Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Kebenaran


__ADS_3

"Bos Frey, ap-apakah benar ka-kau tidak menerima lamaran Chris?" tanya Shera yang mulai melepas ekspresi menyeramkannya.


"Hiks, benar," jawab Frey yang terus menangis.


"La-lalu kenapa kau dan Chris pergi ke bar kemarin? Kenapa kau tidak langsung menolaknya di toko?"


"Terakhir kali ada pria yang menggodaku, Daru memotong kedua tangan pria tersebut, hiks. Aku ta-takut Daru salah paham dan malah melakukan hal yang sama ke-kepada Chris, hiks. Tetapi, a-apa yang kuperbuat malah menjadi lebih dari kesalahpahaman, aku bodoh!" Frey menangis lebih kencang dari sebelumnya.


"La-lalu, kenapa kau menarik tangan Chris masuk ke dalam rumahmu?"


"Itu bukan Chris, itu adalah suami dari sahabatku, hiks .... Dia baru mendengar kabar tentang orangtuaku yang telah bebas dan dia ingin bertemu kedua orangtuaku. Daru belum pernah melihat Chris, jadi wajar baginya untuk beranggapan, hiks, seperti itu."


Shera kemudian mendekati Frey dan duduk di sampingnya, sembari menepuk pundak Frey, dia berkata, "B-Bos, maafkan kami yang berburuk sangka padamu."


"Ti-tidak, aku memang pantas disangka seperti itu, hiks," balas Frey.


"Andai saja aku kembali ke Bukit Sarren semalam, maka semua tidak akan seperti ini, hiks. Aku bodoh! Bodoh!" teriak Frey menyalahkan dirinya.


"B-bos ...." Shera bingung harus melakukan apa, hati kedua Bosnya benar-benar telah hancur.


"Shera, ke-kenapa, hiks, Daru tidak berencana untuk pulang setiap hari?"


"Bos Daru yakin ji-jika dia bertemu denganmu, kau akan memberitahunya tentang pernikahanmu de-dengan Chris. Dia berkata, 'Biarkan aku menunda rasa sakitnya selama satu bulan,' sebelum pergi."


Maafkan aku Daru, maafkan aku, ucap Frey dalam hati


"Kembalilah bekerja, a-aku ingin sendirian." Frey kemudian berbaring di ranjang untuk menenangkan diri.


Shera mengangguk dan pergi ke lantai satu atas, dia juga berkeinginan untuk menceritakan apa yang dikatakan Frey agar karyawan-karyawan lain tidak lagi menyalahkan Frey.


Aku benar-benar bodoh, biarlah rindu yang akan menyiksaku selama satu bulan sebagai bentuk hukuman untukku. Aku akan menunggumu pulang, kekasihku.


....


Sementara itu, Daru saat ini tengah berjalan santai menyusuri Deuz River ke arah timur setelah keluar dari Frizz Town. Dia berusaha menikmati perjalanan guna melupakan sakit hatinya.


Daru berencana untuk menuju Kerajaan Saria dengan melewati Hutan Arc. Dia bisa saja menempuh jalur yang melewati Kerajaan Vradarian, namun dia ingin memeriksa Loner Cave, tempat yang Xavier tuju beberapa bulan lalu di Hutan Arc.


"Ah, sudah lama aku tidak menggunakan busur untuk memanah sesuatu ...," gumam Daru sebelum mengeluarkan sebuah busur dan beberapa anak panah dari cincin dimensinya.


Daru berhenti berjalan dan menarik busurnya ke arah sebuah pohon yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Suut tap.


Anak panah yang dilepaskan Daru dari busurnya menancap cukup dalam di batang pohon itu.


"Haha, walaupun sudah lama tidak memanah, tetapi bakatku masih sama seperti sebelumnya. Aku ingat ketika memanah tepat ke kepala tiga orang sekaligus saat menyelamatkan ... Frey."


Klak


Daru langsung mematahkan busur itu menjadi dua dengan bantuan lututnya setelah teringat Frey.


"Ahaha, aku kehilangan bakat memanahku, ahaha." Daru tertawa sendirian.


Daru kembali melanjutkan perjalanannya setelah membuang busur sekaligus anak panahnya ke Deuz River.


Saat berjalan dengan santainya, tiba-tiba alam bawah sadar Daru memerintahkan Daru untuk bernyanyi.


"Benci benci benci, tapi rindu juaaa. Memandang wajah dan senyummu say-" Daru kembali berhenti berjalan setelah sadar apa yang dinyanyikannya benar-benar menyindir dirinya sendiri.


"Hei, hati kecil, separah itukah keadaanmu?" gumam Daru dengan ekspresi sedih.


"Apakah aku benar-benar harus menanggung rasa sakit yang lebih parah dari saat ini ketika aku bertemu Frey sebulan lagi?" tambahnya.


Daru pun duduk dan menunduk penuh kesedihan, dia bergumam, "Aku mohon, jangan, Frey."


....


Seminggu sudah berlalu semenjak Daru meninggalkan Bukit Sarren. Suasana di Bukit Sarren masih ramai seperti hari-hari biasa, orang-orang datang dan pergi setiap waktu.

__ADS_1


Saat ini, Frey tengah berada di lantai dua atas bersama Ronald dan Zed.


"Ini semua adalah stok yang ada di toko kami, Tuan Ronald, Tuan Zed. Datanglah sekitar 3 minggu dari sekarang jika memerlukan stok lagi," ucap Frey sembari meletakkan sebuah cincin dimensi berisi beberapa ribu botol shampo dan parfum di meja.


Zed mengambil cincin itu dan memakainya untuk memeriksa jumlahnya.


"Ngomong-ngomong, dimana Tuan Daru?" tanya Ronald.


"Dia sedang berpergian untuk melakukan sesuatu yang penting," jawab Frey tanpa berekspresi.


"Ah, begitu rupanya. Zed, berapa?" Ronald mengalihkan pandangannya ke arah Zed.


Setelah Zed menghitung keseluruhannya, dia memberitahukannya kepada Ronald dan mereka berdua menyerahkan uang dengan jumlah yang sesuai kepada Frey.


"Kami berdua pamit undur diri, Nona Frey," ucap Ronald setelah selesai bertransaksi.


"Ya, terima kasih, Tuan Ronald, Tuan Zed." Frey membungkuk sedikit sebagai tanda penghormatan.


Ronald dan Zed pun pergi meninggalkan Frey yang masih tanpa ekspresi di sana.


Frey kemudian membuka kantong yang berisi uang dan mendapati uang di dalam kantong menghilang. Frey pun meneteskan air matanya karena teringat Daru.


"Jika saja aku bisa melacak kemana uang-uang ini pergi, aku pasti akan menyusulmu, Daru." Frey menundukkan kepalanya dalam kesedihan.


Semenjak Frey memutuskan untuk menerima kerinduannya kepada Daru sebagai hukuman untuknya, dia selalu memasang ekspresi datar setiap berinteraksi dengan orang lain. Dia memasang ekspresi yang selaras dengan hatinya hanya ketika dia hendak tidur di malam hari.


Kerinduannya kepada Daru semakin menjadi-jadi seiring berjalannya waktu, bahkan setiap dia hendak tidur, dia selalu berbicara seolah-olah Daru berada di sampingnya untuk meringankan beban rindu yang semakin membuatnya pilu.


"Cepatlah pulang, Daru," gumam Frey sebelum memasang wajah datarnya kembali.


....


Sementara itu, Daru telah tiba di dekat Loner Cave yang ada di dalam kawasan Hutan Arc setelah seminggu berlari.


"Sudah lama aku tidak kemari, kalau tidak salah, sekitar 33 bab," gumam Daru sebelum memasuki gua dengan membawa senternya.


Daru membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di ruangan yang dulu pernah ia masuki. Daru menyorotkan senternya ke segala arah dan terkejut ketika visinya menangkap sesosok tengkorak yang tergeletak dengan dibalut pakaian yang sama seperti yang Xavier gunakan saat terakhir kali bertemu Daru.


Tik


Tiba-tiba suara jentikan jari terdengar, dan saat itu juga, visi Daru menjadi lebih terang.


Daru pun bisa melihat semua yang ada di ruangan itu dengan jelas. Di samping tengkorak itu, terdapat sebuah plat emas dan abu yang terlihat seperti kertas yang habis terbakar.


"Dia sama sepertiku." Suara yang tidak terlalu asing terdengar oleh Daru.


Daru menoleh dan mendapati sosok yang cukup familiar berdiri di belakangnya.


"Julius," ucap Daru sedikit mengangguk. Sosok itu adalah hantu Julius yang pernah ditemui Daru di masa lalu.


"Aku belum tahu namamu," balas Julius.


"Maafkan aku karena tidak sopan, namaku Daru."


"Nama yang cukup asing," ucap Julius.


Daru pun baru sadar bahwa namanya memang tidak seperti nama-nama yang biasa dimiliki orang-orang di Benua Isla.


"Bisakah kau memberitahuku apa maksud perkataan pertamamu tadi?" tanya Daru mencoba mengalihkan topik tentang namanya.


"Dia sama sepertiku, bunuh diri ketika mengetahui kebenaran," jawab Julius sembari memandang tengkorak Xavier.


Daru keheranan dengan "kebenaran" yang dikatakan Julius.


"Kebenaran macam apa yang membuat seseorang bunuh diri?" tanya Daru lagi.


"Kebenaran yang membawa penyesalan. Kau tidak perlu tahu masalah itu, wahai makhluk dunia lain."


Daru terkejut karena identitasnya telah diketahui Julius hanya dalam dua kali pertemuan.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Daru.


"Dulu saat kau pertama kali masuk ke gua ini, aku merasakan aura makhluk hidup tanpa mana. Aku kira kau adalah dia, jadi aku menampakkan diriku padamu. Lalu aku menyadari kau bukanlah dia, kau hanya sama seperti dia."


"Tanpa mana? Sama seperti dia? Biar kutebak, 'dia' yang kau maksud adalah Raja Iblis?" tanya Daru memastikan.


"Raja Iblis? Daru, ras iblis telah punah beratus-ratus juta tahun yang lalu, iblis sudah tidak ada di dunia ini, bagaimana bisa ada rajanya?" ujar Julius.


Daru mengerutkan alisnya. Dia mencoba mencerna apa yang dikatakan Julius. Jika ras Iblis benar-benar tidak ada, maka ucapan Julius masuk akal.


"Apakah dia adalah orang dari dunia lain sepertiku?" tanya Daru.


"Aku tidak berhak menjawab pertanyaan itu, tetapi seharusnya kau sudah bisa menebaknya," jawab Julius.


"Lalu, katakan padaku sedikit saja mengenai kebenaran yang membuatmu dan Xavier memilih untuk bunuh diri."


"Kebenaran mengenai insiden Dark Plain sekitar seratus tahun yang lalu. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu."


Daru kembali mengerutkan alisnya mencoba berpikir tentang apa yang mungkin terjadi seratus tahun yang lalu. Namun, pikirannya benar-benar tidak bisa menggapai satu pun kemungkinan.


"Bisakah aku meminta bantuan padamu, Daru?" tanya Julius.


"Apa yang bisa kulakukan?"


"Kubur mayat Xavier di gua ini dan tolong bunuh Griffon milik Xavier, aku yakin dia sedang tersiksa," pinta Julius.


"Griffon milik Xavier tersiksa? Mengapa?" tanya Daru kebingungan.


"Griffon itu berikatan jiwa dengan Xavier, temukan Griffon itu dan kau pasti tahu apa yang terjadi."


"Baiklah, aku akan melakukannya," ucap Daru sebelum menghampiri mayat Xavier.


"Kau bisa menyimpan harta Xavier bersamamu. Ambilah plat emas milikku, jika kau terjebak dalam kebenaran yang sama, plat itu akan berguna," ucap Julius sebelum menghilang dan mengembalikan visi Daru menjadi gelap.


Setidaknya biarkan sihirmu aktif agar lebih mudah bagiku untuk mengubur Xavier! umpat Daru dalam hati.


Daru pun mengubur Xavier di dalam lubang yang ia buat menggunakan sihir tanah yang baru saja dia ciptakan. Tak lupa, dia mengambil cincin dimensi milik Xavier dan plat emas julius. Dia juga memasukkan abu kertas yang semula ada di dekat mayat Xavier ke dalam cincin dimensinya sendiri. Daru yakin abu itu berasal dari buku yang dia berikan kepada Xavier dulu sebelum berpisah. Dia juga yakin kebenaran yang membuat Xavier bunuh diri ada di buku itu.


Jika aku bisa mendapatkan alat yang dapat memulihkan suatu benda yang rusak, maka aku pasti akan mengetahui apa yang terjadi seratus tahun yang lalu, pikirnya.


Daru kemudian pergi dari gua itu lalu mencari keberadaan Griffon Xavier.


Setelah berjalan ke arah utara tak jauh dari gua, Daru menemukan Griffon Xavier dalam kondisi yang cukup menyedihkan. Griffon itu sudah tidak memiliki aura keganasannya lagi, tubuhnya kurus hingga menonjolkan tulang-tulangnya dari bawah kulit, matanya sayu, dan sayapnya pun hampir tidak memiliki bulu.


Daru mendekati Griffon itu dengan perlahan. Ketika Daru sudah cukup dekat, Griffon itu menoleh ke arah Daru dan meneteskan air matanya.


Apakah dia menunggu Xavier selama enam bulan tanpa makan? pikir Daru setelah benar-benar mengetahui kondisi Griffon yang ada di depannya.


"Kau pasti merasa sedih setelah ditinggalkan oleh orang yang penting di hatimu. Aku tahu rasa sakit itu," ucap Daru sembari mengelus kepala Griffon yang terus meneteskan air mata.


"Temanmu Xavier sudah mati, apakah kau memperbolehkanku untuk mengakhiri hidupmu?" tanya Daru sembari terus mengelus kepala Griffon.


Griffon itu kemudian mencoba mengambil bulu yang tersisa di sayap kiri menggunakan paruhnya. Ketika dia berhasil mencabut satu bulunya, dia meletakkan bulu itu di depan Daru.


"Untukku? Terima kasih, akan ku simpan sebagai bentuk penghormatan untukmu," ucap Daru sembari mengambil sehelai bulu itu.


Griffon menutup matanya dan memiringkan kepalanya sebagai bentuk reaksi terhadap ucapan Daru. Daru tahu Griffon itu sedang tersenyum kepadanya.


"Sampaikan salamku kepada Xavier." Daru mengaktifkan sihir api keren bentuk ketiganya di tangan kanan.


Griffon itu mendongak ke atas agar Daru dapat dengan mudah menjangkau lehernya.


Lalu,


"Raikiri!" Daru berteriak dan menerjang leher Griffon menggunakan tangan kanannya yang sudah diselimuti api.


Tangan kanan Daru menembus leher Griffon dan meninggalkan lubang di sana. Griffon itu langsung tumbang begitu Daru menarik tangannya.


"Itu tadi tidak melanggar hak cipta, kan?" gumam Daru.

__ADS_1


Setelah itu, Daru mengkremasi mayat Griffon dengan sihir apinya sampai mayat itu berubah menjadi abu.


"Ditinggalkan orang yang penting, hahh," Daru menghela nafas sebelum melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2