
"Ngomong-ngomong, aku akan pergi dari Bukit Sarren selama beberapa bulan. Aku ingin menanam portal teleportasi di seluruh kerajaan di Benua Isla. Aku akan pulang sebulan sekali untuk mengisi ulang persediaan toko," ucap Daru kepada seluruh karyawannya di lantai satu atas.
"Aku akan memulai perjalananku besok," tambahnya.
"Eh!? Kenapa mendadak sekali, Bos!?" teriak Sylph dari belakang konter.
"Aku sudah merencanakan ini sejak awal, aku menunggu Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn benar-benar berdiri kokoh di Bukit Sarren," jawab Daru.
"La-lalu siapa yang akan memimpin kami, Bos?" tanya Ged yang berada di samping Sylph.
"Jika Frey kembali, biar dia yang memimpin, jika Frey memutuskan untuk berhenti, maka Shera dan Sylph yang melakukannya."
Daru mengeluarkan satu kantong kulit berisi lima ribu koin emas, lalu berkata, "Uang ini untuk berjaga-jaga jika ada hal mendesak di toko. Siapa yang memimpin, maka dialah yang akan memegang uang ini, mengerti?"
"Mengerti!" teriak semua karyawan Daru.
"Aku akan turun ke lantai dua bawah untuk mengisi persediaan. Buka lagi tokonya," perintah Daru.
Karyawan Daru pun kembali melakukan tugasnya walaupun dengan ekspresi yang masih buruk karena Bosnya sedang bersedih. Mereka tidak seperti budak pada umumnya yang selalu berharap ajal datang menjemput tuannya, mereka benar-benar bersyukur mempunyai Daru sebagai tuan mereka.
Daru pun tiba di lantai dua bawah dan segera melakukan pembelian dalam jumlah raksasa. Bukan hanya persediaan toko, dia juga membeli anggur untuk bar, bahan makanan yang awet untuk restoran, shampo dan parfum untuk perusahaan dagang, dan beberapa kebutuhan sehari-hari untuk karyawannya. Dia juga menempelkan label-label yang menyatakan harga dari barang-barang yang akan dijual.
Dalam beberapa saat, lantai dua bawah dipenuhi oleh barang-barang yang baru saja dia beli.
"Mungkin ini cukup untuk satu bulan," gumamnya.
Walaupun Daru bisa saja kembali ke Bukit Sarren setiap hari menggunakan portal teleportasi, tetapi hatinya belum merasa siap untuk bertemu Frey, bahkan hari ini pun Daru tidak berharap untuk bertemu dengannya. Daru yakin jika dia bertemu dengan Frey, Frey akan memberitahu Daru tentang pertunangannya dengan Chris.
Itu pasti lebih menyakitkan daripada yang kurasakan sekarang. Jika malam ini dia kembali, apa yang harus kulakukan? pikir Daru.
Daru pun naik ke lantai satu atas dan masuk ke dalam kamar untuk menenangkan pikirannya yang masih terngiang-ngiang dengan adegan ketika Frey menggandeng tangan seorang pria yang Daru yakini sebagai Chris.
....
Malam pun tiba, tetapi di rumah Frey yang berada di Moon City masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Saat ini ada tiga orang di sana, orang-orang itu adalah Frey dan kedua temannya, Elise dan Rize. Kedua orang itu datang ke rumah Frey setelah diberitahu mengenai kabar kedua orangtua Frey oleh Ron. Mereka berkumpul di sana untuk merayakan bebasnya kedua orangtua Frey, walaupun mereka telat enam bulan untuk melakukan itu.
"Lalu, di mana kekasihmu itu?" tanya Elise, Istri Ron sekaligus sahabat Frey.
Frey terkejut karena baru ingat tentang tujuannya pergi ke Moon City.
"Oh sial! Ini sudah malam!" teriak Frey.
"Aku harus kembali ke Bukit Sarren dan menemui Daru," tambahnya sebelum bangkit dari duduknya.
"Frey, jarang-jarang kita berkumpul seperti ini semenjak kau bekerja di Bukit Sarren, jangan terburu-buru," balas Elise.
"Elise benar, kau bisa menemui Bosmu besok pagi," ucap Rize, teman Frey.
"Tapi, aku harus mengatakan hal yang penting kepadanya," ujar Frey dengan ekspresi kebingungan.
"Tenanglah, ini sudah malam, Bosmu pasti juga sudah terlelap. Kau bisa menemuinya besok," ucap Elise sembari menarik tangan Frey.
"Ta-tapi ...."
"Tetaplah di sini dan ceritakan kepada kami tentang pria yang berhasil menarik hatimu," sahut Rize.
"Hahh, baiklah." Frey akhirnya menyerah.
"Lalu, siapa kekasihmu itu?" tanya Rize penasaran setelah Frey kembali duduk.
"Dia adalah Bosku sekaligus pemilik Bukit Sarren, Daru," jawab Frey dengan bangga.
"Eh!? Tuan Daru!?" teriak Rize dan Elise bersamaan. Mereka berdua belum tahu mengenai sosok yang ada di balik alasan Frey menolak Chris.
"Benar, kami berdua sudah menjalin hubungan sejak enam bulan yang lalu," ucap Frey.
"Pantas saja dia bisa menarik hatimu, orang itu benar-benar orang yang hebat," sahut Rize.
"Aku setuju denganmu, Rize. Jika itu adalah pria biasa, tidak mungkin bagi Ratu Es untuk jatuh hati," ucap Elise dengan nada mengejek.
"Hahaha, kenapa selalu Ratu Es yang disebut-sebut." Frey tertawa menanggapi ucapan kedua temannya.
__ADS_1
Mereka bertiga pun mengobrol sampai tertidur. Dengan begitu, harapan Daru yang tidak ingin bertemu Frey malam ini pun terkabul.
Sementara itu di kamar Daru.
"Dia tidak kembali ke Bukit Sarren? Hahh, aku bodoh. Kenapa aku menunggu seorang wanita yang telah memiliki calon suami datang ke ranjangku? Aku bukanlah seorang fucekboy," gumam Daru meratapi kebodohannya.
Walaupun Daru berharap untuk tidak bertemu Frey, namun dia juga berharap agar Frey datang dan barkata bahwa semuanya tidaklah seperti yang Daru pikirkan. Tetapi, sekarang sudah larut malam dan Frey tidak kunjung datang. Daru senang karena harapannya terkabul. Namun di bagian terkecil di hatinya, dia merasakan kekecewaan yang luar biasa.
"Hahh, lebih baik aku tidur. Semoga saja besok author tidak sekejam hari ini." Daru pun menutup matanya dan tertidur.
....
Keesokan paginya.
"Frey, bangunlah. Matahari sudah terbit, aku akan menciummu jika kau tidak segera bangun," ucap Daru sembari mengumpulkan kesadarannya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Daru dan Frey untuk membangunkan satu sama lain ketika bangun tidur. Namun, itu semua benar-benar berbeda pagi ini.
Daru membuka matanya dan tidak menemukan sosok indah Frey di sampingnya.
"Sial!" ucap Daru sembari menggertakkan giginya dan menutupi kedua mata dengan tangan kiriny untuk menahan air mata.
"Sial! Sial! Sial! Sial!"
Daru bangkit dan meraih kaki meja kecil yang ada di samping ranjangnya lalu melemparkannya ke dinding.
Brak
Meja itu hancur berkeping-keping berkat kekuatan penuh Daru yang digunakannya untuk melempar, dia benar-benar sedih. Bagaimana dia tidak sedih jika dia bangun tidur dan mendapati mimpi buruknya masih berlanjut?
"Frey!" teriak Daru.
Teriakan Daru cukup keras sehingga dapat didengar oleh Shera dan Sylph yang berada di dalam kamar di samping kamar Daru. Mereka berdua meneteskan air mata karena mengetahui kondisi hati Bos mereka yang benar-benar hancur.
"Apakah kita harus menemui Bos?" tanya Shera sembari mengusap air matanya.
"Jangan, lebih baik membiarkan Bos menenangkan diri dulu. Aku takut dia akan merasa dikasihani jika kita berdua menemuinya sekarang," jawab Sylph dengan ekspresi sedih.
Kembali ke kamar Daru.
Setelah menenangkan diri, Daru keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Shera dan Sylph.
Tok tok tok
Hanya dalam beberapa detik, pintu itu terbuka dari dalam.
"B-bos, selamat pagi," ucap Shera setelah membuka pintu.
"Selamat pagi," balas Daru. Daru menyadari bahwa Shera baru saja menangis setelah melihat kedua mata Shera berwarna merah.
"Tolong kumpulkan semuanya, aku akan segera berangkat setelah mandi," ucap Daru tanpa menyinggung soal mata Shera.
"Ba-baik, Bos." Shera segera bergegas melaksanakan perintah Daru.
Ketika Shera pergi meninggalkan kamar dengan pintu terbuka, Daru melihat Sylph yang tengah mengusap mata dengan tangannya.
Mereka berdua menangis karena apa yang terjadi padaku? pikir Daru.
Daru tidak mengacuhkan Sylph dan segera menuju lantai satu atas untuk mandi.
Setelah beberapa saat, semua karyawan Daru berkumpul di lantai satu atas dengan wajah yang buruk.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Daru dengan senyum terpaksa setelah keluar dari kamar mandi.
"Selamat pagi, Bos!" Mengetahui bahwa Bosnya sedang mencoba tersenyum, semua karyawannya berteriak sekencang-kencangnya walaupun mereka dalam kesedihan.
"Terima kasih atas semangatnya, aku akan berangkat sekarang. Urusan di Bukit Sarren aku serahkan pada kalian semua. Walaupun aku pergi, patuhi peraturannya, jangan terlalu banyak mengonsumsi barang yang dijual. Khususnya kau, Ged, aku tahu kau memakan es krim dalam jumlah yang tidak sedikit," canda Daru mencoba mencairkan suasana.
Ged tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berkata, "Hehe, itu enak, Bos."
"Pfft, dia ketahuan," sahut Rena.
Semua orang pun tertawa karena reaksi Ged.
__ADS_1
Namun ...,
"Hahaha, Ged, Bos Frey juga mengetahui itu, kau tahu?" ucap Liz.
Ucapan Liz langsung membuat suasana yang semula mencair penuh tawa menjadi hening penuh kesedihan.
Plok plok
Daru bertepuk tangan untuk menyadarkan karyawan-karyawannya.
"Aku berangkat, jaga kesehatan kalian." Daru berpamitan dengan wajah yang dihiasi senyuman.
"B-bos, tunggu ..., kenapa kau tidak bisa pulang setiap malam menggunakan portal teleportasi saja? Kenapa harus sebulan sekali?" tanya Sylph penasaran.
"Aku memang bisa menggunakan portal teleportasi dimanapun aku berada. Tetapi, hatiku belum siap untuk menambah rasa sakit. Aku yakin Frey akan datang lagi, entah itu berpamitan ataupun kembali bekerja di sini. Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Jadi, biarkan aku menunda rasa sakitnya sebulan lagi," jawab Daru sebelum mulai berjalan menuju pintu toko.
"...." Sylph terdiam karena jawaban Daru.
Lalu,
"Berjanjilah untuk pulang sebulan lagi, Bos!" teriak Sylph.
Karyawan lain pun ikut berteriak kepada Daru.
"Jaga kesehatanmu, Bos!"
"Kami akan menunggumu pulang!"
Daru pun meninggalkan tokonya diiringi oleh teriakan karyawan-karyawannya.
Daru kemudian membuka portal teleportasi lalu pergi ke Frizz Town.
....
Matahari mulai naik, sinarnya membawa kehangatan di seluruh Benua Isla.
Rumah Frey, Moon City.
"Daru, aku akan menciummu jika kau tidak bangun," gumam Frey dengan mata yang setengah terbuka.
Setelah Frey berhasil membuka matanya lebar-lebar, dia mengerutkan alis karena visinya menangkap ruangan yang berbeda dari ruangan yang biasanya dia gunakan untuk tidur.
Frey menyapu pandangan ke seluruh arah dan tidak melihat satu pun makhluk hidup selain dirinya. Setelah mengumpulkan kesadaran, Frey terkejut karena menyadari hari sudah hampir siang. Dia pun bergegas menuju portal teleportasi untuk pergi ke Bukit Sarren.
Ketika dia sampai di Bukit Sarren, dia melihat kedua penjaga portal teleportasi, Rei dan Gordon, berekspresi buruk. Frey tidak memperdulikannya karena fokusnya saat ini adalah Daru. Dia pun berlari menuju toko.
"Dimana Daru?" tanya Frey tepat setelah memasuki toko.
Karyawan-karyawan Daru berekspresi buruk seperti Gordon dan Rei setelah melihat Frey memasuki tokk
Wanita inilah yang menyebabkan Bos Daru sakit hati, pikir mereka.
Frey penasaran setelah melihat ekspresi mereka, tetapi dia tidak begitu menggubrisnya dan segera menuju lantai dua atas setelah tidak menemukan wajah Daru di sana.
Frey langsung membuka pintu ruangan di lantai dua atas dan mendapati Daru juga tidak ada di sana. Frey pun bergegas turun ke lantai satu bawah menuju kamar Daru. Ketika dia membuka pintu kamar, dia terkejut karena melihat meja kecil yang seharusnya berada di samping ranjang, kini menjadi potongan-potongan kecil di bawah dinding.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Frey.
"Hati Bos Daru benar-benar hancur." Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah pintu. Frey memandang ke sumber suara dan melihat Shera sedang berdiri di sana dengan tatapan penuh amarah.
"Apa yang terjadi?" tanya Frey dengan tatapan tajam.
"Bos Daru tahu tentangmu yang menerima lamaran Chris. Kau tahu, Bos Frey, Bos Daru benar-benar tersiksa karenamu." Kini raut wajah Shera benar-benar buruk, benar-benar menandakan kesedihan yang luar biasa.
Aku menerima lamaran Chris!? Bagaimana dia bisa menyimpulkan seperti itu? pikir Frey.
"Ceritakan semua yang terjadi!" bentak Frey kepada Shera.
Shera pun menceritakan semuanya kepada Frey, tentang Daru yang melihat Frey menggandeng "Chris" masuk kedalam rumahnya, Daru yang pergi dari Bukit Sarren dan berencana akan pulang sebulan sekali, dan kejadian tadi pagi saat Daru membanting meja sebelum meneriakkan nama Frey.
"Aku tidak tahu sebaik apa pria bernama Chris di matamu, tetapi aku yakin, Bos Daru beratus-ratus ..., tidak, beribu-ribu kali lipat lebih baik dari Chris! Maafkan aku jika aku bicara kasar, tapi ..., Bos Frey ..., kau bodoh." Shera mengakhiri penjelasannya.
Frey termenung setelah mendengar penjelasan Shera. Dia benar-benar bingung karena semuanya berjalan berantakan.
__ADS_1
"Ke-ke-kenapa bisa ja-jadi seperti i-ini?" ucap Frey sembari meneteskan air mata.
"Shera, kau tahu? Aku tidak pernah menerima lamaran Chris. Ini semua salahku. Kau benar, aku memang bodoh," tambah Frey sebelum duduk di ranjang dan menangis sekencang-kencangnya.