Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Daru dan Frey Melakukan Hal Panas


__ADS_3

Shera dan lainnya hanya memandang tiga orang yang semula berteriak kesakitan sekarang berekspresi cerah.


"Apakah itu serum penguatan, Daru?" tanya Frey penasaran.


"Kau benar, aku lega mereka tidak berakhir gila karena rasa sakitnya," jawab Daru enteng.


"Bagaimana tubuh kalian?" tanya Daru kepada Rei, Gordon, dan Rena.


"Kepala saya sedikit pusing, Tuan," jawab Gordon. Sedangkan Rei dan Rena hanya mengangguk sependapat dengan jawaban Gordon.


Daru membuka tiga paket yang berukuran besar dan menyerahkan isinya kepada mereka bertiga.


"Itu adalah satu set baju baja untuk kalian, pakailah!" ucap Daru memberi perintah.


Satu set baju baja terdiri dari helm, sarung tangan, baju baja, dan sepatu. Semua bagian itu berwarna gelap dengan beberapa garis berwarna merah yang menghubungkan plat baja satu dengan yang lain, memberikan kesan sangar kepada pemakainya.


Baju baja itu juga dapat melindungi pemakainya dari suhu yang panas maupun dingin. Sirkulasi udara di dalam baju baja juga dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi lancar. Dengan desain yang cukup ramping, membuat pemakainya bisa bergerak bebas.


Setelah ketiga orang itu memakainya, Daru berkata, "Bersiap!"


Ketiga orang itu kebingungan dengan apa yang harus disiapkan. Ketika Rei hendak bertanya tentang itu, Daru melesat ke arahnya dan memukul dadanya. Daru hanya menggunakan setengah kekuatannya tapi itu sudah cukup membuat Rei terlempar sekitar 10 meter ke belakang.


Semua orang terkejut tak terkecuali Rei. Dia tidak terkejut dengan pukulan tiba-tiba dari Daru, melainkan dia tidak merasakan sakit sama sekali. Rei kemudian bangkit dan berkata, "Tidak sakit .... Tuan Daru! Baju baja ini benar-benar hebat!"


Daru tersenyum setelah melihat bagian dari baju baja yang dia pukul tadi tidak meninggalkan bekas pukulan sama sekali, bahkan tidak ada goresan di sana.


"Aku akan memberitahukan tugas kalian semua. Rei dan Gordon berjaga di samping portal teleportasi, Rena akan berjaga di dalam toko, Shera, Sylph, dan Ged berada di belakang konter untuk melayani pelanggan, sedangkan Lydia dan Liz, akan bertanggung jawab untuk urusan memasak dan kebersihan toko dan asrama, paham?"


Rei, Gordon, dan empat lainnya kebingungan dengan apa maksud perkataan Daru.


"Hahh ..., kalian bekerja di bawahku mulai sekarang, jangan panggil aku Tuan, panggil aku Bos. Makanan, tempat tinggal, dan keperluan lain aku yang tanggung, kalian juga akan mendapatkan gaji sebulan sekali. Oh, dan juga wanita di sampingku ini, Frey, adalah bos kalian juga, mengerti?"


Mereka berenam menangis terharu dan bersujud, lalu berteriak, "Terima kasih, Bos!"


Daru mendekatkan wajah nya ke arah Frey dan berbisik, "Jika aku menendang pantat mereka saat mereka bersujud, apakah itu kasar?"


"Tendang mereka dan aku akan menendang mu dari ranjang malam ini," balas Frey tersenyum.


Daru memandang Frey dengan wajah datar lalu mengalihkan pandangannya ke arah enam orang yang bersujud di depannya.


"Jangan bersujud ke arahku! Aku menganggap kalian sebagai karyawanku, bukan budak," ucap Daru.


"Baik Bos, terima kasih banyak," ucap Rena setelah berdiri diikuti oleh ucapan terima kasih dari yang lain.


"Kalian akan tidur di bangunan asrama sebelah utara Toko. Tanya kepada Shera, Sylph, atau Frey mengenai detail pekerjaan di dalam toko, dan untuk pekerjaan Penjaga, aku akan memberitahukan apa-apa saja peraturan di Bukit Sarren nanti. Masing-masing penjaga ambil pedang yang ada di dalam bungkusan itu. Jangan lupa makan malam sebelum tidur. Sekarang, bubar."


Semua orang pun pergi meninggalkan Daru, kecuali Shera, dia masih menundukkan kepalanya.


"Tu-an Daru," ucap Shera dengan suara yang pelan.


Daru melihat Shera yang masih dalam kesedihan karena kesalahan dalam menjalankan perintah Daru. Daru pun menghela nafas dan menepuk kepala Shera. "Aku sudah bilang, panggil aku Bos."


"Maaf, Bos, aku mengecewakanmu." Air mata Shera kembali keluar.


"Hahh ..., sudahlah Shera, jangan kau ulangi lagi di masa depan. Dan jangan terlalu larut dalam kesedihan, atau tidak akan ada pelanggan yang berbaris di depan konter mu besok, haha," canda Daru mencoba mencairkan hati Shera.


"Kau memang orang baik Bos, terima kasih." Shera tersenyum sembari menatap Daru dan memiringkan kepalanya.


"Itu lebih baik dari wajahmu sebelumnya. Bantu Sylph dan Frey menjelaskan pekerjaan kepada karyawan baru dan beritahu yang bertugas sebagai penjaga untuk menunggu di lantai dua," ucap Daru memberi perintah.


"Baik bos!" teriak Shera sebelum berjalan masuk kedalam toko.


Pembangunan restoran dan bar, menulis resep buat restoran, terus besok pagi harus menemui lima keluarga bangsawan. Ah, terlalu sibuk, ucap Daru dalam hati.


Dia bergegas menutup portal teleportasi lalu mengeluarkan smartphone-nya dan memanggil Zoref. Hanya dalam berapa detik setelah Daru mengirim pesan, Zoref pun datang.


"Kontruksi slur!" ucap Zoref.


"Ikutan Mas Veux?" tanya Daru dengan wajah datar.


"Ngetrend Mas di dunia Jin, hahaha. Kali ini Mas Daru mau bangun apa?"


"Restoran sama bar Mas. Copy-paste bangunan bisa?" tanya Daru


"Bisa saja, Mas mau meniru bangunan mana?"


"Restoran Bintang Biru sama Bar Bull's Horn di kota Moon City, arah barat dari sini."


"Sebentar, aku perintahkan bawahan untuk kesana dan melihat bangunannya."


"Sukamto!" teriak Zoref memanggil bawahannya.


Veux, Zoref, lha ini kok jadi Sukamto? pikir Daru.

__ADS_1


Seorang jin muda pun datang menghampiri Zoref.


"Sukamto di sini! Ada apa, Bos Zor?" tanya Sukamto.


"Pergi ke Moon City di barat. Copy desain bangunan Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn, jangan lupa bawa Drone dan pakai sihir peniru."


"Siap Bos Zor." Wajah Sukamto tiba-tiba berubah menjadi seperti manusia biasa. Dia mengambil beberapa barang dan menghilang begitu saja.


"Bisa berubah jadi manusia?" tanya Daru keheranan.


"Bisa lah, tapi perubahan bentuk tubuh hanya bisa bertahan sampai jam 12 malam. Jadi saat tepat pukul 12 malam, sihirnya luntur," jawab Zoref.


"Aku kok nggak asing sama itu ya, Mas? Hmmm ..., eh ..., Cinderella?" Daru terkejut.


"Wah ..., kok bisa tahu itu juga Mas? Itu Ibu Peri yang nyihir Cinderella adalah istrinya adikku, Veux," jawab Zoref.


"Bentar ... bentar ..., jin sudah melakukan apa saja sih di bumi?" tanya Daru penasaran.


"Banyak sih mas, udah lupa apa saja ...," jawab Zoref.


"Kalo Piramida Mesir? Mas Zoref yang buat?" tanya Daru lagi.


"Bukan, beda Perusahaan itu Mas. Dulu pernah ditawari buat ikut itu, tapi disana panas, nggak ada yang jualan es," jawab Zoref.


"Kan malamnya Mas ...."


"Kontraknya nyuruh ngerjain siang mas, jadi aku tolak, kasihan pekerjanya Mas."


"Katanya yang buat itu alien, Mas?"


"Lah bohong itu! Alien mah cuman ngaku-ngaku waktu udah jadi. Dari dulu alien emang gitu mas, mendapat apresiasi dari pekerjaan orang lain, cih."


Daru menggelengkan kepalanya seolah tak percaya.


"Oh, aku sudah ada materialnya Mas, ada di sekitar kontruksi. Terus, kalau tanpa listrik, berapa harganya?" tanya Daru.


"Dibuat sama persis nih?" Zoref balik bertanya.


"Dekorasinya dibedain dikit Mas, gimana?"


"Aku belum lihat bangunannya, Mas Daru, belum bisa sebutin harga," jawab Veux.


"Kalau begitu, buat seharga 1,5 miliar, bisa?" tanya Daru.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Daru berjalan masuk ke toko sembari mentransfer uangnya ke Zoref.


Daru langsung menuju ke lantai dua atas dimana para penjaga menunggu.


"Bos!" ucap mereka bertiga serentak setelah melihat Daru membuka pintu.


"Yo! Duduklah," balas Daru.


Setelah semuanya duduk, Daru menjelaskan detail dari peraturan-peraturan bukit Sarren.


Peraturan itu meliputi :


Pelanggan tidak boleh membawa senjata masuk kedalam toko. Senjata bisa dititipkan di samping portal teleportasi. Jika ketahuan menyembunyikan senjata di dalam cincin dimensi, maka akan di-blacklist selamanya,


Tidak boleh ada militer yang memakai baju baja dengan lambang sebuah Kerajaan menginjakkan kaki di Bukit Sarren. Dua kali peringatan dan akan langsung dibunuh ditempat,


Jaga ketertiban, yang membuat onar akan di masukkan kedalam Blacklist selama tiga hari,


Jika tidak ada keperluan penting, harap keluar dari Bukit Sarren sebelum jarum di bawah ini ada di angka "20".


Daru menulis itu di sebuah kertas. Berencana untuk memberikannya kepada Zoref untuk dibuatkan papan besar dengan tulisan itu di samping portal teleportasi.


"Oh iya, jangan tarik pedang dari sarungnya jika tidak dalam kondisi terpaksa. Tersenyumlah ketika ada pelanggan yang membawa anak kecil, jangan buat takut mereka," ucap Daru mengakhiri penjelasannya.


Gordon, Rei, dan Rena mengangguk paham.


"Kalau begitu, istirahatlah, besok adalah hari pertama kalian berkerja, jaga kondisi tubuh kalian," ucap Daru.


Ketiga orang itu memberi ucapan selamat malam kepada Daru dan pergi meninggalkannya.


"Bangun papan peraturan, gudang buat penitipan senjata, dan tempat berteduh untuk penjaga di samping portal," gumam Daru.


Tok tok.


"Daru, ayo makan malam," ucap Frey dari balik pintu.


"Ya, aku akan segera turun," balas Daru.


Perasaanku saja atau memang author tidak pernah menceritakan waktu kami makan bersama? Ah, bodo amat, pikir Daru.

__ADS_1


Daru pun pergi menuju dapur untuk menyantap makan malamnya. Hanya dalam waktu beberapa menit, makanan di piringnya habis tak tersisa.


Daru pun pergi keluar toko untuk menemui Zoref yang tengah memimpin pekerjanya.


"Mas Zoref, tambah pesanan boleh?" tanya Daru.


"Ya ..., kalau nggak terlalu ribet bisa saja," jawab Zoref.


Daru lalu menyerahkan kertas berisi peraturan yang ia tulis tadi.


"Tolong buatkan papan besar mirip baliho dengan tulisan ini mas, bawahnya kasih jam yang lengannya cuma satu untuk menunjukkan jam tanpa menit, terus buat gudang penitipan senjata di depan portal, dan kasih tempat duduk teduh di samping portal," ucap Daru.


"Bisa, tambah 200 juta udah jadi bagus," tanggap Zoref.


"Baik, aku kirim sekarang." Daru pun mengeluarkan smartphone-nya dan mentransfer 200 juta tambahan kepada Zoref.


Setelah itu, Daru mengamati pembangunan dengan seksama. Ada sekitar 150 orang pekerja yang tengah giat membangun. Semua pekerja melakukan pekerjaannya secara efektif, tak heran jika bisa selesai hanya dalam satu malam. Daru pun penasaran dengan bentuk rancangannya.


"Mas Zoref, bisa lihat rancangan bangunannya?" tanya Daru.


"Yoi." Zoref menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan cetak biru bangunan Bar Bull's Horn.


Daru mengamati dengan seksama dan menemukan sesuatu yang menarik.


"Apakah benar ruang bawah tanah Bull's Horn sebesar ini?" tanya Daru.


"Itu yang kami dapat dari citra drone. Ada masalah?" tanya Zoref.


"Bukan itu, aku hanya sedikit takjub," ucap Daru.


Daru pun melihat rancangan bangunan lain dan menemukan rancangan bangunan Restoran Bintang Biru. Ternyata, di bawah Restoran juga ada ruang bawah tanah yang tidak kalah besar dengan ruang bawah tanah milik Bull's Horn.


Kalau itu dibuat sebagai tempat penyimpanan, maka itu terlalu besar. Itu pasti ruangan untuk mata-mata Third eye. Aku yakin ruang bawah tanah Bull's Horn juga demikian, pikir Daru.


"Mas Zoref, hubungkan saja dua lantai bawah itu, kasih pintu di tengah-tengah dengan kunci dari dua arah, jadi satu pihak tidak akan bisa membuka pintu jika pihak lain menguncinya," pinta Daru kepada Zoref.


"Baik, pas sekali ruang bawah tanah masih dalam tahap penggalian, ada lagi?" tanya Zoref.


"Perabotan, dan dekorasi di lantai bawah bisa dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Entah mengapa sebuah ide bagus muncul di kepalaku," jawab Daru dengan senyum liciknya.


"Woke, itu saja?" tanya Zoref sekali lagi.


"Yap, itu saja. Aku mau tidur dulu, nanti kalau ada apa-apa, Mas Zoref bisa memanggilku di lantai dua bawah, selamat malam," ucap Daru.


"Siap ..., selamat malam, Mas Daru," balas Zoref.


Daru sekali lagi pergi masuk ke dalam toko dan bergegas menuju lantai dua bawah untuk tidur.


"Frey, kau belum tidur?" tanya Daru setelah masuk ke dalam kamarnya dan melihat Frey yang masih terjaga.


"Aku tidak bisa, aku merasa malam ini cukup dingin," jawab Frey.


"Setelah kau menyebutnya, entah mengapa aku juga merasa malam ini lebih dingin dari kemarin-kemarin," ucap Daru.


"Mmm ..., a-a-apakah ka-kau ma-mau me-lakukan se-suatu yang pa-panas?" ucap Frey dengan wajah yang memerah.


"Hoooo ..., Kau mau melakukan hal yang panas?" tanya Daru sembari menggerakkan kedua alisnya naik-turun.


Frey mengangguk.


"Mau mengajak Shera dan Sylph? Aku yakin mereka akan bersedia bergabung," tambah Daru.


"Ya, lagipula mereka berdua cukup dekat dengan kita," ucap Frey.


"Kalau begitu, ayo kita lakukan." Daru tersenyum sebelum melakukannya.


....


"Ah, nikmat sekali ...!" teriak Frey.


"Bos Daru, melakukannya di malam hari benar-benar menakjubkan," sahut Syph.


"Terlalu nikmat ...!" teriak Shera.


"Kalian benar, akan lebih nikmat jika kita menaruh telur di atasnya," sahut Daru.


"Apakah mie instan lebih nikmat jika ditambah telur, Bos?" tanya Shera.


"Tentu saja, aku akan membeli banyak telur besok," jawab Daru.


"Ini cukup panas, aku yakin bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Frey.


"Hal panas memang cocok saat cuaca mulai dingin," balas Daru.

__ADS_1


(Note: Untuk pembaca yang berpikiran kotor, kalian salah.)


__ADS_2