
"Ugh, aku tidak bisa keluar kamar dengan kondisi seperti ini," ucap Frey setelah dia dan Daru bertarung selama lebih dari 1 jam.
"Aku tidak bisa memasang ekspresi kesedihan," tambahnya dengan raut wajah yang menunjukkan rasa lelah.
"Apakah aku sehebat itu?" tanya Daru dengan bangga.
"Hiss, lupakan. Aku mau mandi dan menuju lantai dua atas, berjaga-jaga jika nanti ada tamu," ucap Frey dengan mendesis seperti ular.
"Ya, ya, jangan terlalu banyak tersenyum, hihi," ucap Daru sembari melihat Frey yang baru saja berdiri hendak menjauh dari ranjang.
Frey menghentakkan kakinya ke lantai sembari berkata, "Aku tahu!"
Daru tersenyum kecil karena melihat tingkah Frey yang dia rasa cukup lucu.
Setelah Frey keluar dari kamarnya, Daru terdiam dan memikirkan apa yang akan dia lakukan hari ini.
Dia mengeluarkan smartphone-nya dan membuka Islagram, berharap menemukan sesuatu yang menarik yang dapat menghabiskan waktunya.
Ketika dia melakukan scroll dan melewatkan hal-hal yang tidak penting, Daru menemukan postingan Raja Arthur, Raja Kerajaan Karian, yang terbaru. Dia pun teringat belum pernah melakukan pencarian informasi yang lebih mendetail tentang rencana Raja Arthur dan alasan mendetail mengenai rencana pembunuhan terhadap Daru.
Daru dengan segera menekan nama Raja Arthur dan munculah beberapa postingan-postingan Islagram. Daru kembali melakukan scroll dan membaca postingan-postingan di masa lalu.
Dalam beberapa jam selanjutnya, Daru mendapat informasi-informasi yang cukup menarik, seperti skema besar Raja Arthur.
Raja Arthur berencana untuk melahap Kerajaan Vradarian yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Karian. Tetapi karena Kerajaan Vradarian cukup kuat, Raja Arthur membutuhkan bantuan dari Kerajaan lainnya. Maka dari itu, Raja Arthur membantu Verza Lionness, adik dari Raja Vanir, untuk merebut takhta dengan syarat jika itu berhasil, Kerajaan Resia harus membantu Kerajaan Karian melahap Kerajaan Vradarian yang terletak di antara kedua kerajaan.
Insiden penculikan Putri Rennesia juga merupakan rencana Raja Arthur agar mental Raja Vanir memburuk, ditambah dengan adu domba yang dilakukan Raja Arthur yang mengakibatkan pecahnya peperangan antara Kerajaan Vradarian dan Kerajaan Resia, Raja Arthur berharap Verza Lionness lebih mudah mendapatkan takhta.
"Bodoh," gumam Daru setelah berhasil menyimpulkan situasinya.
"Jika kau ingin melahap Kerajaan Vradarian, mengapa tidak kau lakukan itu ketika Kerajaan Vradarian berperang dengan Kerajaan Resia? Bodoh, bodoh, sungguh bodoh." Daru menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa Raja Arthur benar-benar melewatkan kesempatan emas.
__ADS_1
Tapi tak apa, kebodohan dan kecerobohanmu itu menjadi sumbu yang dapat mengaktifkan kotak pandoraku, aku tidak sabar lagi, ucap Daru dengan tawa liciknya.
Rencana Daru yang dia namai sebagai kotak pandora bisa dimulai ketika Trevis dan Iris, kedua bawahan Raja Arthur yang dikirim untuk membunuh Daru, melaporkan kematian Daru. Perkiraan Frey, Dibutuhkan waktu 2 bulan untuk Trevis dan Iris sampai di Ibukota Kerajaan Karian, yang berarti 7 minggu dari sekarang. Daru berencana untuk tetap menyembunyikan fakta mengenai dirinya yang masih hidup sampai rencana kotak pandora berhasil.
....
Sementara itu di enam kota Kerajaan Resia, seluruh pandai besi berlomba-lomba untuk membuat alat yang berasal dari dua gulungan yang diserahkan oleh Raja Vanir kepada mereka. Raja Vanir membagi para pandai besi menjadi dua kelompok, satu kelompok membuat alat tenun otomatis sebanyak-banyaknya, sedangkan kelompok satunya lagi membuat mesin uap.
Raja Vanir memberi waktu 1 minggu kepada masing-masing kelompok pandai besi untuk menyelesaikan pembuatan. Para pandai besi awalnya ragu-ragu karena cetak biru yang tertulis di gulungan terlihat sangat asing bagi mereka, namun karena kebanggaan mereka sebagai pandai besi, mereka berjanji kepada Raja Vanir akan menyelesaikan pembuatan dalam waktu 1 minggu.
Para pedagang benang dan produsen serat juga mendapat informasi mengenai akan ada produksi kain secara besar-besaran dari Raja Vanir. Mereka pun mulai bekerja lebih keras dari sebelumnya, pedagang mulai mempersiapkan benang dalam jumlah yang besar dan para produsen serat melakukan produksi secara besar-besaran. Dalam 1 hari semenjak Daru membeberkan rencananya kepada Raja Vanir, keadaan enam kota besar di Kerajaan Resia benar-benar dipenuhi kesibukan.
Kembali ke Bukit Sarren.
Karena peraturan baru yang membatasi pembelian dari masing-masing pelanggan, banyak yang protes mengenai itu, namun mereka juga senang karena adanya potongan harga sebanyak setengah dari harga sebelumnya. Prediksi Shera pun akhirnya dapat dihindari dengan langkah yang diambil oleh Daru.
Gudang penyimpanan yang berfungsi sebagai tempat transaksi kerajaan masih kosong karena kedua raja belum mengirim produk-produk kerajaan masing-masing. Lapangan bulu tangkis juga belum terjamah karena Daru belum mempersiapkan apapun yang diperlukan untuk bermain bulu tangkis.
"Benar perkiraanku, tidak ada tamu untuk hari ini," gumamnya setelah menyesap teh yang ada di cangkir yang ia pegang.
Frey benar-benar tidak bisa untuk tidak tersenyum karena selalu mengingat apa yang dia dan Daru lakukan sebelumnya.
Di saat yang sama, seorang wanita yang sangat cantik muncul dari portal teleportasi. Wanita itu mengenakan pakaian berwarna putih yang cukup mencolok untuk beberapa mata yang ada di sana. Rambutnya tidak terlalu hitam, berkulit putih nan halus tanpa ada sedikit pun noda, dan matanya berwarna biru yang menyorotkan aura keanggunan dimana pun dia menatap.
Wanita itu berjalan mendekati toko Daru dengan menoleh ke kanan dan ke kiri, semua orang yang melihatnya pasti tahu bahwa ini adalah kunjungan pertama wanita itu ke Bukit Sarren.
Setelah tiba di depan toko, wanita itu memasuki toko, membuat semua orang yang ada di lantai satu atas memandanginya dengan takjub. Wanita itu segera mendekati konter, memotong seluruh antrian.
"Permisi, aku mencari Daru," ucap wanita itu dengan senyuman manis kepada Ged.
Setelah mendengar itu, ekspreso para pelanggan yang mempercayai Daru telah tiada menjadi buruk.
__ADS_1
"Umm, Anda bisa menemui Bos Frey," ucap Ged sembari memberi tanda keapada Rena yang tengah berjaga di dalam toko.
Rena segera menghampiri wanita itu dan berkata, "Saya akan mengantar anda ke ruangan Bos Frey."
Wanita itu mengerutkan keningnya setelah mendengar nama Frey.
Ah! Dia orangnya, pikir wanita itu.
Wanita itu mengangguk dan mengikuti Rena yang berjalan menuju lantai dua atas, tempat Frey berada.
Tok tok tok.
"Bos Frey, ada tamu," ucap Rena setelah mengetuk pintu.
Frey yang mendengar ucapan Rena segera memasang ekspresi kesedihan sebelum berkata, "Masuk."
"Silahkan masuk, Nona," ucap Rena sembari membukakan pintu untuk wanita itu.
Wanita itu sedikit membungkuk ke arah Rena sembari berkata, "Terima kasih."
Frey yang memandangi pintu pun melihat sesosok wanita yang sangat cantik, dia merasa kalah jika dibandingkan dengan wanita itu.
"Silahkan duduk," ucap Frey.
Wanita itu mengangguk dan duduk di depan Frey.
Sebelum Frey dapat berkata apa-apa lagi, wanita itu berkata, "Kau pasti Frey. Perkenalkan, namaku Emilia. Aku ingin mengajak Daru berkencan hari ini."
Frey terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Eh?" ucap Frey terkejut.
__ADS_1