelah Daru, Klein, dan Lyd beranjak dari kawasan portal teleportasi, para pelanggan mulai berdatangan dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka mematung ketika melihat peraturan-peraturan yang ada di papan. Banyak orang yang bergegas menitipkan senjatanya ke tempat penitipan yang saat ini dijaga oleh Gordon.


Sistem di penitipan senjata mirip dengan tempat parkir di bumi. Senjata yang dititipkan di sana akan ditempeli kertas dengan nomor, dan pelanggan yang menitipkan senjatanya akan diberi nomor yang sama dengan nomor yang ditempelkan di senjata. Daru tidak mengetahui itu, karena itu semua adalah rancangan Zoref. Zoref juga menempelkan kertas berisi sistem kerja tempat penitipan di dinding, membuat Gordon bisa memahaminya dengan cepat. (Terima kasih, Zoref!)


"Tolong jangan sampai menghilangkan tiket yang ada di tanganmu. Jika hilang, senjatamu hanya bisa diambil nanti malam saat mendekati pukul 21," ucap Gordon.


Ada beberapa pelanggan yang tidak mengindahkan peraturan di papan dan menyembunyikan senjatanya di cincin dimensi. Rei yang menyadari itu langsung menegur beberapa pelanggan itu dan mengancam akan memasukkan nama mereka di dalam blacklist jika tidak menitipkan senjatanya di tempat penitipan. Mereka pun menyerah dan segera menitipkan senjatanya. Lebih baik daripada tidak bisa masuk kesini lagi, pikir mereka.


Pelanggan yang tidak membawa senjata langsung berlari menuju toko. Di perjalanan, mereka melihat bangunan baru dengan lambang Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn.

__ADS_1


"Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn mendirikan cabangnya di sini! Kita tidak perlu lagi berdiri di depan toko hanya untuk mengantri," ucap salah satu pelanggan.


"Kau benar, kawasan dalam tembok benar-benar luas, aku penasaran apa saja yang akan ada di sini di masa depan," balas pelanggan lainnya.


Setelah menyadari bahwa kedua bangunan itu masih tertutup, mereka kembali berjalan menuju toko.


Sementara itu, Daru, Lyd, dan Klein sudah sampai di depan kedua bangunan baru.  Lyd dan Klein takjub dengan bangunan barunya yang benar-benar lebih megah dari yang mereka bayangkan.


"Apakah benar bangunan ini seharga lima ribu koin emas?" tanya Klein.


"Klein, apakah kau tidak merasa familiar dengan bangunan baru kita?" tanya Lyd.


"Eh? Kau benar! Ini seperti barku di Moon City, hanya saja ada beberapa dekorasi yang membedakannya," ucap Klein terkejut.


"Tuan Da-"


"Itu benar, kalian tidak memberi saya rancangan bangunan, jadi saya buat seperti bangunan kalian di Moon City, bawahnya juga sama," ucap Daru memotong kata-kata Lyd.


Lyd terkejut, karena hanya anggota Third Eye yang pernah masuk ke dalam ruang bawah tanahnya.


Dia tahu? Apakah ada anggota Third Eye yang membocorkannya? pikir Lyd.


Lyd memandang Klein dan melihat Klein yang menunjukkan ekspresi sama sepertinya.


Rahasia apa yang Bull's Horn sembunyikan? pikir Lyd.


"Kalian bisa melihat-lihat bangunannya, saya akan menunggu kalian di sini," ucap Daru.


Lyd dan Klein mengangguk pelan dan masuk ke dalam bangunannya masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Lyd dan Klein keluar dari bangunan baru milik masing-masing. Ekspresi mereka sangat buruk, karena mereka dipertemukan oleh ruang bawah tanah yang terhubung. Kini, mereka tahu rahasia masing-masing.


"Bagaimana? Apakah ada yang kurang, Nona Lyd, Tuan Klein?" tanya Daru dengan senyum lebar.


"Ba-bagaimana Tuan Daru ta-tahu bentuk dan dekorasi ruang bawah tanah saya?" tanya Klein.


"Masalah kemiripan dekorasi, saya tidak bisa menjawabnya. Anda berdua tahu, sumber informasi adalah sesuatu yang berharga. Hahaha," jawab Daru dengan tertawa lantang.


"Dan untuk alasan saya menghubungkannya, itu karena saya tahu kalian berdua saling curiga mengenai identitas masing-masing. Jadi, saya membantu kalian berdua menjawabnya," tambah Daru.


Mereka berdua hanya menggelengkan kepala sembari menghela nafas untuk menanggapi kata-kata Daru. Tak lupa, mereka juga memberikan koin emas kepada Daru dengan jumlah yang mereka setujui semalam.


"Nona Lyd, untuk masalah resep, saya akan memberikannya nanti setelah saya menulisnya. Bawa Koki Anda kemari untuk mulai mencoba resepnya, jangan lupa membawa koin emas untuk membeli bahan dari saya. Dan Tuan Klein, saya memiliki beberapa ribu botol anggur. Anda bisa menjualnya di bar Anda," ucap Daru setelah menyimpan koin emas di dalam cincin dimensi.


Lyd mengangguk sebelum bergegas kembali ke Moon City untuk mempersiapkan koki terbaiknya. Sedangkan Klein, dia mengerutkan alisnya dan bertanya, "Berapa harganya?"


"Anda bisa membeli dari saya seharga satu koin emas per botolnya. Saya yakin, anggur itu akan laris walaupun dijual dengan harga lima kali lipat dari itu," jawab Daru.


"Berapa botol yang Tuan Daru punya?" tanya Klein lagi.


"Saya sudah menyiapkan sekitar 3.800 botol," jawab Daru.


"Baiklah, saya akan membelinya. Jika Tuan Daru berkata bahwa anggur itu akan laris, maka itu pasti akan laris. Saya harus kembali ke Moon City untuk mengambil beberapa tong bir dari bar saya di sana. Saya juga harus memanggil beberapa karyawan," ucap Klein berpamitan pada Daru.


"Temui saya di toko jika anda sudah kembali," ucap Daru.


Klein pun berjalan menuju portal untuk kembali ke Moon City, sedangkan Daru pergi menuju tokonya untuk menulis resep makanan bumi yang dia janjikan kepada Lyd.


Di perjalanan kembali ke toko, Daru melihat tiga baris antrian yang sangat panjang dari tokonya sampai portal teleportasi. Pelanggan yang datang hari ini benar-benar terlalu banyak. Gordon dan Rei yang berjaga di samping portal pun nampak kesusahan mengatur orang-orang yang baru datang.


"Belum ada satu jam dan antrian sudah sebanyak ini? Bar Bull's Horn harus dibuka hari ini juga," gumam Daru.


Jika Bar Bull's Horn bisa memulai bisnisnya di Bukit Sarren hari ini, para pelanggan yang mengantri akan menunggu di bar sembari menikmati minuman-minuman keras. Tidak akan ada pelanggan yang berpanas-panasan di luar toko Daru hanya untuk membeli barangnya.


Daru segera berjalan menuju lantai dua bawah. Ketika dia masuk ke dalam toko, dia bisa melihat kinerja karyawannya yang benar-benar mengagumkan. Shera dan Sylph menangani pesanan pelanggan dengan sangat cepat, Geld sedikit kewalahan tetapi dia juga terlihat berusaha semampunya, Rena yang berdiri tegak dengan ekspresi yang tajam namun tidak menakutkan, dan Frey yang berusaha terus-menerus mengisi persediaan di etalase.

__ADS_1


"Pekerjaan yang bagus," gumam Daru sembari mempercepat langkahnya.


Setelah tiba di lantai dua bawah, Daru memasukkan semua botol anggur ke dalam cincin dimensinya. Cincin dimensi di dunia ini sungguh menakjubkan, selama itu bukan makhluk hidup dan bisa dipindahkan, maka dapat dimasukkan kedalamnya tanpa khawatir kapasitasnya akan habis. Setelah memasukkan semua botol ke dalam cincin dimensi, Daru bergegas naik ke lantai dua atas untuk memulai menulis resep makanan untuk Lyd.


"Resep apa yang harus aku tulis?" gumamnya.


Daru pun membuka smartphone-nya dan mencari kumpulan resep makanan mewah di glooge. Dia mendapatkan resep dari 25 makanan mewah yang terkenal di bumi. Dia pun segera menulis bahan, alat, dan cara memasaknya.


"Resep-resep ini membutuhkan bahan dan alat masak yang nampaknya asing di dunia ini, mungkin aku harus menyediakan alat masak juga ...," gumam Daru.


Setelah selesai menulis resep, Daru memesan bahan makanan dan alat masak dalam jumlah besar. Walaupun uangnya sudah menipis, tetapi hanya dalam satu jam, penghasilan toko telah menembus angka 15.000 koin emas. Cukup banyak untuk membayar pesanan Daru yang baru saja dia buat.


Setelah pesanan Daru datang, dia segera menyimpannya di dalam cincin dimensi. Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.


Ntok ntok ntok.


"Masuk," ucap Daru menanggapi ketukan pintu.


"Bos, ada dua orang pria dan wanita yang ingin menemui anda. Mereka bernama Klein dan Lyd. Haruskah saya bawa kemari?" tanya Rena setelah membuka pintu.


"Tidak, aku akan turun. Kembalilah ke posisimu," ucap Daru kepada Rena.


"Baik, Bos!" Rena berjalan menuju lantai satu atas dan diikuti Daru.


"Mari ikut saya, Tuan Klein, Nona Lyd," ajak Daru setelah tiba di lantai satu atas.


Daru berjalan menuju Bar Bull's Horn diikuti oleh Lyd dan Klein. Saat ini ada banyak orang di dalam Bar Bull's Horn, mereka adalah karyawan-karyawan Klein yang baru saja tiba. Saat ini mereka mulai bersiap-siap untuk membuka bar.


Daru pun masuk ke ruang penyimpanan bar untuk menaruh beberapa ribu botol anggur.


"Tuan Klein, anda bisa mencobanya," ucap Daru setelah mengeluarkan semua botol anggur yang ada di dalam cincin dimensinya.


Klein langsung mengambil satu botol, membukanya, dan langsung meneguk isinya.


"Rasa manis ini ..., kehangatan ini ..., ini luar biasa!" ucap Klein setelah menghabiskan setengah botol.


"Bagaimana? Lima koin emas cukup murah, bukan?" tanya Daru.


"Terlalu murah! Sepuluh koin emas masih bisa dianggap murah!" teriak Klein menjawab pertanyaan Daru.


"Jangan rakus, Tuan Klein. Lima koin emas sudah cukup banyak. Bersiaplah untuk segera membuka bar Anda. Kasihan pelanggan saya yang mengantri di luar toko," ucap Daru menanggapi.


Klein tersenyum malu sebelum menganggukkan kepalanya dan memberikan 3.800 koin emas kepada Daru.


Setelah itu, Daru bergegas menuju ke Restoran Bintang Biru bersama Lyd yang penasaran dengan rasa anggur yang baru saja Klein minum.


Setelah memasuki Restoran Bintang Biru, Daru menuju tempat penyimpanan dan mulai mengeluarkan semua hal yang dibutuhkan untuk resepnya.


Lyd terkejut, dan berkata, "Tu-Tuan Daru, be-berapa banyak yang ha-harus saya ba-bayar untuk i-ini semua?"


"Berapa banyak Nona Lyd sanggup membayar?" tanya Daru.


"Sa-saya sanggup membayar hanya 13.000 koin emas," jawab Lyd.


"Kalau begitu, 13.000 koin emas saja. Ini resepnya, saya akan menuliskan nama dari barang-barang yang mungkin asing bagi Anda," ucap Daru sembari menyerahkan tumpukan kertas berisi resep makanan.


Daru mulai memberi label barang-barang yang dia rasa tidak ada di dunia ini, seperti panci presto, sosis, saus, dan barang-barang unik lainnya.


Lyd kebingungan setelah membaca label-label yang ditulis Daru, akhirnya dia menyerah dan memilih untuk diam.


Setelah Daru selesai memberi label, Lyd mulai memerintah kokinya untuk mencoba resep makanan yang Daru berikan. Semua orang pun mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Nona Lyd, saya akan kembali ke toko. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan," ucap Daru berpamitan kepada Lyd.


"Terima kasih, Tuan Daru. Ketika koki saya sudah berhasil mencoba resep Anda, saya pasti akan mengundang Anda untuk mencoba masakan," ucap Lyd sembari memberikan kantong berisi koin emas.

__ADS_1


"Saya akan menunggunya," ucap Daru sebelum pergi meniggalkan Lyd.


__ADS_2