
Malam pun berlalu dengan cepat, pembangunan yang dipimpin oleh Zoref telah selesai beberapa jam sebelumnya. Kini, Daru baru saja membuka matanya menyambut matahari yang sebentar lagi akan menampakkan wujudnya.
"Aku tidak mempunyai pekerjaan apapun yang bisa kulakukan saat ini," gumam Daru.
Daru memandang ke kanan dan menemukan sosok Frey yang masih terlelap di sana. Tanpa berkata apa-apa, Daru menindih tubuh Frey dan berkata, "Bangun."
"Ugh." Hanya itu yang keluar dari mulut Frey ketika Daru menindihnya.
Daru semakin menjadi-jadi dan mulai mendekap tubuh Frey sembari terus menerus mengucapkan kata "Bangun."
Daru merasa itu adalah hal yang lucu untuk menjahili Frey seperti itu. Namun, apa yang diucapkan Frey selanjutnya membuat Daru mendengar suara gelegar halilintar di kepalanya.
"Aku tidak kuat lagi, Chris."
Ekspresi Daru memburuk seburuk-buruknya. Siapa Chris? Dia adalah orang yang membuat batin Daru tersiksa selama sebulan. Dan sekarang, orang yang paling dicintai Daru tengah menggumamkan nama Chris saat tidur.
Daru bergerak ke samping, meninggalkan tubuh Frey yang masih tergeletak di ranjang. Dia duduk dan menundukkan kepalanya sembari memejamkan mata.
Kenapa Chris yang ada di mimpinya? Mereka sedang apa? Aku tahu mimpi berasal dari memori-memori di masa lalu. Apa mungkin di masa lalu Chris dan Frey pernah berhubungan seperti itu? Sial, ucap Daru dalam hati sembari terus menundukkan kepalanya.
Mimpi hanyalah mimpi, Daru tahu itu. Dia juga tahu, itu bukanlah kesalahan Frey untuk bermimpi tentang masa lalu saat tidur. Namun, kecemburuan menutupi itu semua, seperti tabir yang membenarkan apa yang salah dan menyalahkan apa yang benar.
Daru mengerutkan alisnya, mencoba menahan kesedihan yang hendak meluap keluar. Tapi, kecemburuan benar-benar mengalahkannya. Kesedihan, kemarahan, dan rasa penuh kebencian pun meluap dari dalam dirinya. Dia merasakan lagi rasa sakit yang dia rasakan ketika meninggalkan Bukit Sarren selama sebulan dulu.
Chris, Chris, Chris, kenapa dia lagi!? Bunuh dan semuanya pasti berakhir! teriak Daru dalam hati. Daru segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Karena gerakan Daru yang tergesa-gesa, Frey yang berbaring di ranjang pun merasa tak nyaman dan terbangun. Dengan mata yang setengah terbuka, Frey melihat punggung Daru menjauh dengan cukup cepat.
"Daru, kau sudah bangun?" tanya Frey.
Daru yang mendengar suara lembut Frey mendapatkan ketenangannya dan segera berbalik, melihat Frey yang tengah mencoba duduk.
"Ya, aku bangun," ucap Daru sembari mencairkan tatapan penuh kemarahannya.
Frey mengerutkan keningnya karena merasa ada yang salah dari tingkah Daru, dia pun berkata, "Kau mau kemana?"
Daru kembali teringat dengan tujuan sebelumnya, membunuh Chris. Dengan tatapan yang berubah menjadi sangat dingin, dia menjawab, "Membunuh."
Daru kemudian membuka pintu dan berjalan menjauhi kamarnya.
Frey yang tengah terdiam karena merasakan hawa dingin menusuk tulang belakangnya segera bangkit dari duduknya dan bergegas menyusul Daru. Dia tahu, tatapan Daru tadi berarti akan ada orang yang merasakan kepedihan paling buruk, bahkan kematian bisa menjadi hal yang paling indah bagi orang tersebut.
__ADS_1
Hanya dalam beberapa tarikan nafas, Frey berhasil menyusul Daru yang hendak naik ke lantai satu atas dengan tangga. Frey memegang tangan Daru dan berkata, "Daru! Ada apa!?"
Daru terpaksa berbalik badan karena tarikan tangan Frey. Pandangannya terfokus pada kalung pengatur teleportasi yang menggantung di leher Frey. Dengan segera, Daru meraih kalung itu, menariknya dengan paksa, lalu berkata, "Kau tetap di sini."
Ketika Daru hendak berbalik dengan membawa kalung teleportasi milik Frey, Frey menarik pundak kanan Daru dengan tangan kirinya, memaksa Daru kembali berbalik ke arahnya.
Plak
Frey menampar pipi Daru dengan tangan kanannya.
"Sadarlah!" teriak Frey dengan air mata yang mulai menetes.
Seketika itu juga, seberkas cahaya yang membawa ketenangan menyinari hati kecil Daru yang tengah diselimuti oleh amarah.
Daru segera melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Frey, memeluknya erat-erat sembari berkata, "Maafkan aku tidak bertanya dahulu."
Frey membalas pelukan Daru, mencoba membuatnya semakin tenang.
"Maafkan aku karena telah menamparmu cukup keras. Sebagai pria, itu tidak sakit, kan?" canda Frey dengan tertawa kecil.
Daru tersenyum dan berkata, "Walaupun aku adalah seorang pria, gorila tetaplah gorila. Tamparanmu terlalu keras."
Daru memeluk Frey semakin erat dan berkata, "Ya, dan gorila ini adalah milikku."
Setelah beberapa saat berpelukan, mereka berdua pun melepas pelukannya. Frey memandang Daru dengan tatapan yang mendalam sebelum menarik tangannya kembali ke kamar.
Setelah sampai di kamar, Frey menyuruh Daru untuk duduk di atas ranjang dan Frey duduk di sampingnya.
"Katakan apa yang terjadi," ucap Frey sembari memegang tangan Daru, berusaha mencegah Daru kembali ke kondisi sebelumnya.
"Hahh, kau berkata 'Aku tidak kuat lagi, Chris,' ketika aku menindihmu saat kau masih tidur tadi. Aku berpikir kau pasti bermimpi tengah melakukan hubungan badan dengannya. Aku mencoba menahannya, namun kecemburuan benar-benar menggelapkan mataku," ujar Daru dengan tatapan kosong.
"Yang aku tahu, mimpi selalu berkaitan dengan ingatan di otak. Aku tadi berpikir kau mungkin pernah berhubungan dengannya di masa lalu, maaf," tambah Daru.
"Dan kau berencana untuk membunuh Chris? Kau tahu masalah apa yang akan terjadi padamu jika kau membunuhnya?" tanya Frey dengan ekspresi terkejut.
Chris adalah salah satu petualang peringkat atas dari Asosiasi Petualang. Asosiasi Petualang merupakan organisasi independen yang tidak terikat pada kerajaan manapun dan itu tersebar di seluruh kota di Benua Isla. Daru tahu, dengan membunuh Chris, seluruh Asosiasi Petualang di Benua Isla akan memusuhinya.
"Maafkan aku, aku bodoh," ucap Daru.
"Daru, aku tidak pernah memiliki hubungan seperti itu dengan siapapun kecuali dirimu. Aku ingin kau percaya padaku, hanya kau yang ada di hatiku dan akan terus seperti itu. Soal mimpi ...." Frey menghentikan ucapannya karena Daru langsung memotongnya.
__ADS_1
"Kau bermimpi apa?" tanya Daru penasaran.
"Aku bermimpi ketika aku melakukan ekspedisi pertamaku dengan Chris, Ron, dan petualang lainnya. Ketika mendaki gunung, tiba-tiba nafasku sesak, dan ternyata itu ulahmu yang menindihku," jawab Frey sembari memasang ekspresi datar.
"Lalu, kenapa Chris?" tanya Daru lagi.
"Entahlah, aku tidak ingat. Mungkin karena Chris adalah pemimpin ekspedisi waktu itu. Yang lebih penting, kenapa kau menindihku ketika aku masih tidur? Mengambil kesempatan?" balas Frey dengan candaan.
"Ya, ada seorang wanita yang sangat cantik tengah berbaring di sampingku. Bagaimana aku tidak terdorong untuk melakukannya? Aku seorang pria." Daru mendekatkan dirinya ke arah Frey yang berwajah merah setelah mendengar kata-kata Daru.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Frey mendorong tubuh Daru hingga terbaring di ranjang. Frey kemudian mendekati tubuh Daru, menindihnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Daru.
"Kalau begitu, sekarang saja. Sudah beberapa hari kita tidak melakukannya," bisik Frey dengan wajah yang semakin memerah sebelum mencium bibir Daru dan membuka pakaiannya satu per satu. Tanpa Frey sadari, Daru memikirkan sesuatu.
Posisi ini, aku merasa akan ada klise di episode ini, pikir Daru.
Benar saja, suara ketukan pintu pun mengganggu aktifitas mereka.
"Bos, matahari sudah terbit. Waktunya membuka portal," ucap Sylph dari balik pintu.
Frey yang hanya mengenakan pakaian dalamnya segera meraih kalung teleportasi yang dari tadi Daru genggam, berjalan menuju pintu, dan membukanya.
Ketika pintu terbuka, Sylph yang tengah berdiri dari balik pintu pun bisa melihat Frey yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Aku melihat gunung yang besar, pikir Sylph sembari memandangi aset Frey dengan mata yang berbinar.
"Jangan mengganggu," ucap Frey sembari menyerahkan kalung teleportasi kepada Sylph.
"Ah! Siap, Bos! Selamat menikmati!" teriak Sylph sembari berlari dengan membawa kalung teleportasi.
"Gangguan hilang," gumam Frey.
Frey segera menutup pintu dan menguncinya sebelum berjalan menuju ranjang, tempat Daru berbaring menunggunya.
Ketika dia hendak kembali menindih tubuh Daru, Daru berkata, "Biarkan aku yang di atas, atau akan ada banyak klise yang terjadi."
Frey kebingungan dengan kata-kata Daru. Tiba-tiba, Daru meraih badan Frey dan membaliknya. Kini, posisi mereka telah bertukar dengan cukup cepat, membuat wajah Frey semakin memerah.
"Pelan-pelan," ucap Frey dengan malu-malu sebelum mereka berdua memulainya.
(Note: Bayangkan sendiri.)
__ADS_1