
Daru menyantap hidangan yang dia pesan dengan lahap setelah menyusun apa-apa saja yang akan dia tambahkan di kawasan Bukit Sarren. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang mengamatinya dari luar restoran melalui jendela. Daru yang merasakan sebuah tatapan pun mulai memandang ke luar jendela.
"Bukankah dia adalah pria tua dari penginapan Tracker's Inn di Waterfall City? Apakah dia orang yang menginginkan kepalaku?" gumam Daru setelah berhasil menemukan pria yang menatapnya dari tadi.
"Kenapa dia bisa sampai di sini? Aku yakin aku sudah mengatur portal teleportasi di Waterfall City,"
Mereka berdua saling tatap sampai pria tua itu tersenyum dan berjalan pergi.
"Jika dia yang ingin membunuhku, kenapa tatapannya tidak menunjukkan kebencian?" Daru mengelus dagunya.
Daru mengeluarkan smartphone-nya dan membuka Islagram untuk mencari informasi tentang Dante, orang yang memasang harga tinggi untuk kepalanya.
[Dante]
[Aku akan menjadi kaya setelah orang yang bernama Daru mati. Hahaha]
Daru mengerutkan alisnya dan mencari postingan-postingan Dante sebelumnya. Perhatiannya tertuju pada salah satu postingan yang dia yakini sebagai awal mula pemasangan harga kepalanya.
[Dante]
[Seorang pria yang berpakaian tertutup datang dan menyerahkan 35.000 koin emas padaku. Dia menyuruhku datang ke Bar Bull's Horn dan memasang harga untuk kepala seseorang yang bernama Daru. Dia berkata bahwa setelah Daru terbunuh, dia akan memberiku 10.000 koin emas. Aku baru tahu kalau Bar Bull's Horn adalah organisasi pembunuh bayaran.]
"Dante ..., aku yakin dia tidak berasal dari enam kota besar Kerajaan Resia. Siapa pria yang berpakaian tertutup itu? Dia bukan orang yang sembarangan, 45.000 koin emas bukanlah angka yang kecil bagi orang-orang di Benua Isla." Daru masuk kedalam mode teliti.
Dia berkata akan menerima 10.000 koin emas setelah aku mati, berarti uang itu belum ada di tangannya. Masih ada kemungkinan dimana si Dante akan bertemu dengan pria itu lagi, pikir Daru.
Daru pun mendapatkan ide dan mulai menghubungi Veux untuk menanyakan tentang sebuah barang yang Daru inginkan.
"Ada, Mas Daru. Mau beli?" tanya Veux setelah mendengar apa yang diinginkan Daru melalui Telepon.
"Iya Mas Veux. Oh, apakah ada alat yang bisa mengembalikan suatu barang pada kondisi sebelumnya?" tanya Daru. Dia baru ingat tentang kondisi buku Julius dan ingin membuat buku itu pada kondisi sebelum terbakar.
"Ada, tapi maksimalnya cuma 2 hari. Jadi suatu barang bisa dikembalikan pada kondisi 2 hari sebelumnya," ucap Veux.
Daru menghela nafas panjang. Buku Julius sudah terbakar lebih dari 6 bulan, tidak mungkin bagi alat itu untuk mengembalikan kondisi Buku Julius.
"Kalau begitu, aku beli barang yang aku sebutkan tadi saja," ucap Daru dengan lesu.
"Ok, tunggu sebentar. Lagi cari buntut gajah, istri ngidam."
Tut
Veux mematikan teleponnya.
Ngidam garis keras, ucap Daru dalam hati.
Daru kembali menikmati hidangannya.
....
Di sebuah ruangan yang gelap, Moon City.
"Jika Black Minotaur tidak bisa mengurusnya, kita berdua yang harus melakukannya," ucap seorang pria kepada seorang wanita yang ada di depannya.
"Seminggu, jika tidak ada kabar tentang kematian Daru selama seminggu, kita akan bergerak," tambahnya.
"Aku yakin walaupun Bar Bull's Horn mendirikan cabang di Bukit Sarren, Black Minotaur tetaplah netral. Koin emas sebanyak itu pasti menarik perhatian para pembunuh," balas si wanita.
"Hanya berjaga-jaga, kita tidak tahu hubungan apa yang dimiliki Klein dengan Daru. Pastikan kau membayar bonekamu setelah Daru terbunuh." Pria itu mengaktifkan sihir siluman setelah berkata demikian.
"Salahmu sendiri karena mencampuri urusan orang-orang yang tidak bisa kau sentuh, Daru," gumam si wanita sebelum menghilang dengan sihir siluman.
....
Kembali ke restoran tempat Daru berada.
"Mas Daru," ucap Veux yang baru saja tiba setelah sekitar 20 menit dari saat dia menutup telepon.
"Mas Veux, istri hamil? Berapa bulan?" tanya Daru.
"Ah, sudah sekitar 2 tahun, hehe," jawab Veux dengan tertawa ramah.
Emang ada wanita yang hamil 2 tahun? ucap Daru dalam hati dengan tercengang.
"Ini pesanannya, Mas." Veux menyerahkan bungkusan hitam yang berisi sesuatu yang terlihat bulat.
"Cara pakainya gimana? Terus, harganya berapa?" tanya Daru.
__ADS_1
"Imajinasikan mau seperti apa, alirkan mana ke dalamnya, jadi. Harganya 20 jutaan."
Daru kemudian mentransfer uangnya dengan jumlah yang sesuai ke rekening Veux.
"Kalau begitu, aku mau cari kuku singa dulu. Istri kalau ngidam harus diturutin, hehe," ucap Veux.
"Oh, haha, semangat, Mas Veux." Daru tersenyum ramah sebelum melihat Veux menghilang.
Tadi buntut gajah, sekarang kuku singa. Ngidamnya mau makan apa sih? pikir Daru keheranan.
"Dengan ini seharusnya cukup. Sekarang aku harus pergi ke istana." Daru pun bergegas menuju istana Kerajaan Resia setelah meninggalkan sekantong koin emas di atas meja makannya.
Daru berjalan dengan santai menuju istana. Dia menunjukkan celah yang cukup lebar untuk memancing orang-orang yang ingin membunuhnya muncul. Namun, harapannya tidak terjadi, kini dia sudah berada di depan gerbang istana tanpa ada satupun gerakan dari orang yang ingin membunuhnya.
"Aku ingin menemui paman Vanir," ucap Daru kepada seorang penjaga.
Penjaga itu mengangguk dan memanggil seorang pelayan untuk mengantar Daru.
Daru pun tiba di sebuah ruangan yang tidak asing lagi baginya. Daru segera duduk di salah satu kursi dan menunggu Raja Vanir datang.
"Apakah saatnya permintaan keempatmu?" tanya Raja Vanir tepat setelah membuka pintu.
"Hahaha, Paman Vanir, aku lihat kau sehat-sehat saja selama aku pergi." Daru berdiri dan menyapa Raja Vanir.
"Aku memang tampak sehat, tetapi dalamnya tidak, hah." Raja Vanir menghela nafas sebelum duduk di depan Daru.
"Apa yang terjadi?" tanya Daru.
"Verza kabur dari penjara sekitar 2 minggu yang lalu." Raja Vanir menunduk dan memegangi kepalanya.
Apakah Verza Lionness yang mencoba membunuhku? Tetapi seharusnya dia tidak memiliki kekayaan lagi. Jika dia benar-benar orang yang berada di belakang Dante, darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu? ucap Daru dalam hati.
"Bagaimana kronologinya?"
"Aku tak tahu, itu terjadi malam hari. Semua penjaga yang berjaga di penjara tewas dengan luka di leher. Kemungkinan itu dilakukan oleh pembunuh terlatih dengan satu serangan tanpa perlawanan balik," ujar Raja Vanir.
Jadi masuk akal. Tanpa pendukung, Verza Lionness tidak akan bisa membayar sebanyak itu, pikir Daru.
"Ternyata serumit ini. Ngomong-ngomong, Tuan Gustave Edelgard mengundang Paman untuk bertemu di Bukit Sarren lusa. Apakah Paman bisa datang?" Daru pun menuju topik tujuannya datang.
"Aku bisa datang seminggu lagi. Kondisi di istana terlalu rumit setelah Verza kabur. Aku akan datang bersama Fiona. Bisakah kau katakan itu pada Raja Gustave?" tanya Raja Vanir.
Raja Vanir terkejut bukan main setelah mendengar kata-kata Daru. Dia tahu, tidak ada yang berani menyentuh Daru setelah dia menaklukkan lima Keluarga Bangsawan tertinggi Kerajaan Resia.
"Percobaan pembunuhan? Mungkin itu benar-benar ulah Verza. Aku mengharapkan keselamatanmu."
"Terima kasih, Paman Vanir. Aku juga berharap keselamatan Paman. Harap berhati-hati," balas Daru.
Daru berpamitan kepada Raja Vanir dan pergi kembali ke Bukit Sarren.
Setelah tiba di Bukit Sarren, Daru menuju gedung asrama untuk menemui Neia.
"Nenek Neia, pekerja seperti apa yang Nenek inginkan? Dan apa yang Nenek butuhkan di bangunan toko?" tanya Daru setelah bertemu Neia.
"Pekerjanya lebih baik yang memiliki kekuatan fisik yang kuat, aku yang akan menanam sihir di ramuan sedangkan pekerjanya yang akan mengaduk ramuannya. Mengaduk ramuan itu cukup berat, kau tahu?" ujar Neia dengan sedikit tertawa.
Daru membalas dengan tawa dan membiarkan Neia melanjutkan.
"Untuk toko, harus ada tungku raksasa dan perapian, itu saja," tambah Neia.
"Baik, Saya akan menyiapkannya dengan segera. Nenek Neia lanjutkan saja beristirahatnya," ucap Daru.
"Terima kasih, kau memang baik." Neia benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Daru. Entah berapa lama lagi dia bisa bertahan hidup jika saja dia menolak tawaran Daru dan memilih untuk tetap membuka toko kumuh tanpa pelanggan di Waterfall City.
Daru tersenyum ramah menanggapi ucapan Neia dan beranjak pergi menuju tokonya.
Banyak sekali orang yang ada di Bukit Sarren saat ini, restoran dan bar penuh dengan pelanggan, toko Daru yang antriannya sudah sekitar 50 meter dari pintu, dan ada juga beberapa orang yang tampak menikmati suasana bukit.
Daru pun memasuki toko dan melihat karyawan-karyawannya sangat sibuk.
Tanpa mengatakan apapun, Daru menuju lantai dua atas.
Daru duduk di sofa dan mengeluarkan kertas beserta pena untuk menulis surat kepada Raja Gustave. Daru menuliskan bahwa Raja Vanir bisa datang seminggu lagi bersama istrinya, Fiona Lionness.
Setelah menulis surat, Daru berteriak, "Drey!"
Teriakan Daru cukup keras sehingga Drey yang mengawasi para pelanggan di lantai satu atas dengan sihir siluman mendengarnya. Drey pun segera menuju lantai dua atas.
__ADS_1
Pintu di ruangan lantai dua atas terbuka tanpa ada siapapun yang terlihat. Tiba-tiba, sosok Drey muncul di depan Daru dengan berlutut.
"Bos!" teriak Drey.
"Lepaskan topengmu, aku memiliki tugas untukmu," ucap Daru.
"Tapi, Bos ...."
"Lepaskan saja, kalau kau melakukan tugas ini sebagai Gagak Hitam, itu dipastikan gagal karena banyak orang yang takut padamu."
"Baiklah," ucap Drey sebelum melepas topengnya.
Wajah Drey sebenarnya cukup tampan, tetapi karena bekas luka yang banyak, dia terlihat sedikit menakutkan.
"Aku ingin kau pergi ke Waterfall City, Kerajaan Saria, dan memberikan surat ini kepada Kepala Penjaga istana bernama Trevor. Katakan saja itu surat dariku untuk Raja Gustave," ucap Daru sembari mengulurkan sebuah amplop.
"Oh, jadi itu kenapa aku harus melepas topeng, Bos." Drey pun paham dengan maksud Daru. Jika saja seorang pembunuh bayaran seganas Gagak Hitam memberikan sebuah surat untuk seorang raja, maka dipastikan surat itu dianggap sebagai ancaman.
"Kau mengerti. Setelah kau menyerahkan surat itu, pergilah ke Bar Bull's Horn di Moon City dan temui dua pembunuh bayaran secara pribadi. Bilang kepada salah satu pembunuh untuk menemuiku, dan yang satunya lagi untuk menghubungi Tuan Klein dan memintanya untuk kembali ke Moon City bersama Nona Lyd."
"Bos, kenapa kau butuh pembunuh bayaran lain sedangkan pembunuh bayaran terhebat ada di depanmu?" tanya Drey dengan keheranan.
"Karena bukan pembunuhan yang akan aku tugaskan. Hahaha," jawab Daru.
"Sekarang, lakukan tugasmu. Pinjam kalung teleportasi dari Frey."
Drey pun menggunakan sihir silumannya lagi dan menuju lantai satu atas untuk menemui Frey.
"Bos Frey, Bos Daru ingin kau meminjamkan kalung teleportasi padaku," ucap Drey yang masih dalam kondisi sihir siluman.
"Apa yang direncanakannya?" tanya Frey sembari mengulurkan kalung teleportasi ke arah sumber suara Drey.
"Aku di tugaskan untuk pergi ke Waterfall City untuk menyerahkan surat, lalu ke Moon City untuk menemui pembunuh bayaran di Bar Bull's Horn," jawab Drey sembari meraih kalung yang ada di tangan Frey. Kalung itu pun menyatu dengan sihir siluman Drey, membuatnya tidak terlihat.
Bukankah ada pembunuh bayaran di Bar Bull's Horn Bukit Sarren? Kenapa Daru memanggil yang ada di Moon City? pikir Frey.
"Baiklah, lakukan tugasmu, aku akan menemui Daru."
Frey pun menuju ke lantai dua atas setelah menyerahkan pekerjaannya kepada yang lainnya.
Krek
Frey membuka pintu dan langsung duduk di samping Daru.
"Apa yang terjadi?" tanya Frey kepada Daru.
Daru memandang Frey dan langsung menyandarkan kepalanya ke paha Frey.
"Ini nyaman," ucap Daru.
Frey tersenyum dan berkata, "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau mencari pembunuh bayaran Bar Bull's Horn di Moon City dan tidak mencarinya di Bukit Sarren?"
"Ada yang memasang harga tinggi untuk kepalaku. Aku memainkan skema untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab untuk itu. Alasan kenapa aku tidak mencari pembunuh bayaran di Bukit Sarren adalah karena aku sedikit khawatir jika orang yang bernama Dante, orang yang memasang harga, ada di sini. Akan menimbulkan kecurigaan darinya dan skemaku akan gagal," jawab Daru.
Frey terkejut, dia baru tahu mengenai itu.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" tanya Frey sedikit cemas.
"Hmmm, cium aku agar aku bisa lebih bersemangat," jawab Daru dengan menggerak-gerakkan kepalanya.
"Aku serius," ucap Frey sembari menahan tawa.
Daru menoleh keatas dan matanya langsung melotot karena apa yang dilihatnya.
"Bukan aku yang tidak mau memandang matamu saat berbicara kepadamu, tetapi wajahmu tertutup oleh ... itu," ucap Daru.
"Bukankah kau menyukainya?" Frey mulai mengejek.
"Tentu, akan lebih baik kalau tidak tertutup," ucap Daru sebelum bangkit dari berbaringnya.
"Aku harus melakukan persiapan," tambah Daru.
Daru mengeluarkan bungkusan yang tadi dia beli dari Veux.
Bungkusan itu berisi sebuah bola seukuran kepala, Daru memegang bola itu dan mulai mengimajinasikan bentuk kepalanya dengan noda-noda darah.
Setelah Daru mengalirkan mana-nya ke bola itu, bola itu berubah menjadi seperti sebuah kepala dengan wajah Daru lengkap dengan leher yang seakan terpenggal.
__ADS_1
Daru tersenyum dan berkata, "Skema dimulai."