
Daru sedikit membuka matanya dan melihat matahari telah berada tepat di atas kepalanya, dia bangun saat tengah hari.
"Tuffa, kau lapar?" Sebuah suara berdengung di telinga Daru.
Daru menoleh ke sumber suara dan menemukan dua orang tengah duduk membelakanginya, kedua orang itu adalah orang yang bertugas menjaga Daru, Tuffa dan Dior.
"Ya, aku bohong jika mengatakan aku tidak lapar, terakhir kita makan makanan adalah kemarin." Sahut suara wanita yang berada di samping Dior, Tuffa.
"Hahh, keadaan ini, aku harap Tuan Sergio benar mengenai Tuan Daru," gumam Dior sembari menghela nafas.
Percakapan kedua orang itu membuat Daru kebingungan mengenai "keadaan" yang Dior sebutkan.
"Kalian adalah elf, kan? Katakan padaku mengenai 'keadaan' yang kalian sebutkan," ucap Daru sembari bangkit dari berbaringnya.
"Tuan Daru!" Tuffa dan Dior berlutut ke arah Daru sembari mengucap namanya secara serentak.
"Hentikan hal itu, langsung katakan," sahut Daru membalas penghormatan mereka.
Daru sedikit jengkel dengan sikap mereka yang terlalu meninggikan Daru.
"Itu ...." Tuffa dan Dior saling bertukar tatapan, bingung harus menjawab apa.
"Mohon maafkan kami, Tuan Daru. Alangkah lebih baik jika Tuan Sergio yang menjelaskan secara langsung. Kami berdua takut mengecewakan Tuan Sergio," ucap Tuffa dengan permintaan maaf yang tulus.
"Hahh, lupakan, kalian lapar, kan? Bantu aku mencari kayu bakar dan kumpulkan di tempat ini." Daru berdiri dan melompat cukup tinggi ke arah dahan pohon, membuat Tuffa dan Dior melongo karena takjub dengan kekuatan Daru.
Daru telah mengisi tenaganya dengan tidur cukup lama, membuatnya merasa sangat mudah untuk melompat dari pohon satu ke pohon lain seperti shinobi dari desa ninja Koronagakure.
Aku lupa bertanya apa yang bisa elf makan, apakah mereka bisa makan daging? Ataukah mereka herbivora? Ah sial! umpat Daru dalam hati sembari terus mencari hal yang bisa dimakan.
Ditengah-tengah dia mencari makanan, Daru tiba-tiba merasakan hawa dingin penuh teror yang berasal dari samping. Ketika Daru menoleh, dia pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Kepala kadal, tanduk, taring, dan ... sayap! Itu naga! ucap Daru dalam hati sebelum mempercepat langkahnya, berusaha berlari menjauh dari sosok besar yang Daru yakini sebagai naga.
Bagaimana dia tidak lari? Mata berpupil memanjang milik naga itu tengah mengarah ke Daru, seakan memperhatikan setiap gerakannya.
Ketika Daru merasa sudah cukup jauh berlari, Daru menoleh kebelakang dan tidak menemukan sosok itu mengejarnya, membuat Daru merasa lega, sampai dia merasakan kembali rasa teror itu.
__ADS_1
Daru dengan enggan kembali memandang ke arah sumber teror, keringat dingin pun membasahi punggungnya ketika melihat sosok yang sama tengah mengamatinya. Kali ini, sosok naga itu lebih dekat, membuat Daru bisa dengan jelas melihat rupa dari naga itu.
Naga itu memiliki kepala mirip iguana dengan sepasang taring dan tanduk yang cukup panjang. Keseluruhan tubuhnya berwarna merah gelap. Ia memiliki empat kaki dengan kuku berwarna hitam panjang. Di punggungnya, Daru dapat melihat lipatan sayap yang Daru yakini itu bisa terbentang lebih dari 10 meter.
Dia cepat! pikir Daru.
Daru tahu, di situasi seperti ini, ketenangan adalah segalanya. Hanya dengan ketenangan manusia dapat berpikir secara rasional, dapat berpikir tindakan terbaik yang dapat dipilih.
Daru menutup matanya dan menghirup nafas panjang, dia menahan nafasnya sesaat sebelum menghembuskannya dan membuka mata.
"Mau bertarung?" ucap Daru dengan ketenangan luar biasa. Daru yakin jika dia lari, naga itu dapat mengejarnya dengan cepat. Maka dari itu, dia lebih memilih untuk bertarung dan membuat naga itu kelelahan sebelum kabur.
Kepala naga itu tersentak sedikit ketika mendengar ucapan Daru, dengan sorot mata yang berubah, naga itu kembali memandangi Daru.
Sorot mata itu, seperti orang yang tengah tersenyum, pikir Daru.
Daru membalasnya, yang dia pikir tengah tersenyum, dengan merentangkan kedua tangannya dan tersenyum sembari berkata, "Datanglah!"
Seperti kuda yang dicambuk, naga itu melesat ke arah Daru dengan kaki depan seperti harimau yang menerkam mangsa.
Brak
Bug
Naga itu tak bergeming dan tiba-tiba pupil mata naga itu berubah lebih pipih. Teror pun kembali Daru rasakan, dan kali ini, perasaan itu lebih buruk dari sebelumnya.
Daru yang merasakan teror luar biasa segera menjauh dari tempatnya berdiri. Dia kembali mengatur nafasnya, mencoba untuk meraih kembali ketenangannya.
Huhh
Daru menghembuskan nafas panjang dan menatap naga itu dengan penuh ketenangan.
Kepala naga itu kembali tersentak seakan terkejut, membuat Daru merasa ada kesempatan untuk menyerang.
Daru melesat ke arah naga itu dengan mengepalkan tangan kanannya. Namun,
"Tolong hentikan, Tuan Daru, Tuan Alrin!"
__ADS_1
Daru dengan susah payah menghentikan langkahnya yang telah terisi oleh tenaga yang luar biasa. Dia memandang ke arah sumber suara dan melihat Tuffa dan Dior yang terengah-engah sembari memegangi kedua lututnya.
"Hooo, kalian berdua mengenal manusia ini?"
Daru terkejut karena mendengar sumber suara itu berasal dari naga yang sebelumnya bertarung dengannya.
"Kau bisa bicara!?" tanya Daru dengan ekspresi tercengang.
"Kau tidak tahu? Kau lari sebelum aku berbicara, dan malah menantangku ketika aku ingin berbicara," jawab naga itu.
"Kau menatapku seperti hendak memangsaku! Dan apa-apaan dengan tatapan teror itu?" Pembuluh darah menonjol di dahi Daru, menandakan bahwa dia saat ini tengah marah.
"Mataku memang seperti itu! Kau saja yang terlalu lemah sehingga merasakan teror dari tatapanku!" Naga itu juga terlihat marah ketika berkata seperti itu.
"Kau yang lemah! Kau bahkan tidak bisa menyentuhku!"
"Yo, yo, sudah cukup." Suara yang cukup familiar bagi semua orang di sana pun terdengar.
Daru memandang ke arah sumber suara dan berkata, "Sergio."
Tiba-tiba, Tuffa, Dior, dan naga itu menurunkan kepalanya ke arah Sergio.
"Tuan Sergio!" teriak mereka bertiga secara serentak.
Alis Daru mengerut ketika melihat sikap ketiga orang itu begitu tunduk kepada Sergio.
Melihat reaksi Daru, Sergio berkata, "Kau pasti bingung, akan aku ceritakan tentang kejadian 100 tahun yang lalu dan mengenai aku yang sekarang ini dihormati oleh mereka."
"Mulailah bercerita," ucap Daru.
"Lebih baik kita menuju desa terlebih dahulu. Oh, naga itu bernama Arlin, dia adalah pelindung desa."
"Bagaimana Tuan Sergio bisa mengenal manusia barbar sepertinya?" tanya Arlin dengan tatapan sinis ke arah Daru.
"Barbar? Hahaha, bagaimana bisa kau menyebutnya barbar?" Sergio bertanya.
"Cih, kadal sialan," umpat Daru pelan.
__ADS_1
Arlin dapat mendengarnya dan segera berkata, "Siapa yang kau panggil kadal!?"