
Ketika pintu terbuka, keduanya terkejut bukan main setelah melihat siapa yang ada di balik pintu. Mereka berdua berdiam diri dalam waktu yang lama.
Daru merasa senang karena bisa melepas kerinduan kepada Frey, tetapi dia juga merasakan sesak di dada karena tahu apa yang akan dikatakan oleh Frey.
Sementara itu Frey juga merasa senang seperti Daru. Dia senang karena pujaan hati yang telah pergi selama sebulan akhirnya kembali. Dia ingin segera bertukar peluk cium dengannya, tetapi dia ingin menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka berdua terlebih dahulu.
Aku tidak menerima lamaran Chris? Aku telah lama menunggumu? Aku rindu padamu? Salamat datang kembali? Apa yang harus kukatakan? ucap Frey dalam hati.
Mereka memandang satu sama lain dalam diam. Hanya ada satu hal di pikiran mereka, yaitu, "Aku benar-benar jatuh cinta."
"Da-" Frey hendak berbicara, namun Daru mengangkat tangan kanannya mencoba menghentikan Frey.
"Jangan ... katakan ... dulu ..., biarkan aku menyiapkan ... hatiku," ucap Daru sembari menahan gejolak rasa sakit di hatinya.
Daru memejamkan mata dan memulai simulasi sakit hati di pikirannya.
Aku harus siap, hanya itu yang dipikirkan Daru saat ini.
Dalam beberapa detik kemudian, Daru membuka matanya. Kini ekspresi menunjukkan kesedihan yang luar biasa.
"Aku tidak bisa," ucap Daru sebelum mendekati Frey dan memeluk tubuhnya erat-erat, seakan dia berkata, "Wanita ini adalah milikku."
"Maafkan aku, tolong ... ubah keputusanmu. Kau tahu? Aku merasa kesakitan ... selama sebulan hanya karena memikirkanmu yang akan ... menikah dengan Chris. Aku menahan rindu dan cemburu ... bersamaan selama sebulan. Frey, tolong pertimbangkan aku." Daru pun meneteskan air mata sembari terus memeluk Frey erat-erat.
Frey meneteskan air mata ketika dia menyadari bahwa pujaan hatinya menjadi seperti itu karena dirinya. Frey pun melingkarkan tangannya ke punggung Daru dan memebenamkan wajahnya ke dada Daru.
"Da-Daru ..., maafkan aku karena telah membuatmu merasakan sakit itu. A-ku juga merindukanmu, aku ingin memelukmu, aku ingin melihatmu masih berbaring di sampingku ketika aku bangun dari tidurku. Kau tahu? Aku tidak pernah menerima lamaran dari Chris, karena di hatiku hanya ada dirimu." Frey semakin dalam membenamkan wajahnya ke dada Daru. Dia seakan berkata, "Jangan pergi lagi dariku."
Daru terdiam beberapa saat untuk benar-benar memastikan dia tidak salah dengar.
"Ja-jadi ...." Daru mulai merasakan kehangatan yang mengalir di hatinya.
Frey menganggukkan kepalanya dan berkata, "Itu hanyalah kesalahpahaman, Daru. Jika suatu saat aku menerima lamaran pernikahan, itu pasti adalah lamaran darimu."
Deg
Suara satu detakan jantung terdengar cukup keras.
Akhirnya Daru terbangun dari mimpi buruk yang dia alami selama sebulan terakhir, dia benar-benar bahagia.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih," ucap Daru berulang-ulang.
"Bukankah kau seharusnya mengucapkan hal yang lain?" tanya Frey yang masih berada di pelukan Daru.
Daru pun melepaskan pelukannya, memandang wajah Frey, tersenyum dengan senyuman terbaiknya, dan berkata, "Aku pulang, Frey."
Frey memiringkan kepalanya, tersenyum manis, dan berkata, "Selamat datang, aku telah menunggumu."
Mereka berdua pun mulai bertukar peluk dan cium selama beberapa menit, mereka benar-benar larut dalam kebahagiaan. Siapa yang tidak bahagia ketika bertemu orang yang paling dicintainya setelah sebulan penuh tanpa sapa.
Frey melepaskan pelukannya dan menarik tangan Daru menuju ranjang. Dia mendorong tubuh Daru hingga jatuh ke ranjang, lalu dia berbaring di sampingnya dan kembali memeluknya.
"Ceritakan padaku tentang petualanganmu," ucap Frey.
Daru tersenyum dan mulai bercerita tentang perjalanannya.
Daru bercerita tentang keseluruhan perjalanannya kecuali tentang Xavier yang bunuh diri. Xavier adalah tokoh yang cukup berpengaruh, akan menyebabkan kehebohan jika banyak orang yang tahu tentang kematian Xavier.
"Oh, kau tahu? Aku pernah menghancurkan sebuah kamar penginapan yang aku sewa setelah terbangun dari mimpi buruk."
"Mimpi seburuk apa hingga kau melakukan itu?" tanya Frey penasaran.
"Aku bermimpi kau sedang bercumbu dengan Chris tepat di depanku yang terikat oleh rantai besi. Aku melampiaskan amarahku dengan menghancurkan kamar penginapan dan berakhir dengan aku mengganti rugi lebih dari seribu koin emas," ujar Daru dengan ekspresi datar setelah menyadari bahwa itu benar-benar hal bodoh.
"Pffft." Frey menahan tawa dan berkata, "Daru, hanya kau yang kuperbolehkan melakukan hal-hal yang seperti itu kepadaku, dan aku juga berharap hanya aku yang boleh melakukan itu padamu pula."
"Ya, hanya kau, Frey." Daru mengeluarkan senyum terbaiknya.
"Lalu, apalagi yang kau lakukan di Kerajaan Saria?" tanya Frey lagi.
"Mmm," Daru berpikir sejenak lalu melanjutkan, "Aku memasuki Rumah Surga."
__ADS_1
Ekspresi Frey pun memburuk, dia pun mulai menembakkan pertanyaan-pertanyaan kepada Daru. Frey benar-benar mengetahui tentang Rumah Surga, karena semenjak dia menjadi petualang dia telah berpergian ke beberapa tempat di Benua Isla, salah satunya adalah Waterfall City.
"Apa yang kau lakukan di sana? Berapa lama kau ada di sana? Berapa banyak wanita yang kau sewa? Apa yang kau lakukan dengan wanita-wanita itu? Bag-"
Daru menempelkan jari telunjuknya ke bibir Frey untuk menghentikannya berbicara.
"Aku tidak melakukan apa-apa di sana. Hanya ..., hmmm ..., survey lapangan?" ucap Daru.
"Aku tidak percaya ada pria yang masuk ke dalam rumah bordil tanpa melakukan apa-apa," ucap Frey curiga.
"Percayalah. Jika saat itu tidak ada sosokmu di pikiranku, aku mungkin sudah menghabiskan banyak uang di sana. Selama sebulan aku selalu memikirkanmu, kau tahu?"
"Ya ya, aku percaya. Namun jika aku mengetahui kalau kau melakukan hal itu dengan wanita lain," Frey mengacungkan jari telunjuk kiri dan menyentilnya dengan tangan kanan lalu melanjutkan, "Kau tahu kan?"
Glek
Daru menelan ludahnya, menutupi adik kecilnya dengan kedua tangan lalu mengangguk.
Dia kejam! Untung saja aku benar-benar tidak melakukan apa-apa di Rumah Surga, pikir Daru.
Tok tok
"Bos Frey, matahari sudah terbit. Waktunya membuka portal." Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.
Frey pun hendak berdiri dari ranjangnya, namun Daru dengan sigap menarik tangan Frey dan membuatnya kembali berbaring di ranjang.
"Selama sebulan aku merasa kehilangan dirimu, dan kau ingin pergi begitu saja?" bisik Daru sembari mendekatkan wajahnya ke arah Frey.
"Dadadada-Daru aku ha-harus membuka portal," balas Frey dengan wajah yang memerah.
"Aku sudah membuka portalnya," ucap Daru dengan cukup keras sehingga dapat didengar oleh wanita yang ada di balik pintu, Shera.
"Bos Daru! Kau telah pulang!" teriak Shera kegirangan.
"Ya ya, lakukan pekerjaanmu, aku ada sesuatu yang penting untuk dilakukan." Daru menatap Frey yang kini benar-benar berwajah merah.
"Ba-baik! Selamat menikmati!" teriak Shera sebelum berlari menjauh.
"Dengan ini kau tidak memiliki alasan lain untuk keluar dari kamar," ucap Daru.
"Kau bisa mandi setelah ini." Daru menindih tubuh Frey dan membuka pakaiannya.
Lalu,
Tok tok
"Bos, pelanggan berdatangan dalam jumlah yang sangat besar!" teriak Shera dari balik pintu.
Daru menepuk dahinya sebelum beranjak dari tubuh Frey.
"Itu pasti pelanggan dari Waterfall City. Kenapa selalu seperti ini?" gumam Daru dengan ekspresi tertekan.
Frey bangkit dari posisi berbaringnya dan mencium Daru selama beberapa saat sebelum berkata, "Nanti malam saja."
Daru pun mengangguk tak berdaya lalu mengenakan pakaiannya kembali.
Apakah menurut author angka 21 adalah angka yang tabu? pikir Daru.
Mereka berdua pun keluar dari kamarnya dan segera menuju lantai satu atas. Di sana, Daru melihat karyawan-karyawannya sedang melayani pelanggan sembari menyantap makan pagi mereka.
Ketika mereka melihat sosok Daru yang berjalan mendekati konter, mereka berteriak dengan penuh antusias.
"Bos! Kau kembali!"
"Kau terlihat sehat, Bos!"
"Apakah kau membawa oleh-oleh, Bos?"
Daru tersenyum menanggapi sambutan yang dia terima. Dia berkata, "Kunyah, kunyah, telan. Jangan berteriak ketika makan."
Para karyawan Daru menundukkan kepala karena malu.
__ADS_1
"Lanjutkan pekerjaan kalian. Shera, setelah pelanggan berkurang, siapkan laporan bulan ini," ucap Daru.
"Siap, Bos!"
Daru mengalihkan pandangannya ke arah Frey yang masih berwajah merah di sampingnya.
"Aku akan pergi ke Restoran Bintang Biru dan Bar Bull's Horn lalu ke kediaman Paman Vanir, mau ikut?" tanya Daru
Frey memandang ke arah belakang konter. Karena pelanggan yang datang benar-benar banyak, para karyawan Daru tampak kesusahan melayani pelanggan-pelanggan itu.
"Tidak, aku akan mandi dan membantu di belakang konter," jawab Frey.
"Baiklah, aku akan pergi." Daru mengecup pipi Frey dan pergi meninggalkannya.
Daru pun pergi ke arah Restoran Bintang Biru dan menemui salah satu karyawan Lyd. Dia meminta karyawan itu untuk memberi pesan kepada Lyd untuk menemuinya di bawah. Setelah itu, dia berjalan menuju Bar Bull's Horn dan langsung menuju ruang bawah tanah setelah memberitahu karyawan Klein untuk memanggil bos mereka.
Daru, Klein, dan Lyd pun duduk melingkari sebuah meja bundar kecil dan mulai berdiskusi setelah mengucapkan beberapa basa-basi.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi selama saya pergi?" tanya Daru.
Lyd dan Klein saling bertukar pandang dan Klein pun angkat bicara.
"Ada seseorang yang menghargai kepala Anda cukup tinggi di Black Minotaur," ucap Klein dengan nada yang serius.
Daru mengerutkan alisnya, dia yakin sudah tidak ada orang di Kerajaan Resia yang berani menyentuhnya karena hubungannya dengan lima Keluarga Bangsawan dan Keluarga Kerajaan. Dia kemudian bertanya, "Siapa?"
"Saya tidak tahu, orang yang memasang harga hanyalah orang biasa. Dia memberi 15.000 koin emas sebagai bayaran awal dan 20.000 koin emas setelah Anda dipastikan meninggal," jawab Klein.
"Orang biasa yang bisa mengeluarkan 35.000 koin emas? Pasti ada orang di belakangnya," gumam Daru.
"Nona Lyd." Daru mengalihkan pandangannya ke arah Lyd.
"Organisasi saya melacak orang itu dan benar-benar tidak menemukan siapa yang berada di baliknya," ucap Lyd.
"Bagaimana kondisi orang itu sekarang?" tanya Daru lagi.
"Kami belum menyentuh orang itu. Kami khawatir jika saja ada yang terjadi pada orang itu, maka orang di baliknya tidak akan pernah ditemukan," jawab Klein.
Islagram! pikir Daru.
"Siapa namanya?"
"Dante," jawab Lyd.
"Baiklah. Apakah ada hal lain?" tanya Daru lagi
"Tidak ada, Tuan Daru," jawab Klein.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri. Saya akan kembali kemari untuk membahas mengenai orang itu besok."
Daru pun meninggalkan Bar Bull's Horn dan menuju ke Moon City untuk menyampaikan undangan Raja Gustave kepada Raja Vanir.
Di perjalanan menuju istana, Daru memperhatikan lingkungan di Moon City secara seksama. Dia pun menyadari satu hal yang dapat dia manfaatkan.
"Di dunia ini, hiburan yang tersedia hanyalah rumah bordil. Jika aku menambahkan hiburan dari bumi, bukankah Bukit Sarren akan semakin ramai?" gumam Daru dengan tersenyum licik.
Daru pun mengurungkan niatnya untuk menemui Raja Vanir dan pergi menuju Restoran Bintang Biru cabang Moon City untuk memesan sebuah ruang makan pribadi. Karena identitas Daru, dia diperlakukan bak tamu terhormat ketika masuk ke restoran. Tidak susah baginya untuk mendapatkan sebuah ruang makan pribadi yang cukup mewah. Dia memesan makanan terbaik yang ada di restoran untuk makan pagi.
Daru pun tiba di ruang makan pribadinya dan duduk di kursi dekat jendela. Dia meminta selembar kertas dan pena kepada pelayan yang tadi mengantarnya.
Setelah beberapa saat, pelayan itu datang dengan membawa menu makanan yang Daru pesan dan selembar kertas beserta pena.
"Terima kasih, tolong tinggalkan aku sendiri," ucap Daru kepada pelayan itu sembari memberikan sekeping koin emas sebagai tip.
Pelayan itu kegirangan dan segera meninggalkan Daru.
Daru meraih kertas dan pena lalu mulai menulis.
"Billiard, bowling, tenis meja, kasino, dan lapangan bulu tangkis. Hahaha, ini pasti akan menyebabkan trend baru di Benua Isla." Daru tertawa terbahak-bahak sembari terus menulis.
...
__ADS_1
**Terima kasih saya ucapkan pada kalian yang sudah membaca dari chapter 1 sampai chapter ini. Terima kasih juga pada pembaca-pembaca budiman yang meninggalkan like, komen, dan rate bintang 5. Dan saya ucapkan terima kasih lebih dalam lagi pada pembaca-pembaca budiman level akut yang telah meninggalkan like, komen, rate, dan vote.
diosn**~