Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Kehancuran


__ADS_3

Daru tenggelam dalam ciuman itu, tanpa dia sadari, 5 menit telah berlalu begitu saja. Dia pun melepaskan ciuman itu ketika menyadari Frey sudah tidak bergerak dengan nafas yang teratur. Daru menatap kedua mata Frey dengan tatapan penuh kesedihan, tak terasa, sepasang tetesan air mata jatuh begitu saja.


"Frey, aku memerintahkanmu," ucap Daru sembari menutup kedua matanya, berusaha menahan kesedihan yang semakin mendalam.


"Hapus ingatan tentang asal-usulku, hapus ingatan tentang hubungan yang kau miliki denganku. Ukir dalam pikiranmu, bahwa kau adalah seorang petualang dan tidak memiliki hubungan apapun dengan Bukit Sarren. Kau sendiri yang membebaskan kedua orangtuamu. Kau sendiri yang menyelamatkan Rennesia dari penculikan. Daru hanyalah nama dari seorang pemilik Bukit Sarren yang belum pernah berhubungan denganmu."


Daru pun berhasil mengumpulkan ketenangan dan menghapus kesedihan yang ia rasakan. Dia membuka kedua matanya dan kesedihan kembali dia rasakan setelah melihat Frey dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya, Frey tengah menangis dengan tatapan kosong.


Pertama kalinya Daru melihat seseorang menangis saat terpengaruh oleh dupa hipnotis. Daru terdiam cukup lama melihatnya, hanya satu hal yang ada di pikiran Daru saat ini.


Kau dapat mempengaruhi pikiran tapi tidak dengan isi hati, pikirnya.


Daru kemudian memeluk Frey erat-erat sebelum berkata, "Jangan lakukan perintah yang aku katakan sebelumnya."


Daru menjatuhkan dupa hipnotis yang dia pegang dan menginjaknya. Tak lama kemudian, dupa itu pun mati dan berhenti mengeluarkan asap.


Persetan, urusan masa depan aku serahkan pada diriku yang ada di masa depan. Lagipula jika Tangan Tuhan bisa mengakses Islagram, mereka akan tahu asal-usulku dengan membaca pikiranku. Aku akan percaya pada Frey apapun yang terjadi, ucap Daru dalam hati.


Bersamaan dengan bau dupa yang menghilang, Frey mendapat kesadarannya kembali dan mulai menangis sekencang-kencangnya sembari memeluk Daru. Karena Daru tidak berkata untuk melupakan perintahnya ketika Frey masih dalam pengaruh hipnotis, Frey ingat betul apa saja yang dikatakan Daru sebelumnya.


"Maafkan aku," ucap Daru.


Frey hanya menangis tanpa mengucapkan apa-apa, membuat Daru terus menerus mengucapkan kata maaf.


Setelah tangisan Frey mereda, Frey menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berkata, "Tak apa jika kau ingin menghapus ... memoriku tentangmu, aku menerimanya, karena aku tahu itu untuk ... meraih tujuanmu. Namun ..., bisakah kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?"


Daru diam sejenak sebelum melepaskan pelukan Frey dan berkata, "Akan aku ceritakan."


Dalam waktu 2 jam, Daru menceritakan semua hal yang dia alami beberapa hari yang lalu. Daru juga menceritakan mengenai sejarah yang terjadi 100 tahun yang lalu, sejarah yang mengakibatkan gejolak besar-besaran terjadi di seluruh Benua Isla. Frey pun mengetahui tentang Islagram, sesuatu yang belum pernah Daru ceritakan kepadanya sejak dulu. Tiba-tiba Frey kembali meneteskan air matanya ketika Daru mengakhiri ceritanya dengan kembalinya dia ke Bukit Sarren hari ini.


"Kau sedih karena aku membantu sosok Raja Iblis?" tanya Daru dengan ekspresi putus asa.

__ADS_1


Benar saja, dia kecewa, pikir Daru.


Frey menggelengkan kepalanya sembari mengusap kedua matanya, dia berkata, "Aku sedih karena ... kau tidak mempercayaiku."


Daru hanya diam tak menanggapi.


"Daru, dengan Islagram itu, kau tahu apa yang ada di pikiranku, kan? Aku tidak pernah berpikiran untuk menyebarkan apapun tentang dirimu.  Aku lebih memilih mati daripada mengkhianatimu," ucap Frey.


Daru menghela nafas panjang dan berkata, "Bodohnya aku karena meragukanmu."


"Hapuslah ingatanku, karena jika musuhmu mengetahui tentang Islagram, mereka akan tahu mengenai asal-usulmu dengan membaca pikiranku. Namun, berjanjilah untuk kembali padaku setelah urusanmu selesai," ucap Frey sembari memberikan senyum terbaiknya.


Ah, aku merindukan senyuman itu, ucap Daru dalam hati sembari menatap wajah manis Frey.


"Tidak, jika mereka mengetahui tentang Islagram, pikiranku juga akan terbaca. Jika memang kehancuran yang ada di ujung jalanku, biarlah aku menikmati perjalanan itu denganmu di sisiku," ucap Daru sembari mengelus kepala Frey.


"Ya, jika memang itu yang terjadi, mari kita buat kehancuran yang indah. Aku siap hancur bersamamu." Senyuman Frey semakin indah, membuat Daru semakin terpana oleh sosok yang ada di sampingnya.


Frey tiba-tiba mengeluarkan sebuah kertas yang tak asing lagi bagi Daru dari cincin dimensi yang ada di jari Frey. Dengan segera, dia menggigit jarinya dan menempelkannya ke kertas itu sebelum berkata, "Aku menyetujui kontrak darah ini."


Frey tersenyum dan memberikan kertas itu kepada Daru, dia berkata, "Dengan ini, tolong lebih percayalah kepadaku, Tu-an."


Daru merasakan kedamaian yang luar biasa di hatinya. Dia berkata, "Dengan kontrak darah, aku memerintahkanmu untuk tidak mengkhianatiku dalam bentuk apapun."


"Dengan jiwaku, aku menerima perintahmu." Frey tersenyum.


"Bolehkan aku meminta satu hal egois?" tambah Frey.


"Apapun itu," jawab Daru.


"Jangan mengkhianatiku juga, Daru." Frey mendekatkan dirinya ke arah Daru dan mencium bibirnya.

__ADS_1


Tidak akan, ucap Daru dalam hati sembari menikmati ciuman itu.


....


Neraka, di waktu yang sama.


"Yang Mulia Raja Agung, Satan, bawahan rendah ini datang melapor," ucap sosok berkulit merah dengan tanduk di kepala dan kedua mata berwarna hitam yang tengah bersujud ke arah sosok lain yang duduk di kursi yang mirip singgasana. Sosok yang bersujud itu adalah sosok yang berada di ruangan bersama orang-orang berjubah merah di Benua Isla sebelumnya.


"Katakan, Dosa Iri, Leviathan," ucap sosok yang dipanggil Satan, sang Raja Agung Neraka.


"Bawahan ini mendapat kabar mengenai ras non-manusia yang hendak keluar dari Dark Plain, Benua Isla. Bawahan ini yakin, Neraka akan mendapatkan panen besar seperti 100 tahun yang lalu dalam waktu dekat, bagaimana, Yang Mulia?" ucap Leviathan, si Dosa Iri dan Dengki.


"Hm, lakukan perlahan. Jiwa pendosa di neraka sudah terlalu banyak, jika kau mengirim pendosa dalam jumlah besar, banyak jiwa yang akan bereinkarnasi sebelum waktunya. Itu akan membuang-buang sumber daya," balas Satan mengemukakan pendapatnya.


Leviathan yang mendengarnya pun bingung dengan alasan mengapa neraka bisa kebanjiran jiwa-jiwa pendosa. Dia pun berkata, "Kalau bawahan ini boleh tahu, Yang Mulia, mengapa banyak jiwa pendosa saat ini?"


Tiba-tiba, suara pintu didobrak terdengar di seluruh ruang tahta. Satan dan Leviathan pun memandangi pintu yang terbuka dan mendapati sesosok bayangan tengah berjalan masuk ke ruangan.


Sosok itu memiliki satu sayap hitam di sebelah kanan tanpa pasangan sayap di sebelah kiri. Ketika sosok itu mendekat, Leviathan dapat melihat sosok itu memiliki wajah penuh luka robek, bahkan terkadang darah menetes dari luka-luka itu. Sosok itu juga memakai setelan formal manusia, jas hitam dengan kemeja putih.


"Itu karena aku, Lucifer yang perkasa," ucap sosok itu sembari tersenyum lebar.


Leviathan menatap Lucifer dengan penuh kebencian, bagaimanapun, iri dan dengki adalah sifatnya.


"Benar, Lucifer, si Dosa Kebanggaan, mengirim banyak pendosa dari bumi kemari. Jadi, Leviathan, tahan dulu rencanamu," sahut Satan.


Leviathan semakin membenci Lucifer, iblis yang lebih berprestasi darinya. Dia ingin mengatakan keberatannya, namun, perintah adalah perintah.


"Baik, Yang Mulia. Bawahan ini menuruti perintah Yang Mulia. Kalau begitu, bawahan ini pamit undur diri," ucap Leviathan.


Leviathan pun beranjak pergi dari tempatnya. Ketika dia melewati Lucifer, Lucifer berbisik, "Rendahan."

__ADS_1


Satu kata itu menyulut emosi Leviathan, dia hanya diam tak menanggapi dengan tatapan penuh tekad dan meneruskan perjalanannya.


Lihat saja, aku akan mengirim jutaan pendosa dari Benua Isla! ucap Leviathan dalam hati.


__ADS_2