Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Aku Membuat Kalian Lebih Kuat


__ADS_3

Tok tok


Suara ketukan pintu membuat Keempat orang di dalam ruangan terdiam.


"Bos, maaf mengganggu. Dua perusahaan dagang telah tiba." Suara Sylph terdengar dari balik pintu.


"Kami berdua akan pulang, Daru. Kau bisa urus bisnismu tanpa gangguan," ucap Raja Vanir.


"Kalau begitu biar aku antar kalian berdua," ucap Daru sebelum beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan keluar dari ruangan diikuti Frey dan dua orang lainnya.


...


"Yang mulia!" Semua orang di lantai satu atas berlutut ketika melihat Raja Vanir dan Putri Rennesia melewati mereka.


"Berdirilah," perintah Raja Vanir.


"Saya akan mengantar Paman Vanir dan Rennesia menuju portal, kalian berdua bisa menunggu di lantai dua atas. Saya akan segera kesana," ucap Daru kepada Ronald dan Zed.


Paman? Rennesia? Hubungan macam apa yang dimiliki Daru dengan Keluarga Kerajaan? pikir Zed.


Mereka berdua mengangguk dan berjalan menuju lantai dua atas, sedangkan Daru dan Frey mengantar Raja Vanir dan Putri Rennesia menuju Portal.


"Besok, paman Vanir bisa datang waktu malam. Aku takut pagi, siang, dan sore akan menjadi waktu yang sibuk di tokoku," ucap Daru.


"Baik, kami pergi dulu, Daru. Jangan lupa besok beri kami jamuan. Aku tadi ingin menyinggungnya, tapi karena pembicaraan kita terlalu serius, membuatku mengurungkan niat itu. Hahaha," ucap Raja Vanir sebelum masuk ke Portal diikuti oleh Putri Rennesia dan para pengawal.


Daru menepuk dahinya dan berkata, "Sial, aku lupa memberi mereka jamuan. Kenapa kau tidak mengingatkanku, Frey?"


"Aku terlalu tegang karena duduk di depan seorang Raja! Oh, kau tadi sangat menakutkan. Aku merinding ketika aku mengingatnya lagi," ucap Frey


"Kalau aku tidak seperti itu, Paman Vanir tidak akan mengindahkan peraturan itu. Ayo kembali," ajak Daru.


Mereka berdua pun kembali ke toko dan menuju lantai dua dimana Ronald dan Zed berada.


Ketika Daru membuka pintu ruangan di lantai dua atas, dia melihat Ronald dan Zed sedang duduk di sofa dengan dua cangkir teh di depan mereka. Di belakang mereka ada enam orang yang berdiri dengan ekspresi gembira, tiga pria dan tiga wanita. Daru bisa menebak bahwa mereka berenam adalah budak dari pakaian dan tubuh mereka yang kotor. Mereka berenam sudah diberitahu tentang kebaikan Daru oleh Shera, wajar saja mereka bahagia.


Namun,


"Tuan Ronald, dibelakang anda adalah budak yang kupesan?" tanya Daru sembari duduk dihadapan Ronald dan Zed.


"Ya, enam orang seperti kata Shera," jawab Ronald.


Ekspresi Daru menjadi gelap, lalu dia berteriak, "Shera!"


Teriakan Daru cukup kencang, membuat Shera yang baru saja selesai meletakkan perhiasan emas di lantai dua bawah mendengarnya. Shera langsung berlari menuju lantai dua atas. Dia tahu kenapa Daru memanggilnya. Dia pun mempersiapkan diri untuk apapun hukuman yang diberikan Daru.


"Bos!" ucap Shera setelah memasuki Ruangan.


"Aku menyuruhmu membeli lima budak. Kenapa ada enam?" tanya Daru dengan ekspresi marah.


Suasana di lantai dua menjadi tegang. Raut wajah keenam budak yang dibawa Ronald tidak lagi menunjukkan ekspresi kegembiraan, melainkan mereka memasang ekspresi sedih. Mereka sedih karena teman mereka, Shera, membuat dirinya menjadi target amarah karena mereka.


"Ma-maaf Bos. Mereka ada-lah te-man sa-ya," ucap Shera terbata-bata karena ketakutan.


Ronald pun berusaha menengahi. "Tuan Daru, saya akan mengembalikan uang anda seharga satu budak. Anggap saja hadiah dari saya," ucap Ronald.


"Bukan masalah uang, Tuan Ronald. Ini adalah masalah kepemimpinan," balas Daru kepada Ronald.


"Itu ...." Ronald kehabisan kata-kata karena ucapan Daru memang masuk akal. Dia juga akan bereaksi seperti Daru jika anak buahnya tidak mengindahkan perintahnya.


"Tuan Daru, tolong hukum hamba. Hamba memang bersalah," ucap Shera sembari bersujud dan meneteskan air mata.


Tiba-tiba keenam budak yang ada dibelakang Ronald dan Zed juga bersujud.


"Tuan Daru, hukum kami saja. Shera hanya ingin membuat kami berada di tempat yang lebih baik," jcap salah satu budak.


"Diam!" bentak Daru.


Keenam budak dan Shera menggigil ketakutan. Mereka ingin terus berbicara kepada Daru tapi takut itu akan memperburuk situasi mereka.


"Shera, di masa depan, indahkan perintahku sebelum aku memerintah menggunakan kontrak darah. Ketahuilah, aku belum pernah menggunakannya karena aku percaya padamu," ucap Daru dengan nada dingin.


"Ba-ba-baik, Tuan Daru," ucap Shera terisak tangis.


"Bawa enam orang itu ke bawah, antar ke kamar mandi untuk membersihkan diri, jangan lupa untuk memberikan pakaian yang bersih," ucap Daru dengan ekspresi normal.


Shera segera melaksanakan perintah Daru dan membawa keenam orang budak kebawah.


Frey hanya diam dengan sikap Daru. Dia tahu Daru melakukan itu pasti ada alasannya, karena Frey yakin Daru bukanlah orang yang kejam.

__ADS_1


"Mari kita mulai bisnisnya," ucap Daru mengawali diskusi dengan Ronald dan Zed.


"Tuan Daru, produk sampel yang anda berikan kemarin lusa sangatlah menarik. Banyak orang yang mencobanya menjadi ketagihan dan bertanya-tanya kapan mereka bisa membelinya," ucap Zed.


"Itu benar, kami setuju dengan harganya. Kami juga membawa koin emas dalam jumlah yang cukup untuk transaksi ini." Ronald menambahkan.


"Baik. 36.000 koin emas dan semua botol shampo dan parfum bisa kalian bawa. Saya minta satu perusahaan menguasai satu produk saja, jadi kalian bisa memonopolinya," ucap Daru.


"Ya! Memang itu rencana kami berdua. Ini 36.000 koin emas," ucap Ronald sembari mengeluarkan sebuah kantong raksasa yang berisi 36.000 keping koin emas.


"Oh, tolong jangan katakan pada siapapun mengenai asal-usul dua produk itu. Menghindari hal-hal yang bisa dihindari adalah sesuatu yang bijak," ucap Daru sembari membuka kantong.


Ketika kantong itu menjadi kosong setelah Daru membukanya, Ronald dan Zed kaget. Tapi itu tidak berselang lama karena mereka berdua melihat cincin dimensi di jari Daru.


Daru kemudian mengeluarkan semua botol shampo dan parfum dari cincin dimensinya. Membuat ruangan di lantai dua dipenuhi oleh botol-botol shampo dan parfum.


Dengan sigap Ronald memasukkan semua botol Shampo kedalam cincin dimensinya, sedangkan Zed mengambil Parfum.


"Tuan Daru, saya yakin produk ini akan terjual habis dalam waktu dekat. Apakah Tuan Daru memiliki stok yang cukup untuk kami beli secara berkala?" tanya Zed setelah memasukkan semua botol parfum kedalam cincin dimensinya.


"Tenang saja, datanglah kemari jika produknya sudah habis. Saya jamin, stok selalu ada," jawab Daru dengan tersenyum.


"Hebat ..., hebat .... Kalau begitu, kami berdua undur diri. Terima kasih, Tuan Daru," ucap Ronald.


"Terima kasih juga, Tuan Ronald, Tuan Zed. Kalau bisa, hentikan bisnis kalian yang itu. Saya yakin bisnis dengan saya lebih menguntungkan," ucap Daru merujuk pada bisnis jual-beli budak dengan negara Lain.


"Tentu saja, kami akan berhenti!" jawab mereka bersamaan.


Mereka berdua pun pergi dari ruangan lantai dua dan berjalan ke portal teleportasi untuk kembali ke Moon City, meninggalkan Daru dan Frey di ruangan itu.


"Katakan padaku alasannya," pinta Frey.


"Shera? Aku hanya ingin menanamkan pemahaman bahwa perintah dariku adalah mutlak. Jika saja hal seperti penyerangan Xavier terjadi lagi dan aku memerintahkan mereka untuk pergi menyelamatkan diri, mereka akan melakukannya tanpa melakukan hal bodoh seperti "aku akan menyelamatkan Bos." Dan kebetulan kondisi untuk itu telah dibawa Shera. Aku tidak mempermasalahkan tentang budak yang dibawa Shera, aku hanya ingin keselamatan seluruh karyawanku," jelas Daru.


"Kau memang baik, aku tahu itu," ucap Frey.


Daru tersenyum kecil dan berkata, "Ayo kebawah, kita urus karyawan baru kita."


Frey mengangguk kecil dan tersenyum manis sebelum beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Daru.


Ketika Daru masih berada di tengah tangga yang menghubungkan lantai satu atas dan dua atas, dia mendengar isak tangis seorang wanita. Wanita itu adalah Shera, yang menangis di pelukan Sylph.


"Aku sudah mengecewakan Bos Daru," ucap Shera menangis.


"Maafkan kami Shera," ucap salah satu dari tiga pria yang berdiri mengelilingi Shera.


"Itu salahku, bukan salah kalian, Rei," balas Shera.


Daru menghela nafas ketika mendengarnya. Dia dan Frey terus berjalan turun.


Pintu kamar mandi telah terbuka. Dan tiga orang wanita keluar dari sana dengan wajah yang bersih dan mengenakan pakaian yang bersih pula. Walaupun wajah mereka telah bersih, ekspresi mereka menunjukkan kesedihan yang luar biasa.


Jika saja aku tidak ikut kesini, pikir masing-masing dari mereka. Dua wanita dan tiga pria, itulah perintah Daru kepada Shera. Jadi mereka menyalahkan diri sendiri karena keberadaannya membuat Shera dalam masalah besar.


"Selesai? Ikut aku keluar." Tiba-tiba suara Daru terdengar. Membuat mereka semua yang ada di lantai satu atas segera berjalan mengikuti Daru.


....


Di luar toko.


"Untuk enam orang yang baru datang, kalian berbaris di hadapanku." Daru memberi perintah.


Mereka bergegas membentuk barisan menyamping di depan Daru. Tiga pria berada di kanan sedangkan tiga wanita ada di kiri.


"Sebutkan nama dan umur dari yang paling kanan. Untuk yang pria sebutkan juga jumlah lingkaran mana kalian."


"Rei, 16 tahun. 15 lingkaran mana."


"Gordon, 18 tahun. 14 lingkaran mana."


"Ged, 21 tahun. 50 lingkaran mana."


"Ha? 50 lingkaran? Shera, apakah 50 lingkaran mana menurutmu kecil?" ucap Daru sebelum memandang ke arah Shera.


"Ma-ma-maaf, Tuan Daru."


"Jawab pertanyaanku!" bentak Daru.


"Ti-ti-tidak, ma-af." Frey menundukkan kepalanya sembari terus menangis.

__ADS_1


"Yang wanita, sebutkan jumlah lingkaran mana kalian juga." Daru mengalihkan pandangannya ke barisan wanita.


"Liz, 19 tahun. 30 lingkaran mana."


"Lydia, 20 tahun. 29 lingkaran mana."


"Rena, 23 tahun. 12 lingkaran mana."


Daru memandangi Rena yang memiliki jumlah lingkaran mana paling kecil diantara keenam orang.


Dia saja, pikir Daru.


"Rei, Gordon, Rena, maju!" perintah Daru.


Mereka bertiga ketakutan dan perlahan maju beberapa langkah.


Daru mengambil smartphone-nya dan membeli tiga serum penguatan tipe C dari web Belanja Online Universal, serum penguatan sejenis dengan yang Daru pakai pertama kali. Daru berencana memperkuat fisik ketiga orang itu dan menjadikannya penjaga, itulah mengapa Daru memilih orang dengan lingkaran mana yang kecil.


Semakin kecil lingkaran mana, semakin kuat fisiknya. Serum penguatan mengalikan Kekuatan Fisik sebelumnya, jadi semakin tinggi kekuatan fisik seseorang, maka semakin besar pula hasil dari serum penguatan.


(Contoh: 2x4 \= 8 -> tambah 6


                 6x4 \= 24-> tambah 18


> 4 adalah penguatan serum


>2 dan 6 adalah contoh kekuatan fisik.)


Serum penguatan tipe C berbeda jauh dengan tipe A yang Daru pakai pertama kali. Tipe C hanya menambah lima kali lipat kekuatan fisik sebelumnya. Sedangkan Tipe A menambah lima belas kali lipat.


Daru juga membeli tiga set baju baja dengan deskripsi "keras dan ringan" untuk mereka. Tak lupa, dia juga membeli tiga pedang baja dengan kualitas tak jauh berbeda dengan baju baja.


Tak lama kemudian, Veux datang. Membuat keenam orang yang baru pertama kali melihat Veux ketakutan.


"Paket slur," ucap Veux.


"Haha, gannti jargon mas Veux?" canda Daru.


"Biar nggak bosan, Mas .... Tanda tangan." Veux menyodorkan surat tanda terima kepada Daru.


Daru menanda tanganinya dan mengembalikan surat tanda terima itu kepada Veux. Kemudian Veux berpamitan dan menghilang.


Di depan Daru, ada tiga paket besar, tiga paket memanjang, dan satu paket berukuran kecil.


Daru mengambil paket kecil dan membukanya. Paket kecil itu berisi tiga serum penguatan. Dari segi warna cairan dan bentuk tabung, itu tidak jauh berbeda dari serum penguatan tipe A. Hanya saja cairan di serum penguatan tipe C lebih kental.


"Ulurkan tangan kalian," perintah Daru kepada tiga orang yang berada di depan barisan.


Mereka pun mengulurkan tangannya ke arah Daru.


"Bagi yang tidak tega, tutup mata dan telinga kalian, karena ini akan sangat menyedihkan untuk dilihat dan didengar." Daru menyuntikkan serum ke tangan tiga orang secara bergantian.


Frey dan lainnya belum bereaksi dengan kata-kata Daru yang menyuruh untuk menutup telinga dan mata. Tiba-tiba ketiga orang yang telah disuntik serum oleh Daru berteriak.


"Aaaaarggghhh!!!" Mereka berteriak sembari menggeliat di tanah.


Ekspresi mereka benar-benar kacau. Mereka mulai menangis dan menjerit minta tolong kepada Daru untuk menghentikan penyiksaannya.


Shera dengan ekspresi gelap bersujud di depan Daru dan berkata, "tuan Daru! Tolong jangan siksa mereka, tolong hentikan. Biar saya yang menggantikan mereka."


Sylph dan ketiga budak lain juga bersujud di depan Daru meminta hal yang sama kepadanya.


Frey dengan cemas memegang tangan Daru dan menatapnya seolah bertanya, "Apa maksudnya ini?"


Daru menatap Frey dan tersenyum. Menandakan semuanya baik-baik saja.


Tiba-tiba bau busuk tercium bersamaan dengan suara teriakan yang mereda.


Semua orang termasuk yang tengah bersujud memandang ketiga orang yang tadi berteriak kesakitan. Ketiga orang itu terkapar lemas dengan sekujur tubuhnya terlumuri dengan cairan berwarna hitam.


"Frey, siram mereka dengan sihir air lalu uapkan dengan sihir api, aroma ini akan membuat pelanggan merasa tidak nyaman besok," ucap Daru kepada Frey.


Frey langsung merapalkan sihir air dan menyiram tubuh ketiga orang itu. Setelah itu Frey merapalkan sihir api untuk menguapkan semua cairan yang ada disana. Membuat bau busuk menghilang perlahan.


Beberapa saat kemudian, ketiga orang itu mulai sadar dan mencoba bangkit.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Daru.


"Saya merasa penuh dengan kekuatan. Apa yang Tuan Daru lakukan pada kami?" tanya Rena.

__ADS_1


"Aku membuat kalian lebih kuat," jawab Daru dengan tersenyum.


__ADS_2