
Setelah pertemuan dengan Daru, semua tokoh-tokoh berpengaruh mulai menyebarkan rumor tentang toko yang ada di selatan. Walaupun Daru tidak meminta mereka untuk melakukan itu, tetapi mereka melakukannya sebagai bentuk pertemanan kepada Daru. Tidak seperti lima Keluarga Bangsawan di Kerajaan Resia, tiga Keluarga Bangsawan Kerajaan Saria membantu Daru dengan menyebar rumor bahkan sampai ke kota lain.
Kini, hampir setiap orang di Waterfall City mendengar kabar tentang toko Daru, mereka pun mulai menyimpan uang mereka secara besar-besaran. Tidak ada lagi orang yang mengantri di depan Rumah Surga, orang-orang yang biasa mengantri kini bekerja lebih keras agar mendapatkan uang untuk berkunjung ke toko Daru.
Daru menyadari antusiasme yang sangat besar dari orang-orang di Waterfall City, namun dia tidak merasa antusias sama sekali, alasannya adalah Frey.
"Dua hari, aku harus bisa menahan rasa sakit itu," gumam Daru sembari memandang langit-langit ruangannya.
Hubungan Emilia dan Daru mulai merenggang semenjak Emilia mengetahui kisah dari Daru dan Frey. Emilia kini berusaha sebisa mungkin untuk biasa saja kepada Daru, namun setiap Emilia memandang Daru, dia selalu merasakan sayatan-sayatan kecil di hatinya. Daru tidak menyadari tentang kondisi Emilia karena saat ini pikirannya terfokus pada Frey, Frey, dan Frey.
Daru mengeluarkan smartphone-nya dan membeli lima batu teleportasi dari web Belanja Online Universal.
"Paket Mang Oleh, secepat aironman," ucap Veux setelah tiba-tiba muncul di belakang Daru.
"Mas Veux," ucap Daru dengan lesu.
"Kenapa mukanya ditekuk seperti itu, Mas? Sakit hati?" tanya Veux sembari menyerahkan paketnya.
"Sedikit, Mas." Daru menandatangani surat tanda terima.
"Kalau mau cerita, cerita aja, Mas. Saya gini-gini punya mantan banyak, pengalaman percintaan juga nggak kalah banyak," ucap Veux dengan bangga.
"Mas Veux pernah jatuh cinta sama seorang wanita terus ditinggal nikah?" Daru bertanya dengan ekspresi yang masih lesu.
"Oh, gitu doang ..., mudah ini mah. Hmm, kalau aku ..., hmm, berat ini mah. Skip, sampai jumpa," ucap Veux sebelum menghilang.
Daru berekspresi datar ketika melihat Veux yang menghilang.
Bahkan pemain expert pun tidak bisa menjawab. Hahh, Frey ..., ucap Daru dalam hati.
Sementara itu di Bukit Sarren.
"Dua hari lagi, Daru. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu, memelukmu, dan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara kita berdua. Aku merindukanmu," gumam seorang wanita cantik dengan pakaian berwarna putih yang tengah duduk di lantai dua atas toko Daru, wanita itu adalah Frey.
Kini, keinginannya untuk bertemu Daru berada di puncaknya, selama seminggu terakhir, Frey selalu memeriksa portal teleportasi untuk memeriksa apakah ada portal teleportasi baru yang tertanam, jika ada, dipastikan itu adalah lokasi Daru. Tetapi dia tidak bisa menemukan portal teleportasi baru, menandakan Daru belum menanam portalnya.
"Daru, bisakah kau percepat kepulanganmu? Aku bisa mati karena rindu," gumam Frey sembari menatap langit-langit lantai dua atas.
....
Dua hari kemudian, 2 jam sebelum matahari terbit.
Daru menunggu orang-orang di dekat gerbang setelah menanam portal teleportasi dan mengaturnya agar portal itu hanya bisa digunakan untuk menuju Bukit Sarren dan arah sebaliknya. Walaupun perjanjiannya adalah 1 jam sebelum matahari terbit, Daru tidak ingin tamu-tamunya menunggu.
Tanpa dia duga, ada tiga belas orang yang menuju kearahnya. Daru mengenali tujuh orang dari rombongan itu, mereka adalah orang-orang yang ada di pertemuan dengan Daru beberapa hari yang lalu. Sedangkan enam orang lainnya, mereka memakai baju baja dengan lambang Kerajaan Saria, Daru yakin mereka adalah pengawal Raja Gustave karena ada Trevor di rombongan tersebut.
Setelah rombongan itu mendekat, Daru bertanya, "Tuan Gustave, apakah pengawal Anda akan ikut kita ke Bukit Sarren?"
"Ya, aku tidak bisa meninggalkan istana tanpa pengawalan. Ada masalah?" tanya Raja Gustave keheranan.
"Apakah Tuan Gustave tidak mengingat hal pertama? Orang dengan perlengkapan perang berlambang suatu kerajaan tidak boleh masuk ke Bukit Sarren," ujar Daru.
"Tapi, Tuan Daru, kami harus menjamin keselamatan Yang Mulia," sahut Trevor yang berdiri di belakang Raja Gustave.
"Kau boleh melakukan itu, tapi kau harus melepaskan lambang kerajaanmu. Kau boleh mengenakan baju baja, tetapi tidak dengan lambang kerajaan," balas Daru.
"Lakukan apa yang dia minta. Itu sudah peraturan di sana. Maafkan aku, aku terlalu bersemangat untuk pergi ke sana, sehingga melupakan hal itu," ucap Raja Gustave menengahi.
"Tak apa, Tuan Gustave. Anggap saja sebagai pengingat. Tetapi, jika di masa depan itu terjadi, aku pastikan pengawalmu akan kehilangan kepalanya setelah menginjakkan langkah pertama di Bukit Sarren." Daru berekspresi cukup menyeramkan sehingga membuat orang-orang di depannya ketakutan.
__ADS_1
Trevor dan lima pengawal lain segera berlari menuju istana untuk berganti baju baja yang polos.
Setelah beberapa saat, Daru melihat sosok seseorang di kejauhan yang tengah menarik gerobak yang cukup besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuh sosok tersebut.
Daru menyipitkan matanya dan langsung mengenali sosok yang menarik gerobak itu.
"Nenek Neia?" gumam Daru.
Daru pun berlari menghampiri sosok tersebut, meninggalkan tujuh orang lainnya yang bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan Daru.
"Nenek Neia, apakah Anda tidak memiliki cincin dimensi?" tanya Daru setelah cukup dekat dengan Neia.
"Aku menjualnya beberapa bulan yang lalu untuk membeli makanan. Jangan pedulikan aku, Nak Daru. Aku akan membawa barang-barangku dengan gerobak ini," jawab Neia dengan senyum yang dibuat-buat untuk menutupi rasa lelahnya.
"Biar saya yang menariknya, Nenek Neia," ucap Daru.
"Ah, tidak usah. Ini hal yang mudah untukku," balas Neia mencoba menolak.
Daru langsung merebut kendali gerobak dari tangan Neia dan menariknya. Dia tidak menggunakan cincin dimensinya karena dia tidak ingin jika barang-barang pribadi seorang nenek-nenek muncul di pikirannya.
Neia tersenyum ke arah Daru dan berkata, "Kau mirip cucuku."
"Cucu Nenek Neia? Dimana dia?" tanya Daru sembari menarik gerobak ke arah gerbang.
"Dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dia selalu baik padaku." Neia pun meneteskan air mata ketika teringat kenangan-kenangan indah bersama cucu kesayangannya.
"Saya turut bersedih. Anda bisa menganggap saya sebagai cucu jika memang mirip, hehe," canda Daru untuk menenangkan Neia.
"Haha, kau terlalu hebat untuk menjadi cucuku." Neia pun tersenyum.
Mereka saling mengobrol satu sama lain sambil berjalan sampai Neia melihat sosok yang ada di depannya, Raja Gustave.
"Yang Mulia!" Neia berteriak dan bersujud ke arah Raja Gustave.
"Teman Daru adalah temanku juga," ucap Raja Gustave dengan tersenyum.
Neia kaget dan memandang Daru yang tengah berekspresi seakan tidak peduli dengan jari kelingking tangan kiri di lubang hidungnya.
"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Neia setelah berhasil berdiri berkat bantuan Raja Gustave.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa tertangkap oleh pendengaran Daru. Daru menoleh ke arah sumber suara, dan melihat enam orang pengawal Raja Gustave tengah berlari menghampirinya. Mereka telah mengganti baju baja mereka dengan baju baja berwarna metal polos tanpa ada hiasan apapun.
"Kami telah selesai berganti," ucap Trevor.
Daru mengangguk dan berkata, "Kalau begitu, saya akan berangkat terlebih dahulu dan membuka portal yang ada di Bukit Sarren. Setelah beberapa detik saya menghilang, silahkan berdiri di atas batu portal teleportasi dan pejamkan mata." Daru menarik gerobak Neia dan masuk ke dalam portal teleportasi sebelum menghilang.
Daru pun tiba di Bukit Sarren.
"Sudah sebulan," gumamnya.
Bukit Sarren nampak sepi karena memang masih dini hari. Karyawan-karyawan Daru belum ada yang menunjukkan aktifitasnya membuatnya sedikit lega.
Dengan begini, aku bisa diam-diam memasok persediaan tanpa harus bertemu Frey jika dia masih tinggal di sini, ucap Daru dalam hati.
Daru segera mengaktifkan portal di Bukit Sarren dan menunggu tamu-tamunya datang.
Tak lama kemudian, empat belas orang telah tiba. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengantar Neia menuju bangunan asrama agar dia bisa beristirahat. Daru juga menaruh gerobak Neia di depan bangunan agar memudahkan Neia mengambil barang-barangnya.
Setelah itu, Daru kembali ke rombongan tamunya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam toko untuk mencoba produknya.
__ADS_1
Semua orang duduk di depan konter kecuali Daru dan pengawal istana yang memilih untuk berdiri di luar. Daru berkata, "Tolong jangan bersuara terlalu keras, banyak yang masih terlelap."
Ketujuh tamu Daru mengangguk dan mempersilahkan Daru memulainya.
"Ehm, saya yakin semua yang ada di sini sudah mencoba rokok. Saya akan menjelaskan produk saya yang lain ...." Daru mulai menjelaskan barang-barang yang ia jual.
Ketujuh orang terkejut ketika mencoba produk-produk Daru yang dapat dimakan atau diminum. Mereka pun memborong barang-barang itu dalam jumlah besar, membuat etalase menjadi sepi.
"Di restoran dan bar Bukit Sarren juga terdapat hal-hal yang baru, biasanya mereka akan buka sekitar dua jam setelah matahari terbit. Datanglah kemari siang nanti jika ingin mencoba menu-menu di restoran dan bar.
Mereka semua tampak antusias. Berhubung saat ini matahari belum terbit, mereka memutuskan untuk pulang ke Waterfall City dan kembali ke Bukit Sarren saat matahari cukup tinggi.
Daru mengantar mereka sampai portal teleportasi.
"Daru, bisakah kau mempertemukanku dengan Raja Vanir?" tanya Raja Gustave sebelum masuk ke dalam portal teleportasi.
"Saya bisa mengundang Paman Vanir kemari. Kapan Anda ingin bertemu dengannya?" tanya Daru.
"Kalau bisa, Lusa," jawab Raja Gustave.
"Baiklah. Saya akan mengirim pesan tentang bisa atau tidaknya Paman Vanir hadir kepada Anda besok," ucap Daru menyanggupi.
"Terima kasih, aku benar-benar berhutang budi padamu," ucap Raja Gustave sebelum pergi meninggalkan Bukit Sarren bersama pengawalnya.
Daru bisa menerka alasan apa yang melatarbelakangi undangan itu.
Mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk membukanya, pikir Daru merujuk pada rencananya setelah melihat orang terakhir meninggalkan Bukit Sarren.
"Sekarang ..," gumam Daru sebelum berbalik dan memandang tokonya.
Daru berjalan menuju tokonya dan turun menuju lantai dua bawah. Ketika Daru tiba di lantai satu bawah, dia berjalan sangat pelan, dia tidak ingin menimbulkan suara apapun yang dapat menarik perhatian Shera, Sylph, dan Frey yang kemungkinan ada di kamarnya.
Daru pun berhasil sampai di lantai dua tanpa menimbulkan kegaduhan. Dia langsung membeli persediaan-persediaan toko setelah berpesan kepada Veux untuk tidak menimbulkan suara apapun.
"Mas Daru, paket datang." Veux berbisik dengan sangat pelan.
"Oke," balas Daru yang juga berbisik.
Daru seperti biasa menandatangani surat tanda terima sebelum Veux menghilang.
Waktunya keluar, ucap Daru dalam hati setelah menaruh semua persediaan toko pada tempatnya.
Daru menaiki tangga yang menghubungkan lantai dua bawah dengan lantai satu bawah dengan sangat pelan. Ketika dia tiba di lantai satu bawah, Daru berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu bawah dengan lantai satu atas yang ada di seberang. Ketika dia hendak menaiki tangga, dia terdiam sesaat sebelum berbalik dan memandangi pintu kamar yang merupakan tempat Frey dan Daru tidur di masa lalu.
Aku belum siap, tetapi aku ingin sekali bertemu dengannya, pikir Daru.
Setelah beberapa saat berpikir, Daru memutuskan untuk mendekati pintu kamarnya.
Daru mengulurkan tangannya ke gagang pintu dengan gemetaran. Dia berharap ketika dia membuka pintu, Frey tidak ada di sana, namun dia juga berharap Frey ada di sana. Sungguh konflik batin yang memusingkan.
Daru memegang gagang pintu dengan tangan kanannya. Ekspresinya rumit, tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
Tanpa Daru sadari, Frey melakukan hal yang sama dari balik pintu.
Semalaman Frey tidak tidur sama sekali karena terus memikirkan Daru. Saat ini dia bingung, dia ingin menunggu Daru di depan portal teleportasi sekarang, tetapi dia tidak tahu kapan Daru akan kembali. Akhirnya dia terdiam di depan pintu cukup lama.
Mereka memegang gagang pintu yang sama dari arah yang berbeda. Mereka sama-sama ragu untuk membukanya atau tidak.
Kerinduan mereka berdua akhirnya memecah keraguan. Mereka pun membuka pintu secara bersamaan.
__ADS_1
Krek
Bersambung .... (Lol)