Ultimate Internet Power

Ultimate Internet Power
Heroine Baru?


__ADS_3

Waterfall City.


Daru tengah berjalan-jalan menyusuri bagian-bagian kota yang belum Daru telusuri kemarin. Tibalah dia di sebuah toko kumuh yang terletak jauh di dalam sebuah gang yang kecil.


Daru pun penasaran dengan toko itu dan memilih untuk memasukinya. Ketika dia melangkah masuk ke dalam toko, bau menyengat mulai menyakiti hidungnya. Dengan susah payah, Daru mencoba menahan bau itu sebisanya agar tidak menyinggung perasaan si pemilik toko.


Di dalam toko itu, Daru hanya dapat menemukan botol-botol kaca yang berisi cairan berwarna-warni. Ketika dia sedang melihat-lihat, seorang wanita paruh baya menghampirinya.


"Apa ada yang Anda butuhkan?" tanya wanita tua.


"Apakah itu semua adalah ramuan?" Daru bertanya dengan menunjuk rak yang berisi botol-botol kaca.


"Ya, Tuan, saya menjual ramuan," jawab wanita tua.


"Saya hanya pernah melihat ramuan berwarna merah yang berfungsi untuk penyembuhan dan warna biru untuk pemulihan mana, apa fungsi ramuan berwarna-warni yang Anda jual itu?" tanya Daru lagi.


"Saya menjual ramuan jenis sihir, jadi ramuan saya memiliki efek sihir tertentu." Wanita itu menghampiri rak yang sebelumnya ditunjuk Daru dan mulai menerangkan apa saja ramuan yang dia jual.


Daru takjub dengan penjelasan tentang ramuan yang terisi sihir, baru kali ini dia tahu ada ramuan seperti itu.


"Ini adalah ramuan yang berisi sihir siluman. Saat diminum, tubuh si pengguna akan terselimuti oleh sihir siluman selama 3 jam. Mana yang digunakan untuk aktifasi sihir berasal dari ramuan itu sendiri, jadi tidak menjadi masalah untuk orang-orang yang memiliki lingkaran mana yang sedikit meminumnya."


"Yang ini ada-"


"Tunggu dulu," ucap Daru memotong kata-kata wanita tua.


"Ada apa, Tuan?" tanya wanita itu.


"Anda memiliki ramuan-ramuan yang fantastis, tetapi mengapa toko Anda seperti ini?"


Wanita tua itu terdiam sejenak lalu berkata, "Itu karena Waterfall city terlalu aman, tidak ada yang membutuhkan ramuan-ramuan ini."


"Tetapi dengan ramuan-ramuan ini, saya yakin perusahaan dagang akan tertarik untuk membelinya dan menyebarkannya ke wilayah lain," ucap Daru


"Saya terlalu tua untuk membuat ramuan dengan jumlah yang banyak. Walaupun tidak banyak orang yang dapat membuat ramuan-ramuan seperti ini, tetapi perusahaan dagang selalu memperhatikan kuantitas," jawab wanita tua dengan tertunduk lesu.


Potensi! Di Kerajaan Resia aku belum pernah mendengar ada ramuan seperti ini, pikir Daru.


"Saya punya wilayah yang cukup besar di selatan. Jika Anda berkenan, dirikanlah toko di sana, saya akan menanggung biaya pembangunan dan bahan baku ramuan. Sebagai gantinya, saya ingin beberapa persen keuntungan," ucap Daru menawarkan.


"Anda bercanda. Saya terlalu tua untuk berpergian, dan seperti yang saya katakan tadi, saya terlalu tua untuk membuat ramuan dalam jumlah yang banyak. Saya takut itu akan merugikan Anda," ucap wanita itu berusaha menolak.


"Saya akan menyediakan pekerja yang kompeten, dan untuk masalah berpergian, saya bisa menggunakan sihir teleportasi untuk Anda. Saya yakin, tinggal dan berjualan di wilayah saya lebih baik daripada menunggu pelanggan yang tidak kunjung datang di toko ini." Daru tersenyum ramah.


Wanita itu merenung memikirkan tawaran Daru. Tawaran Daru memang sangat menarik, namun, wanita itu masih belum mengenal baik Daru, dia sedikit curiga.


"Apakah Anda adalah seorang Bangsawan?" tanya wanita itu.


"Bukan, saya lebih tinggi dari Bangsawan di kerajaan tempat wilayah saya berada," jawab Daru dengan tersenyum.


"Saya akan memberi waktu kepada Anda untuk membuat keputusan selama 10 hari. Tolong pikirkan baik-baik," tambah Daru sebelum beranjak menuju pintu toko.


Sebelum dia melangkahkan kakinya keluar toko, dia berbalik dan berkata, "Nama saya Daru."


Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan seraya berkata, "Neia."


Daru pun pergi meninggalkan toko Neia dan lanjut berkeliling.


....


"Karena tidak ada hal menarik lainnya dan kegiatanku hanya makan dan tidur, lebih baik kita percepat saja," ucap Daru kepada kalian.


....


Sepuluh hari berlalu dengan cepat. Daru saat ini sedang rebahan di ranjang kamar sewaannya dengan rasa malas.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara pintu yang diketuk terdengar oleh Daru.


"Daru, perwakilan Raja Gustave menunggumu di depan meja resepsionis." Orang yang berbicara dari balik pintu adalah Emilia. Sudah hampir 2 minggu Daru menginap di penginapan Tracker's inn, dan selama itu pula, Emilia dan Daru berinteraksi setiap hari, membuat mereka menjadi akrab satu sama lain.


"Baik, aku akan kesana." Daru pun segera beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu.


Ketika Daru membuka pintu, dia melihat Emilia sedang berdiri di sana dengan pakaian kerjanya. Ketika Daru lebih memperhatikan wajah Emilia, Daru tertegun karena Emilia mengenakan riasan yang cukup cocok dengan wajahnya.


Daru tertegun cukup lama sehingga membuat Emilia sedikit tersipu karena sadar bahwa reaksi Daru dikarenakan riasan di wajah Emilia.


"Da-Daru, ja-jangan me-memandangku se-seperti itu," ucap Emilia sembari menundukkan wajahnya karena malu.


"Ah! Maaf, aku hanya terkejut karena tidak biasanya kau menggunakan riasan," balas Daru dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


"A-apakah ti-tidak cocok untukku?" tanya Emilia.


"Itu cocok, kau cantik," jawab Daru sebelum beranjak pergi menuju tempat perwakilan Raja Gustave berada.


Dia memanggilku cantik! Hari terindah yang pernah aku alami! teriak Emilia dalam hati.


Daru pun tiba di depan meja resepsionis dan melihat ada beberapa orang dengan baju baja khas penjaga dan seorang pria dengan pakaian yang mencolok berdiri di sana.


"Apakah Anda Tuan Daru?" tanya pria yang berpakaian mencolok.


"Benar, ada yang bisa saya bantu?" Daru berpura-pura tidak tahu.


"Saya diutus oleh Raja Gustave untuk mengundang Anda datang ke istana sekarang. Beliau berkata bahwa semuanya sudah selesai," ujar pria itu.


"Baik, terima kasih atas undangannya. Saya akan bersiap terlebih dahulu," ucap Daru.


"Kalau begitu, saya akan menunggu di depan penginapan." Pria itu membungkuk sedikit kearah Daru dan berjalan menuju ke luar penginapan.


Daru kemudian kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat.


Ketika sampai di depan pintu kamarnya, Daru melihat Emilia yang masih berdiri di sana dengan menundukkan kepala. Karena penasaran, Daru mendekati Emilia dan mengintip wajahnya dari bawah.


Wajah Emilia dihiasi dengan senyuman manis namun tatapannya kosong, tetapi itu tidak mengurangi kemanisan Emilia sedikitpun.


Karena tidak ada reaksi, Daru berdehem cukup kencang sehingga membuat Emilia tersadar dari lamunannya.


"Maaf!" Emilia berteriak dan berlari menuju ruang belakang penginapan.


Dia terlalu dekat! Aku hampir pingsan karena malu, ucap Emilia dalam hati.


"Kenapa dia? Sakit?" gumam Daru sebelum memasuki kamarnya.


Setelah beberapa saat bersiap-siap, Daru pun keluar dari penginapan dan langsung disambut oleh utusan Raja Gustave. Mereka berdua pun memasuki kereta kuda dan pergi menuju istana.


Di dalam sebuah ruangan yang besar di dalam istana, ada tujuh orang yang sedang duduk melingkar menghadap meja besar dengan segelas anggur di hadapan masing-masing orang. Enam orang yang ada di sana adalah tokoh-tokoh berpengaruh yang diundang oleh Raja Gustave,  sedangkan yang satunya lagi adalah Raja Gustave sendiri.


Tiga orang dari enam tokoh berasal dari Keluarga Bangsawan Kerajaan Saria, sedangkan tiga lainnya berasal dari kelompok-kelompok lain yang menopang Kerajaan Saria.


Ekspresi mereka tampak antusias menunggu orang yang akan datang. Keenam orang berpengaruh antusias karena ingin membeli rokok dalam jumlah yang besar, sedangkan Raja Gustave, dia antusias karena ingin berterima kasih kepada Daru setelah penyakitnya benar-benar sembuh.


Tok tok tok


"Yang Mulia, Tuan Daru sudah tiba," ucap seseorang dari balik pintu.


"Baik, Yang Mulia."


Setelah beberapa saat, pintu terbuka dan sosok seorang pira ada di depan pintu. Sosok tersebut adalah Daru yang tampan dan berani.


"Daru!" teriak Raja Gustave dengan senyum sumringah sebelum berdiri.


"Tuan Gustave," Daru membalas dengan tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya.


Raja Gustave terkejut sama seperti Raja Vanir ketika Daru pertama kali mengulurkan tangan kepadanya.


"Hahaha, kau sungguh berani kepada seorang raja!" Raja Gustave tertawa terbahak-bahak sebelum menjabat tangan Daru.


"Kenapa saya harus takut kepada raja yang baik hati sepertimu, Tuan Gustave," ucap Daru sembari tersenyum.


"Haha, kau memang menarik! Ngomong-ngomong penyakitku telah sembuh sepenuhnya berkatmu, terima kasih," ucap Raja Gustave.


"Sama-sama, Tuan Gustave. Sebagai tanda terima kasih, lebih baik Anda mempersilahkan saya duduk, kaki saya sudah bergemetar karena terus berdiri," sindir Daru.


"Ah, bodohnya aku. Duduklah dimana saja kau mau," ucap Raja Gustave sembari menggaruk belakang kepala.


Keenam orang yang melihat pertukaran kata-kata keduanya pun hanya bisa terdiam dengan ekspresi tercengang.


Raja berkata bahwa dia sendiri bodoh!? Apa yang sebenarnya terjadi!? pikir semua orang.


Daru pun duduk di salah satu kursi di dekat Raja Gustave. Dia kemudian memandang keenam tokoh berpengaruh dan berkata, "Saya mengucapkan salam kepada semuanya, nama saya Daru."


Keenam tokoh mengangguk sekali untuk membiarkan Daru berbicara.


"Saya yakin kalian semua telah mendengar tentang toko saya dari Tuan Gustave. Tujuan saya meminta Tuan Gustave untuk memanggil kalian kemari, adalah untuk mengundang Anda semua ke toko saya di Bukit Sarren yang terletak di sebelah selatan Hutan Arc."


Keenam orang terkejut karena mereka tahu letak Bukit Sarren yang cukup jauh dari Waterfall City.


"Bagaimana cara kami menuju kesana?" tanya salah satu tokoh berpengaruh.


"Masalah itu sudah ada jalan keluarnya. Saya akan menunggu semuanya di dekat gerbang selatan Waterfall City. Datanglah kesana satu jam sebelum matahari terbit, tiga hari lagi," ujar Daru.


Semua orang mengangguk dan mulai berbincang-bincang dengan Daru.

__ADS_1


Mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada Daru. Karena author sudah buntu mengenai penamaan tokoh, maka perkenalan mereka tidak dituliskan.


Daru juga memberikan gambaran mengenai Bukit Sarren, seperti adanya restoran, bar, dan peraturan-peraturan di Bukit Sarren.


Mereka berbincang-bincang hingga matahari tenggelam dan membuat mereka mengakhiri perbincangan mereka.


Daru pun berpamitan kepada semuanya dan pergi meninggalkan istana menuju toko Neia untuk mempertanyakan keputusan Neia.


Daru masuk ke dalam toko Neia dan melihat sudah tidak ada lagi botol kaca yang terpajang.


"Nyonya Neia." Daru memanggil Neia setelah dia tidak melihat sosok Neia di sana.


"Sebentar!" teriak Neia dari arah belakang toko.


Setelah menunggu beberapa saat, Neia pun muncul dan menghampiri Daru.


"Maaf membuatmu menunggu, Tuan Daru," ucap Neia.


"Tolong jangan panggil saya 'Tuan', rasanya sedikit aneh jika dipanggil seperti itu oleh Anda," balas Daru dengan tersenyum ramah.


"Kalau begitu, jangan panggil aku 'Nyonya', panggil saja nenek."


"Nenek Neia, tolong panggil saya Daru. Saya kemari untuk menanyakan tentang keputusan mengenai tawaran saya tempo hari yang lalu."


"Aku setuju, Nak Daru. Aku sudah tidak memiliki uang untuk bertahan hidup di sini," ucap Neia


"Baiklah, Nenek. Datanglah ke gerbang selatan Waterfall City saat dini hari, tiga hari lagi."


"Terima kasih. Aku pasti datang."


Daru pun berpamitan dan pergi menuju penginapan untuk beristirahat.


Daru memasuki kamarnya dan duduk di ranjang.


"Tiga hari lagi. Apakah aku siap menerima berita tentang pernikahan Frey?" gumam Daru yang ekspresinya berubah perlahan-lahan menjadi penuh kesedihan.


"Apa yang harus aku katakan padanya? Selamat berbahagia? Semoga kau tenggelam dalam kesedihan mendalam? Hahh ..., aku benar-benar belum siap."


Tok tok.


"Daru, boleh aku masuk?" Suara Emilia terdengar dari balik pintu.


Daru kemudian merubah ekspresinya, berusaha agar tidak terlihat sedih.


"Masuklah, Emilia," ucap Daru.


Emilia memasuki kamar Daru dan berjalan mendekati Daru lalu duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Daru yang masih menyembunyikan ekspresinya dengan tersenyum.


"Ti-tidak ada, a-aku hanya ingin mengobrol de-denganmu." Wajah Emilia berubah merah.


"Aku kira ada apa," balas Daru.


Bagaimana harimu? Apakah kau sudah makan? Sedang apa? Kenapa kau dipanggil ke istana? Aku harus berbicara apa kepadanya? pikir Emilia.


"Apakah kau memiliki pasangan?" Emilia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan setelah mengatakan itu.


Aku bodoh! pikirnya.


Ekspresi Daru berubah menjadi kesedihan sesaat sebelum kembali seperti biasa.


"Mungkin sudah tidak," jawab Daru singkat. Dia benar-benar berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


Emilia menyadari perubahan ekspresi Daru walaupun sesaat. Dia pun bertanya, "Kenapa kau bersedih?"


"Aku tidak bersedih, dari mana kau menyimpulkannya?" ucap Daru dengan tersenyum.


"Kau mungkin bisa menyembunyikan ekspresimu, tapi sorot mata selalu mengatakan kebenaran. Katakan padaku, mengapa kau bersedih?" tanya Emilia sekali lagi.


Daru kemudian melepas kepalsuan ekspresinya dan mulai menceritakan semuanya tentang Frey.


Emilia mendengarkan semuanya, hatinya tersayat ketika tahu bahwa pria yang telah perlahan-lahan memasuki hatinya memiliki pujaan hati yang lain.


"Begitulah, aku bingung harus berkata apa saat aku bertemu dengannya tiga hari lagi." Daru mengakhiri penjelasannya.


Emilia menyandarkan kepalanya ke pundak Daru dan berkata, "Aku tidak tahu ada orang lain di dalam sana. Frey kan? Tolong sisakan sedikit tempat untukku."


Emilia mulai meneteskan air mata dan membuat Daru kebingungan harus berbuat apa.


"Mengapa kau menangis?" tanya Daru yang masih kebingungan.

__ADS_1


Emilia menggelengkan kepalanya lalu mengusap air mata dengan kedua tangan. Dia lalu berdiri dan berkata, "Aku berharap kebahagiaan datang padamu, Daru. Hadapi apapun yang terjadi dengan senyuman."


Emilia segera keluar dari kamar Daru, meninggalkan Daru yang masih kebingungan sendiri di sana.


__ADS_2