
"Hei, Daru, apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi?" tanya Emilia yang berjalan di samping Daru yang tidak lagi memakai sihir siluman. Mereka berdua tengah berjalan di jalanan Waterfall City dengan perasaan gembira, Emilia gembira karena berkencan dengan Daru, sedangkan Daru gembira karena bisa melepas kebosanannya walaupun dia belum menyadari tentang "Berkencan dengan kekasih gelap."
"Bawa aku ke tempat yang bagus. Oh, walaupun bagus, jangan ke Rumah Surga, tolong," jawab Daru dengan ekspresi datar.
(Note: Rumah bordil di Waterfall City)
"Hihi, kenapa juga aku membawamu ke Rumah Surga? Hanya untuk membuat seorang gadis terbakar cemburu?" balas Emilia merujuk pada dirinya.
Daru mengira bahwa "Gadis" yang disebut Emilia merujuk pada Frey, dia pun berkata, "Mungkin saja akan cemburu."
"Ce-cemburu ta-tanda sayang, kan?" tanya Emilia dengan wajah yang memerah.
"Ya, aku juga," jawab Daru yang yakin pembicaraan mereka merujuk pada Frey.
Emilia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menundukkan kepalanya karena tersipu malu. Dia sangat senang karena pria yang dicintainya berkata bahwa dia merasakan hal yang sama sepertinya.
Daru yang menyadari bahwa Emilia menghentikan langkahnya pun ikut berhenti dan berbalik menghadap Emilia, dia berkata, "Ada apa, Emilia? Lelah?"
"Ti-tidak apa-apa. Ikut aku, aku akan menunjukkan tempat-tempat terbaik di Waterfall City," jawab Emilia dengan senyuman terbaiknya.
Daru mengangguk dengan semangat sebelum mengikuti langkah Emilia menuju pusat kota.
Mereka berdua mengelilingi Waterfall City dengan perasaan senang, walaupun alasan dibalik kesenangan mereka berdua berbeda.
Mereka mencoba banyak hal di Waterfall City, membeli makanan-makanan yang dijual di kios-kios di pinggir jalan, mengunjungi tempat-tempat unik di kota, dan menjelajahi setiap sudut kota.
"Ada dua tempat lagi yang menurutku cukup bagus di kota ini," ucap Emilia setelah mereka berdua bersenang-senang lebih dari 6 jam.
"Dimana?" tanya Daru.
"Menara lonceng dan taman istana. Di menara lonceng, kita dapat melihat seluruh kota, akan lebih bagus jika matahari hampir terbenam. Untuk taman istana ..., aku ragu kita berdua bisa masuk jika tidak ada kepentingan," ujar Emilia.
"Kita berdua bisa masuk ke istana dengan identitasku, bagaimana?" ucap Daru memberi tawaran.
Mata Emilia berbinar dan berkata, "Sungguh? Kalau begitu, ayo."
Tanpa menunggu jawaban Daru, Emilia menarik tangan Daru dan berlari menuju istana.
Setelah berlari selama beberapa menit, mereka berdua tiba di depan gerbang istana. Penjaga gerbang langsung menodongkan tombak mereka setelah Daru dan Emilia cukup dekat dengan gerbang.
__ADS_1
"Siapa kalian berdua? Apa tujuan kalian mendekati istana!?" teriak penjaga itu.
Emilia pun ketakutan dan berdiri di belakang Daru sembari merangkul tangannya. Sedangkan Daru mengangkat alisnya karena dia sadar wajah para penjaga itu berbeda dari penjaga yang mencegatnya dulu.
Dengan santai, Daru berkata, "Panggilkan Trevor."
Para penjaga yang mendengar kata-kata Daru saling bertukar pandang sebelum salah satu dari mereka berlari menuju tempat Trevor, kepala penjaga istana, berada.
Tak berselang lama, seorang pria yang tak asing lagi bagi Daru berlari menghampiri gerbang. Pria itu adalah Trevor yang dengan panik berlari karena takut para penjaga itu akan menyinggung Daru.
"Tuan Daru," ucap Trevor sembari membungkukkan badannya.
"Maafkan para bawahan saya, mereka baru pertama kali menjaga gerbang dan belum mengetahui identitas Tuan Daru," tambahnya sebelum berbalik dan memandang para bawahannya dan berteriak, "Minta maaf!"
Para penjaga itu dengan segera membungkuk ke arah Daru dan berteriak meminta maaf secara bersamaan.
"Ahaha, tidak apa-apa, mereka hanya menjalankan tugas mereka," ucap Daru.
Para penjaga yang sebelumnya membungkukkan badannya pun mulai bernafas lega setelah mendengar kata-kata Daru, mereka lega karena tidak ada hukuman yang menimpa mereka.
"Tuan Daru, Yang Mulia Raja Gustave saat ini tengah bertemu dengan beberapa petinggi, saya takut Tuan Daru harus menunggu sebentar untuk bertemu dengan Yang Mulia," ucap Trevor.
"Tentu saja, Tuan Daru. Akan saya antar," ucap Trevor.
Trevor, Daru, dan Emilia pun memasuki gerbang istana dan menuju taman istana yang berada cukup jauh dari gerbang.
"Kita sudah sampai, tolong panggil pelayan jika Anda membutuhkan sesuatu, Tuan Daru," ucap Trevor setelah mereka bertiga berjalan cukup jauh.
"Terima kasih," ucap Daru sembari tersenyum.
Trevor pun segera meninggalkan mereka berdua, takut jika privasi mereka terganggu karena kehadirannya.
"Kita sampai, kenapa kau diam dari tadi?" tanya Daru kepada Emilia yang masih merangkul tangan Daru dari belakang tubuhnya.
"Aku terlalu kagum dan nyaman denganmu, hihi," jawab Emilia sebelum melepaskan tangan Daru.
Daru menyapu pandangan ke segala arah dan hanya dapat menemukan bunga warna warni di segala tempat.
"Taman yang indah," gumam Daru.
__ADS_1
Aku akan mengajak Frey kemari di masa depan, pikir Daru.
Daru duduk di sebuah batu yang dibuat sebagai tempat duduk, diikuti Emilia yang duduk di sampingnya.
"Ucapanku benar, kan? Tempat ini memang indah. Ini kali keduaku berada di sini." Emilia memundurkan badannya dan menopangnya dengan kedua tangan di belakang.
"Ya, ini indah," balas Daru.
Mereka berdua menikmati pemandangan di taman dan sesekali bertukar ucapan-ucapan yang menyenangkan.
"Daru, apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" tanya Emilia dengan santai.
"Mungkin ketenangan seperti ini yang paling aku inginkan. Bagaimana denganmu?" Daru melempar pertanyaan yang sama kepada Emilia.
"Hmm, aku ingin menikmati hari tuaku bersama pria yang aku cintai. Yah, itu adalah keinginan semua wanita," jawab Emilia sembari tersenyum manis.
"Pria yang kau cintai, kah," ucap Daru sembari mendongakkan kepalanya ke atas.
Frey juga seperti itu, kurasa, pikir Daru.
"Daru," sahut Emilia pelan dengan wajah yang memerah.
Merasa terpanggil, Daru berkata, "Ya?"
"Ah, tidak, hehe," ucap Emilia dengan tawa kecilnya.
"Sebentar lagi matahari akan terbenam, ayo ke menara," ajak Emilia.
"Aku di belakangmu," ucap Daru sebelum mereka berdua berdiri dan mulai pergi menuju menara lonceng yang ada di pusat kota.
....
Sementara itu, di Bukit Sarren.
Frey tengah duduk di ranjang kamarnya di lantai satu bawah.
"Mereka berdua benar-benar berkencan. Dia memang lebih cantik, tubuhnya juga lebih menarik. Aku kalah," gumam Frey dengan mata yang sembab karena menangis tanpa henti semenjak Daru meninggalkan Bukit Sarren.
"Daru, aku harap kau pulang dan berkata bahwa semuanya tidaklah seperti yang kupikirkan." Frey kembali terisak tangis untuk beberapa saat sebelum dia benar-benar menenangkan diri dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Malam ini, aku akan tidur di rumah orangtuaku," ucap Frey sembari mengusap kedua matanya.