
Carin City terletak tak jauh dari Moon City. Sama seperti Moon City, Carin City juga berdekatan dengan Deuz River. Jarak tempuh normal dari Moon City ke Carin City adalah 4 hari perjalanan dengan berkuda.
Daru dan Xavier saat ini berada di Carin City setelah beberapa menit perjalanan dengan menunggangi Griffon. Daru sedikit mual setelah turun dari punggung Griffon Xavier. Bagaimana tidak? Hewan itu terlalu cepat!
"Kau tak apa?" tanya Xavier dengan nada mengejek.
"Jangan pedulikan aku," ucap Daru sembari menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Mari ke tempat sepi, aku akan menyembunyikanmu." Xavier dan Daru masuk ke sebuah gang kecil dan memulai rencana mereka.
"Sudah. Hanya aku yang bisa melihatmu. Orang lain bahkan tidak akan bisa melihat barang-barangmu," ucap Xavier setelah menyelesaikan mantra siluman untuk Daru.
Daru benar-benar takjub dengan sihir. Baru kali ini dia merasakan sebuah mantra sihir menyelimuti tubuhnya. Ketika Daru mencoba melihat tangannya, tangannya tembus pandang. Dia pun mencoba mengeluarkan sebuah korek plasma dari cincin dimensi dan korek itu juga tembus pandang.
Menakjubkan! pikir Daru.
"Apakah kau yakin tidak ada yang dapat menembus sihir silumanmu?" tanya Daru.
"Kau meragukan kemampuanku? Haha, itu bukanlah sihir siluman biasa. Aku dan Guruku telah menyempurnakannya. Selama kau tidak bersuara, tidak ada yang akan menyadari keberadaanmu," jawab Xavier sembari membusungkan dadanya.
"Kalau begitu, ayo pergi," ucap Daru sembari menyiapkan sembilan lembar kontrak darah, satu dupa, dan korek api elektrik.
Dia juga menelan satu butir pil penawar, membuat Xavier penasaran.
"Apa yang kau masukkan kedalam mulutmu?" tanya Xavier.
"Sebuah senjata rahasia. Ayo cepat," jawab Daru.
Xavier tidak lagi memperdulikan itu dan segera menuju kediaman keluarga Gloria.
Kediaman Keluarga inti Gloria tak jauh berbeda dengan kediaman Keluarga Kerajaan di Moon City. Itu tampak megah dan luas, jika hanya bisa digambarkan dengan satu kata, maka Daru akan berkata "menakjubkan". Ketika Xavier berjalan masuk ke dalam wilayah Kediaman Keluarga Gloria, tidak ada yang berani menghentikannya. Mereka semua tahu kekuatan Xavier sang murid dari Julius.
Daru berjalan dibelakang Xavier sembari mengatur nafas dan langkahnya agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang memiliki pendengaran tajam. Ketika hampir tiba di pintu utama, Xavier disambut oleh seorang pria yang tidak terlalu tua. Pria itu memakai pakaian mencolok berwarna perak.
"Salam tuan Xavier, kalau boleh tahu ada keperluan apa?" tanya Pria itu dengan sopan.
"Verness Gloria, panggil semua petinggi keluarga kalian, aku ingin meminta bantuan," jawab Xavier tanpa menunjukkan tanda-tanda kesopanan.
"Tentu tuan Xavier, kami pasti akan membantu. Silahkan masuk, saya akan memanggil seluruh petinggi keluarga Gloria," ucap Verness Gloria sembari menurunkan kepalanya lebih rendah dari sebelumnya.
Bantuan? Haha, dengan ini Xavier tua akan berhutang pada keluargaku, pikir Verness sembari tersenyum licik.
Verness segera berpamitan dan meminta salah satu pelayan untuk mengantar Xavier ke aula pertemuan.
Daru tetap berada di belakang Xavier mencoba sekeras mungkin untuk tidak bersuara. Mereka pun sampai di sebuah ruangan yang megah dengan kursi-kursi indah tertata rapi di dalamnya. Xavier duduk di salah satu kursi dan menyuruh pelayan yang mengantarnya untuk pergi.
"Aku ingin kau berbicara sekencang-kencangnya ketika aku menyentuhmu, kau bisa mengejekku di depan mereka, aku butuh pengalihan sebentar. Dan beri aku tanda jika semua petinggi telah hadir," bisik Daru setelah melihat pelayan yang mengantar mereka berdua keluar dari ruangan.
Xavier mengangguk paham dan kembali ke posisi tenangnya.
Tak lama kemudian, para Petinggi Keluarga Bangsawan Gloria memasuki ruangan satu persatu. Daru melihat ada sembilan orang berpakaian sama yang masuk kedalam ruangan.
Xavier mengangguk sekali lagi memberi tanda bahwa semua Petinggi Keluarga Gloria telah hadir.
"Jadi apa yang bisa kami bantu, Tuan Xavier?" tanya Verness Gloria.
Daru menepuk pundak Xavier lalu bersiap untuk menyalakan korek ketika Xavier menambah volume suaranya.
"Ada sebuah artefak yang ditinggalkan guruku dan kebetulan ada di Bukit Sarren. Daru bodoh itu tidak memberitahuku di mana itu berada sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya," ucap Xavier dengan volume yang cukup keras, membuat Daru mendapatkan kesempatan untuk menyalakan dupa. Dia pun berjalan perlahan mengelilingi orang-orang itu untuk menyebarkan aroma dupa.
"Jadi anda ingin kami mencarinya disana? Tentu tuan Xavier, tent-" Tiba-tiba Verness Gloria menghentikan kata-katanya dan berekspresi kosong.
Xavier mengerutkan alisnya karena keheranan dengan perubahan sikap Verness Gloria yang tiba-tiba. Ketika Xavier menyapu pandangan ke semua orang, dia semakin terkejut karena semua orang memiliki ekspresi yang sama dengan Verness. Ekspresi keheranan Xavier terpecah karena mencium aroma yang membawa ketenangan, membuatnya terdiam seperti yang lainnya.
"Berhasil?" gumam Daru setelah melihat perubahan wajah dari semua orang.
"Berdiri," ucap Daru mencoba untuk memberi perintah.
Sontak saja semua orang termasuk Xavier berdiri.
Menakjubkan! ucap Daru dalam hati.
"Xavier, lepaskan sihir silumanku," perintah Daru kepada Xavier.
Xavier mengulurkan tangannya ke arah Daru dan hanya dalam beberapa saat, Daru menjadi terlihat kembali.
__ADS_1
Daru berjalan menghampiri para apetinggi Keluarga Gloria dan meletakkan selembar surat kontrak darah di depan masing-masing orang. Setelah itu, Daru berkata, "Kecuali Xavier, lukai jempol kalian dan tekankan itu pada kontrak darah di depan kalian masing-masing! Katakan 'aku menyetujui kontrak ini' sekarang!"
Mereka semua melakukan perintah tanpa keluhan sama sekali, membuat Daru kegirangan.
"Aku menyetujui kontrak darah ini." semua orang kecuali Xavier dan Daru berkata bersamaan. Tiba-tiba lembaran kontrak darah itu mengeluarkan sinar berwarna merah.
"Apakah berhasil? Xavier, apa kontrak darah itu sah? Jawab!" Daru memberi perintah kepada Xavier.
"Itu sah," jawab Xavier dengan tatapan kosong.
Daru kemudian mengumpulkan semua kontrak darah, dan memberi perintah lain. "Lupakan tentang isi perintahku tadi! Lupakan fakta bahwa aku memberi perintah kepada kalian!" Daru kemudian mengambil dupa yang masih menyala dan mematikannya dengan cara mengetuk-ngetukannya di lantai.
Lumayan masih lebih dari setengah, hemat, pikirnya.
Ketika aroma dupa berangsur-angsur menghilang, semua orang pun tersadar dan keheranan dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika mereka semua menyapu pandangannya, mereka melihat Daru yang telah berdiri dari posisi jongkoknya saat mematikan dupa.
"Siapa kau?" tanya Verness Gloria keheranan.
Ekspresi Xavier menjadi buruk setelah sihir siluman yang dia aktifkan ke tubuh Daru tiba-tiba menghilang.
Rencana belum berhasil dan tiba-tiba sihirku hilang. Apa yang terjadi? ucap Xavier dalam hati.
"Oh, salam kenal. Aku Daru, pemilik Bukit Sarren yang kalian coba bunuh kemarin," jawab Daru.
Sembilan orang yang berada di sana terkejut bukan main setelah tahu orang yang ada didepannya adalah Daru.
"Kau! Bagaimana bisa?!" teriak Verness Gloria
"Dengan kontrak darah, aku memerintahkan kalian untuk tidak berteriak," ucap Daru dengan dingin.
Semua orang yang ingin berteriak tiba-tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" ucap Vernes Gloria sembari menahan rasa sakit yang perlahan-lahan menghilang setelah dia mengurungkan niatnya untuk berteriak.
"Tentu saja karena kalian semua adalah budakku saat ini," ucap Daru sembari tersenyum dingin dan menunjukkan sembilan kontrak darah budak yang telah ditandatangani dengan darah.
Ekspresi sembilan Petinggi Keluarga Gloria menjadi semakin buruk, mereka mulai menyesal telah menyentuh ekor Singa.
Verness tiba-tiba teringat sesuatu dan memandang Xavier.
"Tuan Xavier, tolong kami. Kami memiliki kitab perjalanan Tuan Julius, kami akan menyerahkannya jika anda membunuh Daru," pinta Verness kepada Xavier dengan ekspresi memelas. Kedelapan Petinggi Keluarga Gloria lainnya juga memelas kepada Verness.
"Hahh, Xavier, ingatlah kejadian kemarin. Karena kau terlalu percaya dengan orang-orang busuk ini, kau hampir dibenci oleh mendiang gurumu. Dengan Kontrak Darah, aku memerintahkan kalian semua untuk berbicara jujur padaku!" Daru kembali memberi perintah kepada budaknya.
"Verness, apakah kau benar-benar memilikinya?" tanya Daru dengan ekspresi dingin.
"A-aku memili-" Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, rasa sakit hebat kembali dia rasakan. Dia ingin berteriak, tetapi karena perintah Daru sebelumnya, keinginan itu berubah menjadi rasa sakit tambahan. Verness Gloria pun menggeliat kesakitan di lantai.
"Jawab aku!" ucal Daru.
"A-a-aku ti-ti-dak me-mi-li-ki-nya." Setelah Verness mengatakan itu, rasa sakitnya tiba-tiba menghilang.
"Daru, bolehkah aku membunuhnya?" ucap Xavier dengan nada yang penuh hawa membunuh.
"Tidak, dia masih berguna. Aku akan membantumu mencari kitab itu setelah semua ini selesai. Dengan Kontrak darah, aku memerintahkan lima hal mutlak kepada kalian."
"Pertama, kalian tidak boleh mengkhianatiku dalam bentuk apapun. Kedua, kalian tidak boleh mencoba untuk bunuh diri. Ketiga, kalian tidak boleh menyakiti atau merugikan orang-orang yang berhubungan denganku ataupun Bukit Sarren, dalam bentuk apapun. Keempat turuti semua perintahku walaupun aku tidak menyebutkan kontrak darah. Kelima, jangan pernah beritahu kepada siapapun tentang kondisi kalian yang telah menjadi budakku," ucap Daru.
Sembilan Petinggi Keluarga Gloria hanya diam putus asa setelah mendengar perintah Daru.
"Berlutut dan jawablah!" bentak Daru.
"Baik, kami akan menuruti perintah Tuan Daru!" Kesembilan orang berlutut dan berkata bersamaan.
"Bagus. Kalian bisa kembali ke tempat kalian masing-masing, kecuali Verness Gloria. Kau antar aku menuju tempat di mana Frey berada," ucap Daru.
Verness benar-benar tidak ingin melepaskan kartu as-nya untuk melawan Daru, tetapi rasa sakit itu kembali dia rasakan. Dengan tanpa daya, dia berkata, "Baik."
Xavier takjub dengan kemampuan Daru. Bagaimana dia bisa membuat orang-orang menanda tangani kontrak darah tanpa mereka sadari? Ini berbahaya jika disalahgunakan.
Xavier memandang Daru dengan tatapan waspada. Daru langsung mengerti apa yang ada di pikiran Xavier. "Tenang saja, aku akan menggunakan cara ini hanya untuk orang-orang seperti mereka. Buktinya, aku tidak membuatmu menanda tangani kontrak darah," ucap Daru.
"Masuk akal. Berjanjilah untuk tidak menyalahgunakannya!"
"Aku berjanji dengan namaku sebagai pria terhormat," ucap Daru sembari tersenyum.
__ADS_1
Xavier tertawa sedikit lalu mulai mengikuti Daru dan Xavier menuju ruang bawah tanah tempat Frey berada.
.....
Frey saat ini masih berada di ruang bawah tanah Keluarga Gloria. Ruang bawah itu memiliki dinding yang terbuat dari batu tak beraturan dengan cahaya yang cukup minim. Saat ini dia masih dalam pengaruh sihir pelumpuh. Dia terus menerus meneteskan air matanya, bukan karena kondisi lumpuhnya, tetapi karena dia khawatir jika Daru datang untuk menyelamatkannya.
Pria bertopeng kepala gagak pun sadar bahwa Frey tengah menangis.
"Haha, teruslah menangis seperti itu, kekasih mu yang sudah mati tidak akan bangkit dari kubur untuk menyelamatkanmu," ucap Pria itu dengan tertawa lantang.
Aku juga berharap dia tidak akan datang. Kau bodoh, Daru tidak akan mati semudah itu, ucap Frey dalam hati.
Lalu tiba-tiba, Frey mendengar suara dari seseorang yang sangat dicintainya.
"Jadi siapakah yang menggunakan sihir pelumpuh padanya?" Frey mendengar itu dengan sangat jelas.
Dia benar-benar datang? Daru kau bodoh! Kenapa kau membahayakan nyawamu hanya untukku? Air mata Frey mengucur deras, semakin membasahi pipinya yang kini kotor karena tanah.
"Itu ..., orang dengan topeng kepala gagak yang ada di sana." Verness Gloria menjawab sembari menunjuk salah satu pria.
Daru mengikuti arah jari telunjuk Verness Gloria dan melihat seseorang dengan pakaian serba hitam dan sebuah topeng berbentuk kepala gagak. Daru langsung melesat ke arah orang itu dengan kecepatan kilat dan memukul wajahnya.
Bruk
Tubuh pria bertopeng itu terlempar hanya dengan sekali pukul oleh Daru. Pria bertopeng itu tidak tahu apa yang terjadi sebelum dia mulai merasa sakit di sekujur tubuhnya yang telah menabrak dinding batu.
Wajah Verness Gloria menunjukkan ketakutan yang luar biasa, sedangkan Xavier terkejut dengan kekuatan Daru. Dia lebih kuat dari kemarin! Siapa dia sebenarnya? ucap Xavier dalam hati.
Frey hanya bisa mendengar dan mencoba menerka apa yang baru saja terjadi. Dia tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, jadi dia tidak bisa menggerakkan kepalanya untuk melihat Daru.
"Xavier, berapa lama efek dari sihir pelumpuhmu?" tanya Daru kepada Xavier.
"Aku dan Guruku tidak pernah meneliti sihir pelumpuh, jadi hanya bertahan sekitar sehari. Kau mau aku melumpuhkannya?" Xavier membalas bertanya kepada Daru.
"Ya, tapi nanti saja, sekarang dia sudah tidak bisa bergerak. Bisakah kau membatalkan efek sihir pelumpuh yang ada di tubuh Frey?"
"Mudah." Xavier berjalan mendekati Frey yang tergeletak di tengah ruangan. Xavier mengulurkan mantra pengangkat status buruk kepada Frey.
Tubuh Frey bercahaya sesaat sebelum cahaya itu meredup pelan dan akhirnya menghilang. Kini Frey bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa. Tanpa berdiam diri lebih lama lagi, Frey segera bangkit dan menerjang Daru hingga Daru jatuh ke tanah. Frey memeluk Daru erat-erat sembari terus meneteskan air mata.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau kesini? Tolong jangan membahayakan nyawamu lagi, Daru," ucap Frey dengan terisak tangis.
"Seharusnya aku yang bertanya demikian. Kau baik-baik saja?" tanya Daru dengan nada lembut.
Frey hanya mengangguk sembari mempererat pelukannya. Daru meraih tubuh Frey yang ada di atasnya dan mencoba berdiri. Karena kekuatan Daru bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, Daru dengan mudah mengangkat Frey. Kini Frey berada di gendongan Daru, membuat wajah Frey memerah tetapi dia tetap mempertahankan pelukannya.
"Xavier, beri aku selembar kontrak darah," pinta Daru kepada Xavier.
Xavier menyerahkan selembar kontrak darah kepada Daru karena penasaran dengan apa yang akan dilakukan Daru.
Daru menerima kontrak darah itu dan menaruhnya di samping pria bertopeng.
"Tanda tangani dan aku akan memberikan hukuman lebih ringan," ucap Daru kepada pria bertopeng.
Pria bertopeng itu mulai berpikir tentang hukuman macam apa yang akan dia terima jika tidak menanda tangani kontrak darah budak itu.
"Jika kau tidak menandatanganinya, aku akan mematahkan seluruh tulang di tubuhmu dan aku akan melemparmu ke Dark Plain," ancam Daru.
Pria betopeng itu ketakutan setelah mendengar kata Dark Plain. Hanya orang-orang yang tidak takut mati saja yang berani menginjakkan kaki di Dark Plain.
"Aku akan menanda tanganinya," ucap Pria bertopeng itu ketakutan.
Dia segera meneteskan darahnya dan berkata, "Aku menyetujui kontrak darah ini."
Seperti sebelumnya, lembaran kontrak darah itu mengeluarkan sinar berwarna merah dan perlahan-lahan meredup sebelum sinar itu benar-benar padam.
Daru mengambil kontrak darah itu dan berkata kepada Xavier "Gunakan sihir pelumpuh kepadanya."
Xavier tidak berkata apa-apa dan menuruti kata-kata Daru. Setelah pria bertopeng itu dilumpuhkan, Daru berkata, "Dengan kontrak darah, aku memerintahkanmu untuk ... berdiri!"
Tiba-tiba sekujur tubuh pria bertopeng itu kesakitan. Bagaimana dia bisa berdiri ketika terkena sihir pelumpuh?
"Rasakan rasa sakit itu selama satu hari. Setelah itu datanglah ke Bukit Sarren, temui aku!" Tambah Daru.
Dia orang yang menakutkan! pikir Xavier dan Verness Gloria.
__ADS_1
"Verness, aku akan memasang portal teleportasi di kota ini. Sebarkan berita bahwa Bukit Sarren menerima pelanggan dari Carin city."
"Baik, Tuan Daru," jawab Verness dengan membungkuk dalam-dalam.