
"Bar Bull's Horn telah dibuka! Ada menu eksklusif Bukit Sarren! Siapa cepat, dia dapat!" teriak salah satu karyawan bar dengan lantang.
Pelanggan yang mengantri di depan toko pun dapat mendengarnya dengan jelas. Mereka mulai mengalihkan pandangannya ke arah karyawan Bar Bull's Horn yang berteriak di depan bar.
"Bar Bull's Horn memiliki menu eksklusif Bukit Sarren? Aku ingin mencobanya!" teriak salah pria yang mengantri sebelum mulai berlari menuju bar.
Banyak orang yang mengikuti pria itu untuk mencoba minuman baru Bar Bull's Horn, membuat antrian menjadi sedikit longgar.
"Efeknya tidak terlalu banyak," gumam Daru yang melihat antrian di depan tokonya sedikit berkurang.
"Apa aku harus membuat toko baru agar pelanggan-pelangganku tidak terlalu lama mengantri? Atau aku harus menambah hal menarik lain di sini?"
Saat ini Daru berada di belakang konter untuk membantu Frey menjaga ketersediaan barang di etalase. Walaupun dengan adanya tiga konter membuat pelayanan lebih cepat, tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk memperpendek antrian yang begitu panjang.
Aku harus menemui Lima Keluarga Bangsawan untuk mengundang mereka kemari. Tetapi keadaan toko benar-benar sibuk, pikir Daru.
Bip
Hati Daru tiba-tiba merasa gembira ketika mendengar bunyi alat pendeteksi suhu tubuh dan melihat seorang pria yang memakai pakaian berwarna hitam dan sebuah topeng berbentuk kepala gagak masuk ke dalam toko.
Aku hampir melupakannya! teriak Daru dalam hati.
Daru pun mendekati pria itu dan berkata, "ikuti aku ke lantai dua."
Pria itu mengangguk dengan pasrah sebelum berjalan mengikuti Daru. Yang tidak Daru sadari adalah, semua orang yang melihat pria itu menggigil ketakutan, kecuali Frey.
Frey tahu bahwa pria itu sudah menandatangani kontrak darah budak dengan Daru, membuat Frey lebih tenang daripada yang lain.
"Bukankah dia si Gagak Hitam?" tanya Shera kepada Sylph yang ada di sampingnya.
"Kau benar, apa yang dilakukannya di sini? Dan bagaimana keamanan Bos Daru?" balas Sylph.
Sylph pun memandang Rena yang berdiri ketakutan.
"Pastikan keamanan Bos," ucap Sylph kepada Rena.
Rena yang masih menggigil ketakutan menganggukkan kepalanya dan berjalan menyusul Daru.
Ketika sampai di depan pintu, Rena tidak mendengar apapun dari dalam ruangan, membuatnya memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi kepada bosnya. Tanpa berpikir lebih lama, Rena mendobrak pintu dan berteriak, "Bos! Kau tidak apa-apa?"
Rena langsung terdiam ketika melihat pemandangan di depannya.
"Kenapa kau kemari?" tanya Daru kebingungan.
"Saya diminta oleh Sylph untuk memastikan keamanan Bos, tapi ...." Rena mengalihkan pandangannya ke arah Gagak Hitam yang saat ini sedang bersujud di depan Daru.
"Oh, kau bisa kembali ke posisimu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sini," ucap Daru yang menyadari maksud Rena.
"Baik, Bos!" Rena segera kembali ke lantai satu atas dan menuju posisinya.
"Bangkit dan duduklah di sofa," ucap Daru kepada Gagak Hitam.
"Baik!" Gagak Hitam segera menuruti perintah Daru. Dia sudah tidak ingin merasakan rasa sakit di tubuhnya saat dia tidak menjalankan perintah Daru, membuatnya segera melakukan apa yang Daru katakan.
"Ceritakan padaku tentang dirimu," ucap Daru.
"Nama panggilan saya adalah Gagak Hitam. Karena sebuah kutukan, saya sudah melupakan nama asli saya. Saya adalah seorang pembunuh bayaran independen dengan rekor 327 pembunuhan. Karena suatu hal, saya menjadi pengawal Keluarga Gloria," ucap Gagak Hitam memperkenalkan diri.
"Hal apa itu?" tanya Daru penasaran.
"Itu ..., Keluarga Gloria memegang kelemahan saya. Mereka menahan adik perempuan saya di tempat yang tidak saya ketahui," jawab Gagak Hitam.
"Cukup menyedihkan," gumam Daru.
"Aku akan memberimu tugas. Panggilkan semua pemimpin Lima Keluarga Bangsawan atas namaku. Katakan pada mereka untuk membawa bukti percobaan kudeta Verza Lionness. Setelah kau selesai, aku akan mencoba menyatukanmu dengan adikmu," ucap Daru memberi perintah.
"Te-terima ka-kasih!" teriak Gagak Hitam sembari berlutut.
"Ya ya, pakai kalung ini untuk menggunakan portal teleportasi secara bebas, tapi jangan kau salah gunakan," ucap Daru sembari mengulurkan kalung pengatur teleportasi.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana jika mereka menolak untuk datang?" tanya Gagak Hitam setelah menerima kalung Daru.
"Beritahukan saja kepada mereka tentang rasa sakit yang kau alami kemarin," jawab Daru dengan tersenyum lebar.
Gagak Hitam mulai mengingat rasa sakit yang dia alami kemarin hanya karena dia tidak mematuhi perintah Daru untuk berdiri. Dia menggigil ketakutan, lalu berkata, "Baik, Tuan!"
Gagak Hitam segera pergi melaksanakan perintah Daru, sedangkan Daru menuju ke lantai satu bawah untuk membantu penjualan.
....
Sore hari, Bukit Sarren.
Antrian pelanggan mulai memendek dengan kecepatan yang cukup cepat. Pelanggan yang baru datang juga tidak terlalu banyak.
"Apakah ini akan segera berakhir?" tanya Frey.
"Mungkin, antrian sudah tidak terlalu banyak," jawab Daru.
Bip bip bip bip bip bip
Daru melihat Gagak Hitam melewati pintu tokonya diikuti lima pria dengan pakaian yang mencolok.
Gagak Hitam menghampiri Daru yang berada di belakang konter. Rena menjadi waspada dan perlahan-lahan meraih gagang pedangnya.
Daru mengangkat tangan dan mengarahkan telapak tangannya ke arah Rena untuk memberi tanda agar tidak melakukan apa-apa.
"Selesai, Tuan," ucap Gagak Hitam sembari mengembalikan kalung Daru.
Banyak orang yang ada di lantai satu atas terkejut karena ucapan Gagak Hitam.
"Hah? Gagak hitam menjadikan Tuan Daru sebagai tuannya?" ucap salah satu pelanggan.
"Seberapa hebat Tuan Daru itu? Gagak Hitam yang terkenal kejam bahkan menjadi bawahannya!" sahut pelanggan lain.
Shera, Sylph, dan Ged melongo seakan tak percaya dengan fakta yang ada di depan mereka.
Tak mau menimbulkan kehebohan lebih parah, Daru segera mengantar tamunya menuju lantai dua atas. Daru juga mengajak Frey dan menyuruh Lydia yang ada di dapur untuk menggantikan pekerjaan Frey di belakang konter. Sedangkan Liz segera menyeduh delapan gelas teh untuk menjamu orang-orang yang ada di lantai dua atas.
"Sebelum kita mulai, aku ada pertanyaan untuk Kepala Keluarga Gloria, Verness Gloria. Dimana kau menyembunyikan adik perempuan Gagak Hitam?" tanya Daru.
"Sa-sa-say ti-tidak ta-hu," jawab Verness Gloria dengan ketakutan.
"Bagaimana kau tidak tahu?" tanya Daru keheranan.
"Sa-sa-saya sudah me-menjualnya sebagai bu-dak," jawab Verness Gloria dengan wajah yang semakin buruk.
Gagak hitam yang berdiri di belakang Daru menjadi marah, dia berteriak, "Pak Tua! Kau menipuku! Aku akan membunuhmu!"
Daru segera menahan Gagak Hitam yang hendak menghunuskan pisau kecilnya ke arah Verness Gloria. Daru menatap Gagak Hitam dengan mata yang dingin dan menggelengkan kepalanya. "Jangan membunuhnya," ucap Daru.
Gagak Hitam segera mengurungkan niatnya dan memasukkan pisau kecilnya ke dalam cincin dimensi.
"Kau menjualnya kepada siapa?" tanya Daru sekali lagi.
"Itu ..., Perusahaan Dagang Crec."
Gagak Hitam seperti terkena sambaran petir setelah mendengar jawaban Verness Gloria. Dia tahu tentang kegiatan ilegal Perusahaan Dagang Crec, jadi dia tahu bahwa ada kemungkinan adiknya telah dijual ke kerajaan lain.
Gagak Hitam langsung melesat ke arah Verness Gloria dan mendorongnya. Verness Gloria yang tidak siap langsung jatuh karena dorongan Gagak Hitam, kemudian Gagak Hitam menindihnya dan melakukan pukulan bertubi-tubi ke wajah Verness Gloria.
"Kau menipuku! Kau menipuku! Kau menipuku!" ucap Gagak Hitam sambil terus memukul wajah Verness Gloria.
"Am-pu-ni ... aku," ucap Verness Gloria tak berdaya.
Keempat Kepala Keluarga Bangsawan lain hanya bisa diam karena mereka tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Verness Gloria.
"Kau tidak mau menghentikannya?" tanya Frey.
"Kau mau aku menghentikannya?" balas Daru dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Tidak juga, Lima Keluarga Bangsawan telah banyak memberimu masalah," jawab Frey.
"Ya, biarkan saja seperti itu. Lagipula aku sudah memerintahkan Gagak Hitam untuk tidak membunuhnya."
Tok tok tok
Krek
Liz membuka pintu dan hendak masuk dengan satu nampan berisi delapan cangkir teh. Dia terkejut karena melihat pemandangan yang ada di depannya, seorang pria berpakaian serba hitam yang memukuli wajah seorang pria yang ditindihnya sampai hancur.
Orang itu ... Verness Gloria! ucap Liz dalam hati. Dia tidak pernah bisa melupakan wajah seseorang yang menjadikannya sebagai budak.
Semua orang menoleh ke arah Liz setelah dia mengetuk dan membuka pintu. Gagak Hitam yang tengah memukuki wajah Verness Gloria pun menghentikan pukulannya dan menoleh ke arah Liz.
Ketika Gagak Hitam melihat wajah Liz, dia terkejut bukan main.
"Li-Liz!" teriak Gagak Hitam sembari berlari ke arah Liz.
Gagak Hitam langsung memeluk Liz, membuat Liz menjatuhkan cangkir-cangkir berisi teh.
"Liz! Akhirnya aku bertemu denganmu!" Walaupun Gagak Hitam mengenakan topeng yang menutupi ekspresinya, tetapi semua orang tahu bahwa Gagak Hitam sedang menangis setelah mendengar nada ucapannya.
"A-anda si-siapa?" tanya Liz kebingungan. Liz tidak bisa mengenali suara orang yang memeluknya.
"Ini aku, kakakmu." Gagak Hitam pun membuka topengnya dan menampilkan wajahnya yang penuh bekas luka.
"Ka-kakak Drey!" Liz pun melingkarkan tangannya ke punggung Gagak Hitam dan mulai menangis.
"Ya, mungkin itu adalah namaku. Bagaimana keadaanmu, Liz?" tanya Gagak Hitam.
"Kakak! Kakak! Kakak!" Hanya itu yang diucapkan Liz.
"Ehm ..., bisakah kalian menyimpan reuni kalian untuk nanti? Jelaskan padaku," ucap Daru.
"Tuan Daru, ini adalah adikku, Liz," ucap Gagak Hitam sembari terus memeluk Liz.
"Hoo ..., kebetulan yang cukup bagus," gumam Daru.
Daru mengalihkan pandangannya ke arah Verness Gloria yang masih terkapar tak berdaya di lantai. Daru mengeluarkan ramuan penyembuh dan melemparkannya ke arah Verness Gloria.
"Minum itu dan kita akan memulai urusan kita," ucap Daru.
Verness Gloria berusaha sekuat tenaga untuk memgambil ramuan yang Daru lempar. Daru pernah memerintahkannya untuk menuruti perintah apapun darinya walaupun tidak menyebut tentang kontrak darah, membuatnya harus menuruti perintah Daru sesegera mungkin agar tidak merasakan sakit akibat kontrak darah.
Verness Gloria akhirnya berhasil menggapai ramuan penyembuhan yang Daru lempar. Dia segera membukanya dan meneguk isinya sampai habis tak tersisa.
Beberapa detik setelah meminumnya, tubuh Verness Gloria bercahaya dan luka-luka di wajahnya sembuh perlahan-lahan.
Setelah luka di wajahnya sudah sembuh sepenuhnya, Verness Gloria pun kembali duduk di sofa.
"Kalian berdua bisa melepas rindu di tempat lain," ucap Daru kepada Gagak Hitam dan Liz.
Gagak Hitam mengangguk dan membawa Liz yang masih penuh tangis menuju tempat lain.
"Mari kita mulai. Seperti yang Gagak Hitam katakan kepada kalian, aku menginginkan bukti percobaan kudeta Verza Lionness, kalian membawanya kan?" tanya Daru kepada lima Kepala Keluarga Bangsawan.
"Kami membawanya, tetapi kami tidak tahu apakah bukti yang kami miliki adalah bukti yang kuat," ucap Kepala Keluarga Florenssia, Mikhael Florenssia.
"Tak apa, serahkan saja semua bukti yang ada. Frey, tolong pergilah ke Moon City dan panggil Paman Vanir kemari, katakan padanya bahwa Lima Kepala Keluarga Bangsawan telah tiba di Bukit Sarren," ucap Daru memberi perintah kepada Frey.
"Baik, beri aku hadiah, nanti," ucap Frey sebelum pergi menuju portal teleportasi.
Kelima Kepala Keluarga Bangsawan mematung penuh kekhawatiran karena Daru mengundang Raja Vanir.
"Tu-tuan Daru, a-apakah ka-kami akan dihukum?" tanya Kepala Keluarga Berlis, Kyle Berlis.
"Tenang saja, Paman Vanir tidak akan menghukummu," jawab Daru.
Mendengar ucapan Daru, kelima Kepala Keluarga Bangsawan menunjukkan ekspresi penuh ketenangan, sampai mereka mendengar ucapan Daru selanjutnya.
__ADS_1
"Karena hanya aku yang bisa menghukum kalian, dan hukuman dariku lebih buruk dari kematian," ucap Daru dengan ekspresi menyeramkan.