Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Siang hari, Bukit Sarren.


Sebuah benda tengah melayang dan perlahan turun dari langit di atas Bukit Sarren. Benda itu pun menarik perhatian para pelanggan Daru, ada yang melihat dari jauh, ada juga beberapa orang yang berdiri tepat di bawah benda itu, berharap dapat menangkapnya ketika jarak benda itu dengan tanah cukup dekat.


Ketika orang yang berada di bawah benda itu mengulurkan tangan mereka ke atas, sebuah suara terdengar, membuat mereka menghentikan usaha mereka.


"Mundur, itu adalah properti milik Bukit Sarren." Suara itu datang dari seorang wanita dengan baju zirah berwarna gelap, wanita itu adalah Rena.


Orang-orang yang berada di bawah drone pun menyerah dan memberi ruang kepada Rena.


Rena pun mendekat dan meraih drone itu.


"Benda apa itu, Nona?" tanya salah satu pengunjung Bukit Sarren.


"Ini ..., burung?" ucap Rena sembari mengusap drone itu, berusaha membuat orang-orang di hadapannya percaya bahwa itu adalah burung. Sebenarnya, Rena juga tidak tahu apa itu, dia hanya diberi perintah oleh Daru untuk mengambil benda terbang yang dilihat Rena dan yang lainnya semalam.


"Mana sayapnya?" tanya pengunjung yang sama.


"Umm, kurasa empat ini," ucap Rena sembari menunjuk baling-baling yang ada di sudut Drone.


"Hoooo," ucap semua orang yang berada di sekitar Rena.


"Bagaimana suara kicauannya?"


"Apa makanannya?"


"Makanan? Bagaimana cara dia makan? Aku tidak melihat paruhnya."


Rena dibombardir dengan pertanyaan-pertanyaan penasaran dari para pengunjung Bukit Sarren.


"Ummm, tanyakan kepada Gordon dan Rei di sana, mereka yang biasanya mengurus burung ini," ucap Rena mencoba lari dari pertanyaan-pertanyaan itu.


Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, para pengunjung Bukit Sarren yang sebelumnya berada di sekitar Rena berbondong-bondong mendatangi Gordon dan Rei yang tengah berjaga di depan portal teleportasi.


Gordon dan Rei pun kebingungan ketika melihat banyak pengunjung Bukit Sarren menghampiri mereka.


"Ada masalah?" tanya Gordon kepada pengunjung.


"Nona Rena berkata bahwa kalian berdua yang mengurus burungnya," jawab salah satu pengunjung.


Gordon dan Rei saling berpandangan karena di dalam kepala mereka berdua, hal-hal kotor bermunculan.


"Umm, Re-Rena punya burung?" tanya Rei.


"Ya, dia baru saja memegang dan mengelusnya. Kami ingin bertanya tentang bagaimana merawat burungnya."

__ADS_1


Gordon dan Rei tersedak nafasnya sendiri karena mendengar ucapan salah satu pengunjung.


Gordon meraih bahu Rei dan berbisik, "Rena seorang wanita, kan?"


"Aku yakin dia adalah seorang wanita," jawab Rei dengan berbisik.


"Tapi, pengunjung melihatnya tengah memegangi dan mengelus burungnya. Jika maksud mereka adalah hewan, tetapi tidak ada burung di Bukit Sarren. Kau yakin dia wanita?" tanya Gordon lagi.


Rei diam tak menjawab.


"Kesampingkan masalah lingkaran mana, fisiknya cukup kuat, dan dadanya ..., datar," tambah Gordon.


"Astaga, aku pernah tertarik secara nafsu kepadanya!" sentak Rei.


Dan begitulah, sebuah rumor yang menyatakan bahwa Rena adalah seorang pria mesum yang bermain dengan burungnya di depan publik tersebar di antara karyawan Daru.


....


"Bos," ucap Rena setelah mengetuk pintu lantai dua atas.


"Masuk," ucap Daru yang sudah menunggu kedatangan drone-nya.


Rena pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Kembali ke tempatmu," jawab Daru.


"Baik," ucap Rena sebelum pergi ke lantai satu atas, tempat dia berjaga.


Daru memandangi smartphone-nya untuk melihat hasil yang dibawa oleh drone itu.


"Kerajaan Saria benar-benar kaya," gumam Daru setelah melihat hasil deteksi di wilayah Kerajaan Saria.


Terdapat banyak sekali titik-titik solid yang tersebar di seluruh Kerajaan Saria. Bukan hanya emas, mineral-mineral lain pun terdeteksi di sana.


Daru pun menandai lokasi-lokasi yang terdapat kandungan mineral berharga di seluruh Benua Isla, mulai dari emas, perak, beberapa logam kuat, dan batu-batuan mulia.


"Ah, aku tidak sabar untuk mengeksploitasi semua ini," gumam Daru dengan tersenyum lebar.


Tiba-tiba, pintu di ruangan terbuka, menampilkan sosok yang sangat indah di mata Daru, Frey.


"Daru, Raja Vanir kemari," ucap Frey dengan nada tergesa-gesa.


Daru mengangkat kedua alisnya karena terkejut. Daru mengetahui bahwa tidak ada alasan Raja Vanir mengunjungi Bukit Sarren hari ini.


"Antar Beliau kemari," ucap Daru.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Raja Vanir memasuki ruangan, diikuti Frey yang berjalan di belakangnya.


Daru pun berdiri dan berkata, "Silahkan duduk, Paman."


Raja Vanir mengangguk dan berjalan menuju sofa yang berada di hadapan Daru, sedangkan Frey duduk di samping Daru.


"Ada ap-" Belum selesai Daru berkata, Raja Vanir meletakkan sebuah gulungan kertas di atas meja.


"Itu adalah sertifikat kepemilikan lahan 4 km dari dinding Bukit Sarren," ucap Raja Vanir setelah meletakkan gulungan tersebut.


Daru dan Frey tersentak kaget, pasalnya, apa yang dilakukan Raja Vanir saat ini bertolak belakang dengan apa yang dia sampaikan kemarin.


Daru dan Frey menyadari ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang mendasari keputusan Raja Vanir saat ini.


"Bagaimana dengan Dewan? Bukankah Paman khawatir dengan Dewan?" tanya Daru.


"Oh, tak apa. Aku sudah berunding dengan Dewan, dan mereka semua setuju. Bagaimanapun, kau telah melakukan banyak hal untuk Kerajaan Resia," jawab Raja Vanir.


Jawaban itu malah membuat Daru dan Frey berpikir lebih keras.


Karena Frey dan Daru diam terlalu lama, Raja Vanir pun berkata, "Aku akan kembali ke Istana, ada hal penting yang harus aku urus."


Ucapan Raja Vanir membuat Daru dan Frey kembali sadar. Daru pun berkata, "Ah, terima kasih Paman, seperti yang aku bilang kemarin, aku akan menukar wilayah itu dengan dua permintaan. Dengan begini, Paman sudah tidak berhutang lagi padaku."


"Haha, tidak usah, anggap saja itu kontribusi Kerajaan Resia kepadamu," balas Raja Vanir.


Tanpa berpiki lagi, Frey berdiri dan mengantar Raja Vanir keluar dari ruangan, meninggalkan Daru sendirian.


Tak berselang lama, Frey pun kembali. Setelah menutup pintu ruangan, Daru langsung berkata, "Katakan apa yang ada di pikiranmu saat ini."


"Aku sudah cukup lama mengetahui pribadi Raja Vanir. Dia bukan orang yang menarik kata-katanya," ucap Frey sembari mendekati Daru dan duduk di sampingnya.


"Kau benar, itulah mengapa aku berencana untuk menyuap para Dewan jika rencana pertukaran gagal," balas Daru.


"Ditambah, Paman Vanir berkata bahwa Beliau sudah berunding dengan Dewan. Menurut kata-katanya kemarin, Paman Vanir khawatir akan dicap sebagai Raja yang buruk jika beliau mengabulkan keinginanku. Tidak mungkin bagi beliau untuk mengangkat masalah itu kepada Dewan jika beliau masih khawatir. Pasti ada sesuatu yang terjadi kepada Paman Vanir dan para Dewan," tambah Daru.


"Hmm, kau meminta wilayah untuk menampun ras non-manusia dari Dark Plain, kan? Jika memang informasi itu bocor, seharusnya Raja Vanir tidak akan mempermudah itu. Bagaimanapun, anggapan bahwa ras non-manusia adalah monster masih ada," ucap Frey.


Daru mengerutkan alisnya karena kata-kata Frey adalah benar adanya.


"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?"


(note: Kenapa Author tidak jadi update pada tanggal 10 Des? Author mencari bahan dan mempelajari materi tentang ekonomi, psikologi, sosiologi, dan lainnya. Walaupun novel ini adalah novel fantasi, Author ingin menjadikannya se-relate mungkin dengan kenyataan. Maafkan Author, uwu.


diosn~)

__ADS_1


__ADS_2