
Sergio pun pergi dari ruangan dan menuju ruangan labolatoriumnya untuk mempersiapkan A.I. yang dijanjikan kepada Daru, sedangkan Daru pergi dari ruangan itu dan berjalan menyusuri jalanan desa sembari memikirkan langkah apa yang akan dia ambil.
Desa itu sangatlah luas, mungkin hampir menyamai luas Moon City. Tetapi bangunan-bangunan yang ada di desa itu berbanding terbalik dengan bangunan di Moon City. Rata-rata bangunan yang dibangun di desa terbuat dari kayu yang hampir lapuk. Jalanannya pun hanyalah tanah berwarna merah gelap, menambah suasana kumuhnya.
Setiap Daru berpapasan dengan penduduk, mereka selalu berlutut, bahkan tidak sedikit yang bersujud ke arah Daru, membuatnya merasa terganggu dengan pemujaan mereka. Namun Daru tidak bisa berkata apa-apa mengenai itu, dia hanya mempercepat langkah kakinya supaya para penduduk itu segera mengangkat kepalanya.
Daru pun tiba di sebuah bangunan yang terlihat cukup kokoh. Dia dengan kekuatan fisik yang cukup besar melompat ke atap bangunan itu dan duduk di sana. Walaupun matahari belum mendekati ufuk, namun Desa itu bernuansa gelap karena warna bangunan dan jalanan yang memang gelap, ditambah dengan ekspresi penduduk yang dipenuhi keputusasaan, menambah kegelapan desa.
"Aku pasti akan menolong mereka, tapi apa yang bisa kulakukan?" gumam Daru sembari memandang langit di atasnya.
Daru kemudian masuk kedalam pikirannya.
Mungkin aku akan meminta area melingkar sekitar 1 km dari tembok Bukit Sarren kepada Paman Vanir dan membuat tembok baru yang sama persis dengan tembok Bukit Sarren. Mungkin akan cukup luas untuk mereka tinggali, tidak akan ada yang tahu kalau di dalam tembok itu merupakan tempat tinggal non-manusia. Tapi, bagaimana cara mengeluarkan mereka dari tempat ini? Portal teleportasiku membutuhkan mana, alat teleportasi Sergio hanya bisa digunakan oleh manusia, dan mereka juga tidak bisa mendekati tembok.
Masalah tempat tinggal untuk ketiga ras itu adalah hal yang mudah bagi Daru yang dapat memanggil Zoref dari PT Jin Sejahtera. Namun, cara para non-manusia untuk sampai ke sana yang saat ini Daru pikirkan.
"Berpikir, Daru, selalu ada jalan keluar untuk orang yang berpikir," gumam Daru.
Penyebab semua ini adalah artefak yang ada ditanam Julius .... Ah, itu dia! Aku bisa bertanya langsung kepadanya! Walaupun dia menjadi hantu, tetapi dia masih memiliki memori dari saat dia masih hidup!
Daru pun mendapatkan pencerahan atas masalah yang dihadapinya sekarang.
Sekarang, masalah Frey. Ekspresi Daru memburuk, penuh kebingungan.
Aku tidak bisa membunuhnya, aku tidak ingin dia mati. Kontrak darah? Jika aku menggunakan kontrak darah pada Frey, memori tentangku yang merupakan makhluk dunia lain masih tetap ada di pikirannya. Organisasi Tangan Tuhan bisa menangkal bocornya informasi melalui Islagram, akan kuanggap mereka mengetahui atau bahkan bisa mengaksesnya. Frey adalah kelemahan terbesarku, sial!
Sebuah ide pun muncul di pikiran Daru, ide yang tidak ingin dia gunakan. Namun, tidak ada pilihan lain selain melakukannya.
Mungkin, hanya itu yang bisa dilakukan, pikir Daru dengan ekspresi rumitnya.
"Kenapa kakak ada di atap rumahku?" Tiba-tiba sebuah suara anak kecil menabuh gendang telinga Daru dari belakang.
__ADS_1
Daru pun menoleh dan melihat seorang anak kecil tengah memandanginya dengan penasaran. Anak kecil itu memiliki telinga rubah berwarna oranye dengan ekor yang cukup tebal. Pakaiannya sama seperti penduduk lainnya, kaos kotor yang penuh lubang.
Anak kecil itu terkejut bukan main setelah sadar bahwa yang ada di depannya adalah Daru, si tokoh yang akan menyelamatkan desa.
Anak itu secara reflek hendak bersujud dan mengucapkan maaf karena tidak mengetahui identitas Daru. Namun, sujudnya dihentikan oleh Daru yang melesat secepat kilat mendekati anak kecil itu dan menahan kedua pundaknya.
"Jangan bersujud," ucap Daru dengan senyum ramahnya.
"A-anu ...," Anak kecil itu hendak mengucapkan sesuatu, namun sebuah kata pun tidak bisa keluar dari mulutnya.
Daru kemudian melepaskan pundak anak kecil itu dan berkata, "Aku Daru, siapa namamu?"
"Roni. Beastman. Rubah. Laki. Laki. Sembilan. Tahun." Anak kecil itu terbata-bata ketika memperkenalkan dirinya.
"Duduklah di sampingku, temani aku berbicara." Daru merasa ada kesempatan untuk mengenal desa ini lebih jauh. Dia tidak bisa melakukannya kepada penduduk lain karena mereka selalu bersujud ketika berpapasan dengan Daru.
"I-iya," ucap Roni dengan gugup.
Roni pun dengan canggung duduk di samping Daru, sejauh 5 meter. Daru menatap Roni dengan wajah datarnya dan berkata, "Hoi, apakah menurutmu kau bisa mendengarku dengan jarak sejauh itu? Mendekatlah."
"Apakah ada yang salah denganku sehingga kau menjaga jarak sejauh itu?" tanya Daru dengan nada yang terdengar kesal.
"A-anu, Tu-Tuan, saya ti-tidak pantas be-berada di samping Tuan, tu-tubuh sa-ya kotor," jawab Roni sembari menundukkan kepalanya karena merasa takut Daru akan marah.
Dengan tatapan penuh rasa lelah, Daru bangkit dan mendekati Roni lalu duduk di sampingnya.
"Tu-tuan Daru!" teriak Roni sembari berusaha menjauh.
"Tetaplah di tempatmu," ucap Daru dengan nada serius.
Roni pun semakin takut dan memilih untuk diam sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Baru pertama kali aku berbicara dengan seorang anak kecil semenjak aku berada di dunia ini. Topik apa yang seharusnya kubicarakan? pikir Daru kebingungan.
Setelah diam cukup lama, Daru mendapat sebuah pencerahan.
"Dimana orangtuamu?" tanya Daru mengawali pembicaraan.
"Umm, mereka mencari jamur dan kayu bakar. Hari ini adalah jadwal orangtua saya mencari makanan," jawab Roni yang masih menundukkan kepala.
"Hoo, bukankah Sergio sudah menyiapkan makanan untuk kalian?" tanya Daru lagi.
"Ya, Tuan Sergio adalah orang yang sangat baik, kata Ayah, kami semua harus meringankan beban Beliau. Ditambah kondisi Beliau yang entah mengapa akan meninggalkan kami beberapa tahun lagi," jawab Roni dengan mata yang gelap.
Sergio benar-benar menjadi cahaya di mata mereka, pikir Daru.
"Apakah kau ingin keluar dari tempat ini, Roni?" tanya Daru lagi.
Roni mengangguk dengan segera, tepat setelah Daru menyelesaikan kata-katanya.
"Aku pasti akan mengeluarkanmu, orangtuamu, dan semua penduduk desa dari tempat ini. Tapi aku ingin kau membantuku," ucap Daru kepada Roni.
Roni tertegun dan berteriak, "Apapun itu, Tuan Daru!"
Daru tersenyum licik dan berkata, "Mulai sekarang, panggil aku 'Bos,' beritahukan itu pada semuanya, dan jangan berlutut ataupun bersujud lagi ke arahku."
"Bos?" Roni nampak kebingungan.
"Ya, mulai sekarang, kalian semua adalah karyawanku." Daru tersenyum semakin lebar.
"Kalau boleh tahu, Tuan Da- Bos, apa yang kami kerjakan?" tanya Roni yang masih kebingungan.
"Sesuatu yang sangat besar, sesuatu yang dapat mengguncang enam kerajaan di Benua Isla."
__ADS_1
Glek
Roni menelan ludahnya.