
Daru tengah menyangga kepalanya dengan kedua tangan menyentuh dahinya setelah mendengar jawaban Shera. Apa yang tengah mereka berdua bahas adalah ketika penduduk sudah tidak memiliki uang lagi untuk berbelanja di toko Daru. Ketika itu terjadi, para penduduk akan sadar dari euforia mereka dan mulai menganggap Bukit Sarren sebagai pengaruh buruk untuk keuangan mereka. Sebanyak apapun uang mereka, mereka tidak akan mau lagi menginjakkan kaki mereka ke Bukit Sarren saat itu telah terjadi. (Fyi: Euforia adalah perasaan senang/gembira yang berlebihan)
"Bagaimanapun caranya, aku harus mencegah itu terjadi," gumam Daru.
Gumaman Daru cukup keras sehingga terdengar oleh Shera, dia pun bertanya, "Bos, bukankah jika itu terjadi, kebanyakan uang pelanggan-pelanggan itu sudah berada di kantongmu? Kenapa kau ingin menghentikannya?"
"Itu karena tujuanku bukanlah uang, keberadaan pelanggan-pelanggan itulah caraku mencapai tujuanku," jawab Daru.
"Sebenarnya, apa tujuanmu, Bos?" tanya Shera penuh rasa ingin tahu.
Daru tersenyum, lalu berkata, "Dulu sebelum aku membangun toko di Bukit Sarren, Frey juga bertanya mengenai kenapa aku membangun toko di sini, aku menjawab dengan berkata bahwa ada hal yang lebih tinggi daripada berjualan."
"Dan apa hal tinggi itu, Daru?" Tiba-tiba Frey membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Oh, kau kemari," ucap Daru memberi sapaan kepada Frey.
"Ya, tidak pantas untukku bersenang-senang ketika kekasihku dalam kesusahan, kan?" balas Frey dengan senyuman ringan sebelum duduk di samping Daru.
"Lalu, apa tujuan terbesarmu?" tambah Frey.
Daru menatap langit-langit ruangan dan dengan santai, dia berkata, "Aku ingin menjadi orang yang paling berpengaruh di seluruh Benua Isla. Aku ingin suaraku sebanding dengan suara enam raja."
Jawaban Daru membuat mulut kedua orang yang ada di ruangan itu terbungkam, mereka berdua benar-benar terkejut dengan tujuan besar Daru yang terdengar cukup gila.
"Dulu aku bisa saja membuat toko di Moon City, tetapi pengaruhku paling tinggi hanya meliputi Kerajaan Resia. Dengan Bukit Sarren kubuat seperti ini, aku bisa menyebar pengaruhku ke seluruh benua," tambah Daru yang masih mendongak ke atas.
"Lalu, apa hubungannya dengan pelanggan dari Kerajaan Resia, Bos?" tanya Shera penasaran.
"Ketika mereka sadar dari euforianya, mereka akan berhati-hati dengan Bukit Sarren, dan ketika mereka berhati-hati, tujuanku benar-benar hancur," jawab Daru.
"Aku ingin ****-**** itu tetap berada di garis yang kubuat," tambah Daru sembari merubah tatapan matanya menjadi dingin.
Glek
Shera menelan ludahnya, sedikit ketakutan dengan ambisi Daru. Sedangkan Frey, dia tersenyum sangat lebar dan berkata, "Aku akan membantumu berdiri di puncak sana suatu hari nanti,"
"Terima kasih." Daru tersenyum sebelum mendekatkan bibirnya ke arah bibir Frey.
Frey menyambutnya dengan mengangkat kepalanya sedikit. Ketika kedua bibir hendak bertemu, Shera yang melihat kelakuan kedua bosnya pun menghentikan mereka.
"Ehm, aku masih di sini, wahai kedua Bosku yang bijaksana," ucap Shera dengan wajah datar.
Daru dan Frey langsung menjauh setelah mendengar ucapan Shera.
"Lalu, bagaimana rencanamu mengenai krisis yang akan terjadi, Bos?" tanya Shera.
__ADS_1
Daru terdiam mendengar pertanyaan Shera, dia benar-benar kebingungan harus berbuat seperti apa.
Uang, itu didapat dari bekerja. Pekerjaan, kah? pikir Daru.
Tring.
Tiba-tiba sebuah bohlam lampu menyala di pikirannya.
"Aku akan membuat pelanggan-pelanggan itu tetap mempunyai uang tanpa harus mengurangi uangku," jawab Daru.
Shera mengerutkan alisnya dan mencoba berpikir.
Bagaimana cara membuat para pelanggan tetap mempunyai uang tanpa harus mengurangi uang Bos? ucap Shera dalam hati.
"Cara untuk membuat para pelanggan tetap mempunyai uang adalah dengan memberinya pekerjaan, tetapi itu akan menguras uangmu," sahut Frey dengan tebakannya.
"Kau benar. Tetapi, bagaimana jika pekerjaan itu tidak datang dariku?" tanya Daru dengan senyum yang biasanya ia pasang ketika merencanakan sesuatu yang licik.
"Raja Vanir?" Frey langsung menebak apa yang ada di pikiran Daru.
"Ya, Paman Vanir yang bisa melakukannya, dan aku tahu cara agar dia tertarik dengan itu. Aku akan bernegosiasi dengannya seminggu lagi ketika dia dan Tuan Gustave datang."
Shera dan Frey saling memandang karena benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukan Daru.
Daru mengangguk dan menjawab, "Laporkan saja yang penting-penting."
Shera kemudian melaporkan beberapa hal penting yang menurut Daru tidaklah terlalu penting.
....
Waktu pun berlalu, kini matahari telah tenggelam dan digantikan oleh keindahan bulan yang bersinar cukup terang. Walaupun demikian, gedung hiburan masih ramai oleh teriakan-teriakan dari karyawan-karyawan Daru yang masih tenggelam dalam suka cita mereka.
Daru tengah berjalan menuju gedung itu dengan setumpuk kertas yang bertuliskan peraturan-peraturan dari masing-masing permainan. Dia juga telah membeli banyak peralatan bermain untuk dijual besok.
"Aku harus mencari karyawan baru untuk menggantikan Sylph yang akan bertugas di gedung hiburan, Shera yang akan menjadi bendaharaku, dan karyawan untuk Nenek Neia," gumam Daru setelah menempel kertas-kertas itu di masing-masing lantai.
"Kenapa Zoref belum datang dari siang? Seharusnya hari ini adalah hari pembangunan lapangan bulu tangkis dan bangunan baru ...."
Daru kemudian mengambil smartphone-nya dan menghubungi nomor Zoref.
Daru mengerutkan alisnya ketika mendengar suara seorang wanita dari smartphone-nya.
"Maaf, nomor yang Anda tuju berada di luar servis area, silahkan tutup panggilan Anda. Ding ding ding ding."
Tut
__ADS_1
Panggilan pun terputus.
Ada apa? pikir Daru.
Daru kemudian mengembalikan smartphone-nya ke dalam cincin dimensi dan pergi menuju kamarnya untuk tidur.
Saat tiba di kamarnya, Daru melihat keindahan yang sangat-sangat menyilaukan mata di atas ranjang tempat tidurnya. Dia pun hanya bisa melamun ketika melihat sosok seorang wanita yang sangat cantik tengah duduk di sana dengan hanya memakai pakaian super tipis dari kejadian tujuh bulan yang lalu. Wanita itu adalah Frey yang wajahnya kini memerah setelah dipandangi Daru cukup lama.
"Ja-jangan be-berdiri saja, tutup pintunya dan se-segeralah kemari," ucap Frey dengan menundukkan wajahnya karena malu.
Daru tersadar dari lamunannya dan segera menutup pintu lalu mendekati Frey.
Mereka berdua pun ber-(sensor) lalu mereka mulai (sensor) dan (sensor) dengan penuh kenikmatan.
(-21 area: Mereka berdua pun bersalaman lalu mereka mulai berbincang-bincang dan makan dengan penuh kenikmatan.)
Keesokan harinya, Daru terbangun karena merasa kedinginan. Ketika dia sudah benar-benar membuka matanya, dia menyadari bahwa tidak ada satu helai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dia pun menengok ke arah kanan dan mendapati Frey yang memiliki kondisi yang sama sepertinya.
"Ah, kita berdua melakukannya," gumam Daru sembari tersenyum ketika teringat kejadian indah tadi malam.
(-21 area: Mereka menikmati makan malam mereka yang berupa makanan pedas, jadi mereka kepanasan lalu melepas pakaian mereka. Makan makanan pedas di malam hari adalah hal indah menurut Daru.)
Karena Frey masih tertidur pulas dengan wajah yang terlihat bahagia, Daru tidak enak hati membangunkannya dan segera memakai pakaian lalu berjalan menuju lantai satu atas.
Saat dia tiba di lantai satu atas, dia melihat karyawan-karyawannya telah bersiap-siap untuk bekerja hari ini, Shera dan Sylph yang sibuk menata konter, Lydia dan Liz yang membersihkan toko, Rena yang sibuk memakai baju bajanya, dan Ged yang tengah mencabuti bulu hidungnya.
"Ged," ucap Daru dengan ekspresi datar.
"Ah, Bos! Selamat pagi!" teriak Ged dengan penuh semangat.
"Aku lihat kau sedang senggang, aku ada tugas untukmu." Daru mengeluarkan sebuah kantong berisi beberapa ratus koin emas.
"Carikan aku tiga budak, salah satunya harus memiliki lingkaran mana yang sangat kecil, dua lainnya bebas terserah padamu. Budak yang memiliki lingkaran mana serahkan pada Nenek Neia, sedangkan dua lainnya akan menggantikan Shera dan Sylph di belakang konter. Ajari mereka berdua sampai bisa sebelum membuka portal," ucap Daru sembari menyerahkan kantong emas beserta kalung pengatur portal kepada Ged.
"Baik, Bos!" teriak Ged sebelum beranjak dari tempatnya menuju portal teleportasi.
"Oh, berekspresilah sesedih mungkin. Jangan tunjukkan senyumanmu," tambah Daru.
Ged mengangguk dan segera pergi.
Daru kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Shera dan Sylph. Dia berkata, "Sylph, aku ingin kau mengatur gedung hiburan dibantu Shera. Jangan lupa memasang ekspresi kesedihan."
"Siap, Bos!" teriak kedua wanita itu.
Daru tanpa berkata apa-apa lagi segera menuju lantai dua untuk mengawasi jalannya hari.
__ADS_1