Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Kesalahpahaman yang Berlanjut


__ADS_3

Frey bergegas menuju toko untuk memastikan semua orang tutup mulut tentang apa yang baru saja terjadi. Ketika hampir tiba di toko, Frey bertemu Lydia di depan toko dan menanyakan keberadaan Daru.


"Bos Daru pergi ke kediaman Raja Vanir setelah bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi tadi," jawab Lydia.


"Bagaimana jawabanmu?" tanya Frey penuh kecemasan.


"A-aku menjawab sesuai ke-kejadiannya,"


Deg


Kekhawatiran Frey benar-benar terjadi.


Aku terlambat! Kenapa dia tidak memberitahuku lebih dulu? Apakah dia benar-benar marah? pikir Frey.


"Lanjutkan pekerjaanmu, Lydia," ucap Frey sembari berjalan masuk ke dalam toko.


Frey duduk di belakang konter dengan raut wajah serba salah. Frey bingung dengan apa yang harus dia lakukan, menyusul Daru dan menjelaskan semuanya, atau menunggu Daru kembali. Ekspresi Frey mengundang rasa penasaran dari orang yang ada di sampingnya, Shera.


"Bos Frey, ada apa?" tanya Shera.


"Ah! Tidak apa-apa, aku hanya bingung memilih," jawab Frey.


Bos Frey bingung memilih antara Chris dan Bos Daru? Aku harus mendukung Bos Daru! pikir Shera.


"Ehm, Bos Frey, kau pasti tahu mana yang terbaik di antara keduanya. Pilihlah yang paling dekat," ucap Shera merujuk pada Daru.


Frey berpikir sejenak dan mencerna pendapat Shera. Dekat? Waktu terdekat? Shera benar, aku harus menemui Daru sekarang di Moon City, pikir Frey.


"Terima kasih, Shera. Aku akan pergi ke Moon City," ucap Frey sembari pergi meninggalkan Shera.


Shera terdiam sesaat mencoba untuk mencerna situasi, lalu dia berkata, "Eh? Orang terdekat ada di Moon City? Apakah Bos Frey lebih dekat dengan Chris daripada Bos Daru? Oh sial! Apa yang baru saja kulakukan?"


....


Sementara itu di Istana Kerajaan Resia, Moon City.


Daru saat ini berada di ruang pertemuan istana. Berbekal plat emas Keluarga Kerajaan, Daru langsung diantar menuju ke sana oleh seorang pelayan istana.


"Paman Vanir," sapa Daru setelah Raja Vanir memasuki ruangan.


"Tumben kau kemari, Daru. Ada apa?" tanya Raja Vanir sebelum duduk di depan Daru.


"Aku ingin membicarakan tentang permintaan ketigaku," jawab Daru dengan nada serius.


"Hahaha, akhirnya kau mengatakan itu. Apa yang kau minta? Setelah semua yang kau lakukan pada Keluarga Kerajaan, aku tidak memiliki alasan apapun untuk menolak permintaanmu," ucap Raja Vanir dengan tertawa lantang.


Raja Vanir benar-benar berhutang kepada Daru setelah berhasil menjebloskan adiknya, Verza Lionness, ke dalam penjara lima bulan yang lalu. Jika Daru saat itu tidak melakukan apa-apa, mungkin kudeta adiknya benar-benar akan terjadi.


"Bisakah Paman Vanir membuatkan surat delegasi ke kerajaan-kerajaan lain di Benua Isla? Aku ingin menemui Raja dari masing-masing kerajaan," ucap Daru.


Raja Vanir terdiam sesaat sebelum berkata, "Itu tidaklah tidak mungkin, tapi ...."


"Tapi?" sahut Daru.


"Aku tidak yakin surat delegasi dariku bisa berpengaruh ke semua kerajaan. Setelah peperangan antara Kerajaan Resia dan Kerajaan Vradarian, hubungan kedua kerajaan benar-benar buruk, dan juga kerajaan yang jauh dari Kerajaan Resia mungkin tidak akan menganggap surat delegasi dariku penting," ujar Raja Vanir.


"Kalau begitu, Kerajaan mana saja yang Paman Vanir yakini bisa menerima surat delegasi dari Paman?" tanya Daru.


"Hmm ..., beri aku waktu untuk berpikir," jawab Raja Vanir sembari melirik ke atas.


Kenapa orang-orang selalu melirik ke atas ketika berpikir? Ada glooge di atas? ucap Daru dalam hati.


Setelah beberapa saat Raja Vanir berpikir, dia berkata, "Aku yakin Kerajaan Saria pasti mengindahkan surat delegasiku, Kerajaan Resia dan Kerajaan Saria telah menjalin hubungan ekonomi melalui Deuz River. Dan juga Kerajaan Morin, semenjak Verlin bertunangan dengan Putri Kerajaan Morin, hubungan kedua Kerajaan juga membaik."


"Berarti tinggal Kerajaan Worez, Kerajaan Karian, dan Kerajaan Vradarian yang menjadi masalah. Apakah Paman punya ide?"


"Hmm ..., untuk Kerajaan Karian dan Kerajaan Worez, kau bisa meminta surat delegasi dari Kerajaan Morin, dan untuk Kerajaan Vradarian, Kerajaan Saria mungkin dapat membantu. Aku akan menulis surat pribadi kepada kedua Raja agar mereka membantumu membuatkan surat delegasi," Raja Vanir bangkit dan mengambil beberapa kertas, pena, dan sebuah stempel Kerajaan.


"Haha, kalau begitu aku akan merepotkan tangan tua Paman Vanir," ucap Daru terkekeh.


"Hahaha, tangan tua ini masih bisa merobohkan pohon dalam beberapa kali ayun, kau tahu?" Raja Vanir ikut tertawa menanggapi candaan Daru.


"Ya ya, aku percaya. Jika aku berkata sebaliknya, kau pasti akan mencoba membuktikannya dengan memukul sebuah pohon besar. Aku takut tanganmu akan kesakitan dan surat delegasiku tidak akan selesai, hahaha." Daru tertawa semakin keras.


"Hahaha, kau benar-benar menarik. Sudah lama sekali tidak ada yang mengejekku seperti ini, karena orang terakhir yang mengejekku, aku eksekusi secara publik," balas Raja Vanir dengan enteng.


"Oke, kau menang." Daru langsung memasang ekspresi datar.


Raja Vanir tertawa melihat reaksi Daru. Dia pun segera menulis surat delegasi dan surat pribadi untuk Kerajaan Saria dan Kerajaan Morin.


"Selesai. Lalu, apa permintaan terakhirmu?" tanya Raja Vanir setelah menyelesaikan surat delegasi sesuai permintaan Daru.

__ADS_1


"Aku kemari hanya untuk permintaan ketiga. Biarlah permintaan keempatku menjadi hutang, hahaha," jawab Daru sembari mengambil empat gulungan berpita emas.


"Hahhh, kau selalu saja seperti itu," ucap Raja Vanir menghela nafas.


"Oh, kalau kau sudah tiba di Kerajaan Morin, temui Verlin jika kau butuh bantuan, dia ada di sana untuk menemui pujaan hatinya," tambah Raja Vanir.


"Kapan mereka berdua menikah?" tanya Daru.


"Mereka berdua belum menentukan kapan mereka akan menikah, aku dan Raja Kerajaan Morin sepakat untuk tidak memaksa mereka mempercepatnya. Ngomong-ngomong, kau dan Frey kapan menikah?" Raja Vanir melempar pertanyaan mematikan kepada Daru.


"Uhuk uhuk." Daru berpura-pura batuk untuk mengulur waktu agar dia dapat mencari topik lain untuk pengalihan.


"Kalian berdua memang cocok," ucap Raja Vanir.


"Uhuk uhuk uhuk." Daru memperkeras suara batuknya.


"Nikahi dia sebelum ada orang lain yang mendahuluimu." Raja Vanir memberi wejangan. Namun, itu justru memperburuk suasana hati Daru.


Orang lain mendahuluiku. Kalau dipikir-pikir, aku hanya membuat Frey kesusahan, bahkan dulu dia hampir mati karenaku. Hahh, dua dunia dan aku masih tidak beruntung dengan percintaan, pikir Daru sembari mengusutkan wajahnya.


"Kenapa ekspresimu seperti itu, Daru?" tanya Raja Vanir keheranan. Apakah aku mengatakan hal yang salah? pikirnya.


"Tidak apa-apa, Paman Vanir. Yah, mungkin itu sudah terjadi." Ekspresi Daru bertambah buruk.


"A-apa yang sudah terjadi?" tanya Raja Vanir.


"Ahaha, aku akan kembali ke Bukit Sarren, mungkin tidur seharian akan membuatku bangun dari mimpi buruk ini, ahaha," ucap Daru dengan ekspresi penuh kekosongan.


Daru langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan ruangan.


Raja Vanir melongo karena baru pertama kali melihat Daru seperti itu.


Apa yang terjadi antara dia dan Frey? Sudah terjadi ..., sudah terjadi ..., jangan-jangan orang lain sudah mendahului Daru? Anak muda yang malang .... Rennesia belum memiliki pasangan, kan? pikir Raja Vanir.


....


Frey saat ini berada di samping portal teleportasi di Moon City untuk mencegat Daru dan menjelaskan semuanya.


"Ada urusan apa Daru ke istana? Apakah menyangkut Bukit Sarren? Kenapa dia tidak memberitahuku lebih dulu? Apakah dia sudah tidak membutuhkanku?" gumam Frey cemas.


Tiba-tiba seorang pria berambut hitam dan memiliki postur tubuh kekar mendekati Frey.


"Yo, Frey!" sapa Pria itu.


Pria itu adalah Ron, petualang peringkat atas yang memiliki gelar setara dengan Frey. Mereka berdua adalah teman akrab semenjak Ron menikahi sahabat Frey yang juga seorang petualang, Elise.


"Kabar kami berdua baik-baik saja, bagaimana denganmu? Kudengar kemarin Chris melamarmu dan kau tolak mentah-mentah, hahaha," ucap Ron.


"Kabarku juga baik-baik saja. Dan ya, aku sudah memiliki pasangan, jadi aku menolaknya," balas Frey.


"Aku terkejut ketika mendengar kau benar-benar jatuh hati kepada seorang pria. Ratu Es Asosiasi Petualang ternyata sudah menjadi cair. Hahaha," ucap Ron tertawa lantang.


"Kau ini ada-ada saja, Ron. Aku itu selalu hangat," balas Frey.


Julukan Ratu Es memang lekat dengan nama Frey. Julukan itu diberikan padanya karena dia selalu dingin saat bersosialisasi dengan petualang lain, bukan karena sifatnya, melainkan dia sangat-sangat fokus untuk segera membebaskan kedua orangtuanya dulu. Kebahagiaannya selalu dia kesampingkan demi mendapatkan uang tebusan.


"Hangat? Hahaha. Aku juga mendengar orangtuamu sudah bebas, aku turut berbahagia untukmu," ucap Ron.


"Ya, mereka berdua sudah bebas. Ayo, akan kukenalkan pada mereka berdua," ajak Frey sembari menarik tangan Ron.


Ron mengikuti Frey masuk ke dalam rumahnya. Tanpa mereka berdua sadari, seorang pria tengah mengamati mereka berdua sejak tadi.


"Ahaha, apa itu Chris? Ahaha, dia membawa Chris menemui orangtuanya. Ahaha." Pria itu adalah Daru. Walaupun dia memiliki pendengaran yang hebat, tetapi karena tempat di sekitar Daru sangat ramai, dia tidak bisa mendengar satupun perbincangan mereka berdua.


Daru menundukkan kepalanya sembari berjalan menuju portal teleportasi setelah melihat Frey dan Ron memasuki rumah. Daru tidak ingin menguping pembicaraan mereka berdua dengan kedua orangtua Frey karena dia enggan menambah rasa sakit di hatinya.


"Home sweet home, rumah manis rumah," gumam Daru ketika tiba di Bukit Sarren.


Setelah dia menata kembali hatinya, Daru berjalan menuju Restoran Bintang Biru untuk menemui Lyd.


"Dimana Nona Lyd berada?" tanya Daru kepada salah satu pelayan restoran.


"Tunggu sebentar, Tuan Daru, akan saya panggilkan," ucap pelayan itu.


"Tidak usah, katakan saja padanya untuk membuka yang bawah," ucap Daru sebelum pergi ke Bar Bull's Horn.


Pelayan restoran langsung mengerti maksud Daru, dia pun berlari menuju ruangan Lyd untuk menyampaikan pesan Daru.


Sementara itu, Daru telah masuk ke dalam Bar Bull's Horn.


"Tolong panggilkan Tuan Klein," pinta Daru kepada salah satu karyawan bar.

__ADS_1


"Bawah atau atas, Tuan Daru?" tanya karyawan itu.


"Bawah," jawab Daru singkat.


Karyawan itu memberi kode ke karyawan lain untuk mengantar Daru ke lantai bawah, sedangkan dirinya akan memanggil Klein.


Daru pun mengikuti karyawan yang bertugas mengantarnya, walaupun Daru tahu lokasi pintu yang menuju bawah tanah, dia membiarkan karyawan itu mengantarnya.


Diberi penghormatan seperti ini bukanlah sesuatu yang buruk, pikir Daru.


Begitu dia tiba di lantai bawah, orang-orang berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng langsung menyambut Daru dengan membungkuk. Mereka adalah para pembunuh bayaran yang tergabung dalam kelompok Black Minotaur. Daru membalas sambutan mereka dengan mengangguk ringan sebelum duduk di salah satu kursi.


Beberapa saat kemudian, Klein datang. Klein mengetahui tentang kunjungan Daru ke Restoran Bintang Biru sebelum datang kemari, maka dari itu Klein langsung menuju pintu yang menghubungkan ruang bawah tanah kedua belah pihak dan membuka kuncinya.


Ceklak


Krek


Klein membuka pintu itu dan mendapati Lyd yang sudah berdiri di balik pintu. Klein memberi isyarat kepada Lyd untuk melewati pintu. Setelah itu, Klein menutupnya kembali.


Mereka berdua berjalan mendekati Daru dan duduk di depannya.


"Selamat sore, Nona Lyd, Tuan Klein," sapa Daru.


"Selamat sore, Tuan Daru. Ada keperluan apa?" tanya Klein. Lyd, yang ada di sampingnya hanya mengucapkan sapaannya sembari mengangguk.


"Saya membutuhkan bantuan dari organisasi kalian berdua," jawab Daru.


Lyd mengangkat alisnya dan bertanya, "Bantuan untuk menyingkirkan pesaing Anda, Tuan Daru?"


"Jangan bahas itu, saya sudah merelakannya, hahaha," ucap Daru berpura-pura sabar.


"Lalu, bantuan apa, Tuan Daru?" tanya Lyd lagi.


"Saya akan meninggalkan Bukit Sarren selama beberapa bulan. Saya meminta tolong kepada organisasi kalian berdua untuk melindungi Bukit Sarren," jawab Daru.


Lyd dan Klein terkejut setelah mendengar perkataan Daru. Lyd bertanya, "Kemana Anda akan pergi?"


"Saya akan pergi ke seluruh kerajaan di Benua Isla dan menanam portal teleportasi di setiap ibukota."


Lyd dan Klein mengangguk penuh semangat.


Semakin banyak portal teleportasi, semakin banyak pelanggan yang datang, pikir Klein.


"Nona Lyd, saya ingin organisasi Anda mencari informasi tentang gerakan-gerakan mencurigakan yang berpotensi membuat masalah di Bukit Sarren. Serahkan informasi itu ke Tuan Klein dan biarkan Black Minotaur yang mengurusnya. Tetapi, jangan langsung bunuh, peringatkan terlebih dahulu," tambah Daru.


Keduanya mengangguk sekali lagi.


"Untuk bayarannya, saya tidak akan mengambil bagian keuntungan saya selama saya pergi."


"Baik, Tuan Daru. Ada tiga puluh anggota siap tempur di Black Minotaur saat ini. Saya pastikan tidak akan ada yang berani menyentuh Bukit Sarren," ucap Klein bangga.


"Saya akan menyebar anggota Third Eye ke seluruh Kerajaan Resia, saya pastikan tidak akan ada informasi yang luput dari kami," sahut Lyd.


"Terima kasih. Satu lagi, jika ada situasi berbahaya yang terjadi di Bukit Sarren, masuklah ke lantai bawah tanah toko saya, itu dijamin aman selama pintu di atasnya tertutup. Kalau begitu, saya akan kembali ke toko saya. Kemungkinan, besok saya akan memulai perjalanan," ucap Daru sebelum beranjak pergi.


Klein dan Lyd saling tatap sejenak.


"Kita harus memastikan keamanan Bukit Sarren. Jika kita gagal, aku takut Tuan Daru akan mengusir kita dari Bukit Sarren," ucap Lyd.


"Ya, kau benar. Aku akan mengerahkan lebih banyak pembunuh. Pastikan informasimu akurat," balas Klein.


Lyd tersenyum dan mengangguk sebelum pergi menuju ruang bawah tanah restorannya.


Daru pun tiba di tokonya, ketika dia melangkahkan kakinya ke dalam, Shera langsung berlari dan memeluknya.


"Bos! Maafkan aku! Huaaa," teriak Shera sembari menangis.


"Ada apa?" tanya Daru keheranan. Daru memandang wajah karyawannya dan menyadari ekspresi mereka sedikit buruk.


"Ini semua salahku! Hukum aku, Bos!" teriak Shera terus menangis.


Daru kemudian menyapu pandangan ke arah tiga pelanggan yang tengah berbaris mengantri dan memberi isyarat kepada mereka untuk keluar.


Para pelanggan pun menyadari ada sesuatu yang salah dan pergi tanpa keluhan.


"Ceritakan apa yang terjadi," ucap Daru setelah para pelanggan pergi.


Daru menuntun Shera untuk duduk di depan konter.


"Bos, sebenarnya ...." Shera menjelaskan tentang percakapannya dengan Frey sebelumnya. Dia berpikiran bahwa sarannya telah membuat Frey memilih Chris daripada Daru.

__ADS_1


"Hahh ..., begitu rupanya. Tadi aku melihat Frey sedang menarik tangan seorang pria masuk ke dalam rumahnya. Mungkin pria itu adalah Chris, dan tujuan Frey melakukannya adalah untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka berdua dengan orangtua Frey. Yahh, lebih baik merelakan daripada membuat seseorang tersiksa karena melakukan hal yang berlawanan dengan hatinya," ujar Daru berpura-pura merelakan, padahal, Aku ingin mati, ahahaha, mati lebih baik daripada melihat Frey berkeluarga dengan pria lain, ahaha, pikirnya.


Semua karyawan Daru yang ada di sana tertunduk lemas. Walaupun Daru berkata demikian, tetapi mereka tahu hati Daru saat ini benar-benar hancur.


__ADS_2