
Hari berjalan dengan lancar walaupun karyawan-karyawan Daru menunjukkan ekspresi kesedihan. Gedung hiburan pun menunjukkan perkembangan yang cukup baik, banyak pelanggan yang mulai beradaptasi dengan hiburan-hiburan yang ada di dalamnya.
Toko ramuan juga tak kalah berbeda dengan gedung hiburan. Neia telah memulai produksi ramuannya dan menarik perhatian petualang-petualang yang mengunjungi Bukit Sarren. Karena karyawan baru yang dibawa oleh Ged hanya memiliki lima lingkaran mana, produksi Neia berada di angka yang cukup tinggi.
Daripada itu semua, Daru lebih tertarik dengan satu hal yang benar-benar sejalan dengan rencananya, yaitu berita tentang kematiannya. Berita itu menyebar dengan sangat cepat di enam kota Kerajaan Resia, membuat kehebohan yang luar biasa di sana. Di Waterfall City, berita itu tidak terlalu menyebar dengan baik, karena penduduk di sana belum banyak yang mengetahui bahwa orang yang memiliki Bukit Sarren adalah Daru.
Saat ini matahari telah berada di ketinggian maksimum, Daru tengah duduk di sofa lantai dua atas sembari menatap smartphone yang dia pegang.
"Dimana Mas Zoref? Bahkan Mas Veux juga tidak bisa dihubungi," gumam Daru.
Ah, bodo amat lah, mungkin dunia jin lagi sibuk, pikir Daru.
Karena Daru tidak memiliki hal lain yang dilakukan, dia menutup matanya untuk menjelajahi cincin dimensinya.
Ah, alat survival yang aku beli pertama kali sejak aku berada di dunia ini belum semua pernah kupakai. Pedang-pedang ini kudapat dari bandit yang menyerang Frey dulu. Tumpukan kontrak darah ini milik Xavier? Hoo, Xavier ternyata memiliki banyak harta, ucap Daru dalam hati ketika melihat benda-benda yang ada di dalam cincin dimensinya.
Dia pun melihat gambar tumpukan abu yang ia ambil dulu ketika memakamkan Xavier. Daru segera mengeluarkan abu itu dan menaruhnya di meja.
Kata Mas Veux ada alat untuk mengembalikan suatu benda ke keadaan semula, tapi maksimal hanya dua hari setelah benda itu berubah kondisi. Jika itu adalah benda sihir, berarti bukannya tidak mungkin untuk melakukannya tanpa alat, pikir Daru.
Daru pun mengimajinasikan reaksi pembakaran dan mencoba membaliknya.
Reaksi pembakaran dikarenakan adanya oksigen dan hasil akhirnya adalah karbon. Terbalik, terbalik.
Setelah itu, Daru mengalirkan mana-nya ke tumpukan abu yang ada di depannya.
Dalam waktu kurang dari 1 detik setelah Daru mengalirkan mana-nya, dia merasakan kesakitan yang luar biasa. Darah keluar dari mata, hidung dan telinganya, dia juga merasakan cairan amis yang berada di dalam mulutnya. Daru langsung menghentikan aliran mana-nya ketika itu terjadi. Dengan ekspresi penuh kejutan, dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
"Hah, hah, hah, apa itu tadi?" ucap Daru dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Daru kemudian menutup matanya dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Dia sekali lagi terkejut ketika melihat lingkaran-lingkaran mana yang kosong tak berisi dengan lingkaran yang paling dalam menunjukan garis retakan yang halus.
Apakah ini yang terjadi jika mana yang dibutuhkan untuk melakukan sihir lebih besar dari lingkaran mana pengguna? Aku yakin, aku bisa mati jika melakukan hal ini lagi, pikir Daru.
Daru kembali ke kesadarannya dan memandangi tumpukan abu yang ada di depannya. Alisnya mengerut ketika melihat sebagian kecil dari abu telah berubah menjadi bagian kecil kertas coklat yang dipenuhi coretan.
Berhasil sedikit? pikirnya.
Daru meraih kertas itu dan membaca isinya.
"-tu, semua sudah terlambat, aku telah membunuh terlalu banyak, bahkan aku membuat Xavier melakukannya bersamaku. Dosaku terlalu besar. Aku benci manusia-manusia serakah itu, jik-"
Potongan kertas itu memiliki banyak bagian yang tidak lengkap, membuat Daru kesusahan untuk menebak apa yang terjadi.
Apakah Julius menyesal setelah membunuh monster-monster itu? Bukankah monster adalah makhluk yang tidak memiliki akal pikiran setelah terkontaminasi mana? pikir Daru.
Daru membolak-balik potongan kertas itu dan tidak menemukan satu pun kata yang lain, membuatnya tidak bisa memuaskan rasa penasarannya.
"Elf." Hanya itu yang dapat dibaca dari potongan kecil tersebut.
Rasa penasaran Daru kian meningkat, dia pun memasukkan kedua potongan kertas dan tumpukan abu yang tersisa ke dalam cincin dimensinya.
Aku akan menggunakan sihir ini di bawah sinar matahari langsung, seharusnya itu cukup, pikir Daru.
"Drey," ucap Daru pelan.
Walaupun suara Daru sangatlah pelan, Drey yang berada di langit-langit lantai satu atas masih dapat mendengarnya. Dia segera menuju tempat bosnya berada.
Ketika dia tiba di lantai dua atas, dia terkejut ketika melihat Daru yang bersimbah darah di wajahnya. Dia hendak bertanya mengenai apa yang terjadi, namun dia mengurungkannya ketika melihat tatapan Daru yang menggambarkan sebuah keseriusan.
__ADS_1
"Bos," sapa Drey dengan berlutut setelah melepas sihir silumannya.
"Aktifkan sihir siluman untukku, manaku telah habis," ucap Daru.
Drey seketika itu juga, mengetahui niat Daru.
Bos ingin pergi keluar, pikir Drey.
Drey lalu mengangkat tangannya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah Daru untuk mengaktifkan sihir siluman. Tetapi, sebelum mantra berhasil diselesaikan,
Bug
Daru tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri, membuat Drey terkejut dan panik.
Ada apa dengan Bos? teriak Drey dalam hati.
Drey segera merapalkan mantra silumannya kembali untuk tubuhnya dan tubuh Daru. Setelah itu, Drey mengangkat tubuh Daru dan membawanya menuju lantai satu bawah dengan panik. Alasan Drey menggunakan sihir siluman adalah agar orang-orang tidak mengetahui fakta bahwa Daru masih hidup. Drey sudah memahami betul-betul rencana Daru, dia tidak ingin rencana Daru gagal karena kecerobohannya.
Ketika sampai di atas tangga yang menghubungkan lantai satu atas dan bawah, dia melompat begitu saja karena sangat susah untuk menapaki anak tangga satu persatu dengan menggendong tubuh seseorang.
Bruk
Drey mendarat di lantai satu bawah dengan menekuk kedua lututnya.
Suara hentakan kaki Drey cukup keras sehingga Frey yang ada di kamar dari pagi mendengarnya.
Frey hari ini memilih untuk tetap berada di kamarnya karena dia benar-benar tidak bisa memasang ekspresi kesedihan di wajahnya, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum karena selalu teringat kejadian semalam antara dirinya dan Daru. Namun, senyuman itu berubah ketika dia membuka pintu dan melihat Drey yang sedang menggendong tubuh kekasihnya yang lemas tak berdaya dengan noda-noda merah diwajahnya.
"Bos Frey, tolong," ucap Drey dengan nada yang panik.
__ADS_1
(Note: Mulai sekarang, Author akan upload per seribu kata. InshaAllah dengan ini bisa lebih cepat upload karena tidak memikirkan rangkaian-rangkaian kalimat yang tidak penting dan lebih fokus pada cerita. Menurut pembaca yang budiman, lebih baik yang mana, 1000 kata atau 1500+ kata? Terima kasih.
Diosn~)