
Setelah keberangkatan Frey, Daru mulai menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk pertemuannya dengan perusahaan dagang. Dia turun ke lantai dua bawah untuk mengambil semua botol shampo dan parfum. Dia yakin kedua Perusahaan Dagang tidak akan menolak setelah mengetahui minat pasar atas dua barang tersebut. Dia juga memesan dua buah meja konter dari web Belanja Online Universal untuk diletakkan di lantai satu atas.
"Apa lagi?" gumam Daru bingung.
"Karena aku tidak memiliki hal lain yang harus dilakukan, aku akan mengunjungi Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn." Dia pun pergi menuju tempat pembangunan Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn berada.
Saat Daru melewati konter, dia mengeluarkan dua meja konter dari cincin dimensinya dan meletakkannya di samping meja konter yang sudah ada. Para pelanggan bertanya-tanya tentang alasan mengapa Daru meletakkan dua meja tambahan.
"Tuan Daru, apakah kau akan menambah barisan antrian di tokomu?" tanya salah satu pelanggan.
"Ya, mulai besok akan ada tiga baris antrian, jadi antrian yang panjang lebih cepat berkurang. Aku merasa kasihan pada pelanggan tersayangku yang menunggu terlalu lama untuk membeli barang di tokoku. Haha." jawab Daru dengan bercanda.
Raut wajah pelanggan toko yang ada di sana menjadi penuh kegembiraan.
"Hidup Tuan Daru!" Pelanggan yang tadi bertanya kepada Daru mulai berteriak dan pelanggan lain pun ikut berteriak.
"Sudah-sudah, walaupun kau memujiku, aku tidak akan memberi diskon," ucap Daru sembari tertawa pelan.
Wajah para pelanggan berubah merah karena prasangka Daru.
"Tuan Daru! Buat saja dua antrian untuk hari ini!" teriak pelanggan lain.
"Ya ya, hari ini saja!" Pelanggan lain tak mau kalah dan ikut berteriak.
Daru menghela nafas sebelum berjalan ke belakang konter.
"Bagi dua sekarang, jangan berebut," ucap Daru.
Para pelanggan menjadi lebih bersemangat dan segera memisahkan diri menjadi dua antrian.
Sylph hanya tertawa pelan melihat Daru yang kalah dari pelanggannya.
Mereka berdua mulai mengurangi antrian sedikit demi sedikit. Hanya dalam waktu satu jam, antrian panjang itu akhirnya habis.
"Sudah tidak ada lagi pelanggan, sebentar lagi matahari juga akan terbenam," gumam Daru.
"Bos, besok Bos Daru atau Bos Frey yang ada di konter ketiga?" tanya Sylph.
"Mungkin Frey. Aku akan menjaga ketersediaan barang. Jika besok situasi di luar kendali, karyawan baru yang akan mengisi konter ketiga. Sedangkan aku dan Frey yang akan menyuplai barang," jawab Daru.
"Ada apa besok? Dan karyawan baru?" tanya Sylph keheranan.
"Oh, besok aku yakin akan ada banyak pelanggan. Siapkan dirimu, dan tanyakan kepada Shera mengenai detail untuk besok. Dan untuk karyawan baru, aku menyuruh Shera untuk membeli budak dari Ronald," jawab Daru.
"Baik Bos! Ngomong-ngomong, alat itu berbunyi setiap saat, untuk apa itu, Bos?" tanya Shera sembari menunjuk alat pendeteksi suhu yang ada di atas pintu.
"Itu alat pendeteksi keberadaan makhluk hidup di dalam toko. Jika ada bunyi dan kau tidak melihat ada orang yang melewati pintu, waspadalah, itu mungkin penyusup yang memakai sihir siluman. Beritahukan mengenai alat itu kepada yang lainnya, aku lupa memberitahu mereka," jawab Daru sembari memandangi alat pendeteksi suhu itu.
Alat yang berguna, pikir Daru.
"Siap, Bos!" Sylph mengangguk pelan.
"Aku akan pergi ke lokasi pembangunan Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn. Panggil aku jika ada tamu yang datang," ucap Daru sembari berjalan meninggalkan Sylph.
Sylph hanya mengangguk dan mulai merapikan konter.
Daru berjalan santai menuju lokasi kedua bangunan itu. Restoran Bintang Biru berada di sebelah timur tak jauh dari toko Daru. Sedangkan Bar Bull's Horn ada di depan Restoran. Saat ini masih banyak pekerja yang bekerja dengan giat walau matahari hampir terbenam. Daru melihat ada dua orang yang dia kenali sedang berdiri sambil mengobrol. Kedua orang itu adalah Klein dan Lyd.
"Yo!" sapa Daru sembari mengangkat tangan kanannya.
"Tuan Daru, anda dari mana saja?" tanya Klein yang pertama melihat sosok Daru.
Lyd hanya menoleh dan tersenyum kepada Daru.
"Hanya sedikit urusan. Maaf untuk yang kemarin, situasi di sini sedikit sulit jadi terpaksa membuat kalian berdua kembali ke Moon City."
"Haha, tidak apa Tuan Daru. Saya bisa memahami ada hal-hal yang memang di luar kendali. Lalu, dimana Tuan Xavier?" ucap Lyd sembari menunjukkan kekuatan intelejennya.
"Restoran anda benar-benar hebat Nona Lyd. Apakah merah gelap?" ucap Daru merujuk pada pakaian yang digunakan mata-mata dari Restoran Bintang Biru saat menyamar menjadi pelanggan di toko Daru kemarin.
"Anda terlalu menyanjung saya, tuan Daru. Tuan Daru lebih hebat," ucap Lyd setelah menghela nafas panjang karena kekuatan intelejen Daru.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, apa yang kalian berdua bicarakan, Tuan Daru, Nona Lyd?" tanya Klein.
"Bukan apa-apa Tuan Klein. Ngomong-ngomong berapa lama kira-kira bangunan kalian berdua selesai?" tanya Daru.
"Bar Bull's Horn milik saya akan selesai sekitar satu minggu. Bangunan yang saya buat tidak terlalu rumit," jawab Klein.
"Lumayan cepat. Kalau anda, Nona Lyd?" Daru mengalihkan pandangan ke Lyd.
"Sekitar tiga minggu. Saya berencana hanya membuat bangunan satu lantai, dan terdiri dari beberapa ruangan," jawab Lyd.
"Saya bisa membuat bangunan anda selesai hanya dalam waktu satu malam, tertarik?" tanya Daru.
"Ya saya tahu, karena ketika kami berdua tiba disini, ada bangunan baru yang cukup besar di Utara toko anda. Saya tidak tahu bahwa Tuan Daru bersedia untuk membantu kami," ucap Klein.
"Kembalikan uang saya, Tuan Klein, dan saya pastikan Bar anda selesai besok."
"Saya akan kembalikan uang Tuan Daru besok. Saya tidak membawa uang saat ini. Hehe," ucap Klein sembari tertawa pelan.
"Tidak apa-apa, Tuan Klein," ucap Daru sebelum mengalihkan pandangannya kepada Lyd.
"Saya beri sepuluh ribu koin emas. Saya harap Tuan Daru juga dapat membantu pembangunan Restoran saya," pinta Lyd.
"Tentu saja Nona Lyd. Kalau begitu, tolong tarik mundur pekerja kalian berdua dan biarkan material-material bangunan tetap ada disini."
Klein dan Lyd mulai memerintah pekerjanya untuk menghentikan pekerjaan dan kembali ke Moon City. Setelah berpamitan dengan Daru, mereka berdua juga pergi meninggalkan Bukit Sarren.
"Hari ini penghasilan toko lebih dari dua miliar, total uang sekitar tiga miliar. Terus nanti ada 3,6 miliar dari perusahaan dagang. Yah, cukup banyak," gumam Daru sebelum pergi menuju toko nya.
Di tengah perjalanan, Daru melihat seorang wanita yang berlari kearahnya. Ketika wanita itu semakin dekat, Daru mulai mengenali wanita itu.
"Ada apa Sylph? perusahaan dagang telah tiba?" tanya Daru.
"Bukan, Bos. Bos Frey telah kembali dan Raja Vanir serta Putri Rennesia bersamanya. Ada juga beberapa pengawal Kerajaan yang datang. Saat ini, mereka bertiga ada di lantai dua atas. Sedangkan pengawal Kerajaan ada di lantai satu," ucap Sylph terengah-engah.
Daru mengerutkan keningnya penasaran dengan alasan Raja Vanir datang.
"Aku akan menemuinya," ucap Daru.
Daru berlari menuju tokonya dan naik ke lantai dua.
"Tolong jangan panggil aku seperti itu. Kau adalah teman dekat Keluarga Kerajaan," balas Raja Vanir.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Paman Vanir, tolong panggil aku dengan namaku." pinta Daru.
"Haha, Paman juga bagus, asalkan kau tidak memanggilku Kakek," ucap Raja Vanir terbahak-bahak.
"Hahaha, kalau begitu aku juga akan memanggil Nona Rennesia dengan namanya. Apakah baik-baik saja?" tanya Daru kepada Putri Rennesia.
"Tentu saja itu tidak apa-apa, Daru," jawab Putri Rennesia.
Daru pun duduk di samping Frey yang memegang kepalanya karena benar-benar pusing dengan sikap Daru dihadapan seorang Raja dan Putrinya.
"Aku yakin paman Vanir tidak datang hanya untuk berkunjung kan? Terlalu aneh jika berkunjung saat hari mulai gelap. Ada apa, Paman?" tanya Daru.
Ekspresi Raja Vanir dan Putri Rennesia menjadi serius.
"Aku minta tolong padamu untuk menggunakan sumber informasimu. Aku ingin bukti kuat percobaan kudeta adikku, Verza Lionness, dan aku juga ingin bukti keterlibatan lima Keluarga Inti Bangsawan," ucap Raja Vanir memberitahukan permintaannya.
Daru berpikir sejenak lalu berkata, "Aku memiliki syarat."
"Apa itu?" tanya Vanir.
"Sebelum itu, aku meminta Rennesia untuk meninggalkan ruangan ini sebentar, aku ingin berbicara empat mata dengan paman Vanir," jawab Daru.
Raja Vanir memandang Putri Rennesia dan menganggukkan kepalanya. Membari tanda pada Putri Rennesia untuk mengikuti kata-kata Daru. Frey juga keluar karena Daru berkata, "Empat mata."
"Kalau begitu kita mulai," ucap Daru setelah melihat Frey dan Rennesia keluar ruangan.
"Syarat pertama, aku ingin Paman Vanir tidak menyentuh lima Keluarga Bangsawan apapun yang terjadi. Walaupun mereka memiliki keterkaitan dengan rencana Kudeta adikmu, lepaskan mereka. Aku menjamin mereka akan menuruti perkataanmu, bahkan aku juga bisa menjamin mereka akan meninggalkan kegiatan ilegal mereka," ucap Daru.
"Kenapa kau melindungi mereka? Bukankah mereka memusuhimu?" tanya Raja Vanir.
__ADS_1
"Ya, mereka tadinya memusuhiku, tetapi sekarang, petinggi dari masing-masing keluarga adalah budakku," ucap Daru sembari mengeluarkan setumpuk surat kontrak darah.
Mata Raja Vanir membelalak karena kaget. "Bagaimana bisa mereka jadi budakmu?" tanya Raja Vanir sembari memeriksa keaslian Kontrak Darah.
"Kemarin mereka mengirim Xavier, murid Julius untuk membunuhku. Tapi itu berakhir dengan Frey dan aku dalam kondisi sekarat. Lalu pagi hari tadi, mereka menculik Frey. Aku marah, dan aku mendatangi mereka. Untuk bagaimana caranya aku membuat mereka menanda tangai itu, itu adalah rahasia. Aku hanya memberikan kehidupan yang baru untuk mereka, Paman," jawab Daru sembari tersenyum lebar.
"Apa yang kau rencanakan dengan ini semua?" tanya Raja Vanir curiga.
"Tenanglah Paman, aku tidak akan membahayakan Pemerintahanmu. Bukankah itu sebuah keuntungan untukmu juga jika kau bisa mengontrol lima Keluarga Bangsawan melaluiku?"
"Baiklah, aku setuju syarat pertamamu. Aku tidak akan menyentuh ataupun memberi hukuman kepada lima Keluarga Bangsawan," jcap Raja Vanir setuju.
"Syarat kedua, aku ingin Paman Vanir merahasiakan semua yang Paman Vanir tahu tentangku. Semuanya, termasuk fakta bahwa aku adalah tuan dari Petinggi Lima Keluarga Bangsawan."
"Bisa."
"Syarat ketiga, Paman Vanir tentu mengingat tentang permintaan ketiga yang belum aku buat setelah menyelamatkan Rennesia. Aku ingin menambah satu permintaan. Jadi, Paman Vanir berhutang padaku dua hal," ucap Daru sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
"Hahh, apakah hobimu itu membuat seorang Raja berhutang padamu? Baiklah. Aku menyetujuinya," ucap Raja Vanir sembari menghela nafas.
Daru tertawa pelan dan beranjak dari tempat duduknya. Dia kemudian membuka pintu dan berkata, "Rennesia, kau dan Frey bisa masuk sekarang."
Putri Rennesia dan Frey kembali memasuki ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing.
"Bagaimana, Daru?" tanya Putri Rennesia.
"Paman Vanir telah setuju dengan syaratku," jawab Daru.
"Dan apa syaratmu?" tanya Putri Rennesia semakin penasaran.
"Itu hanya syarat yang sepele. Aku ingin kau menikah denganku, dan paman Vanir menyetujuinya!" ucap Daru penuh kebohongan sembari tertawa.
Frey langsung menatap Daru yang ada di sampingnya dan mencubit perutnya. Putri Rennesia juga bereaksi demikian dan mencubit perut Raja Vanir.
"Sakit! Ayolah!! Aku hanya bercanda!" teriak Daru kepada Frey.
Frey dan Putri Rennesia menarik tangan mereka sedangkan Raja Vanir dan Daru mulai menggosok bagian yang tercubit.
"Cubitan seorang wanita lebih menyakitkan dari pukulan seorang pendekar," ucap Vanir.
"Paman Vanir, wanita di sampingku juga bisa disebut pendekar. Kau bisa membayangkan rasa sakit di perutku," sahut Daru.
Mereka berempat tertawa bersama, suasana serius pun menghilang.
"Serius Daru, apa syaratmu?" tanya Putri Rennesia sekali lagi.
"Kau bisa bertanya pada Paman Vanir. Dan Paman Vanir, tolong beritahu hal-hal dasarnya saja." Daru menatap Raja Vanir seakan mengisyaratkan sesuatu.
Raja Vanir tahu maksud kata-kata "hal-hal dasar." Dia pun mengangguk.
"Besok datanglah kemari, Paman Vanir. Aku akan mendatangkan petinggi dari lima Keluarga Bangsawan," ucap Daru.
Putri Rennesia kebingungan dengan situasinya dan memilih untuk diam.
Daru teringat sesuatu dan memandang Raja Vanir dengan dingin. Dia juga memasang ekspresi menakutkan yang membuat Raja Vanir dan Putri Rennesia menelan ludahnya. Bahkan Frey yang mengenal baik Daru pun juga menggigil ketakutan.
"Oh, pastikan jika kalian berdua atau Keluarga Kerajaan lain datang kemari, jangan membawa orang-orang yang memakai perlengkapan perang dengan lambang Kerajaan. Aku benci militer, jika suatu hari ada orang yang menginjakkan kakinya di Bukit Sarren dengan perlengkapan perang dan lambang Kerajaan, aku akan langsung membunuhnya di tempat," ucap Daru sembari mempertahankan ekspresinya.
Putri Rennesia semakin ketakutan karena teringat pemandangan mayat-mayat yang ada di depan Daru saat menyelamatkannya dulu.
Daru tersenyum melepaskan ekspresi mengerikannya dan berkata, "Jika kalian butuh pengawal, pastikan pengawal kalian tidak memakai lambang Kerajaan. Dan aku pasti akan selalu menyambut kalian dengan senang hati. Tolong beritahu pengawal yang menjaga portal di Moon City agar melarang militer dengan lambang Kerajaan masuk."
"Baiklah, maafkan aku, tapi kenapa kau melarangnya?" tanya Raja Vanir
"Sejujurnya Paman Vanir, aku ingin menanam portal teleportasi di tujuh Kerajaan di Benua Isla. Aku ingin menjadikan Bukit Sarren sebagai tempat perdagangan internasional, dan jika ada militer dari Kerajaanmu muncul di sini, orang-orang dari Kerajaan Vradarian akan ketakutan dan memilih untuk tidak kembali, mengingat kau baru saja berperang dengan Kerajaan Vradarian," jawab Daru.
"Bagaimana jika ada penyusup yang menyamar masuk ke Ibukota Moon City? Itu terlalu berbahaya," ucap Raja Vanir.
"Aku bisa mengatur apapun yang dapat dilakukan portal teleportasi. Aku akan membuat semua portal teleportasi yang aku tanam hanya dapat digunakan untuk perjalanan ke Bukit Sarren. Aku telah menanam portal teleportasi di lima kota besar milik keluarga Bangsawan. Dan aku pastikan semua orang yang datang dari portal teleportasi di suatu kota tidak akan bisa berteleportasi ke kota lain melalui Bukit Sarren. Kau bisa mencobanya, Paman," ucap Daru dengan percaya diri.
"Baiklah, setelah semua yang kau lakukan pada keluargaku, aku tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayaimu. Tapi pastikan hal itu tidak terjadi." Raja Vanir pun menyetujui rencana Daru.
__ADS_1
"Tentu saja, aku selalu memegang kata-kataku. Lalu Rennesia, kapan kita menikah?" ucap Daru mencoba mencairkan suasana.
Mereka berempat pun kembali tertawa setelah suasana tegang mulai mencair.