
Alis Daru mengerut seakan tak percaya dengan kata-kata Sergio, Daru pun berkata, "Kau yang memanggilku? Apa tujuanmu?"
"Tujuanku ada-" Ekspresi Sergio berubah menjadi buruk sebelum menyelesaikan kata-katanya.
"Ada apa?" tanya Daru.
"Tubuh ini sebentar lagi akan mati, tetaplah lurus dan temui aku di Desa." Sergio mengeluarkan sebuah alat mirip smartphone dan dia menghilang setelah menekan beberapa tombol.
"Teleportasi?" gumam Daru ketika melihat Sergio menghilang.
Bagaimana cara dia berteleportasi di tempat tanpa mana? pikir Daru.
"Aku tidak punya pilihan lain selain menemuinya," gumamnya sebelum melangkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan Sergio.
Malam pun mulai larut dan beberapa kali Daru hampir terjatuh karena kantuk yang menyerangnya. Dia tidak menggunakan tenda yang dibelinya dulu saat pertama kali menginjakkan kakinya di Benua Isla karena yang dia tahu adalah Dark Plain merupakan rumah monster, membuatnya merasa was-was jika tidur.
Daru memaksakan kakinya untuk terus melangkah walaupun kepalanya sudah dipenuhi halusinasi-halusinasi yang memaksanya untuk menutup mata dan tidur. Perjuangan Daru pun berakhir ketika dia sudah tidak sanggup lagi berjalan.
Bruk
Daru jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri, dia tertidur.
....
Hawa panas menyengat wajah Daru yang masih terlelap. Karena merasa sangat tidak nyaman, Daru membuka matanya dan menyadari bahwa hari telah berganti.
Ketika Daru sudah mendapatkan kembali kesadarannya, dia teringat bahwa saat ini dia sedang berada di Dark Plain. Adrenalin Daru pun meninggi dan dengan segera mengambil pistol laser dari cincin dimensinya. Dia dengan panik mengarahkan moncong pistol itu ke segala arah, mencoba mencari tahu apakah ada monster disekitarnya.
Setelah memastikan tidak ada satupun makhluk disekitarnya, Daru menghela nafas panjang dan kembali memasukkan pistol lasernya ke dalam cincin dimensi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Daru berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Tanpa dia sadari, dua pasang mata telah memperhatikannya dari tadi.
"Apakah dia orangnya?" tanya salah satu sosok yang memperhatikan Daru.
"Aku yakin. Kau bisa merasakan lingkaran mana orang itu? Sungguh mengerikan," jawab sosok lain yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa yang kau rasakan?"
"Aku merasakan hawa panas ketika mencoba merasakan lingkaran mananya. Itu bukanlah panas dari sembarangan api, itu seperti Dewanya api," jawab sosok itu dengan sedikit bergidik ketakutan.
Sosok lain yang mendengarnya hanya bisa memasang ekspresi terkejut, dia pun berkata, "Tuffa, apakah kita bisa mempercayakan nasib kaum kita kepadanya?"
"Kata-kata Tuan Sergio tidak pernah salah. Apakah kau meragukan Tuan Sergio, Dior?" tanya sosok yang dipanggil Tuffa dengan nada yang tajam.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya terlalu memikirkannya. Mari kita ikuti dia, kita pastikan dia menginjakkan kakinya di desa dengan selamat," ucap Dior sebelum bergerak dengan sangat hati-hati mengikuti Daru.
Tuffa mengangguk dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Dior.
Kembali ke Daru yang tengah berjalan dengan kesusahan.
Sial! Aku tidak memiliki tenaga karena kurang tidur! umpat Daru dalam hatinya.
Daru berjalan dengan menyeret-nyeret kakinya, tangannya memegangi pohon-pohon di sekitarnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Setelah beberapa lama berjalan seperti itu, Daru merasa tidak kuat lagi untuk berjalan, dia pun memutuskan untuk beristirahat.
Ditengah istirahatnya, Daru memeriksa smartphone-nya, memeriksa apakah ada sinyal yang tertangkap oleh benda kecil itu. Namun, kondisi benda itu masih sama seperti hari sebelumnya, tanpa sinyal.
Ketika Daru mematikan layar smartphone-nya, dua sosok dibelakang Daru tertangkap oleh matanya dari pantulan layar smartphone. Dengan segera, Daru mengeluarkan pistol dimensinya dan mengarahkan moncong pistol itu ke arah belakang.
"Keluar dengan tangan di atas kepala!" teriak Daru sembari berusaha mencari tahu posisi dua sosok itu berada.
Tak berselang lama, dua orang yang memakai jubah berwarna hijau daun menampakkan diri kepada Daru dengan mengangkat kedua tangan.
"Siapa kalian?" tanya Daru tanpa mengendurkan kewaspadaannya.
Kedua orang itu melepaskan kerudung jubahnya, menampakkan keseluruhan wajah mereka. Perhatian Daru tertuju pada kedua daun telinga mereka yang panjang dan runcing. Kata "Elf" pun muncul di pikiran Daru.
"Tolong maafkan ketidaksopanan kami berdua. Nama saya adalah Tuffa, sedangkan pria yang ada di samping saya adalah Dior. Kami berdua adalah penjaga desa yang ditugaskan oleh Tuan Sergio untuk memastikan keselamatan Anda," ucap salah satu sosok yang Daru yakini adalah seorang perempuan, dari nada suara dan karakteristik tubuhnya.
"Sergio yang mengirim kalian? Buktikan," ucap Daru yang masih belum sepenuhnya percaya.
"Bukti seperti apa yang Anda inginkan, Tuan?" tanya pria yang bernama Dior.
Daru diam sejenak untuk memikirkan bukti apa yang cukup kuat untuk menunjukkan bahwa mereka berdua benar-benar utusan Sergio.
Sebuah lampu bohlam menyala dengan terang di kepala Daru, dia pun berkata, "Sebutkan tempat asalnya."
Kedua Elf itu, Tuffa dan Dior, saling memandang sebelum Tuffa menjawab, "Sebuah tempat yang disebut Niberu. Maafkan saya, Tuan, saya tidak terlalu tahu mengenai tempat itu."
Jawaban Tuffa membuat Daru mulai melepas kewaspadaannya dan memasukkan pistol lasernya ke cincin dimensi.
"Dimana dia sekarang?" tanya Daru.
"Tuan Sergio sedang melakukan sesuatu yang penting di luar tembok, kami tidak tahu hal penting apa yang beliau maksud," jawab Dior.
__ADS_1
Mengapa dia pergi setelah mengundangku datang? pikir Daru.
"Apakah desa yang dimaksud Sergio masih jauh?" tanya Daru.
"Tidak, Tuan, desa kami berjarak sekitar 3 jam berjalan kaki dari tempat ini."
Daru ingin segera melanjutkan perjalanan dan sampai di desa yang disebutkan Sergio lebih awal, namun rasa lelahnya tak kunjung hilang. Dia pun memutuskan untuk tidur sebentar setelah meminta Dior dan Tuffa untuk mengawasinya.
....
Sementara itu, seorang pria tua muncul di Bukit Sarren. Tidak seperti orang lain yang masuk ke kawasan Bukit Sarren dengan portal teleportasi, pria tua itu tiba-tiba muncul di sana. Tidak ada mata yang menangkap kejadian itu, hanya pria tua itu saja yang tahu.
Pria tua itu berjalan memasuki toko Daru dan langsung membuka mulutnya ketika kakinya menginjak lantai toko.
"Apakah ada yang bernama Frey?" ucap pria tua itu.
Frey yang tengah berada di belakang konter dengan ekspresi lesunya pun terkejut dengan ucapan tiba-tiba pria itu.
"Saya yang bernama Frey, apa ada yang bisa saya bantu?" Walaupun Frey mengucapkannya dengan bahasa sopan, sorot matanya menampakkan kewaspadaan terhadap pria itu.
"Ya, bisakah aku berbicara empat mata denganmu? Ada hal yang ingin kubicarakan mengenai 'mendiang' Daru." Pria itu menekankan kata "mendiang" sebagai umpan untuk menarik Frey.
"Ikuti saya ke lantai dua," ucap Frey sebelum berjalan dengan ekspresi yang menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
Pria itu pun mengikuti Frey dan tiba di ruangan di lantai dua. Setelah tiba, Frey menutup pintu dan dengan tiba-tiba, Frey menghunuskan pedangnya lalu menempelkan mata pedangnya ke leher pria itu.
"Siapa kau? Dan darimana kau tahu bahwa Daru masih hidup?" tanya Frey dengan tatapan penuh ancaman.
"Namaku Sergio, aku kesini membawa kabar tentang Daru," jawab Pria itu dengan senyuman.
Frey segera menarik pedangnya dan berkata, "Kabar tentangnya yang tengah berduaan dengan kekasihnya? Aku sudah tahu!"
"Bukan," jawab Sergio.
"Lalu apa?" tanya Frey dengan kesal.
"Dia saat ini berada dalam kondisi yang membuatnya tidak dapat kembali ke Bukit Sarren, cukup berbahaya. Daru bisa kembali ke Bukit Sarren dalam beberapa hari lagi. Dia memintaku untuk memberitahumu tentang ini, tapi nampaknya apa yang kau pedulikan bukanlah keselamatan kekasihmu yang tidak pulang-pulang dari kemarin. Yah, itu bukan urusanku. Sampai jumpa," ucap Sergio sebelum mengeluarkan alat teleportasi kecilnya dan menghilang.
Ekspresi Frey berubah menjadi buruk, seburuk-buruknya.
Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada Daru. Aku pastikan, rencanaku tidak akan gagal kali ini, pikir Sergio yang telah berada sangat jauh dari tempat sebelumnya, Bukit Sarren.
__ADS_1
(Next chapter: Insiden Dark Plain dan Sejarah Sergio.)