Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Pertemuan


__ADS_3

"Hari ini adalah hari pertemuan antara Paman Vanir dan Tuan Gustave, aku harus menyiapkannya," gumam Daru setelah Frey beranjak pergi meninggalkannya.


Daru kemudian mengeluarkan smartphone-nya dan membuka web Belanja Online Universal.


Dia membeli dua gulungan kertas yang cukup besar, itu berisi sesuatu yang dapat membuat penduduk Kerajaan Resia tetap memiliki uang lebih.


Tak berselang lama, Veux pun datang bersama paket Daru.


"Punten, paket," ucap Veux tepat setelah dia muncul.


"Selamat datang, Mas Veux," balas Daru menyapa Veux.


"Beberapa hari yang lalu, kenapa susah dihubungi, Mas? Mas Zoref juga tidak bisa dihubungi," tanya Daru.


"Oh, server penghubung lima belas dunia lagi down, Mas. Jin yang lagi berada di dunia lain nggak bisa pulang waktu itu," jawab Veux sembari menyerahkan paket Daru.


"Baru pertama kalinya aku dengar server di sana down, ada masalah apa?" tanya Daru penasaran sembari menandatangani surat tanda terima.


"Nggak ada masalah apa-apa sih, cuman alatnya memang sudah tua. Dulu juga pernah down, malah makan waktu sampai berbulan-bulan buat dibenerin," jawab Veux.


"Wah, parah juga, ya," ucap Daru.


"Ya gitu deh. Ya sudah, Mas, aku balik dulu, takut kalau down lagi malah nggak bisa pulang ketemu istri," ucap Veux sebelum menghilang begitu saja.


Daru kemudian melihat dua gulungan kertas besar di tangannya dan membukanya. Senyuman pun terukir di wajahnya ketika melihat isi dari gulungan kertas itu.


"Ntabs," gumam Daru sebelum pergi menuju lantai satu atas untuk mandi.


Siang harinya, Daru tengah duduk di lantai dua atas, menunggu tamu pentingnya datang.


Tiba-tiba, Frey masuk dengan diikuti oleh dua orang pria dan dua orang wanita berpakaian mencolok, mereka adalah Raja Vanir, Ratu Fiona, Raja Gustave, dan Ratu Maria. Daru segera berdiri ketika melihat keempat tamu pentingnya menampakkan diri.


"Selamat datang, Paman Vanir, Tuan Gustave," sapa Daru.


Raja Vanir tersenyum dan membalas, "Aku tahu, orang menyebalkan sepertimu tidak akan mati semudah itu."


"Apa maksud Anda, Raja Vanir?" tanya Raja Gustave penasaran.


"Ah, hanya rumor kecil mengenai kematian bocah bodoh ini, Raja Gustave," jawab Raja Vanir dengan sopan.


"Haha, itu tidak akan mungkin terjadi." Raja Gustave tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Daru," ucap istri Raja Vanir, Ratu Fiona. Dia selalu ingin bertemu dengan penyelamat putrinya sejak dulu, namun karena kondisi kerajaan yang selalu saja ada masalah, membuatnya tidak dapat melakulannya.


"Senang bisa bertemu Bibi Fiona, sekarang aku tahu bahwa Paman Vanir benar-benar beruntung karena memiliki istri secantik Bibi," balas Daru dengan terkekeh kecil.


Raja Vanir membusungkan dadanya dengan kebanggaan yang luar biasa, seakan dia berkata, "Pria ini yang menaklukan wanita secantiknya."


Daru tersenyum kecil lalu memandang seorang wanita yang berada di samping Raja Gustave, Ratu Maria Edelgard.


"Anda pasti Ratu Kerajaan Saria, Nyonya Maria Edelgard. Saya Daru, pemilik Bukit Sarren." Daru memperkenalkan diri dengan sopan.


"Senang bertemu denganmu. Aku dengar dari Suamiku, kau adalah pria yang hebat," balas Ratu Maria dengan tersenyum.


"Haha, saya hanyalah pebisnis kecil. Silahkan duduk, semuanya," ucap Daru mempersilahkan.


Daru kemudian memandang Frey dan berkata, "Frey, beri perintah kepada Ged untuk mengambil makanan dan minuman dari restoran dan bar. Menjamu tamu adalah kewajiban."


Frey mengangguk dan berjalan menuju lantai satu bawah.


Mereka pun berbincang-bincang sebentar sebelum tiga orang memasuki ruangan bersama dengan beberapa botol anggur "orangmuda" khas Bar Bull's Horn dan makanan dari Restoran Bintang Biru. Ketiga orang itu adalah Frey dan dua karyawan baru Daru.


"Kalau begitu, Anda semua bisa memulai diskusi, saya dan Frey akan meninggalkan ruangan" ucap Daru kepada keempat orang yang ada di sana sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu," ucap Raja Vanir dan Raja Gustave secara bersamaan.


"Tetaplah berada di sini, diskusi ini akan melibatkanmu sebagai pemilik Bukit Sarren," ucap Raja Vanir.


Daru tersenyum kecil lalu berkata, "Baiklah, aku akan mendengarkan, Paman."


Frey dan Daru kembali duduk di tempatnya dan diskusi pun dimulai.


Inti dari diskusi itu adalah hubungan kerja sama ekonomi antara dua kerajaan dengan Bukit Sarren sebagai perantaranya, sesuai dengan tebakan Daru.


Raja Gustave meminta hal-hal pokok seperti hasil pertanian berupa gandum, buah-buahan yang bersifat awet, hewan ternak, dan lain-lain. Dia juga meminta barang-barang lain seperti kain, kertas, mineral-mineral alam. Raja Vanir menyetujui itu selama berat emas yang ditawarkan Kerajaan Saria memiliki harga yang sebanding dengan apa yang Kerajaan Resia sediakan.


Ketika mereka sudah mencapai kesepakatan, mereka berdua memandangi Daru dengan tatapan yang seolah berkata, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan."


"Ya, ya, saya akan mengijinkan kedua kerajaan melakukan itu di sini," ucap Daru dengan ekspresi datar.


"Hahaha, berapa banyak yang kau mau?" tanya Raja Vanir merujuk pada pajaknya.


"Katakan saja, selama pajaknya tidak berlebihan, kami akan menyetujuinya," sahut Raja Gustave.

__ADS_1


Daru diam sesaat dan berpikir sebelum sebuah senyum licik terukir di wajahnya.


"Menambah satu permintaan untuk kedua pihak, maka Paman Vanir dan Tuan Gustave bisa melakukannya tanpa pajak," ucap Daru.


Raja Vanir berekspresi sedikit buruk lalu berkata, "Kau mau menambah hutangku padamu lagi?"


"Lagi? Raja Vanir, apakah Anda juga berhutang satu permintaan kepada Daru?" tanya Raja Gustave.


"Juga? Anda berhutang satu permintaan kepada Daru juga?" Raja Vanir terkejut karena mengetahui bahwa bukan hanya dirinya saja yang diperlakukan seperti itu oleh Daru.


Mereka berdua pun memandangi Daru yang tengah memasang ekspresi tenang.


Daru menghirup nafas dalam-dalam, lalu berkata, "Tenanglah, aku tidak akan meminta kalian berdua untuk menyerahkan takhta kalian kepadaku atau meminta kalian untuk berperang dengan kerajaan lain. Hanya dua permintaan sepele, hanya itu."


Kedua Raja itu berdiam diri cukup lama untuk berpikir, sampai Raja Vanir kembali membuka mulutnya.


"Baiklah, lagipula aku bisa yakin kalau kau tidak akan memanfaatkan seorang raja," ucap Raja Vanir.


"Aku juga setuju," sahut Raja Gustave.


Tiba-tiba,


"Pffftt." Suara seseorang sedang menahan tawa terdengar oleh kedua Raja dan Ratu beserta Daru. Mereka pun memandang kearah sumber suara, yaitu Frey yang tengah menutupi mulutnya dengan tangan kanan.


"Ada apa, Frey?" tanya Raja Vanir keheranan.


"Tidak ada, Yang Mulia," jawab Frey yang tengah berusaha dengan sekuat tenaga menahan tawanya.


Dengan kau menyetujui syarat Daru, itu berarti kau sudah dimanfaatkan olehnya. Ah, aku semakin jatuh cinta pada pria ini, pikir Frey.


"Oh, Raja Vanir, aku ada pertanyaan untuk Anda. Kenapa anda menyetujui untuk bekerja sama dengan Kerajaan saya meskipun hanya menawarkan emas sebagai alat tukarnya?" tanya Raja Gustave penasaran.


Raja Vanir diam sejenak lalu menjawab, "Entah mengapa, koin emas di Kerajaan saya tiba-tiba berkurang sangat banyak. Sedangkan tambang emas sangat sedikit yang tersedia di Kerajaan Resia. Itulah alasan mengapa saya bekerja sama dengan Kerajaan Anda yang memiliki sumber emas yang sangat banyak."


"Pffftt." Frey kembali menahan tawanya.


"Frey?" ucap Raja Vanir semakin kebingungan.


"Maaf, Yang Mulia, ada kodok di tenggorokan saya," jawab Frey dengan asal-asalan.


Itu semua ulah Daru! Aku ingin segera menikahi pria hebat sepertinya! pikir Frey.

__ADS_1


Daru yang melihat tingkah Frey pun mengetahui gambaran besar pikirannya, Daru hanya bisa mengelus dahinya sebagai tanggapan untuk Frey.


__ADS_2