
Krek.
Semua orang di lantai dua atas mendengar suara pintu terbuka tanpa ada suara ketukan yang mendahuluinya.
Ketika lima kepala keluarga melihat siapa yang datang, mereka segera berlutut dan berteriak, "Salam kepada Yang Mulia!"
Daru pun berdiri dan menyambut orang yang ada di depan pintu.
"Selamat datang, Paman Vanir ..., Ver-lin?" sapa Daru.
"Tak apa, Daru, kau bisa memanggilku Verlin," ucap Pangeran Verlin setelah tahu keraguan Daru dalam memanggilnya.
"Hahaha, sedikit canggung karena ini kedua kalinya kita bertemu. Silahkan duduk, Paman Vanir, Verlin," ucap Daru mempersilahkan mereka duduk.
Daru pun duduk di sisi lain deretan sofa, membuat Raja Vanir dan Pangeran Verlin duduk berhadapan dengan lima Kepala Keluarga Bangsawan.
"Untuk mempersingkat waktu, kelima Kepala Keluarga Bangsawan bisa mengeluarkan bukti yang ada di tangan masing-masing." Daru berkata dengan tenang.
Kelima Kepala Keluarga Bangsawan dengan penuh ketegangan mulai mengeluarkan bukti-bukti yang Daru inginkan dari cincin dimensi mereka. Hanya dalam beberapa detik, meja yang ada di depan mereka semua dipenuhi oleh tumpukan kertas.
"Ini adalah semua bukti yang ada pada kami berlima, tidak ada satupun yang kami tutupi," ucap Mikhael Florenssia.
Raja Vanir dan Pangeran Verlin segera mengambil kertas secara acak dan mulai membacanya. Alis mereka berdua mengerut ketika mereka sampai di kata terakhir yang tertulis di kertas itu.
"Kau membantu Verza hanya untuk menutupi pertambangan emas ilegalmu, Florenssia?!" bentak Raja Vanir kepada Mikhael Florenssia.
"Ma-af, Yang Mulia!" teriak Mikhael Florenssia.
"Kau akan kucoret da-" Kata-kata Raja Vanir terpotong karena ucapan Daru.
"Hoi, hoi, jangan lupakan aturan mainnya, Paman Vanir," ucap Daru sembari tersenyum lebar.
Raja Vanir memandang Daru sejenak sebelum kembali menatap Mikhael Florenssia.
"Kau beruntung!" ucapnya.
Semakin banyak kertas yang Raja Vanir dan Pangeran Verlin baca, semakin mereka tahu apa saja hal-hal ilegal yang lima Keluarga Bangsawan lakukan. Mereka berdua pun menggelengkan kepala mereka sembari menghela nafas.
"Kau masih ingat aturannya, Daru?" tanya Raja Vanir setelah membaca kertas terakhir.
"Tentu, aku akan membuat mereka menghentikannya," jawab Daru dengan penuh percaya diri.
Raja Vanir mengangguk dan berkata, "Ada beberapa bukti yang cukup kuat untuk menjebloskan Verza ke penjara. Salah satunya adalah surat kontrak yang ditandatangani oleh Verza, Kyle Berlis, dan pemimpin Bloodhand."
Mereka pun mulai berdiskusi tentang langkah apa yang harus dilakukan untuk menjebloskan Verza Lionness ke penjara. Karena perintah Daru, lima Keluarga Bangsawan juga bersedia untuk membantu Raja Vanir.
Tiba-tiba,
Tok tok tok
"Bos Daru, Nona Lyd ingin bertemu denganmu." Suara Rena dari balik pintu terdengar oleh semua orang di ruangan.
"Aku segera kesana," balas Daru. Dia kemudian memandang Frey dan berbisik, "Tetaplah di sini, amati dan pelajari semuanya. Jika semua sudah selesai, katakan pada Paman Vanir dan Verlin untuk tetap di sini."
Frey mengangguk sedikit kesal karena tahu Daru akan bertemu dengan Lyd.
Setelah berpamitan kepada semua orang di sana, Daru bergegas menemui Lyd yang saat ini menunggu di lantai satu atas.
"Bagaimana?" tanya Daru tepat setelah sampai di dekat Lyd.
"Berhasil satu. Tolong ikuti saya," jawab Lyd.
Mereka berdua pun berjalan menuju restoran. Lyd langsung memerintahkan kokinya untuk membawakan satu makanan yang baru saja dibuat ketika mereka berdua tiba di restoran.
"Ini ..., pizza?" tanya Lyd kepada Daru.
"Dari bentuknya, itu memang mirip pizza." Daru mengambil satu potong berbentuk segitiga dan menggigitnya.
Ah! Aku sudah lama tidak merasakannya, ucap Daru dalam hati.
"Bagaimana, Tuan Daru?" tanya Lyd penasaran ketika melihat Daru dengan lahap memakan sepotong pizza.
__ADS_1
"Cukup baik. Tolobg buatkan saya dua porsi untuk menjamu tamu saya," pinta Daru.
Lyd mengangguk dan segera memerintah kokinya untuk memasak sesuai permintaan Daru. Hanya dalam 20 menit setelahnya, dua piring berisi pizza yang berukuran tidak kecil pun datang.
"Terima kasih, Nona Lyd, kerja bagus," ucap Daru memuji.
"Itu biasa saja, Tuan. Saya akan berusaha untuk segera membuat resep lainnya. Ngomong-ngomong, berapa harga yang harus saya tetapkan untuk menjual pizza?" tanya Lyd.
Di bumi harga sebuah pizza adalah Rp50.000, lima kali lipat! ucap Daru dalam hati.
"Dua koin emas dan lima koin perak," jawab Daru.
"Baik, saya akan menetapkan harga sebesar yang Tuan Daru katakan," ucap Lyd.
"Kalau begitu, saya akan kembali ke toko untuk menjamu Paman Vanir dan Verlin," ucap Daru berpamitan.
Lyd menunjukkan ekspresi tercengang. Paman Vanir? Verlin? Apakah yang dimaksud Daru adalah Yang Mulia Raja dan Pangeran? Hubungan apa yang dia miliki dengan Keluarga Kerajaan?! pikir Lyd.
Daru tidak menggubris tanggapan Lyd dan langsung menuju tokonya dengan membawa dua piring berisi pizza hangat. Ketika dia masuk kedalam tokonya, orang-orang yang mencium aroma sedap langsung memandang Daru, mereka bertanya-tanya apa yang Daru bawa.
"Tuan Daru! Apa yang ada di tanganmu?" tanya salah satu wanita yang berada di antrian belakang.
"Menu baru Restoran Bintang Biru. Kalau kau mau, datanglah kesana," jawab Daru tanpa menghentikan langkahnya.
Jawaban Daru pun membuat kehebohan semua orang. Bukan hanya mendirikan cabang di Bukit Sarren, tetapi juga mengeluarkan menu baru yang belum pernah dilihat oleh siapapun, sama seperti Bar Bull's Horn.
Para pelanggan yang telah selesai melakukan transaksi di toko Daru pun segera bergegas ke Restoran Bintang Biru untuk mencoba menu baru. Ada juga pelanggan yang masih dalam antrian pergi begitu saja menuju ke sana, membuat toko Daru sedikit lebih sepi.
Daru berjalan menuju lantai dua. Ketika dia membuka pintu, dia melihat hanya ada tiga orang di sana.
"Apakah para Kepala Keluarga Bangsawan sudah pulang?" tanya Daru sembari menatap Frey.
"Ya, mereka pulang beberapa saat yang lalu. Apa itu?" Frey menunjuk ke dua pizza yang dibawa Daru.
"Ini jamuan. Mari makan," ucap Daru sembari meletakkan dua piring pizza yang sudah terpotong di meja.
Raja Vanir dan Pangeran Verlin memandangi pizza itu dengan penuh tanda tanya.
"Ini tidak dimakan seperti itu, Verlin. Makanlah dengan tanganmu," jawab Daru sembari memperagakan cara memakan pizza dengan baik dan benar.
Raja Vanir dan Pangeran Verlin pun mulai mengikuti arahan Daru. Mereka berdua mengambil masing-masing satu potong dan memasukkannya ke dalam mulut mereka.
Ketika mereka merasakan gigitan pertama, mereka seolah-olah melayang. Mereka merasakan tubuh mereka sangat ringan dan seolah-olah terbang tanpa tujuan.
Frey yang melihat reaksi Raja Vanir dan Pangeran Verlin pun memandang Daru dengan tatapan seekor anak kucing.
"Ya ya, kau bisa mencoba satu," ucap Daru kepada Frey.
Frey dengan sigap mengambil satu potong dan mulai memakannya. Gigitan pertama membuat Frey merasakan lelehan keju hangat memenuhi mulutnya.
"Ah, Daru ..., cairan hangatmu memenuhi ruang di mulutku!" teriak Frey dengan nada yang dipenuhi kenikmatan.
Daru dan dua orang lainnya langsung tersedak saat mendengar kata-kata Frey yang cukup ambigu.
"Hoi hoi, jangan berkata 'cairan hangatmu', itu disebut keju. Jangan katakan sesuatu yang membuat bacaan ini dianggap sebagai bacaan dewasa," ucap Daru menanggapi Frey.
"Apakah yang aku katakan salah? Aku benar-benar merasakan cairan hangat yang kental, dan makanan ini berasal darimu, jadi apa yang kukatakan itu benar," balas Frey cuek.
"Jangan menambahkan kata kental! Itu terlalu menjurus ke sana! Oh sial, aku harap author tidak menambahkan logo dewasa pada bab ini."
"Author? Logo dewasa? Apa itu?" tanya Raja Verlin penasaran.
"Abaikan perkataanku tadi, mari makan,"
Mereka bertiga pun makan dengan lahap sembari berbincang-bincang.
"Ah, itu tadi makanan yang enak, akan lebih lengkap jika ada anggur yang menemani," gumam Pangeran Verlin setelah semua pizza di atas meja telah habis.
Raja Vanir mengangguk setuju dengan pendapat Pangeran Verlin sebelum menatap Daru dengan tatapan penuh isyarat.
"Hah, baiklah." Daru segera mengeluarkan sebotol anggur cap "orangmuda" dari cincin dimensinya.
__ADS_1
"Ini dinamkan anggur cap 'orangmuda', cabang Bar Bull's Horn di Bukit Sarren sudah mulai menjualnya hari ini," ujar Daru
Daru segera menyediakan empat gelas kaca dan menaruhnya di meja.
"Biarkan aku menuangkan segelas untukmu, Paman," ucap Daru sembari menuangkan anggur ke sebuah gelas dan menyodorkannya ke depan Raja Vanir.
"Hohoho, kau memiliki sopan santun ternyata," ucap Raja Vanir sembari mengangkat gelas yang berisi anggur.
Menurut adat Kerajaan Resia, orang yang lebih muda atau orang yang memiliki pangkat lebih rendah harus menuangkan anggur kepada orang yang lebih tinggi. Jika dalam suatu penjamuan orang dengan derajat tertinggi tidak dituangkan anggur, maka itu akan menjadi sebuah bentuk penghinaan.
Pangeran Verlin langsung meraih botol anggur dan menuangkannya ke gelasnya sendiri. Dia tidak ingin membuat Daru terlihat lebih rendah darinya. Daru yang melihatnya hanya mengangguk dengan senyuman tulus.
Raja Vanir dan Pangeran Verlin mulai meneguk anggur yang ada di dalam gelas yang ada di tangan mereka.
Gluk gluk
Sensasi hangat di tenggorokan langsung membuat mereka berdua terkejut.
"Ini luar biasa!" teriak Pangeran Verlin kegirangan.
"Rasa manis yang pas, kehangatannya juga tidak terlalu menyengat tenggorokan, ini adalah anggur terbaik yang pernah kuminum!" sahut Raja Vanir.
"Hei Daru, kenapa ini disebut anggur 'orangmuda'?" tanya Pangeran Verlin sembari terus meneguk anggur di gelasnya.
"Yah, jika aku mengatakan sebaliknya, maka akan melanggar hak cipta," jawab Daru enteng.
Pangeran Verlin tidak mendengar jawaban Daru karena terlalu sibuk menikmati anggurnya. Tak terasa, sebotol anggur pun habis hanya untuk Raja Vanir dan Pangeran Verlin.
"Kau masih ada lagi, Daru?" tanya Raja Vanir.
"Ada, tapi matahari hampir terbenam. Lebih baik kau bawa pulang dua botol untuk kau nikmati di kediamanmu bersama keluargamu." Daru mengeluarkan dua botol anggur dan menyerahkannya kepada Raja Vanir.
"Ah! Kau benar, aku harus segera kembali. Verlin, kita pulang," ucap Raja Vanir sebelum berdiri.
Pangeran Verlin mengangguk dan berdiri diikuti Daru dan Frey.
"Kalau begitu, aku dan Verlin akan kembali ke Moon City. Terima kasih untuk hari ini, Daru." Raja Vanir mengulurkan tangannya ke arah Daru.
Daru segera menjabat tangan Raja Vanir lalu berkata, "Sama-sama, Paman. Jika kau datang lagi di masa depan, ajaklah Bibi Fiona juga, aku belum pernah bertemu dengannya."
"Ketika kondisi Kerajaan membaik, aku akan membawanya kemari. Pastikan kau memiliki jamuan yang lebih enak daripada yang tadi, hahaha."
Daru tersenyum dan mengangguk. Lalu dia menjabat tangan Pangeran Verlin dan mengucapkan beberapa kalimat. Setelah mereka mengucapkan perpisahan, Daru mengantar Raja Vanir beserta Pangeran Verlin meninggalkan Bukit Sarren.
"Satu masalah selesai, dimana Liz dan Gagak Hitam berada?" tanya Daru kepada karyawannya yang ada di lantai satu atas setelah mengantar kedua tamunya pergi.
"Mereka berdua pergi ke Bar Bull's Horn, Bos!" jawab Shera yang sedang berdiri di belakang konter tanpa ada satupun pelanggan yang ada di depannya.
Daru baru menyadari bahwa tidak ada pelanggan sama sekali di lantai satu.
"Kemana semua pelanggan? Ini bahkan belum malam." Daru bertanya dengan ekspresi keheranan.
"Mereka pergi setelah tahu ada menu baru bernama pizza di Restoran Bintang Biru," jawab Rena yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik pelanggan.
"Hahh, mungkin aku harus menambah produk baru di sini," gumam Daru sembari menghela nafas.
"Ged, bawa uang ini dan beli empat porsi pizza, bagikan kepada semuanya. Untuk sisa uangnya, berikan kepada Nona Lyd dan katakan itu untuk pizza yang kupesan tadi," perintah Daru sembari melemparkan sekantong koin emas berisi lima belas keping kepada Ged.
"Baik, Bos!" Ged bersemangat karena ini adalah perintah pertama Daru untuknya. Dia tadinya merasa tidak enak kepada Daru karena Daru mengharapkan tiga budak pria dengan lingkaran mana yang sedikit, sedangkan dia memiliki lingkaran mana yang cukup banyak. Yang tidak Ged ketahui adalah Daru saat ini sudah melupakan itu semua.
"Aku akan pergi ke kamarku untuk melakukan sesuatu hal yang penting. Jangan ada yang mengganggu. Kecuali kau, Frey, panggil aku jika itu benar-benar mendesak," ucap Daru.
"Baik!" Semua karyawannya berteriak serentak.
"Bagaimana dengan masalah portal teleportasi?" tanya Frey yang masih membawa kalung pengatur portal yang Daru berikan tempo hari.
"Usir semua pelanggan yang masih ada di Bukit Sarren saat jarum di bawah papan peraturan mendekati angka dua puluh. Tunggu Nona Lyd dan Tuan Klein beserta karyawan mereka keluar dari Bukit Sarren sebelum menutupnya," jawab Daru.
Setelah Daru melihat Frey mengangguk, dia berjalan menuju ke lantai satu bawah.
Daru kemudian memasuki kamarnya dan duduk bersila di atas ranjang. Lalu dia mengeluarkan satu benda yang mirip seperti kelopak bunga mawar.
__ADS_1