Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Kembali


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, kini Daru tengah berada di labolatorium untuk mencoba A.I. yang dibuat oleh Sergio.


"Pasang itu di salah satu bola matamu," ucap Sergio sembari menyerahkan sebuah softlens bening kepada Daru.


Daru, yang tidak sabar, segera mengambil softlens itu dan memasangnya di mata kirinya.


"Itu akan langsung terhubung ke otakmu karena mata adalah organ tubuh yang langsung terhubung dengan otak. Kau akan mendengarkan suara-suara yang berasal dari A.I. itu," ujar Sergio menjelaskan.


"Bagaimana cara mengaktifkannya?" tanya Daru.


"Katakan Gio," jawab Sergio singkat.


Daru pun mengangguk dan berkata, "Gio."


Tiba-tiba, visi Daru berubah menjadi semacam tampilan komputer tembus pandang. Di visi Daru, dia melihat ada semacam status lingkungan sekitarnya, seperti suhu, kelembaban udara, arah dan kecepatan angin yang menunjukkan angka 0 karena dia sekarang ada di dalam ruangan, dan semacam data-data dari barang-barang yang ada di depannya.


Gio V.1.0 telah aktif, ada yang bisa dibantu?


Daru mendengar suara Sergio yang berasal dari otaknya, seakan Sergio berbicara secara langsung.


Alis Daru terangkat ketika mendengarnya, dia pun berkata, "Analisa keadaan sekitar."


Benda-benda yang ada di sekitar Daru terlihat seperti ada garis putih yang mengelilingi benda-benda tersebut. Lalu,


Selesai. Ada 15 benda berguna, 20 benda sampah, 29 tubuh kloning mati, 3 tubuh mati dari tiga ras, 1 kloning bernyawa ....


Suara di kepala Daru terus menjelaskan banyak hal yang ada di sekitar tubuh Daru selama beberapa saat sebelum suara itu berhenti.


"Ini cukup bagus. Bisakah aku memanggilnya Jarv*s?" tanya Daru.


Sergio dan Gio A.I. bersamaan menjawab, "Tidak, hak cipta."


"Cih." Daru mengeluarkan ekspresi ketidakpuasan.

__ADS_1


"Kau mau pergi sekarang? Aku akan mengambilkan alat teleportasiku untukmu," ucap Sergio.


"Hm, ya. Aku ingin pergi ke makam Julius untuk menanyakan tentang cara menonaktifkan artefak sihir di sini. Dengan begitu, akan mudah memindahkan para ras non-manusia ke Bukit Sarren," jawab Daru.


"Jangan," ucap Sergio sembari melemparkan sebuah alat teleportasi ke arah Daru.


Daru dengan sigap menangkapnya dan berkata, "Kenapa?"


"Jika artefak dimatikan dan Tangan Tuhan mengetahuinya, apakah kau mau mengulang kejadian 100 tahun yang lalu?" ucap Sergio dengan tatapan tajamnya.


"Oh. Lalu, bagaimana cara memindahkan mereka ke Bukit Sarren?" tanya Daru.


"Aku sudah menyiapkannya, kemarilah ketika kau sudah menyiapkan tempat untuk mereka," jawab Sergio.


Daru diam sejenak lalu mengangguk dan berkata, "Baiklah, aku akan kembali ke Bukit Sarren. Bagaimana cara menggunakan alat ini?"


"Tusuk jarimu dengan jarum yang ada di atas alat itu, itu untuk mengingat DNA-mu dan berhubungan dengan otakmu. Pikirkan tujuanmu dan tekan tombol berwarna merah. Di A.I. aku sudah menambahkan memori tentang semua tempat yang pernah aku kunjungi. Katakan saja pada Gio untuk menampilkan suatu wilayah dan kau bisa ke sana walaupun kau belum pernah menginjakkan kakimu sekali pun. Alat itu otomatis akan mencari tempat terdekat yang tidak ada keberadaan makhluk hidupnya, jadi tidak perlu khawatir mengenai mata yang melihat," ujar Sergio panjang lebar.


Daru mengangguk dan mulai menusukkan jari telunjuknya ke jarum yang ada di atas alat sekecil smartphone itu. Begitu dia menusukkan jarinya, dia merasa ada sedikit sengatan arus listrik di otaknya, dia pun segera membayangkan Bukit Sarren. Ketika dia hendak menekan tombol merah dan berteleportasi, Sergio berkata, "Tunggu."


"Kau yakin ingin membuat ketiga ras itu melakukan hal yang kau sebut 'senjata ekonomi'? " tanya Sergio dengan ekspresi cemas.


Daru pun merubah tatapannya menjadi dingin, sangat dingin hingga membuat Sergio merasakan hawa mencekam dari tatapannya.


"Masalah dengan itu?" tanya Daru dengan nada dingin.


"Tenang saja, aku selalu memastikan keselamatan karyawan-karyawanku." Daru tersenyum sangat lebar sebelum menekan tombol di alat teleportasi dan menghilang begitu saja.


Sergio menghembuskan nafas panjang tepat setelah tubuh Daru menghilang. Dia akhirnya bisa bernafas setelah hawa mencekam itu benar-benar tiada.


"Yang bisa aku lakukan adalah percaya kepadanya," gumam Sergio sebelum pergi keluar, menyiapkan teleportasi masalnya.


Sementara itu, Daru tiba di Bukit Sarren. Dia langsung berlutut ketika sampai, karena perasaan yang sangat tidak nyaman yang disebabkan oleh alat teleportasi itu.

__ADS_1


Apa-apaan? Bagaimana Sergio bisa betah berteleportasi dengan cara ini? ucap Daru dalam hati.


Karena hari masih siang dan Daru berada tepat di bawah langit tanpa ada yang menghalangi sinar matahari, mana Daru segera terisi penuh berkata sinar matahari. Dia pun segera mengaktifkan sihir silumannya, berharap tidak ada yang melihatnya.


Dia mengambil smartphone-nya dan membuka Islagram, mencoba mencari tahu apa yang telah dilakukan Frey selama beberapa hari Daru tidak ada.


Tepat setelah Sergio pergi dari Bukit Sarren, Frey langsung mencari Emilia, orang yang mungkin tahu keberadaan Daru. Karena Emilia tidak mengetahui tentang kematian Daru, Frey yakin bahwa dia tidak berasal dari Kerajaan Resia. Frey pun mencari di Waterfall City dan akhirnya menemukan Emilia.


Frey menjelaskan hubungannya dengan Daru kepada Emilia, membuat Emilia sakit hati dan meminta maaf karena telah menyinggung Frey. Kesalahpahaman pun berakhir, namun Frey masih belum menemukan Daru, karena Emilia juga tidak mengetahui dimana Daru berada.


Di Islagram, Daru pun mengetahui bahwa Chris dan Frey malam itu tidak melakukan sesuatu yang Daru pikirkan, membuatnya sedikit lega. Namun, kelegaan di hati Daru tidak berlangsung lama, karena dia mengingat tentang kelemahan terbesarnya, yaitu Frey.


Dengan ekspresi rumit, Daru memasuki tokonya.


Alat pendeteksi suhu pun berbunyi tanpa terlihat ada seseorang yang melewati pintu. Rena pun dibuat waspada, dan sebaliknya, Frey merasa antusias karena dia yakin bahwa orang yang membuat alat itu berbunyi adalah Daru yang memakak sihir siluman. Frey pun segera menuju lantai dua atas, tempat yang kemungkinan Daru tuju.


Ketika Frey tiba di depan pintu dan membukanya, sesosok pria yang paling dicintainya tengah berdiri di sana. Tanpa basa-basi, Frey berlari ke arah Daru dan memeluknya erat-erat.


"Daru! Kau kemana saja?" ucap Frey sembari meneteskan air mata.


"Kau rindu, kan? Hihi," ucap Daru sembari melingkarkan tangannya ke tubuh Frey.


"Aku khawatir! Mengapa kau tidak kembali beberapa hari ini?" tanya Frey.


"Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku terjebak di tempat pria tua yang kemari beberapa hari yang lalu," jawab Daru.


"Siapa dia? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Frey dengan nada yang cemas.


Daru mendorong tubuh Frey sedikit menjauh, membuat Frey melepaskan pelukannya. Frey pun kebingungan dengan apa yang dilakukan Daru.


Daru menata rambut Frey sejenak dan memandanginya dalam-dalam sembari mengusap air mata di wajah Frey dengan kedua tangannya.


"A-ada apa?" tanya Frey bingung.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memandang wajahmu ...."


Sebelum kau menghilang. Daru meneruskan kalimatnya dalam hati.


__ADS_2