
Daru mengeluarkan smartphone-nya dan menghubungi Zoref untuk mengonfirmasi pembangunan yang sebelumnya tertunda. Daru juga meminta Zoref untuk membangun jalan-jalan berbatu yang menghubungkan tokonya dan tempat yang akan dijadikan kios-kios pedagang di masa depan.
"Cukup," gumam Daru setelah memutus panggilan dengan Zoref.
Daru kemudian mengaktifkan sihir silumannya karena merasakan kehadiran tiga orang yang mendekati ruangan lantai dua. Seperti prediksi Shera, dua orang itu adalah Ronald dan Zed, sedangkan yang satunya adalah Frey.
Prediksinya benar-benar ampuh, pikir Daru.
Mereka bertiga duduk di sofa, sedangkan Daru berdiri dan mengamati jalannya transaksi. Setelah mereka bertiga duduk, Ronald membuka mulutnya.
"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan Nona Frey, apakah Tuan Daru benar-benar ...." Ronald ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya setelah melihat ekspresi Frey yang berubah menjadi buruk.
"Ya, dia sudah tidak ada. Saya masih ingat ketika dia membicarakan ambisinya untuk membuat sebuah toko," sahut Frey dengan tatapan kosong.
"Maaf, kami berdua turut berduka cita atas apa yang terjadi. Kalau boleh tahu, bagaimana bisa pria hebat seperti Tuan Daru bisa ... mati?" tanya Ronald ragu-ragu.
"Pembunuh bayaran, dia menyusup ke toko dan memenggal kepala Daru. Saya hanya bisa memakamkan tubuh tanpa kepala, hiks." Air mata pun menetes dari kedua mata Frey.
Daru yang melihat akting luar biasa dari Frey pun terkejut, aktingnya benar-benar halus.
Aktingnya mungkin mengalahkan akting Maria Oziwi, pikir Daru terkagum-kagum.
"Maaf, Nona Frey. Bukan maksud saya mengingatkan Anda tentang kejadian pahit itu. Sekali lagi, maafkan saya," ucap Ronald sembari membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa, Tuan Ronald. Mari memulai bisnisnya, keinginan terakhir Daru adalah meneruskan bisnis Bukit Sarren apapun yang terjadi." Frey kemudian mengeluarkan semua botol shampo dan parfum dari cincin dimensinya sembari mengusap kedua matanya.
Dengan enggan, Ronald dan Zed memasukkan botol-botol itu ke dalam cincin dimensinya. Bagaimanapun, Daru adalah rekan bisnis terpenting bagi mereka. Berkat Daru pula, mereka dapat meninggalkan bisnis ilegal mereka.
"Yakinlah Nona Frey, kami berdua akan senantiasa membantu mewujudkan keinginan terakhir Tuan Daru. Jika Bukit Sarren memerlukan bantuan, kami berdua siap membantu, apapun itu," ucap Ronald sembari menyerahkan satu kantong koin emas dan perak.
"Terima kasih, Tuan Ronald, Tuan Zed. Saya yakin, Daru akan senang," ucap Frey.
Setelah menyelesaikan transaksi, Ronald dan Zed pun pergi meninggalkan ruangan lantai dua atas menuju portal teleportasi.
"Aktingmu bagus," ucap Daru sebelum melepas sihir silumannya.
__ADS_1
"Aku hampir tertawa karena aku tahu kau berdiri di sana," balas Frey dengan tersenyum manis.
Daru kemudian duduk di samping Frey dan menyandarkan badannya ke sandaran sofa.
"Kerja bagus. Seharusnya, tidak akan ada tamu lagi," ucap Daru.
Daru teringat dengan kata-kata yang berhasil dia pulihkan dari buku Julius, dia pun berkata, "Frey, jelaskan kepadaku mengenai kejadian 100 tahun yang lalu."
"Kejadian mengenai monster Dark Plain?" tanya Frey.
"Ya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku."
"Dulu, Raja Iblis ...." Frey menjelaskan apa yang dia tahu tentang kejadian 100 tahun yang lalu dari buku-buku sejarah dan dongeng-dongeng orang yang lebih tua.
Dahulu kala, Raja Iblis memimpin para monster untuk melakukan penyerangan di seluruh pemukiman manusia di Benua Isla. Karena kekacauan yang semakin mengerikan, keenam Raja dari enam kerajaan di Benua Isla memutuskan untuk mengirim salah satu penyihir terhebat, Julius, untuk menangani kekacauan di berbagai tempat. Kekacauan itu pun berakhir setelah Julius dan muridnya, Xavier, memukul mundur seluruh monster dan membangun tembok yang memisahkan monster-monster dengan manusia. Wilayah yang ada di dalam tembok disebut sebagai Dark Plain.
Setelah itu tanpa alasan yang jelas, Julius menghilang dari publik, memberikan tanda tanya besar kepada semua orang yang telah dia selamatkan. Sampai suatu ketika, enam kerajaan mengumumkan bahwa Julius sudah mati.
"Itulah yang aku tahu mengenai sejarah 100 tahun yang lalu dari cerita-cerita orang tua dan buku-buku sejarah." Frey mengakhiri penjelasannya.
Alis Daru mengerut ketika dia menyadari bahwa Frey sama sekali tidak menyebutkan tentang elf sekali pun.
"Ya, itu salah satu jenis monster. Berasal dari manusia yang terkontaminasi mana," jawab Frey.
Jadi, elf adalah monster .... Lalu, apa yang disesali Julius? pikir Daru sembari memejamkan kedua matanya.
"Hahh, aku tidak tahu lagi. Kembalilah ke lantai satu atas, aku akam tetap berada di sini," ucap Daru.
Frey mengangguk dan beranjak pergi menuju lantai satu bawah, meninggalkan Daru di sana sendirian.
Terjebak dalam kebenaran, kah? ucap Daru dalam hati.
Hari pun menjadi gelap, para pelanggan mulai meninggalkan Bukit Sarren karena batas waktu kunjungan hampir berakhir. Setelah tidak ada lagi pelanggan yang berkeliaran di Bukit Sarren, semua karyawan Daru berkumpul di lantai satu atas toko. Mereka semua tahu akan ada hal penting yang akan disampaikan oleh bos mereka setelah pertemuannya dengan raja dan ratu dari dua kerajaan.
Benar saja, Daru turun dari lantai dua atas dan mulai berbicara.
__ADS_1
"Selamat malam, kerja bagus untuk hari ini," ucap Daru memulai prmbicaraan.
"Selamat malam, Bos!" teriak semua karyawan secara serentak.
Daru tersenyum melihat semangat dari karyawan-karyawannya. Dia berkata, "Ada beberapa poin penting yang harus aku sampaikan kepada kalian semua."
Karyawan-karyawan Daru hanya diam untuk membiarkan Daru melanjutkan penjelasannya.
"Bukit Sarren akan menjadi tempat transaksi antara dua kerajaan, Kerajaan Saria dan Kerajaan Resia. Maka dari itu, aku akan membangun sebuah gudang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang dari kedua kerajaan. Aku ingin ada satu orang yang memastikan kedua kerajaan tidak saling mencurangi transaksi. Aku akan menunjuk Shera sebagai penanggung jawab atas transaksi tersebut," ujar Daru.
"Siap, Bos! Dengan itu, aku bisa mengamati ekonomi kedua Kerajaan sekaligus," ucap Shera menyanggupi perintah Daru.
Daru mengangguk dan melanjutkan.
"Mulai besok, jual semua barang dengan setengah harga. Aku juga akan mengadakan batas pembelian untuk masing-masing pelanggan. Menurutmu, Shera, berapa batas yang harus toko tetapkan?" ucap Daru sembari memandangi Shera.
"Seharga satu bungkus rokok, Bos," jawab Shera setelah diam sesaat.
"Baik, mulai besok, setiap pelanggan hanya bisa menghabiskan lima koin perak per hari di toko ini. Untuk kalian yang bertugas di dalam toko, aku harap kalian dapat mengingat pelanggan-pelanggan yang sudah menghabiskan jatah hariannya. Kau beri tanda atau apapun itu, terserah kalian," ujar Daru.
"Bos," ucap salah satu karyawan baru Daru yang dibawa Ged beberapa hari yang lalu, Diana.
"Ya?" balas Daru sembari memandangi wanita itu.
"Saya bisa menandai mana seseorang, Bos. Jika saya menandai orang-orang yang menghabiskan jatah harian mereka, apakah itu bisa?" tanya Diana.
"Ya, itu bisa. Berapa lingkaran mana-mu dan berapa banyak orang yang bisa kau tandai sampai mana-mu habis?"
"Lingkaran mana saya adalah 55, Bos. Saya bisa menandai sekitar 220 orang tanpa istirahat," jawab Diana.
"Untuk berjaga-jaga, minta lah beberapa botol ramuan mana kepada Nenek Neia setiap hari. Aku mengandalkanmu," ucap Daru.
"Siap, Bos!" teriak Diana penuh semangat.
"Tempelkan selembar kertas yang berisi ketentuan baru toko Bukit Sarren di pintu toko. Jika ada yang protes, itu menjadi tugasmu, Rena," ucap Daru sembari memandang Rena.
__ADS_1
"Siap!" teriak Rena sembari membungkuk.
"Itu saja, segeralah beristirahat. Jangan lupa menyantap makan malam sebelum tidur." Daru kemudian keluar dari toko untuk menunggu Zoref datang.